THE BACKYARD

Pernah ke halaman belakang? Aku biasa bercerita di sana.

THE BACKYARD - Pernah ke halaman belakang? Aku biasa bercerita di sana.

Pengalaman Fraktur – Oiya, dan BPJS

Hari itu hari Sabtu, 28 Februari 2015, satu minggu setelah ulang tahun saya yang ke-23. Sabtu itu nampak sama dengan semua Sabtu lainnya di dalam hidup saya. Bangun pagi, shalat, tidur, bangun kembali, membersihkan rumah, dan seterusnya. Saya punya agenda di Sabtu itu: legalisasi ijazah SMA untuk keperluan yudisium – satu langkah terakhir sebelum wisuda. Pukul sembilan saya bersiap untuk berangkat ke SMA saya di Boyolali ketika mendadak saya kehilangan ijazah asli saya. Saya menghubungi teman yang saya ajak untuk legalisasi ijazah, Yuli namanya, dan mengatakan bahwa saya akan terlambat karena sedang mencari ijazah. Untungnya tak lama kemudian saya berhasil menemukan ijazah tersebut setelah membongkar ingatan saya sendiri. Continue reading

Apakah KP di Bontang Bikin Kangen? Bagian 2 dari 2 bagian

Di Pabrik.

Bu Ma’rifah merupakan koordinator PKL di PKT saat saya KP di sana. Bu Ma’rifah ini yang memutuskan saya dan Wawan ditempatkan di dua pabrik berbeda (PKT punya lima pabrik – satu pabrik terdiri atas unit urea dan ammonia). Saya di PKT 3, Wawan di PKT 1. PKT 3 merupakan pabrik paling efisien dibanding semua pabrik. Performanya paling bagus. Pabrik 1 merupakan pabrik tertua dan rencananya November 2014 dipersiapkan untuk ditutup hehehe. Kami kurang paham sebenarnya dipisah jadi dua ini menguntungkan atau merugikan. Buat saya sih agak merugikan karena di PKT 3, dari univ saya belum pernah ada yang praktek di sini, jadi nggak ada softcopy laporan KPnya hehehe aduh. Walaupun kami dipisah, tapi di pabrik kami tidak sendiri, saya ditemani dua anak UGM, dia pun juga bersama dua anak UGM.

Bersama Christi dan Elsa, kami muter-muter pabrik, lihat-lihat dan belajar proses di sana. Pabrik PKT luaas banget. Lokasinya di tepi laut. PKT punya dermaga sendiri. Lima pabrik PKT itu terdiri atas lima unit urea dan empat unit amonia. Saat saya KP di sana, sedang dibangun pabrik PKT 5 (ini nyebutnya pabrik 6) yang merupakan pabrik urea terbesar di Asia Tenggara. Asal tahu aja, urea yang bulet kecil-kecil menggemaskan itu dibuat dari gas CO2 dan amonia cair. Continue reading

Apakah KP di Bontang itu Bikin Kangen? Bagian 1 dari 2 bagian

Haloo, lama tidak berjumpa :)

Kali ini saya ingin berbagi mengenai kerja praktik (KP) saya di Kota Bontang, sebuah kota industri di Kalimantan Timur. Harapannya sih, saya bisa memberikan tips, saran, dan pencerahan kepada pengunjung halaman saya ini. Harapan sih. Yaaa nanti kalau pengunjung menyimpulkan kalau ternyata tulisan saya justru berisi tips dan saran sesat dan malah penggelapan (bukan pencerahan), saya hanya bisa kabur hahahaha.

Pada bulan Januari 2014, saya dan teman saya, Wawan, berangkat ke Pulau Intan- Kalimantan. Kami akan melaksanakan Kerja Praktik di PT. Pupuk Kaltim (PKT), sebuah perusahaan pupuk paling bonafit di seantero Kalimantan saat ini. Sebenarnya pilihan kami KP di PKT lebih karena dorongan rasa penasaran terhadap bumi Borneo. Sebelum kami memutuskan untuk mendaftar KP di PKT, terlebih dahulu kami coba peruntungan di PT. Badak NGL, perusahaan pencairan gas yang sangat dielu-elukan di jurusan saya. Tapi yah, karena yang mendaftar di PT. Badak ada tiga kelompok, akhirnya kelompok yang berangkat ke sana ditentukan melalui lotere. Saat pengambilan lotere, kami kurang beruntung. Teman kami yang berhasil mendapatkan kesempatan dari jurusan untuk didaftarkan KP di PT. Badak. Jadi KP di PKT pada awalnya merupakan pelarian semata.. *galau Continue reading

