Kawah darajat (Darajat crater)

Kali ini saya akan berbagi cerita tentang travelling saya ke Kabupaten Garut pada 17-18 Oktober lalu. Saya bersama 7 orang teman sekantor saya berangkat dari Jakarta Selatan menuju Kabupaten Garut Jawa Barat pada pukul 09.00 pagi. Kami berangkat mengggunakan dua mobil terpisah sehingga di dalam mobil kami masing-masing cukup lega. Tujuan perjalanan kami adalah kawah darajat, dataran tinggi yang memiliki kawah/sumber air panas sebagai objek wisatanya. Kebetulan travelling kami tersebut adalah untuk merayakan ulang tahun salah seorang teman sekantor saya sehingga seluruh biaya perjalanan kami disponsori olehnya.

20141019_105240_1

Genk

Perjalanan kami melalui jalan tol cipularang dan kami sempat beberapa kali beristirahat di rest area. Setelah itu kami menlintasi jalan raya Nagreg dan beristirahat di sebuah restoran untuk makan siang dan sholat pad apukul 13.00. Selanjutnya pada pukul 14.00 kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Kawah Darajat dan sampai kira-kira pada pukul 15.30.

Saat itu merupakan pertama kalinya saya mengunjungi tempat tersebut, secara sekilas kompleks wisata Kawah Darajat hampir sama dengan Umbul Sidomukti yang berada di daerah Bandungan Jawa Tengah. Kami telah memesan satu cottage di sebuah resort bernama Puncak Darajat sebelumnya seharga Rp. 1.500.000,00. Kami sempat menyesal telah memilih resort tersebut karena air yang ada di kamar mandi yang keluar dari keran sangatlah panas untuk bisa digunakan mandi seperti biasa, berbeda dengan resort lain di kawasan tersebut yang airnya tidak sepanas itu ataupun bisa diatur tingkat panas yang diinginkan. Kami pun mencoba mencari penginapan/cotage di resort lain dan berniat mengikhlaskan uang yang telah dibayarkan dengan membatalakan menginap di resort yang telah kami pesan tersebut, namun ternyata semua resort yang kami hubungi telah penuh sehingga kami pun bermalam ditempat itu.

20141018_184839_1

Visiting the orphanage of Ibu Hj. Aledja Anggapradja

Pada menjelang malam hari kami berlima turun ke bawah ke pusat keramaian Garut, kami meninggalkan dua orang rekan kami yang ingin beristirahat di dalam cottage. Mulanya kami mampir di sebuah warung bakso Garut, di tempat itu kamu menikmati satu mangkuk bakso kuah yang berisi satu buah bakso berukuran besar dengan isi daging dan beberapa buah bakso yang lebih kecil, ya itulah bakso khas Garut. Setelah itu kami diajak salah seorang teman kami yaitu Mas Dwi ke rumah kerabatnya yang tinggal di Garut, kami bersilaturahim dengan keluarga teman kami hingga malam hari sekitar pukul 20.30 kami baru kembali menuju kawah darajat. Selama bersilaturahmi kami banyak berbincang dengan bibi teman kami tentang rumahnya yang besar dan juga banyaknya hewan peliharaan yang keluarga tersebut pelihara. Tidak hanya itu, saya secara pribadi merasa sangat bersyukur saat itu karena melihat di rumah yang besar tersebut ternyata juga merupakan Panti Asuhan ibu Hj. Aledja Anggapradja yang bertempat di jalan pasundan tepat bersebelahan dengan pabrik dodol “picnic” yang terkenal khas Garut. Panti Asuhan Ibu Hj. Aledja Anggapradja tersebut merupakan panti asuhan keluarga yang dikelola sejak generasi orang tua dari bi Darsih (bibi teman saya sekaligus pengelola panti). Di tempat itu kami menyaksikan anak-anak asuh melakukan berbagai aktivitas seperti belajar dan juga beribadah di dalam masjid yang juga berada di dalam panti tersebut. Ketika kami memasuki wilayah panti anak-anak asuh langsung menyambut kami dan bersalaman mencium tangan kami (salim-bahasa jawa). Pada saat itu saya merasa ingin sekali suatu saat nanti saya juga dapat lebih bermanfaat bagi sesama dengan mengelola panti asuhan yang menampung anak-anak yatim piatu seperti bik Darsih. Betapa besar sekali pahala yang diterima atas kebaikan (amal jariyah) dari keluarga yang didalamnya memuliakan anak-anak yatim seperti halnya keluarga yang kami kunjungi tersebut. Kami diminta untuk mampir lagi keesokan harinya sebelum kami kembali ke Jakarta oleh Bik Darsih karena pada malam itu sangat disayangkan kami tidak menginap di rumah tersebut padahal terdapat banyak kamar tamu kosong yang bisa kami pergunakan, sayang sekali juga kami terlanjur membayar lunas penginapan kami di resort yang kami tempati.

