Discover, Learn, and Share
Monday February 24th 2020

I Love Korean Pop (Sebuah Era Invasi Budaya)

kpop jpg I Love Korean Pop (Sebuah Era Invasi Budaya)

Semangat pagi semuanya!!!

Kembali lagi di artikel saya yang masih bicara tentang budaya ni, setelah kemarin saya sudah menyelesaikan tulisan pertama yang berjudul “I Don’t Know Indonesia, but I Know Bali..(Ayo Kita Jaga Budaya Indonesia Melalui Pariwisata)“, sekarang saya mau nulis artikel kedua yang judulnya sudah tertera di atas (agak panjang kalo mau saya tulis lagi, he..he..). Tapi sebelum kita bicara panjang x lebar = luas, saya mau kasih sedikit hiburan dulu deh, kebetulan saya lagi suka banget ni sama video klip yang satu ini, cekidot:

httpv://www.youtube.com/watch?v=STMEWZtwa78

Nah, pasti udah pada tau kan siapa cewek-cewek cakep nan bening di atas? Yap…bener banget, Girl’s Generation alias SNSD (Fansnya disebut Sone, ngapa gak Soneta aja ya? He..he..). Jujur saya ngiri sama tu cowok yang ada di video klip, seandainya aja saya yang ada di video klip itu, dikelilingi 9 cewek-cewek super cute, cantik, dan baik hati, haahhh..pasti seneng banget ya(Hei nak! Mimpimu udah kejauhan, wake up Man!).

Ok, yang jelas kita gak akan ngomonging lebih jauh mengenai SNSD ini (ntar jadinya malah ngerambat-rambat ke SuJu, Sm*sh, 7 ikan..eh 7 icons, dll).

Kemunculan budaya pop korea ini memang mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Indonesia, khususnya remaja. Mulai dari Boyband, Girlband, sampai drama korea semuanya mendapat apresiasi yang luar biasa. “I Love Korean Pop“, ini lah virus yang sedang merambah negeri ini, kecintaan akan budaya pop yang dibawa dari negeri ginseng Korea. Pengaruhnya tentu saja sangat besar, para remaja khususnya mulai mengikuti bagaimana si gaya hidup ala korea, mengidolakan artis-artis korea, bahkan saya pernah menjumpai temen saya yang ingin sekali tinggal di korea, sampai-sampai profil FBnya ditulis bahwa alamatnya di Korea (what the??..).

Munculnya Boyband dan Girlband Indonesia pun tidak lepas dari pengaruh budaya pop Korea ini. Kemunculan mereka juga mendapat sambutan yang bagus oleh penikmat musik tanah air. Namun, ada sebagian masyarakat yang saking cintanya sama budaya Kpop, begitu boyband dan girlband indonesia keluar, mereka gak rela budaya kpop ditiru dengan menuduh Boyband dan Girlband Indonesia cuma plagiat, niru-niru Korea, gak kreatif, aji mumpung, dll (Lho..Kok kita malah jadi perang saudara sendiri??)

Saya sendiri waktu nemuin video klipnya SNSD di atas langsung suka, tapi hanya sebatas video itu saja lho… Dan melalui video itu saya jadi sedikit mengerti kenapa sekarang banyak yang suka sama Kpop (baru tau ni yee kalo SNSD itu cantik-cantik, he..he...).

Nah, yang perlu jadi catatan disini adalah saat ini kita sedang hidup di era baru yang disebut era invasi budaya. Dimana masuknya budaya asing tidak bisa terbendung lagi akibat pesatnya kemajuan media komunikasi dan informasi. Tidak dapat dipungkiri, masuknya budaya asing merupakan salah satu penyebab terkikisnya budaya yang ada di negeri tercinta kita ini. Setelah budaya barat lebih dulu masuk ke Indonesia, kini giliran budaya Kpop yang makin menggempur budaya kita sendiri. Film, musik, mode dan gaya hidup orang-orang asing seolah mempengaruhi pikiran kita untuk mengikuti apa yang mereka lakukan. Hal ini berkat “The power of media“, dimana hal yang sering diekspos lama kelamaan dianggap sebagai “sesuatu yang menarik” bagi orang yang melihatnya.  Memang selama ini budaya asing dianggap lebih keren, gaul, up to date, dan sesuai perkembangan zaman.