Cerita Saya di LKT (WC) Regional Semarang 2013

Halo Sahabat, kali ini saya akan berbagi cerita mengenai sebuah agenda Eksklusif Djarum Beasiswa Plus. Di luar semua kegiatan beswan Djarum yang menyenangkaaan plus ilmunya banyak beeeenget, ada satu kegiatan ilmiah nih. Apalagi kalau bukan Writing Kompetisyenn!

WC

Sampai sejauh ini saya belum lihat ada yang posting mengenai kegiatan Writing Competition (WC) Beswan Djarum. Terakhir, saya liat postingan William, juara 2 WC angkatan 2012/2013, ini linknya. Tahun ini saya ikut WC, dan tidak punya gambaran mengenai WC babar blas, nothin’ at all. Hanyalah perkiraan semata yang saya punya, berdasarkan pengalaman lomba kala SMA dan usia belum tua. Jadi niatnya saya mau berbagi pengalaman nih. (Nurani: Sebenarnya mau curhat) Continue reading

Sumpah Rempah-Rempah (Sumpah Palapa): Gambaran Keteguhan Hati Pendahulu Bangsa

Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa

Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa.

gajah-mada jejaknusantaracom

Ketika pengangkatannya sebagai patih Amangkubhumi pada tahun 1258 Saka (1336 M) Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) bila telah berhasil menaklukkan Nusantara. Sebagaimana tercatat dalam Serat Pararaton (Mangkudimedja, 1979).

Sumpah palapa merupakan salah satu sumpah paling ikonik dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia menuju sebuah negara kesatuan dengan wilayah membentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Sumpah sakral tersebut mengubah sejarah bangsa besar ini menjadi bangsa yang bersatu dalam keberagaman budaya dan peradaban dibalut semangat persatuan. Sumpah tersebut, siapapun orang Indonesia pasti tahu, diucapkan dengan lantang oleh Mahapatih Gajah Mada. Beliau adalah Mahapatih (setara dengan Menteri Besar) berkebangsaan Majapahit yang pusat pemerintahannya berada di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Kebanyakan kisah mengenai Majapahit dan Mahapatih Gajah Mada diberitakan dalam Kitab Nagarakrtagama (berbahasa Jawa Kuno) karangan mPu Prapanca dan Serat Pararaton (berbahasa Kawi).

Arca Mahapatih Gajah Mada

Arca Mahapatih Gajah Mada

Sumpah Palapa merupakan perwujudan paling fenomenal terhadap salah satu karakter bangsa Indonesia yakni Kerja Keras. Kegigihan Gajah Mada menaklukkan kerajaan-kerajaan di seantero Nusantara sudah seharusnya diapresiasi dan dijadikan filosofi hidup. Pada masa awal kemerdekaan, para pemimpin seperti Soekarno dan Mohammad Yamin sering menyebut sumpah Amukti Palapa Gajah Mada sebagai inspirasi dan bukti tak terbantahkan bahwa bangsa ini dapat bersatu, meskipun meliputi wilayah yang luas dan budaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, Gajah Mada adalah inspirasi bagi revolusi nasional dalam usaha kemerdekaannya dari kolonialisme. Terang saja demikian, Mahapatih Gajah Mada berhasil membawa nama Majapahit menjadi sebuah kekuatan yang ditakuti di wilayah Asia Tenggara dan  sangat disegani negara-negara tetangganya di dataran Asia. Di bawah Panji-panji Gula-Kelapa (baca: merah-putih), Gajah Mada dengan tegas menetapkan ideologi bangsa yang sangat sakral sekaligus bermuatan falsafah yang sangat luar biasa dan terus up-to-date sampai hari ini, yaitu: Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Dalam perjalanannya, negara Majapahit mengalami kemunduran pemerintahan dan runtuh karena pertikaian klise di antara kerabat kerajaan. Beratus-ratus tahun berikutnya tidak ada kerajaan sebesar Majapahit. Sampai selanjutnya kekuasaan maritim dan pertanian Nusantara tunduk di bawah tekanan penjajah, kekayaan alamnya dieksploitasi besar-besaran. Nusantara raya mati suri selama tiga ratus lima puluh tahun.

