Just Wanna be a Smart Woman! ^_^

Life, Love, Friendship, Traveling, Money, Financial Planning

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang merupakan hasil kerja keras dari pahlawan kita dahulu. Sudah sepantasnya sebagai generasi muda, kita bisa mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan untuk kesejahteraan bangsa dan negara.
Salah satu pahlawan nasional yang terkenal adalah Panglima Besar Sudirman. Seorang jenderal yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di seluruh Indonesia ini adalah pemimpin perang gerilya pada masa setelah kemerdekaaan [Agresi Militer Belanda]. Perang ini merupakan perang sembunyi-sembunyi yang melewati berbagai daerah di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, salah satunya daerah Pacitan, Jawa Timur.
Pacitan dikenal lebih dikenal sebagai kota seribu gua, karena dengan kondisi geografisnya yang merupakan pegunungan, ditemukan banyak sekali gua. Salah satunya yang terkenal adalah Gua Gong. Namun, di samping keindahan gua-gua tersebut, tersimpan sebuah kekayaan sejarah yang tak ternilai harganya. Mungkin belum banyak yang tahu tentang keberadaan sebuah kawasan sejarah di Pacitan ini. Sebuah Kawasan Peninggalan Sejarah Panglima Besar Sudirman. Pembangunan kawasan ini memang belum selesai 100%, namun tidak ada salahnya jika kawasan ini dijadikan salah satu pilihan wisata sejarah.
Kawasan ini terletak di Kecamatan Nawangan, Pacitan. Lebih tepatnya di Dusun Sobo, Desa Pakisbaru. Kurang lebih 32 kilometer dari pusat kota Pacitan. Letaknya yang berada di pegunungan membuat kawasan ini semakin menarik untuk dikunjungi. Karena selain peninggalan sejarahnya, pemandangan alam pengunungan yang indah juga disuguhkan oleh kawasan ini. Dua kilometer sebelum masuk ke kawasan wisata ini, kita akan disambut dengan beberapa tulisan tentang Tentara Nasional Indonesia. Dari kejauhan sebuah monumen tinggi sudah terlihat. Namun, sebelum melihat ke monumen tidak ada salahnya kita mengunjungi sebuah rumah peninggalan sejarah perang gerilya.
Rumah ini terletak kurang lebih 1 kilometer dari monumen. Pada zaman perang gerilya rumah ini merupakan milik keluarga Karsosoemito. Di rumah inilah Panglima Sudirman beserta pasukannya bersembunyi. Rumah ini pernah ditempati oleh Panglima Sudirman dan pasukannya mulai tanggal 1 April 1949 sampai 7 Juli 1989. Rumah bergaya joglo ini masih berdinding bambu [gedhek] dan berlantai tanah. Tentu saja rumah ini tidak boleh direnovasi, karena nilai sejarahnya akan hilang kalau rumah ini sudah berubah bentuknya. Namun, jika ada bagian yang rusak misal dindingnya, bisa diganti namun diganti dengan ”gedhek” juga.
Rumah ini dijaga oleh keturunan Karsosoemito. Sang penjaga sekarang [maaf, lupa tanya namanya], merupakan cucu dari Karsosoemito. Dengan rajin beliau membersihkan dan menunggui rumah tersebut. Pagi berangkat dan sore pulang ke rumahnya sendiri. Meskipun untuk pergi ke rumah peninggalan sejarah tersebut, beliau harus berjalan kurang lebih 5 km dari rumahnya, dengan melewati daerah pegunungan. Namun, beliau tetap rajin dan ikhlas menungguinya. Bahkan beliau sangat senang jika ada yang berkunjung ke rumah tersebut. Meminta uang kebersiha ken pengunjung pun tidak. Kawasan rumah bersejarah ini benar benar gratis.
jepretane-nduk0201
Ketika masuk rumah ini, kita akan disambut oleh ruang tamu, dengan 3 buah kursi dan sebuah meja bundar. Di ruang tamu ini dipajang juga berbagai foto perang gerilya. Selain itu di pojok dekat pintu masuk ditempel juga sertifikat tanah dan kuitansi pembelian tanah untuk kawasan wisata tersebut. Di sekeliling kamar tamu tersebut terdapat 4 buah kamar yang pernah ditempati oleh Panglima Sudirman dan pasukannya. Di sebelah kiri terdapat kamar Jenderal Sudirman. Di tengah terdapat 3 buah kamar, yaitu kamar Soepardjo Rustam, kamar Tjokropranolo dan kamar Utoyo Kolopaking.
jepretane-nduk0222jepretane-nduk0224

Di sebelah kanan ruang tamu, terdapat sebuah lorong menuju ruang belakang. Di lorong ini dipasang sebuah peta yang berisi tentang rute perjalanan gerilya Panglima Sudirman dan pasukannya. Rute ini dimulai dari Yogyakarta menuju daerah Wonogiri. Kemudian dilanjutkan ke daerah Trenggalek dan melewati Pacitan sebelum akhirnya kembali ke daerah Yogyakarta.jepretane-nduk02201
Memasuki ruang belakang, kita akan melihat meja panjang dan kursi panjang dari kayu. Di sini biasanya Bapak Penjaga menemui tamu-tamunya. Di meja ini disediakan buku tamu untuk pengunjung-pengunjung. Buat yang mau berkunjung ke sini, nanti buku tamunya diisi ya.
Di bagian kiri ruang belakang, terdapat sebuah dapur ini. Di dapur ini terdapat berbagai macam alat masak kuno. Terdapat sebuah tungku, mungkin di zaman sekarang sudah digantikan oleh kompor. Di atas tungku terdapat wajan dan dandang, untuk menggoreng dan menanak nasi. Di sebelah tungku terdapat sebuah rak tempat peralatan masak seperti cobek, entong, cangkir dan alat masak lain. Di dinding “gedhek” terdapat beberapa “arit” dan sebuah capil yang sudah rusak.jepretane-nduk0216
Buat pengunjung yang mau cuci muka atau mungkin sholat, di belakang rumah disediakan mushola dan kamar mandi. Ini bukan bagian dari sejarah, tapi memang dibangun untuk pengunjung. Buat pengunjung, disarankan hati-hati dengan sikap dan ucapannya di rumah ini. Bukannya menakut-nakuti, namun memang pernah terjadi dan bisa dijadikan pelajaran. Dulu salah satu keturunan Karsosoemito, pernah mengalami kejadian aneh di rumah ini. Seusai bekerja dari sawah beliau kehujanan dan berteduh di rumah tersebut. Di rumah itu beliau mandi dan meletakkan pakaiannya di kamar Jenderal Sudirman begitu saja. Bapak penjaga rumah sudah mengingatkan untuk berhati-hati. Namun, beliau mengacuhkannya. Keesokan harinya beliau mengalami muntah darah dan beberapa hari berikutnya meninggal dunia.

To be continue….

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 times 5?