Kira-kira mengapa selama ini budaya Indonesia kalah populer dengan budaya asing? Menurut saya salah satu penyebabnya adalah karena kita masih mempertahankan cara lama dalam memperkenalkan budaya kita pada generasi muda. Salah satu contohnya adalah saat bahasa inggris diajarkan dengan media audio visual yang canggih plus kamus digital yang praktis dan diajarkan dari SD sampai kuliah (waktu kuliah tahun pertama saya masih dapat pelajaran bahasa inggris soalnya,..), pelajaran muatan lokal (yang mencakup bahasa, aksara dan kebudayaan daerah) hanya diajarkan dari SD sampai SMP dengan metode seadanya (teks book, teks book, teks book), sehingga kurang menarik minat siswa, tentunya cara konvensional seperti ini masih dipertahankan sampai sekarang. Saya pernah iseng-iseng mikir, bagaimana ya kalau pelajaran bahasa daerah diajarkan dengan metode seperti bahasa inggris, seperti misalnya ada listeningnya, reading, speaking, writing, short conversation dalam bahasa daerah, ada video contoh-contoh percakapan dalam bahasa daerah juga, bahkan mungkin ada semacam Toefl untuk bahasa daerah (wah, mulai aneh ni kayaknya..) pasti siswa lebih tertarik, he..he..

Lalu, apakah kita harus menghilangkan semua budaya asing ini dari kehidupan kita? Wow, untuk pertanyaan ini tentu saja jawaban saya tidak, itu tergantung bagaimana kita menyikapi budaya asing yang masuk. Kita cukup menyikapinya dengan memakai sebuah prinsip tua sederhana: ambil baiknya, buang jeleknya. Namun, kita tidak boleh terlena dalam pesona budaya asing, perkembangan budaya asing yang masuk haruslah diimbangi dengan upaya pelestarian budaya kita sendiri. Kita harus tetap lebih bangga dengan budaya Indonesia dari pada budaya asing. Jangan sampai seperti perumpamaan wanita kulit putih dan kulit coklat, disaat wanita kulit coklat (Wanita Indonesia) mengidamkan kulit putih seperti para wanita bule, wanita bule yang kulitnya putih justru lebih menyukai kulit coklat karena dianggap seksi (nyambung kan ya sama perumpamaannya?)

Saya sendiri sangat senang waktu budaya kita sempat diklaim negara tetangga (wah penghianat ni! kok malah senang?!). Tentu saja saya senang, soalnya saat beberapa budaya kita diklaim, berbondong-bondong semua rakyat Indonesia mendadak bersatu mempertahankan keutuhan warisan budayanya. Semua pasang pagar betis, bersuara lantang, bahkan berani perang. Yang tadinya gak tau Reog, sekarang tau Reog, yang tadinya gak pernah pake batik, langsung beli batik, yang tadinya gak ada hari batik, sekarang ada hari batik. Pemerintah, masyarakat, politisi seakan semuanya tersadar bahwa kebudayaan Indonesia begitu berharga sampai-sampai negara lain “Ngiri” dan ingin memilikinya. Bagaimana kita semua tidak senang dengan hal ini? Usaha seperti inilah yang kita semua harapkan dalam rangka menjaga kekayaan budaya kita. Mungkin bisa sekali lagi ada yang mengklaim ya, biar kita semangat lagi, he..he..

Nah, mungkin ungkapan “Kita baru akan menyadari betapa berharganya sesuatu saat kita sudah kehilangan” benar adanya. Sobat semua, di tengah era invasi budaya ini, ayo sama-sama kita jaga budaya kita agar tetap lestari dan tidak hilang. Tahu atau tidak, budaya Indonesia sudah mulai masuk ranah teknologi lho. Contohnya, aksara Sunda dan Jawa yang sudah dapat Unicode (gak mudah lho dapetin Unicode ini), jadi kita bisa nulis aksara sunda dan jawa di komputer maupun Internet, asik kan? Semoga aksara-aksara lainnya juga bisa menyusul ya. Kebayang gak kalau nanti ada satu web khusus yang menyediakan Font Digital Aksara Nusantara? Jadi semua aksara daerah yang ada di Indonesia tersedia dalam format digital di web tersebut. Tinggal kita download, install, dan akhirnya aksara tersebut bisa kita tulis di MS Word, email, bahkan ngeblog pun bisa pake aksara daerah. Hmm..pasti asik kan??