National_emblem_of_Indonesia_Garuda_Pancasila.svg

Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Semangat patriotik ini mengiringi pendahulu bangsa berjuang merebut kembali kejayaan masa lalu. Ketika kesadaran intelektual yang terpetakan dari sejarah panjang bangsa ini muncul akibat luka menganga oleh pisau tajam penjajahan, semangat merebut hak kita atas tanah air terbit, membuncah. Semangat mengembalikan kembali kewibawaan nusantara di mata dunia. Beliau-beliau pendahulu percaya bahwa pada bentangan nusantara terdapat kesamaan-kesamaan untuk dipersatukan. Terdapat semangat untuk membangun kembali kemegahan bangsa dan terbebas dari kungkungan penjajahan. Dengan segala daya upaya para pahlawan mengusahakan kemerdekaan melalui jalur diplomasi yang rumit, kucuran darah, serta untaian doa dan air mata. Kemerdekaan Indonesia adalah kebenaran yang harus diwujudkan.

Dan kini ketika kemerdekaan sudah dalam genggaman kita, semangat itu dimunculkan kembali. Kita percaya bahwa konflik yang terjadi di beberapa daerah di merupakan bagian dari pendewasaan Indonesia. Proses untuk menjadi negara yang lebih besar lagi. Marilah kita memandang positif dan menyikapi dengan bijaksana segala liku-liku kehidupan sebuah negara yang tengah berlangsung. Janganlah skeptisme dan caci maki yang keluar sebagai tanggapan dari pribadi kita masing masing.

Saya sungguh bangga bangsa kita memiliki filosofi sakral yang sakti, yang begitu dalamnya tertanam di setiap jiwa warga Indonesia. Bahwa dalam semboyan itu, dari sumpah yang terucap berabad-abad lampau, jiwa Indonesia berdegup dinamis. Jiwa yang yakin akan kebesaran bangsanya dan percaya tentang kerja keras tak putus demi menggapai asa.

Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Terpecah belahlah itu, tapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran!

Rujukan:

Mangkudimedja, R.M. 1979. Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Jakarta: Departemen P dan K, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
http://patihgajahmada.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika

Phinisi: Simbol Kedigdayaan Maritim Nusantara

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Barisan lirik ini pasti membawa kita ke masa kecil masing-masing. Lagu ini begitu populer di kalangan anak-anak. Lagu yang cukup nasionalis menurut saya. Kala itu kelas saya ramai menyanyikan lagu ini. Lagu yang sesungguh-sungguhnya membuat saya begitu penasaran tentang orang-orang yang diceritakan dalam kandungan kalimatnya. Benarkah saya memiliki nenek moyang setangguh itu? Samudera mana yang dengan berani mereka taklukkan? Dan kemanakah saya akan diajak kalau saya pergi beramai-ramai menuju pantai dengan ombaknya yang berdebur?

Setelah saya beranjak lebih besar, mulai dapat membaca dan mengumpulkan informasi, saya merasa perlu untuk mencari tahu jati diri dan seluk beluk lagu Nenek Moyangku Pelaut yang tersohor itu. Dari buku-buku perpustakaan, sedikit demi sedikit saya mengetahui perihal sebuah suku di negeri yang jauh, suku Bugis di Sulawesi Selatan sana. Kelompok etnik inilah nampaknya yang diberitakan melalui lirik penggugah semangat di atas. Suku Bugis terkenal akan kepiawaiannya menaklukkan samudera raya.

Lantas, dengan apa mereka menaklukkan samudera? Bisakah lautan luas tak berbatas itu diterjang menggunakan kaki telanjang di atas sampan dengan layar terkembang?

Suku Bugis merupakan salah satu suku yang sangat mencerminkan kualitas kreativitas, kedisiplinan, dan kerja keras luar biasa. Mereka mengarungi lautan dengan perahu bernama Phinisi. Phinisi yang tangguh itu sudah mulai diciptakan setidaknya sejak abad ke-13 menurut catatan Bugis kuno I La Galigo. Menurut catatan itu, Phinisi adalah perahu yang membawa Sawerigading , sang Raja Luwu berlayar jauh menyeberangi samudera menuju Tiongkok untuk mempersunting seorang putri bernama We Cudai. Phinisi berlayar ke Tiongkok hanya dengan menggunakan bantuan angin.

