RANGKUMAN SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW

Nasab Rasulullah SAW

Beliau adalah Abu al-Qasim Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdimanaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaima bin Mudrikah bin Ilyas bin bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Udad bin al Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Ya’rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail as bin Ibrahim as “Khalilullah” (alaihima as-salam) bin Tarih atau Azar bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh bin bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuhas bin Lamk bin Mutusyalkh bin Akhnukh (Nabi Idris as) bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam as.[1]

Kelahiran Rasulullah saw

Beliau dilahirkan di Mekah pada hari senin, mengenai tanggalnya ada yang mengatakan tanggal 12 tetapi ada juga yang mengatakan tanggal 2, pada bulan Rabiul Awal, tahun Gajah[2]. Tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan dengan tanggal 20 April Tahun 571 M.

Ibu Rasulullah saw.

Ibunya adalah Aminah binti Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib[3].

Kematian Ayah Rasulullah saw

Ayah Rasulullah saw meninggal ketika beliau masih dalam kandungan 6 bulan[4], Mengenai tempat wafatnya ayah beliau, dikatakan ayahnya meninggal di perkampungan an-Nabighah ketika Rasulullah saw masih janin, ada juga yang mengatakan di daerah Abwa yang terletak antara Makkah dan Madinah. Abu Abdillah Zubair bin Bakkar az-Zubairi berkata: Abdullah bin Abdul Mutthalib wafat di Madinah ketika Muhammad berusia dua bulan.

Ibunya meninggal dunia ketika beliau berusia enam tahun[5] kala sedang mengunjungi sanak saudaranya di Yatsrib[6] sekaligus mengunjungi makam ayahnya, di kepulangannya ternyata ibunya sakit dan meninggal di desa Abwa. Setelah kematian ibunya, Rasulullah saw diantarkan oleh Ummu Aiman yaitu budak bapaknya untuk menemui kakeknya Abdul Muthalib di Mekah. kakeknya meninggal dunia ketika usia Muhammad delapan tahun[7].

Penyusuan Rasulullah saw

Rasulullah saw disusui oleh Tsuwaibah budak Abu Lahab bersama dengan penyusuan Hamzah bin Abdul Mutthalib dan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumi dengan air susu anaknya yang bernama Masruh. Kemudian Muhammad disusui oleh Halimah binti Abi Dzuaib as-Sa’diyah.

Masa Kecil Rasulullah saw

Rasulullah saw ditinggal ibunya ketika berusia enam tahun, yang kemudia beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib sampai usia delapan tahun. Selepas kematian kakeknya Rasulullah saw diasuh oleh pamannya yang benama Abu Thalib seorang pedagang yang tidak terlalu kaya. Untuk membantu pamannya beliau sering menggembalakan kambing milik penguasa kaya di kota Mekah.

Ketika usianya mencapai dua belas tahun beliau diajak pamannya untuk berdagang ke negeri Syam. Ketika sampai di Bushra seorang pendeta bernama Buhaira melihat Rasulullah saw, dan secara kebetulan ia melihat ciri-ciri kenabian pada Rasulullah saw[8]. Buhaira mendatangi Muhammad, mengambil tangannya dan berkata: “Inilah tuan untuk semesta alam, inilah utusan Rabb semesta alam, inilah nabi yang akan diutus untuk semesta alam.” Buhaira ditanya: “Dari mana kamu tahu hal ini?” Ia berkata: “Sesungguhnya ketika kalian datang dari Aqabah tidak ada pepohonan dan bebatuan kecuali semuanya sujud. Dan ini tidak dilakukan kecuali kepada nabi. Dan kami mendapatkan hal ini dari kitab suci kami.” Kemudian ia meminta Abu Thalib untuk kembali bersamanya karena khawatir terhadap kejahatan orang-orang Yahudi kepadanya[9].

Pada usianya yang ke-15, terjadilah suatu perangan antara kabilah Quraisy dengan pendukungnya dari Bani Kinanah melawan kabilah Qais bin Alian dari Bani Hawazin. Perang ini terkenal dengan sebutan perang Fijar. Tugas Rasulullah saw pada perang ini adalah sebagai pemungut anak panah yang dilemparkan oleh musuh.

Pernikahan Rasulullah saw Dengan Khadijah

Rasulullah saw mengadakan perjalanan ke Syam yang kedua kali bersama Maysarah budak Khadijah ra untuk berniaga di pasar kota Bushra. Selepas perdagangan ke Syam tersebut, ternyata Khadijah mendapatkan kalau Rasulullah saw sangat pintar dalam berdagang dan barang-barang yang dijual oleh Rasulullah saw dapat laku dengan hasil yang memuaskan. Dalam hatinya Khadijah menemukan rasa simpati kepada Rasulullah saw dan bermaksud untuk meminta Rasulullah saw menjadi suaminya. Hal tersebut tidak langsung diutarakan kepada Rasulullah saw tetapi disampaikan kepada paman Rasulullah yang meminta agar Rasulullah saw menyunting dirinya. Rasulullah saw yang kala itu berusia 25 tahun akhirnya menikahi khadijah yang berusia 40 tahun, sungguh suatu kebahagian yang sangat dalam bagi Rasulullah saw karena dengan pernikahan tersebut Rasulullah saw mendapatkan seorang wanita yang cantik dan sangat terhormat di kalangan kaumnya.

