Republished: Puncak Abadi Para Dewa (The Everlasting Zenith of Divinities)

Tulisan ini adalah tulisan saya yang sebelumnya sudah saya publikasikan di salah satu website pendaki gunung (pendakigunung.org)

Saya membuka catatan perjalanan saya mendaki gunung semeru pada tanggal 24-26 Agustus 2014 lalu dengan sebuah kutipan dari MasFajri seorang pendaki dari Wanadri yang pernah saya dengar yang mengatakan bahwa “Setiap orang harus menciptakan Everest nya sendiri dan berusaha untuk menaklukannya”. Kata-kata Mas Fajri tersebut menurut saya sangat menarik karena terdapat makna tersirat yang menyatakan bahwa sebenarnya setiap orang adalah pendaki, dalam artian menjadi seseorang yang harus mampu berjalan melalui jalur yang benar, kuat mendaki setiap tanjakan, bijaksana dalam mendapati kemudahan dalam hidupnya sehingga dapat mencapai puncak atau cita cita.

Perkenalkan saya Havid (24), saya melakukan pendakin gunung semeru pada tanggal 24-26 Agustus 2014 bersama teman yang sudah saya anggap sebagai adik saya bernama Ahkam (23). Awalnya kami memperkirakan biaya yang akan kami habiskan untuk pendakian kami berkisar 500.000 – 700.000 saja, akan tetapi ternyata masing maing dari kami menghabiskan biaya lebih dari 1.000.000 dikarenakan banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan rencana kami.

IMG_3073

Posed with other climbers

Kami mengawali perjalanan dari Stasiun Jebres, Solo dengan kereta Matarmaja tujun Stasiun Kota Malang pada pukul 24.00. Saat kami masuk ke dalam gerbong kami melihat banyak carrier milik pendaki lain dan memang banyak sekali pendaki yang mendaki gunung tertinggi di Jawa tersebut setiap harinya. Kami tiba di Stasiun Kota Malang pada hari minggu 24 Agustus pukul 07.00. Selanjutnya kami bergegas mencari rombongan pendaki lain untuk bersama menuju Ranu Pane mengingat kami hanya berdua. Disitu kami bertemu dengan rombongan pendaki asal Bogor berjumlah 7 orang dan kami bersama mencarter angkot menuju pos perhutani, kemudian ke shelter pendaki barulah menuju Pos Pendakian Ranu Pane di Kabupaten Lumajang dengan menggunakan Jeep terbuka. Kami sempat makan bakso malang di warung yang ada di shelter pendaki tempat kami berganti kendaraan menggunaan mobil Jeep. Adapun untuk biaya yang kami keluarkan adalah sebesar 78.000 per orang.

Kami tiba di pos pendakian Ranu Pane pada pukul 14.00 dan kami melakukan beberapa persiapan seperti sholat dan juga packing hingga pada pukul 15.30 kami bersama banyak pendaki lain berangkat mendaki menuju Ranu Kumbolo tempat dimana kami akan menghabiskan waktu malam hari nanti. Perjalanan kami cukup terasa berat karena adanya proses penyesuaian tubuh kami dengan aktivitas fisik yang kami lakukan, adik saya Ahkam sempat mengalami kelelahan hingga akhirnya kami memutuskan bertukar carrier kami dan akhirnya saya membawa carrier dek Ahkam yang memang lebih berat. Bagi pendaki penting sekali untuk menyeting carrier agar seimbang dan tidak berat sebelah. Hal tersebut menjadi masalah yang saya alami dalam membawa carrier milik dek ahkam yang memang tidak terpacking dan tersetting dengan baik dan seimbang.

Perjalanan mendaki yang cukup menantang kami alami tatkala matahari telah terbenam dan kami belum sampai juga di Ranu Kumbolo. Kami menylakan headlamp kami dan dengan sisa-sisa tenaga kami pada saat itu kami berjalan dengan penuh motivasi hingga kami sampai di Ranu Kumbolo kurang lebih pada pukul 19.00. Sesampainya di Ranu Kumbolo kami bergegas mendirikan tenda dan memasak dan beristirahat melepas lelah memperisapkan pendakian kembali esok hari.