Perahu Phinisi yang artistik

Perahu Phinisi yang artistik

Alkisah dalam mitologi Tanah Beru, nenek moyang mereka menciptakan sebuah perahu yang lebih besar untuk mengarungi lautan dengan membawa barang dagangan sekaligus menangkap ikan. Sayang seribu sayang, saat pelayaran pertama dilakukan, kapal tersebut dihantam ombak dan badai dan pecah menjadi beberapa bagian. Badan perahunya terdampar di dusun Ara, layarnya mendarat di Tanjung Bira, dan isinya ditemukan di Tanah Lemo. Peristiwa itu menjadi isyarat simbolis bagi masyarakat. Mereka merasa harus menaklukkan lautan dengan kerja sama. Sejak kejadian naas itu, orang Ara memfokuskan diri pada pembuatan perahu. Orang Bira yang memperoleh layar mengkhususkan diri mempelajari perbintangan dan tanda-tanda alam. Orang-orang Lemo sendiri adalah pengusaha yang memodali dan menggunakan perahu tersebut. Tradisi pembagian tugas tersebut berlangsung bertahun tahun dan berujung pada pembuatan sebuah perahu tradisional bernama Phinisi.

Segala teknik turun temurun rakyat Bugis masih dipertahankan untuk menghasilkan kapal Phinisi yang terbukti sangat tangguh di lautan. Kehebatan para perancang dan pembuat kapal Phinisi dapat dibuktikan dengan proses pembuatan kapal mulai dari nol hingga selesai yang tidak memerlukan gambar rancang kerja yang dibuat oleh para arsitek, seperti halnya yang dibutuhkan dalam pembuatan kapal modern. Para pembuat kapal Phinisi dapat membuat kapal dengan bermodalkan insting, kemahiran dan kecermatan tingkat tinggi yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah sangat berpengalaman serta diturunkan secara turun-temurun. Sama halnya dengan bahan perekat, mereka menggunakan bahan perekat khusus dengan ramuan alami yang hanya diketahui oleh para suku pembuat kapal ini.

Pembuatan Phinisi terbilang tidak mudah karena memerlukan waktu hampir 1 tahun untuk merampungkannya (9 bulan). Hampir semua bagian Phinisi terbuat dari kayu. Terlebih model Phinisi yang artistik mengundang decak kagum orang yang melihatnya. Secara keseluruhan, Phinisi merupakan pengejawantahan dari intelektualitas tinggi yang dimiliki Suku Bugis. Sungguh membanggakan.

Phinisi kayu ini membuktikan ketangguhannya di era modern dengan melakukan perjalanan panjang spektakuler dari Jakarta ke Vancouver, Kanada pada 1986. Perjalanan itu sempat diragukan banyak orang, namun kepercayaan pada kemampuan diri menghantarkan pembuktian manis yang menuai ucapan selamat dari berbagai pihak. Expo ’86, tujuan pelayaran Phinisi di Vancouver, adalah event internasional  dengan fokus transportasi dan komunikasi. Expo tersebut memiliki 54 partisipan. Stand Indonesia berhasil meraih satu dari tiga paku rel kereta api yang secara khusus diberikan pada tiga partisipan paling spektakuler. Kedatangan Phinisi di Vancouver kala itu benar-benar melambungkan nama Indonesia di mata internasional. Seperti membawa hikayat masa lalu yang jaya ke dunia masa kini.

Paviliun Indonesia di Expo '86 Vancouver, Kanada

Paviliun Indonesia di Expo ’86 Vancouver, Kanada

Menilik hikayat Tanah Beru, masyarakat di sana melakukan pembagian tugas yang rapi demi penciptaan Phinisi. Pada masa sekarang, masa di mana spesifikasi pekerjaan makin mengerucut pada ujung-ujung yang berlainan dan beragam, kita bisa mengambil nilai dari hikayat Tanah Beru tersebut. Bolehlah keahlian kita berbeda, akan tetapi kerjasama yang baik dan saling dukung antara berbagai sektor akan berujung pada keberhasilan. Sebagian fokus bekerja keras di sektor pariwisata, sektor ekonomi makro, keteknikan dan rekayasa, dan sebagainya, demi mewujudkan Indonesia yang kuat dan digdaya. Seperti membuat Phinisi, Phinisi yang lain.