Setelah menjadi suami khadijah, menjadi suatu kebiasaan bagi Rasulullah saw untuk mengadakan suatu perenungan yang biasanya beliau laksanakan di bukit-bukit dekat kota Mekah selama beberapa hari, sementara Khadijah biasanya mengantarakan berupa kebutuhan logistik kepada Rasulullah saw. Hal tersebut kiranya sangat baik, karena Rasulullah saw terhindar dari pengaruh jelek kaumnya yang gemar berbuat kesenangan seperti berjudi, mabuk-mabukan dan bermain wanita.

Ketika usianya empat puluh tahun Allah SWT memilihnya untuk membawa risalah-Nya. Jibril mendatanginya ketika beliau berada di gua Hira yang terletak di sebuah gunung di perbukitan di sekitar kota Makkah pada tanggal 17 Ramadhan. Pada saat itu turunlah ayat Al-quran yang pertama yaitu surat al-Alaq 1 – 5, Semenjak itu jadilah beliau sebagai Rasul utusan Allah yang terakhir. Beliau berdakwah di Mekah selama tiga belas tahun, menurut pendapat lain lima belas tahun atau sepuluh tahun, pendapat yang benar adalah tiga belas tahun. Rasulullah SAW shalat menghadap Baitul Maqdis selama di Makkah tanpa membelakangi Ka’bah tetapi menjadikan Ka’bah di depannya. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama tujuh belas atau enam belas bulan.

Hijrah Rasulullah

Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq ra dan budaknya Amir bin Fuhairah serta seorang penunjuk jalan Abdullah bin al-Uraiqit al-Laitsi yang masih kafir. Dalam perjalanan hijrah, Rasulullah dan rombongannya di kejar oleh kafir Quraisy, dan bersembunyi di Gua Tsur, hampir saja mereka di temukan tetapi karena gua tersebut terlihat dari luar seperti belum pernah dimasuki manusia dengan adanya tanda jaring laba-laba yang masih utuh, dalam hal ini Abu Bakar Ash-Shidiq merasa sedih, tetapi di ingatkan oleh Rasulullah dengan kata-kata “La Tahzan Innallah ma Ana” (janganlah bersedih sesungguhnya Allah bersama kita), maka merekapun tidak diketemukan oleh para kafir Quraisy tersebut. Selanjutnya Rasulullah SAW berdakwah di Madinah selama sepuluh tahun.

Wafat Rasulullah saw

Rasulullah SAW wafat dalam usia enam puluh tiga tahun. Rasulullah SAW wafat pada waktu dhuha hari Senin dua belas Rabiul Awal. Pendapat lain mengatakan tanggal dua atau tanggal satu Rabiul Awal. Beliau dimakamkan pada malam Rabu[10]. Pendapat lain mengatakan malam Selasa. Sebelum wafat, Rasullullah SAW menderita sakit selama dua belas atau empat belas hari.

Rasulullah SAW dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib, pamannya Abbas, al- Fadhl bin Abbas, Qutsam bin Abbas, Usamah bin Zaid dan Syuqran serta dihadiri pula oleh Aus bin Khaula al-Anshari. Beliau dikafani dengan tiga lapis kain putih yang dibuat di Sahul[11], tanpa gamis dan sorban. Kemudian kaum muslimin menshalatinya sendiri-sendiri tanpa jamaah. Jasad Rasulullah SAW diletakkan di atas sehelai kain merah yang dipakainya untuk selimut lalu dimasukkan ke dalam kubur oleh Abbas, Ali, al- Fadhl, Qutsam dan Syuqran kemudian ditutup dengan sembilan batu.

Rasulullah SAW dimakamkan di tempat Beliau wafat yaitu sekitar tempat tidurnya di kamar Aisyah ra dan di tempat itu pula dimakamkan Abu Bakar ra dan Umar ra.

Putra-putri Rasulullah SAW

  1. Al-Qasim, dilahirkan di Makkah sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi. Al-Qasim meninggal di Mekah pada usia dua tahun. Namun menurut Qatadah, Al-Qasim meninggal ketika ia sudah bisa berjalan.
  2. Zainab, menikah dengan Abu Al-Ash bin Rabi’ bin Abdul Uzza bin Abdul Syams sepupu Zainab, karena ibunya adalah Hala binti Khuwailid (saudara dari Khadijah binti Khuwailid). Zainab mempunyai anak bernama Ali yang meninggal waktu kecil dan Umamah yang digendong oleh Rasulullah saw waktu shalat dan setelah dewasa menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah Fatimah wafat.
  3. Ruqayyah, menikah dengan Ustman bin Affan. Meninggal di pangkuan Ustman. Ustman lalu menikahi Ummu Kultsum (adik Ruqayyah) yang juga meninggal di pangkuannya. Ruqayyah memiliki seorang putra yang bernama Abdullah sehingga Ustman dipanggil dengan kunyah Abu Abdullah.
  4. Fatimah, menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan tersebut Fatimah melahirkan Hasan, Husain, Muhassin yang meninggal waktu kecil, Ummu Kultsum yang menikah dengan Umar bin Khattab, dan Zainab yang menikah dengan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.
  5. Ummu Kultsum, beliau dinikahi oleh Utsman bin Affan sepeninggal wafatnya Ruqayyah. Atas dasar inilah Utsman dijuluki Dzun Nurain, karena menikahi dua putri Rasulullah saw.
  6. Abdullah, dinamakan juga dengan at-Thayyib (yang baik) dan at-Thahir (yang suci) karena ia dilahirkan sesudah Islam. Ada pendapat yang mengatakan bahwa at-Thayyib dan at-Thahir ini adalah putra Rasulullah SAW yang lain, namun pendapat pertama adalah yang benar.
  7. Ibrahim, dilahirkan dan wafat di Madinah tahun sepuluh hijriah pada usia tujuh belas atau delapan belas bulan.