IMG_3068

dek @ahkam10 is my best partner so far in climbing

Pagi hari senin 25 Agustus saya bangun terlebih dulu dari pada dek Ahkam untuk sholat subuh. Saya melihat adik saya masih sangat sangat nyenyak tidurnya karena semalam sebelum tidur sempat mengeluh kcapekan hingga pada pukul 09.00 dia baru bangun dan menghangatkan diri. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan pendakian lebih siang daripada rombongan pendaki lain yang memulai perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Kalimai pada pukul 10.00,kami baru memulainya pada pukul 11.30 dengan terlebih dulu menyempatkan diri berfoto dengan kertas kosong dengan Danau Ranu Kumbolo sebagai background kami. Kami sengaja menggunakan kertas HVS putih kosong agar kami bisa edit dengan tulisan-tulisan tertentu sepulang kami ke Solo.

Kami memulai langkah dengan menanjaki tanjakan cinta, satu tanjakan paling terkenal di gunung Semeru. Lagkah demi langkah, tarikan demi hembusan nafas kami akhirnya kami sampai juga di atas tanjakan, sejenak kami beristirahat kemudian tak lama berjalan kembali dan menemui turunan curam dan dibawah kami terhampar padang lavender yang luas sebelum pos Cemoro Kandang. Sayang sekali karena musim kemarau sehingga padang lavender tersebut terlihat kering dan tidak segar lagi, namun kami tetap mengabadikan momen tersebut yaitu ketika kami berjalan ditengah tengah padang lavender, sungguh mengesankan. Setelah melalui hamparan padang lavender kami tiba di pos Cemoro Kandang (Pinery/Pine tree in a cage). Disitu kami sejenak beristirahat dan kami mnjumpai penduduk yang menjajakan air minum botol dan makanan yang tentu saja dengan harga 5 kali lipat dari harga normal. Tentu kami menganggapnya wajar mengingat susahnya medan yang harus dilalui pedagang tersebut hingga bisa membawa barang dagangan sampai disitu.

Kami melanjutkan perjalanan kembali dari Cemoro Kandang menuju pos selanjutnya yaitu Jambangan dan Kalimati tempat dimana kami akan mendirikan tenda untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan kembali pada dini harinya. Perjalanan dari Cemoro Kandang menuju Jambangan adalah perjalanan yang paling berat yang kami rasakan karena disana kami menemui banyak sekali tanjakan yang amat tinggi dan panjang. Kami tiba di Jambangan sekitar pukul 15.00 dan setelah beristirahat dan mengambil beberapa foto kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Perjalanan dari Jambangan ke Kalimati tidak terlalu jauh dan medan yang kami tempuh juga relatif lebih landai. Kami tiba di Kalimati pukul 16.00 sore namun udara sudah terasa dingin, kamipun segera mendirikan tenda dan memasak.

Setelah menikmati makan malam sederhana kami, kamipun segera tidur dan menyetel alarm di handphone kami pukul 22.00 malam. Malam itu kami susah tidur karena udara yang sangat dingin dan angina yang bertiup cukup kencang, kami sesekali menggigil karena udara dingin. Entah apakah kami sempat tertidur atau tidak yang pasti tepat pukul 22.00 handphone kami berbunyi dan kami segera menyiapkan bekal untuk perjalanan menuju puncak mahameru.

IMG_3226

The attractive side of Ranu Kumbolo lake

Kami berjalan bersama dengan banyak pendaki lain dari berbagai daerah di Indonesia, terlihat juga wisatawan mancanegara yang mendaki ditemani beberapa porter. Perjalanan menyusuri hutan kami lalui sambal sesekali beristirahat karena banyak sekali debu pasir dan abu vulkanik disepanjang perjalanan kami yang membuat kami sulit bernafas. Pada sekitar pukul 01.30 dini hari kami telah sampai di trek berpasir puncak mahameru, sudah tidak ada lagi pepohonan/vegetasi disitu, yang kami lihat di depan kami hanyalah lampu-lampu senter milik para pendaki di depan kami, kami sama sekali tidak dapat melihat dimana puncak mahameru yang akan menjadi ujung pendakian kami.

