Tantangan dan Peluang Industri Asuransi Indonesia 2015

Dalam tulisan ini akan diulas mengenai proyeksi pertumbuhan industri perasuransian di Indonesia pada tahun 2015. Faktor-faktor yang akan menjadi dasar adalah kebijakan yang berjalan di tahun 2015 dan prakiraan (forecast) kondisi ekonomi makro Indoensia di tahun 2015.

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015

Pada tahun 2007 telah disepakati Blue Print MEA 2015 yang mana Indonesia terlibat langsung di dalamnya. Adapun dengan adanya kesepakatan tersebut maka akan menjadikan ASEAN sebagai kawasan pasar terbesar ke-3 didunia setelah China dan India. Hal tersebut patut di pandang selain sebagai tantangan tetapi juga sebagai peluang bagi seluruh pelaku bisnis terutama yang bergerak di sektor jasa keuangan seperti industri perasuransian.

Dalam hal tantangan, maka MEA 2015 perlu disikapi sebagai momentum bagi perusahaan asuransi di Indonesia untuk berbenah diri. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Industri Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Firdaus Djaelani, Negara-negara di ASEAN sudah membangun infrastruktur agar lebih efisien terutama dalam bidang teknologi informasi dan sumber daya manusia. Selain itu, menurutnya perusahaan asuransi di Indonesia juga tertantang untuk membangun inovasi produk dan pemasaran sehingga mampu kompetitif dalam MEA 2015.

Menyikapi tantangan tersebut, sebenarnya perusahaan asuransi lokal lebih memiliki keuntungan daripada perusahaan asuransi asing (joint venture) yang saat ini sudah lebih banyak beroperasi di Indonesia dalam hal pengalaman. Perusahaan asuransi lokal tentunya sudah memiliki pengalaman yang lebih panjang dalam memahami budaya dan perilaku konsumen/pasar di Indonesia sehingga akan lebih mudah dalam melakukan inovasi produk dan pemasaran menyesuaikan kebutuhan dan keinginan pasar.

Dalam hal peluang, MEA 2015 juga menjadi pintu gerbang yang terbuka bagi perusahaan asuransi lokal untuk melakukan ekspansi pasar sebagaimana industri perbankan nasional telah melakukan ancang-ancang dalam menembus pangsa pasar yang lebih besar. Dalam hal ini tentunya inisiasi/campur tangan pemerintah sangat diperlukan dalam memastikan proses berjalan dengan semestinya.

Coordination of Benefit (CoB) 30 Perusahaan Asuransi dan BPJS Kesehatan

Selain MEA, pada tahun 2015 pemerintah Indonesia juga memberlakukan kebijakan dimana bagi perusahaan badan usaha milik negara (BUMN), usaha besar, kecil, dan menengah diwajibkan mendaftarkan karyawannya untuk kepersertaan jaminan kesehatan sebelum 1 Januari 2015. Dengan adanya kebijakan tersebut, menurut Angelia Agustine (Head of Group Policy Management and Claim PT Asuransi Allianz Life Indonesia) tahun 2015 akan menjadi tahun yang berat untuk industri asuransi khususnya asuransi jiwa. Menurtutnya, pada tahun 2015 perusahaan akan terbagi menjadi tiga golongan, yaitu perusahaan yang hanya menggunakan BPJS Kesehatan, perusahaan yang mengambil BPJS Kesehatan namun mengurangi perlindungan dari asuransi swasta CoB, dan perusahaan yang tetap mempertahankan perlindungan asuransi swasta dan BPJS Kesehatan.

Dalam kondisi demikian, pada awalnya perusahaan akan memandang CoB sebagai biaya tambahan atau pajak. Tetapi, diperkirakan adanya tekanan tersebut tidak akan berlangsung lama. Setelah kurun waktu 6-12 bulan diperkirakan sebagian besar perusahaan di Indonesia akan masuk sebagai golongan ketiga yakni menggunakan perlindungan baik BPJS Kesehatan maupun CoB perusahaan asuransi swasta.

Peranan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan lembaga regulator bagi industri jasa keuangan di Indonesia yang mana industri perasuransian berada di dalamnya. Keberadaan OJK tentu bertujuan untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan industri jasa keuangan di Indonesia. Dalam hal ini di tahun 2015 OJK akan lebih berperan dalam mendorong pertumbuhan industri perasuransian di Indonesia.

OJK optimistis pendapatan premi asuransi, baik asuransi jiwa maupun asuransi umum akan tumbuh hingga 20% pada tahun 2015. Sikap optimistis tersebut lebih banyak didasari oleh besarnya populasi masyarakat Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa sebagai basis yang potensial bagi pertumbuhan industri perasuransi. Selain itu, penetrasi asuransi bisa dikatakan masih rendah di kisaran 2%.

Firdaus Djaelani (Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK) mengatakan kenaikan/pertumbuhan bisa didorong secara bertahap karena pemerintah terus melakukan sosialisasi, edukasi mengenai pentingnya keuangan, terutama asuransi sebagai proteksi dasar. Namun dalam usaha tersebut literasi keuangan menjadi salah satu persoalan utama yang selalu dihadapi. Solusinya pun hanya satu yaitu dibutuhkan upaya sosialisasi terus menerus dan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.

Di sisi lain, laporan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan total premi yang dikumpulkan perusahaan asuransi umum sepanjang Januari-Juni 2014 sebanyak Rp25,5 triliun atau naik 21% sepanjang paruh awal tahun ini. Berbeda dengan asuransi umum, total pendapatan premi asuransi jiwa justru terpangkas tipis 2,5% pada periode yang sama. Namun, sejumlah pihak sempat memprediksi bahwa penurunan pendapatan premi asuransi jiwa itu hanya sementara dan akan tumbuh kembali di atas 10% di akhir tahun 2014 ini.