Putri-putri Rasulullah SAW empat orang tanpa ada perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini sedangkan putra-putranya tiga orang berdasarkan pendapat yang benar. Semua putra-putri Rasulullah saw adalah dari Khadijah kecuali Ibrahim yang lahir dari Maria Al-Qibtiyah dan semuanya meninggal sebelum Muhammad menjadi rasul kecuali Fatimah yang meninggal enam bulan setelah kematian Rasulullah SAW.

Haji dan Umrah Rasulullah SAW

Hammam bin Yahya meriwayatkan dari Qatadah ia berkata: Saya bertanya kepada Anas: “Berapa kali Nabi SAW melaksanakan haji?” Anas menjawab: “Satu kali dan umrah empat kali. Pertama ketika dihalangi kaum musyrikin, kedua tahun berikutnya ketika mengadakan perjanjian (Hudaibiah), ketiga umrahnya dari Ji’ranah setelah membagikan harta rampasan perang Hunain dan yang keempat umrahnya bersama haji” (Hadits Muttafaq alaih) Kesemuanya ini setelah hijrah ke Madinah. Adapun haji dan umrah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika di Makkah tidak diketahui. Dan haji yang dilakukannya adalah haji wada (perpisahan), yaitu ketika Rasulullah SAW menyatakan salam perpisahan kepada umatnya dan berkata: “Mungkin kalian tidak akan melihatku lagi setelah tahun ini.”

Peperangan Rasulullah SAW

Menurut pendapat masyhur yang dikatakan Muhammad bin Ishak, Abu Ma’syar, Musa bin Uqbah dan yang lainnya Rasulullah SAW mengikuti langsung dua puluh lima peperangan. Dan ada yang mengatakan dua puluh tujuh peperangan. Sedangkan jumlah pengiriman pasukan dan peperangan yang tidak diikuti Rasulullah SAW sekitar lima puluhan.

Di antara dua puluh lima peperangan tersebut yang terjadi pertempuran sebanyak sembilan kali yaitu di Badar, Uhud, Khandak, Bani Quraizhah, Mushthaliq, Khaibar, Fathu Makkah, Hunain dan Thaif. Ada yang mengatkan terjadi pertempuran juga di Wadil Qura, al-Ghaba dan Bani Nadhir.

Penulis-penulis Wahyu dan Utusan-utusan Rasulullah SAW

Di antara penulis-penulis wahyu Rasulullah SAW adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Abdullah bin Arqam az-Zuhri, Ubay bin Kaab, Tsabit bin Qais bin Syammas, Khalid bin Said al-Ash, Hanzhalah bin Rabi’, al-Asadi, Zaid bin Tsabit, Muawiyah bin Abu Sofyan, dan Syurahbil bin Hasanah. Muawiyah bin Abu Sofyan dan Zaid bin Tsabit adalah yang paling sering dan khusus dalam menulis wahyu.

Rasulullah SAW mengutus:

1. Amr bin Umayyah ad-Dhamri ke raja Najasyi bernama Ashamah yang berarti pemberian. Najasyi menerima surat Rasulullah SAW dan meletakkannya diantara kedua matanya lalu turun dari singgasananya dan duduk di atas lantai. Ia pun masuk Islam dihadapan Ja’far bin Abi Thalib dan para sahabatnya. Rasulullah SAW melaksanakan shalat gaib ketika ia wafat. Diriwayatkan bahwa kuburannya selalu memancarkan cahaya.

2. Dihyah bin Khalifah diutus ke Kaisar Romawi Heraklius. Ia bertanya tentang Rasulullah SAW dan meyakini kebenaran risalahnya. Ia pun ingin memeluk Islam tapi orang-orang Romawi tidak menyetujuinya lalu ia mengurungkan niatnya karena takut kehilangan kekuasaannya.

3. Abdullah bin Huzafah as-Sahmi diutus ke Kisra Raja Persia. Setelah menerima surat Rasulullah saw ia merobek-robek suart itu. Rasulullah saw lalu berdoa; “Semoga Allah SWT menghancurkan kerajaannya.” Allah SWT mengabulkan doa tersebut dan menghancurkan kerjaannya dan kaumnya.

4. Hatib bin Abi Baltaah al-Lahkmi diutus ke Muqauqis Raja Alexandria dan Mesir. Ia pun menerima dan berkata baik tetapi tidak masuk Islam. Ia memberi Rasulullah saw hadiah budak yaitu Maria al-Qibtiyah dan saudarinya Sirin. Rasulullah saw memberikan Sirin kepada Hassan bin Tsabit dan melahirkan anaknya yang bernama Abdurrahman bin Hassan.

5. Amr bin al-Ash diutus ke Raja Oman Jaifar dan Abd putera Julandi dari Azd. Keduanya pun beriman dan memeluk Islam serta membiarkan Amr mengambil zakat dan mengatur pemerintahan. Dan Amr menetap disana sampai Rasulullah saw wafat.