Pukul 03.30 menjelang subuh kami berada di tengah-tengah trek berpasir mahameru, intensitas istirahat kami menjadi lebih sering karena semakin tinggi pendakian kami maka medan semakin miring dan kami agak merangkak melalui trek tersebut yang sangat menguras stamina kami. Ditengah kami beristirahat sejenak terdengar teriakan batu longsor dari atas, semula kami agak santai menanggapinya namun tetap waspada karena beberapa kali teriakan longsor sebelumnya ternyata batu berukuran kecil yang kami lihat. Namun nampaknya saat itu kami salah, sontak kami terkejut melihat batu yang longsor dari atas dihadapan kami adalah batu yang cukup besar kurang lebih seukuran dua kali buah kelapa dan menggelinding tidak menentu arahnya. Saya sempat menghindar dengan mencari posisi yang cukup aman, tetapi dek Ahkam sepertinya dalam keadaan kurang waspada dan tidak sempat menghindarinya dan akhirnya batu tersebut mengenai dek Ahkam dan mengakibatkan cidera pada telapak tangan kirinya. Selain itu batu juga menghantam pengenai pinggang kiri namun tidak mengakibatkan cidera dikarenakan lebih dahulu mengenai tas kamera yang dibawanya hingga lensa kamera didalamnya patah. Alhasil keinginan kami untuk bias menggunakan kamera tersebut menjadi sirna.

Pada saat itu kepanikan sempat terjadi diantara kami, saya yang melihat luka terbuka pada telapak tangan dek Ahkam lantas mengambil beberapa gulung perban, obat luka dan gunting yang sudah saya siapakan di tas saya. Entah bagaimana sebelum pendakian saya melengkapi perlengkapan P3K saya dengan sangat-sangat lengkap seolah saya mengetahui bahwa P3K tersebut akan dipergunakan. Saya terlebih dahulu membersihkan telapak tangan dek Ahkam dengan Air bersih yang kami bawa, kemudian memberikan obat luka dan menutupnya dengan perban. Melihat kondisi dek Ahkam yang seperti itu kami sempat berdiskusi apakah akan melanjutkan pendakian sampai puncak atau tidak. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk segera turun dari tempat tersebut karena kami ingin segera memeriksa luka cidera di tempat yang lebih aman.

IMG_3206

The Mahameru-The everlasting zenith of divinities

Kami segera menuruni trek berpasir tersebut saat itu juga dan kami melihat sunrise pada saat itu, sunrise yang kami harapkan bias kami lihat di puncak Mahameru akhirnya tidak kami dapatkan, rasa kecewa sedikit ada dalam hati kami, tetapi kami yakin bahwa yang kami lakukan saat itu adalah yang terbaik dan yang seharusnya kami lakukan. Kami menuruni gunung melewati jalan yang sebelumnya kami lalui dan sampai di Kalimati pada pukul 06.30. kami segera memeriksa luka akibat cidera tersebut, setelah memastikan tidak ada fraktur atau inflamasi parah yang dialami dek Ahkam kami segera packing, memasak dan menggulung tenda bersiap segera meninggalkan Kalimati dan segera pulang. Saya melihat dek Ahkam sejak saat itu menjadi lebih terburu-buru akibat panik dan saya dapat memakluminya.

Setelah sarapan seadanya, kami bergegas berjalan turun gunung, kami tiba dan beristirahat sejenak di pos Jambangan pada pukul 09.00, sampai di pos Cemoro Kandang pada pukul 12.00 dan Ranu kumbolo pada pukul 13.00. sepanjang perjalanan tersebut kami sempat membeli minuman yang dijajakkan disitu karena bekal air kami habis. Seringkali saya ketinggalan oleh dek Ahkam yang telah berjalan didepan saya, saya mengkhawatirkannya karena saat itu ia dalam keadaan panik. Saya mengambil satu momen pada saat saya berada di atas oro-oro ombo untuk sejenak beristirahat dan merenungkan apa yang telah kami alami sampai saat itu. Sepanjang perjalanan turun tersebut saya juga beberapa kali menengok kebelakang dan memandangi puncak mahameru, sesekali memotretnya dengan kamera digital saya. Pada saat itu saya dalam hati berdoa agar ada kesempatan lain dimana kami berdua dapat kembali kesana dan sampai di puncak Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa (The Everlasting Zenith of Divinities).