Phinisi merupakan produk asli putra bangsa, simbol intelektualitas tinggi dan semangat pantang menyerah yang terwakili melalui kerja keras masyarakat Bugis. Pada akhirnya Phinisi menjadi simbol kekuatan maritim bangsa Indonesia. Phinisi menunjukkan bahwa bangsa kita memiliki kualitas dalam keaslian. Quality in originality. Secara wujud, kita bersama memiliki Phinisi. Akan tetapi, jauh lebih dalam, kita bersama patut berbangga karena memiliki nyawa dan filosofi tinggi yang terkandung dan tersampaikan melalui sudut-sudut dan layar-layar kokoh perahu Phinisi!

Rujukan:

http://en.wikipedia.org/wiki/Expo_86
http://artikelbahasaindonesia.org/
http://pelayaran.net/

Saya Menyapamu Mas dan Mbak

Saya adalah pemuda yang tumbuh besar di tanah Jawa, di tlatah yang subur makmur di lereng gunung Merapi. Boyolali namanya, sebuah kabupaten kecil yang sangat bersahaja. Susu sapi adalah komoditas unggulan dan khas di sana, menyusul pepaya, tembakau dan ikan lele. Orang-orang di Boyolali sangat ramah dan terbuka. Saya beruntung tumbuh besar di sana dan mendapatkan pendidikan yang berharga.

Salah satu didikan yang saya dapatkan – dan saya rasa semua anak Indonesia mendapatkannya – adalah mengenai penggilan sapaan. Sebagai orang Jawa, saya memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan Mas untuk laki-laki, dan Mbak untuk perempuan. Memanggil adik dari ayah dengan sebutan Paklik (bapak-cilik) dan istrinya Bulik (ibu-cilik), dan sebagainya. Daerah lain memiliki cara panggil yang berbeda-beda. Misalnya untuk menyebut kakak di daerah Padang, orang mengatakan Uda–Uni. Kalau di daerah Sunda, orang menyebutnya Akang–Teteh. Demikian juga untuk menyebutkan kerabat keluarga yang lain, masing–masing daerah memiliki caranya sendiri.

Lalu apa istimewanya kalau seisi Indonesia memiliki budaya itu? Nama panggilan penghormatan bahkan juga diberikan pada orang yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan kita. Misalnya tetangga sebelah kita sebut sebagai Pakdhe Daliyo..

Justru itu, istimewanya terletak di kebiasaan itu. Kalau Anda pernah melihat tayangan–tayangan layar lebar produksi Hollywood atau rumah produksi lain yang berbasis di wilayah barat, Anda pasti menemukan bahwa tidak ada jenis sapaan tertentu di sana. Akan sangat wajar melihat Tiffany yang berumur delapan tahun memanggil Max yang berumur 53 tahun dengan sebutan Max. Max saja, tanpa ­embel – embel apapun. Hal itu karena Max tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Tiffany.

So what? Apa esensinya?

Dengan kita memanggil seseorang dengan sebutan kekerabatan seperti Mas, Mbak, Pakdhe, Paklik, Wo (jawa: orang tua), kita menunjukkan bahwa ada penghormatan dari diri kita pada orang tersebut. Kita juga secara tidak langsung menanamkan semangat persaudaraan antara diri kita dengan orang yang kita ajak bicara. Ini merupakan salah satu perwujudan budaya Timur yang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia: masyarakatnya rukun. Juga menjadi salah satu perkara yang berujung pada karakter cinta perdamaian. Kerukunan dijunjung tinggi dengan alami di seluruh pelosok negeri. Kerukunan yang berkembang dari adat istiadat masing-masing daerah, lalu menjelma jadi budaya bangsa.

Kita sudah selayaknya bangga memiliki karakter ini. Sudah sering kita lihat dan dengar melalui media, reaksi turis internasional yang bertandang ke Jogjakarta, Denpasar, Wakatobi dan sebagainya: Indonesia sangat ramah. Keramahan tersebut bukan merupakan rekayasa sosial yang dilakukan dengan tujuan mempertinggi angka kunjungan turis. Kita ramah karena memang kita dibiasakan untuk ramah, salah satunya dengan kebiasaan kita memanggil orang dengan sebutan kekerabatan. Bukankah begitu menarik bahwa bangsa kita memiliki sifat asal ramah?