6. Salith bin Amr bin al-Amiri diutus ke Yamamah menemui Haudzah bin Ali al-Hanafi. Ia pun memuliakannya dan menulis kepada Rasulullah saw: “Alangkah mulia dan indahnya ajaran yang kau serukan. Saya adalah penyeru dan penyair kaumku. Berikanlah aku sebagian kekuasaan“. Rasulullah saw tidak mau mengabulkan keinginannya dan ia pun tidak masuk Islam dan wafat ketika fathu mekah.

7. Syuja bin Wahb al-Asadi diutus ke Harits bin Abi Syamr al-Ghassani raja Balqa suatu daerah di Syam. Syuja berkata:“Setibanya aku disana ia sedang berada didataran renda Damaskus lalu membaca surat Rasulullah saw dan membuangnya seraya berkata: Saya akan datang kepadanya. Tapi Kaisar mencegahnya.

8. Abu Umayyah al-Makhzumi diutus ke al-Harits al-Himyari salah seorang pembesar Yaman.

9. Al-Ala’ bin al-Hadromi diutus ke Munzir bin Sawa al-Abdi raja Bahrain dan membawa surat Rasulullah saw yang menyerukan kepada agama Islam, ia pun masuk Islam.

10. Abu Musa al-Asyari dan Muadz bin Jabal al-Anshari diutus ke Yaman menyeru kepada Islam. Penduduk Yaman dan para penguasanya pun masuk Islam tanpa pertempuran.

Paman dan Bibi Rasulullah SAW

a. Rasulullah saw mempunyai 11 orang paman, yaitu:

1. Al-Harits, putera tertua Abdul Muttalib. Sebenarnya al-Harits ini adalah nama julukan. Banyak di antara putera dan cucunya tergolong Sahabat Rasulullah SAW.

2. Qutsam, saudara seibu Al-Harits. Ia meninggal ketika masih kecil.

3. Zubair bin Abdul Muttalib, termasuk pemuka kaum Quraisy. Puteranya yang bernama Abdullah bin Zubair ikut berjihad bersama Rasulullah saw pada Perang Hunain dan gugur di Ajnadin. Dia gugur dan bersamanya terdapat tujuh orang musuh yang telah dibunuhnya. Dan diantara puteri Zubair adalah Dhuba’ah binti Zubair, ia termasuk Sahabiyah Rasulullah saw dan Ummul Hakam binti Zubair, termasuk Sahabiyah yang meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah saw

4. Hamzah bin Abdul Muttalib, yang bergelar asadullah wa asadu rasulih (singa Allah dan RasulNya). Saudara sepersusuan Rasulullah saw. Masuk Islam sejak awal dakwah Rasulullah saw, kemudian hijrah ke Madinah. Turut serta dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Dan gugur dalam Perang Uhud tersebut. Beliau tidak mempunyai keturunan kecuali seorang puteri.

5. Abul Fadhl, al Abbas bin Abdul Muttalib. Dia termasuk pemeluk Islam yang taat. Turut serta dalam hijrah ke Madinah. Usianya hanya selisih tiga tahun lebih tua dari Rasulullah saw. Meninggal pada tahun 32 H di Madinah, di saat pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan ra. Dia memiliki 10 orang putera, diantaranya: al Fadhl, Abdullah, dan Qutsam. Mereka termasuk Sahabat Rasulullah saw. Diantara paman-paman Rasulullah saw hanya Hamzah dan Abbas yang masuk Islam

6. Abu Thalib bin Abdul Muttalib. Nama aslinya adalah Abdu Manaf. Ia saudara Abdullah (ayah Rasulullah saw) seibu. Termasuk saudara mereka seibu adalah Atikah yang bermimpi dalam perang Badar. Ibu mereka adalah Fatimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum.

Diantara putera Abu Thalib adalah Thalib, yang meninggal dalam kekafiran. Sementara putera yang lain, yaitu Aqil, Ja’far, Ali, dan Ummi Hani’ termasuk sahabat Rasulullah saw. Nama asli Ummu Hani’ adalah Fakhitah. Ada riwayat lain yang menyebutkan nama aslinya Hindun. Termasuk anak Abu Thalib adalah Jumanah.

7. Abu Lahab bin Abdul Muttalib. Nama aslinya adalah Abdul Uzza. Diberi julukan Abu Lahab karena tampan paras wajahnya. Diantara puteranya adalah Utbah dan Muattab. Keduanya turut serta bersama Rasulullah saw dalam Perang Hunain. Putera yang lain, yaitu Durrah juga termasuk sahabat Rasulullah saw. Sementara putera yang lain, yaitu Utaibah meninggal diterkam Singa di Zarqa, daerah Syam lantaran kekufurannya menolak dakwah Rasulullah saw.

8. Abdul Ka’bah

9. Hijl, nama aslinya al Mughirah

10. Dhirar, saudara seibu al Abbas

11. Al-Ghaidaq (sang Dermawan), disebut demikian karena ia adalah orang Quraiay yang paling dermawan dan sering memberi makan.