Kami kembali menuju resort di Kawah Darajat pada pukul 20.30. Ketika kami melintasi jalan yang sudah cukup menuju dataran tinggi suasana mencekam sempat kami alami dikarenakan adanya kabut tebal yang membuat jarak pandang dari dalam mobil kami mnjadi sangat pendek. Kami lantas berdoa, tetap waspada dan tidak panik selama perjalanan yang diselimuti kabut tersebut, dna akhirnya kami tiba di resort kami dengan selamat. Kami langsung bersiap untuk beristirahat karena udara yang sudah mulai dingin.

20141019_075442_1

Darajat Crater-1

Keesokan harinya (Sabtu 18 Oktober 2014) setelah bangun dan sholat subuh, kami melihat udara di luar masih sangat dingin dan berkabut. Kami yang sebelumnya bersemangat untuk berjalan-jalan ke atas menuju Objek Kawah Darajat akhirnya sejenak mengurungkan niat dan menunggu sampai udara cukup hangat setelah berjalan beberapa meter keluar dari kompleks resort kami. Sejenak kami duduk di warung untuk memesan minuman hangat dan gorengan dan baru pada sekitar pukul 07.30 kami menggunakan mobil menuju Kawah Darajat. kami tidak diperbolehkan untuk jalan sendiri namun harus dipandu oleh pemuda karang taruna di wilayah tersebut dengan membayar biaya retribusi Rp 150.000,00. Kawah Darajat sendiri termasuk di dalam kawasan operasi/eksplorasi gas alam Chevron sehingga menurut pengakuan pemandu tidak diperbolehkan memaskuki kawasan kawah pada hari kerja.

20141019_080506_1

Darajat Crater-2

20141019_074353_1

Darajat Crater-3

Di dalam kompleks kawah terdapat beberapa kawah yang juga merupakan sumber mata air panas dengan temperatur suhu beragam, ada kawah dengan suhu 70 sampai dengan 200 derajat celcius. Di sekitar kawah dipasang pagar pengaman segerhana guna mencegah pengunjung anak anak mendekati masuk ke dalam kawah. Kami mengakhiri kunjungan kami di dalam kompleks kawah pada pukul 09.00 dan kembali menuju resort. Kami lantas bersiap dan berkemas untuk meninggalkan resort menuju destinasi kami selanjutnya yaitu pusat kerajinan Sukaregang, Garut.

Kami meninggalkan resort Puncak Darajat pada pukul 10.00 dan siang hari kami telah sampai di pusat kerajinan kulit Sukaregang. Di tempat itu dijual berbagai barang kerajinan berbahan kulit seperti jaker, tas, dompet, sandal, sepatu dan ikat pinggang. Banyak teman saya membeli barang-barang tersebut sebagai oleh-oleh sedangkan saya lebih memilih sholat dzuhur di masjid di sekitar tempat itu dan tidak membeli barang apapun karena memang saya tidak suka mengenalan aksesoris berbahan kulit. Setelah puas berbelanja kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi kembali Panti Asuhan Ibu Hj. Aledja Anggapradja kediaman keluarga Mas Dwi untuk beristirahat, makan siang sampai dengan waktu ashar dan kami melaksanakan sholat ashar. Sebelum menyudahi silaturahmi kami, salah seorang teman kami Mbak Siti yang tengah berulang tahun sengaja memberikan sumbangan kepada panti paling tidak sebagai ganti atas jamuan dan sambutan yang telah kami terima.

Setelah silaturahim kami tersebut kami meninggalkan Garut pada pukul 15.30 menuju Jakarta dan tiba pada pukul 21.00 malam. Perjalanan pulang kami cukup memakan waktu karena arus lalu lintas yang macet dikarenakan banyaknya kendaraan yang juga menyudahi liburannya dan kembali ke Ibukota. Perjalanan kami ke Kab. Garut saat itu sangat memberikan kesan bagi saya pribadi, paling tidak kesan yang dapat saya bagikan adalah rasa syukur mendalam yang saya rasakan ketika melihat anak-anak di panti asuhan yang sangat bersemangat dalam melaksanakan aktivitasnya di panti asuhan, motivasi yang saya dapatkan untuk dapat lebih bermanfaat bagi sesama dengan banyak sekali jalanĀ  yang dapat saya lakukan.

 

About the Author

Alumni of accounting @11MaretUniv /ex. Announcer @MentariFMSolo /ex. Dir. of finance&adm @KOPMAUNS /Member of @BeswanDjarum 26//