IMG_3199

Our sunrise,here is our higest point

Perjalanan cukup melelahkan kami alami dari Ranu Kumbolo menuju Ranu Pane karena stamina kami yang telah terkuras. Kami menjadi sering berhenti untuk beristirahat hingga akhirnya kami dapat keluar jalur pendakian dan sampai di Ranu Pane pada pukul 15.00. Kami segera menuju masjid untuk beristirahat, membersihkan diri dan melaksanakan sholat. Selanjutnya kami makan di salah satu rumah makan yang ada disana. Baru setelah itu kami menuju parkiran untuk mencari transport menuju pasar tumpang dan terminal bus AKAP. Kami pulang menggunakan bus karena kami melewatkan tiket kereta pulang yang telah kami beli sebelumnya. Di parkiran Ranu Pane kami bergabung dengan rombongan lain yang sudah berada dia atas truk, sebari menunggu penumpang penuh kami bercengkrama akrab dengan pendaki lain, kami berbagi pengalaman dalam hal mendaki gunung dan terutama pendakian kami di Mahameru yang baru saja kami jalani. Bagi saya, itulah saat saat asyiknya mendaki gunung, kita bias banyak bertemu orang lain yang belum kita kenal sebelumnya dan langsung menjadi akrab.

Perjalanan menggunakan truk dari Ranu Pane menuju Tumpang memberikan kesan tersendiri dengan pegal yang kami rasakan disekujur tubuh karena getaran dari truk saat berjalan. Kami tiba di tumpang pada pukul 19.00 dan melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju terminal bus Kota Malang dan sampai pukul 20.00 karena angkot yang juga menunggu penumpang lain. Dari terminal Kota malang kami melanjutkan perjalanan menuju terminal Bungurasih Surabaya untuk bertolak menuju Solo. Sepanjang perjalanan selama 2 jam dari Malang menuju Surabaya kami banyak bercengrama dengan seorang pendaki berpengalaman bernama Bambang dari Surabaya. Dia mantan anggota pecinta alam di kampusnya dulu, dan hingga usianya kini yang saya perkirakan menjelang 40 tahun ia masih aktif di kegiatan pecinta alam dengan mengajar dan terlibat dalam berbagai pengamanan pendakian. Ia mengaku seluruh gunung yang ada di Indonesia telah berhasil ia daki, termasuk puncak Cartenz. Ia bercerita tentang keberhasilannya tersebut yang ia dapatkan bukan dengan mudah karena ia bukan berasal dari keluarga yang sangat kaya namun ia berusaha sendiri mencari sponsor ataupun bekerja terlebih dahulu untuk dapat membiayai seluruh kegiatan pendakian yang ia lakukan. Ya, kegiatan pencinta alam memang agaknya membutuhkan biaya yang besar. Obrolan sepanjang perjalanan tersebut sangat seru sekali, bahkan adik saya yang sebelumnya sempat saya rasa sangat kecewa dengan pendakian pertamanya menjadi sangat antusias atas percakapan kami dengan Mas Bambang.

Kami berpisah dengan rombongan mas Bambang di terminal Surabaya dan kami sempat bertukar kontak BBM untuk dapat berkomunikasi lagi di lain kesempatan. Kami naik bus ke Solo dalam keadaan yang sangat capek sehingga kami tertidur di dalam bus hingga akhirnya kami tiba di solo pada esok harinya pukul 07.00 tanggal 27 Agustus 2014.

Perjalanan pendakian kami di Gunung Semeru telah berakhir, sangat benar-benar tidak dapat kami lupakan. Bahkan sampai saya menyelesaikan catatan perjalanan saya saat ini tanggal 17 Oktober 2014 dimana saya telah bekerja di salah satu perusahaan di ibukota, saya masih dapat mengingat dengan jelas setiap momen yang saya alami selama pendakian dan setiap kali saya mengingatnya muncul keinginan kembali untuk dapat pergi kesana lagi merasakan setiap sensasi yang sangat berkesan itu lagi.

Saya menutup catatan perjalanan ini dengan cerita dimana Mas Fajri yang juga mengalami kegagalan pada pendakian Everest kali pertamanya, tetapi ia tidak pernah memupus impiannya hingga akhirnya ia berhasil sampai di puncak Everest pada pendakian kali kedua. Saya sangat berharap dapat memiliki semangat sebagaimana Mas Fajri, seorang pendaki professional dari Wanadri. Tidak muluk-muluk memang, saya hanya ingin disaat saya mampu saya dapat menunaikan keinginan saya untuk dapat mendaki gunung-gunung lain dan karena saya yakin yang menjadi dunia kita adalah sejauh mana kaki kita melangkah mengenali setiap ruang di muka bumi ini yang belum kita kenal langsung sebelumnya.

About the Author

Alumni of accounting @11MaretUniv /ex. Announcer @MentariFMSolo /ex. Dir. of finance&adm @KOPMAUNS /Member of @BeswanDjarum 26//