Rasulullah SAW memiliki 6 orang bibi, yaitu:

1. Shafiyyah binti Abdul Mutthalib. Ia masuk Islam di Makkah kemudian hijrah ke Madinah. Ia adalah saudara seibu dari Hamzah (paman Rasulullah SAW) dan ibu Zubair bin Awwam, seorang sahabat Rasulullah saw. Wafat di Madinah pada saat pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra

2. Atikah binti Abdul Muthtalib. Dalam sebuah riwayat disebutkan beliau adalah seorang muslimah. Bermimpi pada Perang Badar. Ia adalah istri Abu Umayyah bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Diantara puteranya adalah Abdullah, termasuk sahabat Rasulullah saw, dan Zuhair dan Qaribah al Kubra

3. Arwa binti Abdul Mutthalib. Istri Umair bin Wahb bin Abdi Dar bin Qushayy. Dari pernikahan ini lahirlah Thulaib bin Umair, salah seorang Muhajirin senior, turut dalam Perang Badar dan gugur di Ajnadin sebagai syahid.

4. Umaimah binti Abdul Mutthalib, istri Jahsy bin Riab. Dari pernikahan ini lahirlah Abdullah (yang gugur di Uhud), Abdun yang dikenal dengan Abu Ahmad al A’ma si Penyair, Zaenab (istri Rasulullah saw), Habibah, Hamnah. Mereka semua adalah sahabat Rasulullah saw. Demikian pula Ubaidullah bin Jahsy pada mulanya masuk Islam, tetapi kemudian masuk Kristen dan meninggal di Etheopia dalam keadaan kafir.

5. Barrah binti Abdul Mutthalib, istri Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Dari pernikahan ini lahirlah Abu Salamah yang nama aslinya adalah Abdullah. Ia adalah suami Ummi Salamah sebelum diperistri Rasulullah saw. Setelah Barrah diperistri Abdul Asad, ia dinikahi Abu Rahm bin Abdul Uzzabin Abu Qois. Dari pernikahan ini lahirlah Abu Abrah bin Abu Rahm.

6. Ummu Hakim al Baidha’ binti Abdul Mutthalib, istri Quraisy bin Rabiah bin Habib bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Dari pernikahan ini lahirlah Arwa binti Quraiz, ibu dari Utsman bin Affan ra.

Istri-Istri Rasulullah saw

1. Khadijah binti Khuwailid, Wanita pertama yang dinikahi Rasulullah SAW adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab. Saat itu Rasulullah saw berusia 25 tahun. Tatkala turun wahyu pertama kali, Khadijah menjadi wanita yang membenarkan dan mendukung Rasulullah saw. Ia wafat 3 tahun sebelum hijrah. Ada riwayat yang menyebutkan 4 tahun sebelum itu dan ada pula yang menyebutkan 5 tahun sebelumnya.

2. Saudah binti Zam’ah, Rasulullah saw juga menikahi Saudah binti Zam’ah bin Qois bin Abdu Syams bin Abdu Wud bin Nasr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luayyi. Pernikahan tersebut dilakukan Rasulullah saw di Mekah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Sebelum dinikahi Rasulullah saw, Saudah adalah seorang istri yang dicerai suaminya, yaitu Sakran bin Amr, saudara Suhail bin Amr. Ketika Rasulullah saw telah menikahi Aisyah, Saudah memberikan jatah hari gilirnya pada Aisyah.

3. Aisyah binti Abu Bakar as Siddiq, Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar as Siddiq di Mekah 2 tahun sebelum hijrah. Ada riwayat yang mengatakan 3 tahun sebelum itu. Saat itu ia baru berusia 6 tahun. Ada yang menyebutkan 7 tahun.Tetapi yang benar adalah 6 tahun. Rasulullah saw menggaulinya baru pada usia 9 tahun. Pada waktu itu Rasulullah saw di Madinah baru 7 bulan. Ada riwayat yang menyebutkan baru 18 bulan. Ketika Rasulullah saw wafat, ia berusia 18 tahun. Ia juga wafat di Madinah tahun 58 Hijiyah dan dimakamkan di Baqi’ atas wasiatnya. Ada riwayat yang menyebutkan wafat tahun 57 H, tetapi yang benar 58 H. Abu Hurairah ra turut menshalati jenazahnya. Rasulullah saw tidak pernah menikahi gadis lain selainnya. Ada riwayat yang menyebutkan ia pernah keguguran, tetapi riwayat ini lemah. Julukannya adalah Ummu Abdillah.

4. Hafshah binti Umar bin Khatthab ra, Sebelum menjadi istri Rasulullah saw, Hafshah adalah istri Hunais bin Hudzafah, salah seorang sahabat yang gugur di Perang Badar. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah menceraikan Hafshah, namun datanglah Malaikat Jibril dan berkata:“Sesungguhnya Allah menyuruhmu (hai Muhammad) untuk rujuk kembali dengan Hafshah, karena ia rajin puasa, shalat malam dan kelak akan menjadi istrimu di surga “.

Uqbah bin Amir al-Juhani meriwayatkan: “Rasulullah saw menceraikan Hafshah binti Umar, lalu kabar itu pun sampai ke telinga Umar. Lalu Umar pun menabur kepalanya dengan tanah dan berkata dengan penuh kesedihan: “Allah sudah tidak peduli lagi pada Umar dan putrinya setelah peristiwa ini.“ Lalu turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu (hai Muhammad) untuk rujuk kembali dengan Hafshah, karena Dia menyayangi Umar. “ Hafshah wafat tahun 27. Ada riwayat yang menyebutkan wafat tahun 28.