Disamping itu, hingga saat ini industri perasuransi di Indonesia masih dikuasai oleh perusahaan asing yang melebarkan pangsa pasar di Indonesia. Dari keseluruhan pasar premi asuransi di Indonesia tercatat 60% premi masuk ke pihak asinh melalui joint venture-nya yang beroperasi di dalam negeri. OJK mengungkapkan ingin mendorong industri asuransi Indonesia untuk dapat kembali seperti di era tahun 1990-an dimana pangsa premi asuransi di Indonesia dapat dikuasai oleh perusahaan asuransi dalam negeri. Adanya visi dari pemerintah melalui OJK tersebut tentu dapat menjadi acuan optimistis akan perkembangan industri asuransi Indonesia tahun 2015.

Pengaruh Ekonomi Makro Terhadap Industri Asuransi

Terdapat beberapa faktor ekonomi makro yang dapat mempengaruhi pertumbuhan asuransi jiwa di Indonesia. Diantaranya faktor tersebut adalah rasio pemegang polis terhadap jumlah penduduk, perkembangan premi bruto, dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan konsumsi masyarakat, daya beli konsumen, dan kesadaran masyarakat akan kebutuhan asuransi jiwa serta tingkat kepercayaan terhadap perusahaan asuransi jiwa. Adapun untuk asuransi umum, faktor-faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhannya adalah pertumbuhan ekonomi di sektor riil, serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Tingkat inflasi secara langsung mempengaruhi kinerja/laba perusahaan di sektor riil serta daya beli masyarakat. Kenaikan tingkat inflasi di suatu tahun dapat meningkatkan biaya produksi sehingga mengurangi laba perusahaan. Kenaikan tingkat inflasi juga dapat melemahkan daya beli masyarakat. Variabel lain yang menentukan pertumbuhan ekonomi di sektor riil adalah tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga merupakan landasan atau ukuran bagi layak atau tidak layaknya suatu usaha/investasi. Tingkat suku bunga juga merupakan indikator penentuan tingkat pengembalian modal atas risiko yang ditanggung oleh pemilik modal di pasar keuangan dan pasar modal. Tingkat suku bunga yang rendah akan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor riil ke arah yang lebih baik.

Di akhir 2014 ini pemerintah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 pada tingkat 5,8% dari sebelumnya 5,6%, Selain itu pemerintah juga mengubah beberapa asumsi makro 2015 seperti inflasi menjadi 4,4 plus minus satu persen, dari sebelumnya hanya 4,4 persen. Begitu pula dengan nilai tukar rupiah di level Rp 11.600 hingga Rp 11.900. Dengan asumsi tidak terdapat kebijakan yang signifikan mengubah tingkat suku bunga di tahun 2015 maka perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa tingkat inflasi sudah pada level yang cukup baik dan terkendali, dimana tren ini merupakan sinyal positif bagi kinerja perusahaan dan daya beli masyarakat. Inflasi yang rendah dan terkendali, nilai tukar rupiah terhadap dolar yang stabil, merupakan sinyal positif yang mempengaruhi keputusan pelaku usaha/perusahaan untuk melakukan investasi, selain faktor-faktor non-ekonomi lainnya. Sektor riil yang bergerak memberikan peluang peningkatan permintaan pelaku usaha atas asuransi umum. Sinyal positif ini juga akan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga permintaan mereka atas asuransi jiwa juga diharapkan dapat meningkat. Hal ini memberikan harapan baru bagi asuransi jiwa dan asuransi umum dalam pertumbuhan pangsa pasarnya. Semakin besar pangsa pasar asuransi yang tergarap, secara otomatis makin besar juga pangsa pasar reasuransi.

Dari empat ulasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat peluang yang besar bagi perusahaan dan industri asuransi di Indonesia untuk lebih tumbuh dan berkembang lagi di tahun 2015. Sejalan dengan pemerintah yang akan terus menjaga kondisi makro ekonomi Indonesia tetap stabil, maka inovasi produk dan distribusi yang dilakukan oleh industri asuransi di tahun 2015 akan memberikan pengaruh positif yang besar bagi perkembangan industri asuransi di masa-masa mendatang. Selama kondisi ekonomi makro Indonesia di tahun 2015 berjalan sesuai dengan asumsi dan proyeksi pemerintah saat ini maka selama itu juga ruang yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan/industri asuransi lokal untuk dapat meningkatkan kinerja, berkembang dan bersaing dalam industri keuangan global.

Referensi:

http://bisnis.liputan6.com/read/2027603/kaya-pengalaman-jadi-modal-industri-asuransi-ri-hadapi-mea-2015 (dibuka 06/11/2014)

http://finansial.bisnis.com/read/20140923/215/259509/industri-asuransi-premi-bakal-tumbuh-20-pada-2015-ini-alasannya (dibuka 06/11/2014)

http://www.beritasatu.com/asuransi/210098-allianz-life-perkirakan-tahun-2015-berat-untuk-industri-asuransi.html (dibuka 06/11/2014)
http://bisnis.liputan6.com/read/2118616/industri-asuransi-ri-masih-dikuasai-asing(dibuka 06/11/2014)

http://masherla.wordpress.com/2012/01/09/pengaruh-ekonomi-makro-terhadap-bisnis-asuransi/ (dibuka 06/11/2014)

About the Author

Alumni of accounting @11MaretUniv /ex. Announcer @MentariFMSolo /ex. Dir. of finance&adm @KOPMAUNS /Member of @BeswanDjarum 26//