Suasana pemilihan Mas Mbak Boyolali 2012

Suasana pemilihan Mas Mbak Boyolali 2012

Saat saya mengikuti pemilihan Mas dan Mbak Duta Pariwisata Boyolali tahun 2012, saya dan teman-teman peserta dibiasakan untuk memanggil peserta lain dengan sapaan Mas, Mbak, dan Dik. Awalnya agak kikuk karena kita biasa memanggil teman sebaya dengan cukup menyebut namanya saja. Namun, lambat laun kami terbiasa saling sapa dengan sapaan semacam itu. Saya merasakan perbedaan nilai rasa saat kita dipanggil seseorang- dan memanggil seseorang dengan sebutan kekerabatan. Saat saya dipanggil Mas, saya merasa dihargai. Pun saat saya memanggilnya Mas atau Mbak, saya merasa berkelas. Merasa terhormat. Ada pepatah mengatakan bahwa semakin kita menghormati orang, semakin rasa hormat itu kembali pada kita. Karena apa yang kita kerjakan pasti akan kembali pada diri kita. Barangkali Anda bisa mulai mencoba menyapa orang-orang di sekitar Anda dengan sapaan kekerabatan. Saya yakin hari-hari Anda akan lebih nyaman.

Awas hati hati mbak! :)

Awas hati hati mbak! :)

Keberagaman dan kecantikan negara kita sungguh merupakan pemberian Tuhan yang sangat membanggakan. Tuhan sungguh Maha Pemurah, sudah menjadikan Indonesia negara yang sangat cantik, tanahnya subur, pantainya molek, dan ribuan kebudayaannya begitu eksotis.  Jika saya di luar sana, saya mungkin akan bercerita mengenai kecantikan alam dan keragaman budaya Indonesia. Saya bangga akan hal tersebut.

Namun lebih dari itu, saya akan membawa Indonesia melalui karakter yang melekat pada merah darah dan putih tulang saya. Indonesia ibarat insan berparas rupawan sekaligus berkarakter kuat. Paras rupawan merupakan kemurahan Tuhan, akan tetapi karakter adalah kerja keras dirinya sendiri.

Saya bangga bangsa kita memiliki cara untuk menghargai orang lain dengan memanggilnya menggunakan sapaan kekerabatan. Saya percaya karakter ini merupakan nilai jual yang mendukung  kemajuan negara di masa yang akan datang. Karakter yang tidak dimiliki negara adidaya di belahan barat sana. Saya sungguh merasa bangga diperkenalkan dengan karakter penghormatan semacam ini. Ini membuat saya percaya diri. Membuat semua pemuda dan bangsa Indonesia jadi percaya diri!

Ritual Padusan Ramadhan 2013: Antara Perintah Dinas dan Harga Diri part #2

sambungan dari part #1

Perjalanan dari Boyolali ke lokasi kirab (arak-arakan) di Pengging, kami naik mobil orang dinas. Deg-deg an saya, Pengging adalah tempat main saya, banyak rumah teman di sana. Hanya berharap semoga tidak ada siapa-siapa.

Singkat cerita, kirab pun dimulai. Karena saya tidak mau melihat kalau-kalau ada kenalan, say liat lurus ke depan, sambil sesekali ngobrol dengan dik Wiwit. Kami ada di barisan utama yang paling depan, di belakang sesepuh tepat. Dengan kemben warna ungu, kami seperti janda-duda  galau. Dik Wiwit senyumnya ke mana-mana. Saya bingung kan mau senyum gimana, pas simulasi senyum aja muka saya ga karuan. Continue reading

Ritual Padusan Ramadhan 2013: Antara Perintah Dinas dan Harga Diri part #1

Sugeng, kangmas mbakyu, apa kabar Panjenengan sedaya?

Kalimat di atas adalah salah satu jenis sapaan harian dalam unggah-ungguh (tata krama) orang Jawa.
Kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman di awal ramadhan 2013 ini. Ini mengenai Padusan, ritual yang diwariskan turun-temurun di daerah asal saya, di karesidenan Solo. Barangkali di sejumlah daerah lain ada pula ritual serupa, namun namanya berbeda. Ritual padusan adalah ritual mandi besar yang dilakukan seorang  muslim untuk memasuki bulan Ramadhan. Biasanya ritual ini diakukan di sungai maupun di umbul atau sendang (mata air besar). Tanpa padusan, awal ramadhan seperti kurang greget. Kurang sesuatuk, kata Syahrinik. Continue reading