5. Ummu Habibah binti Abu Sofyan, Nama aslinya adalah Ramlah binti Shokhr bin Harb bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Hijrah bersama suaminya, Ubaidullah bin Jahsy ke Habasyah. Suaminya berpindah agama menjadi Kristen, sementara ia tetap pada keislaman. Rasulullah saw menikahinya saat ia masih di Habasyah. Negus, raja Habasyah saat itu memberikan mas kawin atas nama Rasulullah saw senilai 400 dinar. Rasulullah saw mengutus Amr bin Umayyah ad Dhomari untuk mengurus pernikahan ini ke Habasyah. Bertindak sebagai wali nikah adalah Usman bin Affan. Ada riwayat yang menyebutkan Khalid bin Said bin As. Ummu Habibah wafat tahun 44 H.

6. Ummu Salamah, Nama aslinya adalah Hindun bin Abu Umayyah bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzh bin Murrah bin Ka’b bin Luayyi bin Ghalib. Sebelum menjadi istri Rasulullah saw, Ummu Salamah adalah istri Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, salah seorang sahabat Rasulullah saw. Ummu Salamah wafat tahun 62 Hijriah dan dimakamkan di Baqi’, Madinah. Ia adalah istri Rasulullah saw yang paling akhir wafatnya. Tetapi ada yang menyebutkan bahwa yang paling akhir adalah Maimunah.

7. Zaenab binti Jahsy, Zaenab adalah puteri Jahsy bin Riab bin Ya’mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Muad bin Adnan, puteri bibi Rasulullah saw, Umamah bin Abdul Mutthalib. Sebelumnya ia adalah istri Zaid bin Harisah, mantan budak Rasulullah saw yang telah menceraikannya. Kemudian Allah pun menikahkan Rasulullah saw dengannya langsung dari langit, tiada seorang pun yang mengakadkannya. Sebuah riwayat sahih menyebutkan bahwa beliau berkata pada istri-istri Rasulullah yang lain: “Kalian dinikahkan oleh ayah-ayah kalian, sementara aku dinikahkan langsung oleh Allah dari atas langit ketujuh.“ Ia wafat di Madinah pada tahun 20 H dan dimakamkan di Baqi’

8- Zainab binti Khuzaimah, Zaenab putri Khuzaimah bin al-Harits bin Abdullah bin Amr bin Abdu Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah. Dijuluki “ibu orangorang miskin“ karena kedermawanannya terhadap orang-orang miskin. Sebelumnya menikah dengan Rasulullah saw ia adalah istri Abdullah bin Jahsy. Ada riwayat yang mengatakan ia istri Abdu Thufail bin al-Harits, tetapi pendapat pertama adalah yang sahih. Ia dinikahi Rasulullah saw pada tahun ke 3 H dan hidup bersamanya selama dua atau tiga bulan.

9. Juwairiyah binti al-Harits, Juwairiyah putri al-Harits bin Abi Dhirar bin Habib bin A’idz bin Malik bin al-Musthalik al-Khuzaiyah. Ia sebelumnya adalah tawanan perang pada perang bani Musthalik dan menjadi milik Tsabit bin Qais bin Syimas. Tsabit lalu menawarkan pembebasannya dengan syarat ia dapat membayar tebusannya. Kemudian Rasulullah saw membayar tebusannya dan menikahinya di tahun 6 H. Ia wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 56 H.

10. Shafiyyah binti Huyay, Shafiyyah binti Huyyay bin Akhtab bin Abi Yahyabin Kaab bin al- Khazraj an-Nadhriyyah keturunan dari Nabi Harun bin Imran –saudara nabi Musa- alaihimassalam. Menjadi tawanan pada perang Khaibar tahun 7 H. Sebelummya ia adalah istri Kinanah bin Abi al-Huqaiq yang dibunuh atas perintah Rasulullah saw. Rasulullah saw membebaskan Shafiyyah dan menikahinya serta menjadikan pembebasannya sebagai mas kawinnya. Wafat pada tahun 30 H atau menurut riwayat lain tahun 50 H.

11. Maimunah binti al-Harits

Maimunah binti al-Harits bin Hazn bin Bujair bin al-Harm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah bibi dari Khalid bin Walid dab Abdullah bin Abbas. Rasulullah saw menikahinya di tempat yang bernama Sarif suatu tempat mata air yang berada sembilan mil dari kota Mekah. Ia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah saw. Wafat di Sarif pada tahun 63 H. Inilah istri-istri Rasulullah saw berjumlah sebelas orang, sementara terdapat tujuh orang lagi yang beliau nikahi, tetapi tidak beliau gauli.

Pembantu-Pembantu Rasulullah SAW

1. Anas bin Malik bin Nadhr al Anshari ra

2. Hindun dan Asma’ yang keduanya putra Haritsah al Aslami

3. Rabiah bin Ka’b al Aslami.

4. Abdullah bin Mas’ud yang dikenal sering membawakan sandal, Rasulullah saw. Jika beliau hendak pergi Abdullah membantu mengenakannya, bila beliau duduk Abdullah memegang di tangannya hingga beliau akan beranjak pergi.

5. Uqbah bin Amir al Juhani yang senantiasa setia menuntun bagal (peranakan kuda dan keledai) beliau dalam perjalanan.

6. Bilal bin Rabah, yang biasa bertugas adzan.

7. Saad, bekas budak Abu Bakar as Shiddik.

8. Dzu Mihmar, keponakan Raja Najasyi. Ada riwayat yang menyebutkan namanya Mihbar.

9. Bukair bin Suddakh al Laytsi. Ada yang menyebut namanya Bakr

10. Abu Dzar al Ghifari

Budak-Budak yang Beliau Bebaskan

1. Zaid bin Haritsah bin Surahbil al Kalbiy

2. Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Haritsah, sehingga Usamah disebut kekasih putra kekasih.( Usamah putra Zaid, dan keduanya disayangi Rasulullah saw).

3. Tsauban bin Bujdad, dia keturunan Yaman

4. Abu Kabsyah, lahir di Mekah. Dalam riwayat lain, disebutkan namanya Sulaim, dan lahir di Daus. Beliau gugur dalam Perang Badar.

5. Anasah, lahir di Suroh

6. Shaleh

7. sukron

8. Rabah

9. Aswad

10. Yusar

11. Nubiy

12. Abu Rafi, ada yang menyebut Ibrahim. Sebelumnya dia adalah budak al-Abbas, lalu dihadiahkan kepada Rasulullah SAW dan beliau bebaskan

13. Abu Muwaihibah, yang lahir di Muzainah

14. Fadhalah, tinggal di Syam

15. Rafi’. Dahulu dia adalah budak Said bin al-As yang diwariskan kepada putera-puteranya. Di antara mereka ada yang membebaskan, ada pula yang menahannya. Lalu datanglah Rafi kepada Rasulullah SAW meminta pertolongan untuk dibebaskan, lalu beliau bebaskan.

16. Mid’am,

17. Aswad, yang diperoleh Rasulullah SAW dari Rifa’ah bin Zaidal Judzami. Dia lahir di Hisma dan terbunuh di Lembah Qura.

18. Kirkirah, dahulu ia adalah pelayan Rasulullah saw bila beliau dalam perjalanan

19. Zaid, kakek Hilal bin Yasar bin Zaid

20. Thahman alias Kaisan alias Mihran alias Dzakwan alias Marwan

21. Ma’bur al Qibti, Rasulullah saw mendapatkannya dari al Muqouqis

22. Waqid, Abu Waqid, Hisyam, Abu Dhumairah, Hunain, Abu ‘Ashib( nama aslinya Ahmar), dan Abu Ubaid.

23. Safinah, dulu ia budak Umi Salamah, istri Rasulullah saw. Lalu oleh Umi Salamah ia dibebaskan dengan syarat ia harus menjadi pelayan Rasulullah saw selama hidupnya.Ia pun berkata kepada Umi Salamah: “Sekalipun Engkau tidak memeberi syarat tersebut, aku tidak ingin berpisah dengan Rasulullah saw.

Itu para budak yang dikenal dalam sejarah, bahkan ada yang menyebutkan jumlah mereka mencapai 40 orang. Sementara dari kalangan budak wanita yang beliau bebaskan, diantaranya adalah:

1. Salma Ummu Rafi,

2. Barakah “Ummu Aiman”, dia diperoleh Rasulullah saw sebagai warisan dari ayah beliau. Dia adalah ibu Usamah bin Zaid

3. Maimunah binti Saad

4. Khadirah

5. Radwa

Beberapa Hewan Tunggangan Rasulullah SAW

1. Kuda pertama yang dimiliki Rasulullah SAW bernama as-Sakb. Beliau membelinya dari seorang Arab Baduwi dari Bani Fazarah seharga 10 uqiyah (mata uang zaman dahulu). Saat dimiliki penjualnya, ia bernama ad Dharis, lalu oleh Rasulullah saw diganti dengan as-Sakb. Kuda tersebut memiliki warna putih di kaki dan kepalanya sebelah kanan. Itu adalah kuda pertama Rasulullah saw yang digunakan di medan perang. Ia memiliki pakaian dari kulit. Suatu saat Rasulullah saw lomba pacuan kuda, dan beliau mengendarainya lalu beliau menang. Karena itu beliau senang padanya. Kuda yang kedua adalah Al Murtajaz. Rasulullah saw membelinya dari seorang Arab Baduwi yang disaksikan oleh Khuzaimah bin Tsabit. Baduwi tersebut dari Bani Murrah. Sahl bin Saad as Saidi berkata:“Rasulullah saw memiliki tiga ekor kuda yang kupelihara, yaitu: Lizaz, Dharib, dan Luhaif. Adapun Lizaz adalah hadiah dari al Muqoiqis; sedangkan Luhaif hadiah dari Rabiah bin Abi Bara, yang dibalas Rasulullah saw dengan beberapa baju kulit dari Bani Kilab; dan Dharib adalah hadiah dari Farwah bin Amr al Judzami. Kuda yang ketiga adalah Al Wardu. Ini adalah hadiah dari Tamim ad Dari. Lalu diberikan kepada Umar. Beberapa saat kemudian oleh Umar kuda tersebut dijual Bagal dan Himar

2. Rasulullah saw memiliki bagal yang beliau kendarai saat bepergian. Rasulullah saw biasa menumbuk gandum sebagai makanan bagal tersebut. Bagal yang bernama Duldul tersebut masih hidup sepeninggal Rasulullah saw, hingga tanggal gigi-giginya.Hingga akhirnya ia meninggal di Yanbu’. Adapun Himar Rasulullah saw yang bernama Ufair meninggal saat haji Wada’.

3. Rasulullah saw memiliki 20 Unta perahan yang dibiarkan berkeliaran di hutan. Setiap malam diperah susunya hingga terkumpul 2 geriba (tempat susu dari kulit) yang besar. Diantara unta-unta tersebut ada beberapa unta yang deras susunya, yaitu: al-Hanna, as-Samra’, al-Urais, as-Sa’diyah, al-Baghum, al-Yasirah, dan ar-Rayya. Ada unta yang bernama Burdah, hadiah dari ad-Dahhak bin Sofyan, yang juga deras perahan susunya. Adapula yang bernama Mahrah dan as-Saqra’ merupakan kiriman dari Sa’d bin Ubadah. Dua unta tersebut adalah kendaraan terbagus dari Bani Uqail. Adapula yang bernama al’Adhba’ yang dibeli oleh Abu Bakar dari Bani Harisy seharga 800 dirham. Lalu oleh Rasulullah saw dibeli dengan 400 dirham. Unta tersebut dikendarai saat hijrah ke Madinah. Saat beliau tiba di Madinah, unta itu merupakan tunggangan yang terbaik. Itulah yang disebut al-Qoswa, terkadang disebut al-Jad’a. Karena menyusahkan kaum muslimin, maka diikat agar tidak berontak lari.

4. Rasulullah saw memiliki tujuh ekor kambing pemberian orang, yang bernama: Ujrah, Zamzam, Suqya, Barakah, Warsah, Athlal, dan Athraf. Disamping itu beliau memiliki 100 ekor kambing yang lain.

Senjata-senjata Rasulullah saw

1. Beliau memiliki 3 tombak yang diperoleh dari Bani Qoinuqa.

2. Rasulullah saw juga memiliki 3 busur panah, masing masing bernama: Rauha’, Sauhath, dan si Kuning (karena berwarna kuning).

3. Beliau memiliki perisai yang terdapat ukiran kepala kambing. Beliau tidak menyukainya. Maka keesokan harinya Allah menghilangkan ukiran tersebut.

4. Pedang beliau yang bernama Dzul Fikar didapatkan saat perang Badar, dulu pedang tersebut milik Munabbih bin Hajjaj as Sahmi. Disamping itu beliau memiliki 3 pedang dari Bani Qoinuqa’, yaitu: Pedang dari timah putih, Pedang yang bernama Battar, dan Pedang yang bernama al Hatf. Beliau juga memiliki pedang yang diberi nama mikhdam dan rasub yang diperoleh dari penghancuran fulus nam sebuah berhala suku Thay.

5. Rasulullah saw memperoleh dari senjata Bani Qainuqa dua buah baju besi yang diberi nama as-Sa ’diyah dan Fiddhoh.

REFERENSI

Abdul Ghani al-Maqdisi, ad-Durrah al-Mudhi’ah fi as-Sunnah an-Nabawiyah, Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, 2008.


[1] Nasab ini disebutkan oleh Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani di salah satu riwayatnya. Nasab Rasulullah sampai Adnan disepakati oleh para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat. Yang dimaksud Quraisy adalah putra Fihr bin Malik atau an-Nadhr bin Kinanah.

[2] Tahun dimana terjadi penyerangan kota Mekah oleh pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah seorang raja nasrani yang berasal dari Habashah, setelah dia berhasil menghancurkan kerajaan dzun Nuwas yang berada di Yaman, dia membuat gereja di kota San’a (ibu kota Yaman) dan hendak menghancurkan kabah di Mekah yang dipandang pusat dari peradaban bangsa Arab, Pasukan ini akhirnya hancur tanpa ada seorang manusia pun yang melihat kejadian kehancurannya, menurut QS. Al-Fiil, sesungguhnya pasukan tersebut dihancurkan burung Ababil, menurut sejarawan barat pasukan ini hancur terkena cacar karena kulit karena kulitnya seperti terbakar. Sebagian Ulama ada yang mengatakan kalau kelahiran Rasulullah saw adalah 30 Tahun setelah tahun gajah, bahkan ada yang mengatakan 40 tahun setelah tahun gajah.

[3] Ayah dan Ibu Rasulullah saw memiliki kekerabatan di Ghalib

[4] tetapi ada beberapa ulama yang mengatakan kalau ayahnya meninggal ketika Rasulullah saw berusia dua puluh delapan bulan, ada juga yang mengatakan tujuh bulan.

[5] Pendapat lain mengatakan empat tahun

[6] Kota Yatsrib berubah namanya menjadi Madinah Al-Munawaroh setelah kedatangan Rasulullah (Hijrah)

[7] Pendapat lain mengatakan Sembilan tahun

[8] Menurut beberapa ahli, ciri kenabian tersebut dilihat dari tengkuk Rasulullah saw, ada juga yang mengatakan di wajah, yang lain berpendapat bahwa Buhaira melihat rombongan yang Abu Thalib ikuti diikuti oleh awan peneduh yang senantiasa mengikuti rombongan tersebut.

[9] Buhaira berpendapat kalau orang-orang Yahudi mengharapkan kedatangan Nabi yang baru, tetapi mereka berpandangan kalau nabi yang mereka tunggu bersal dari keturunan Ishak bin Ibrahim bukan dari kalangan Arab yang ketururnan Ismail bin Ibrahim, sehingga Buhaira takut kalau orang-orang Yahudi nantinya akan mempersulit bahkan membunuh Nabi saw yang masih kecil.

[10] Terjadi perbedaan pendapat dalam waktu penguburan Rasulullah saw dimana pada masa itu banyak sahabat yang berada di negeri yang jauh, akhirnya penguburan Rasulullah saw menunggu kepulangan para sahabat tersebut.

[11] sebuah negeri di Yaman


About this entry