Makanya ayo kita sama-sama berkreasi untuk melestarikan budaya daerah kita supaya gak kalah populer sama budaya asing. Saat ini , boleh-boleh aja kita menikmati sensasi Korean Pop yang lagi booming, namun jangan sampai melunturkan nilai-nilai nasionalisme kita terhadap Budaya Indonesia yang kita cintai ini ya. Buktikan kalau budaya kita gak bisa di Invasi sama budaya lain. Mulai dari diri dan lingkungan sekitar kita. Saya jadi teringat waktu Silatnas Beswan Djarum yang diadakan oleh Djarum Beasiswa Plus dulu, saat perayaan malam puncak, pentas seni yang diikuti semua Beswan Djarum berhasil memadukan budaya Pop dan budaya tradisional Indonesia, ada yang nge-Rap, nyanyi lagu pop, tapi juga gak ketinggalan lagu-lagu dan tari-tarian adat dari berbagai daerah yang membuat malam itu makin meriah (Hah…jadi pengen Silatnas lagi, semoga aja menang lomba Blog biar bisa Silatnas lagi, he..he..)

O iya, saya juga sedang mengajukan proposal PKM (Program Kreatifitas mahasiswa) ke DIKTI untuk membuat Font Digital Aksara Lampung sekaligus memberi pelatihan kepada guru-guru muatan lokal mengenai tata cara pengetikannya di Microsoft Word. Hal ini dalam rangka melestarikan Aksara Lampung dan melatih kemampuan diri saya dalam kompetisi PKM ini…Mohon do’anya supaya proposalnya bisa lolos ya teman-teman…

Ok, sekian dulu ya untuk kali ini…

Saya harap temen-temen nggak puas dengan tulisan saya ini (biar bisa dikembangin lagi maksudnya..)

Salam..

10 Comments for “I Love Korean Pop (Sebuah Era Invasi Budaya)”

  • gemakusumaputri says:

    jadi tambah pengen buat ngegenapin SNSD jadi 10 orang
    hahaha :D
    yg bisa dipetik adalah : bersyukurlah puny akulit sawo matang, makin eksotis makin kece juga kan yaa :))

    oiyaa sukses juga yaa buat proyek PKMnya, semoga bisa lolos sampe tahap nasional
    semangaat :D

  • rahmathidayat says:

    @gemakusumaputri
    Ok makasih Gema…
    Sukses buat kita semua ya…

  • arnis.silvia says:

    I love Javanese Boy band, hehe.. Jogja Hiphop Foundation is KEWL!

    Ngomong2 ttg font khas indonesia, ada lo disini :)

    Mampir balik ya :)

  • rahmathidayat says:

    @arnis.silvia
    Wah ada tho mbak Javanese Boy, keren juga tu..

    Itu Font Batik ya Mbak? Bagus juga..
    Tapi maksud saya yang di artikel ini Font Aksara..
    Tapi sip juga tu Font Indonesianya buat modif-modif tulisan..he..he..

  • Fa Mulan says:

    korean wave melanda.

    y tapi emang g bisa bohong c,, boy band ma girl band dari kita emang niru2 nya kebangetan. gimana gak dihina ma bangsa sendiri.

    ganbarou yayan.

  • rahmathidayat says:

    @Fa Mulan
    Namanya juga lagi tren, pasti ada produk KWnya..he..he..

    Makasih dan berkunjung Lan..

  • ainunnimatu says:

    Wa, saya juga K-POP lover, saya juga sempat nulis soal virus K-Pop ini lohh ceritanya tentang hasil talkshow saya bersama teman2 dance cover, yah, tentang persepsi mereka thd virus k-pop yg mewabah di Ina. Sama seperti Rahmat: jangan sampai deh k-pop mengalahkan nasionalisme qta :)
    yuk berkunjung:

    ntar bisa baja tentang k-pop juga dari sana :)

  • rahmathidayat says:

    @ainunnimatu
    Kpop memang udah mewabah dimana-mana ya..

  • dodod says:

    benernya lebih suka ma j-pop daripada k-pop… tapi akhir2 ini invasi k-pop bikin dod “mau tidak mau” terpedaya juga… tapi tetap cinta indonesia

    blog.djarumbeasiswaplus.org/doddyfirmanrahmadi

  • rahmathidayat says:

    @dodod
    Wah, ada Mas Doddy, selamat datang di blogku yang gak seberapa ini Mas, he..he..
    Bener Mas, bagaimanapun kita harus tetep cinta Indonesia..
    Mungkin lagi Musimnya K-Pop kali ya..
    he..he..


Leave a Comment

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?

More from category

Beauty of Kedaton – Kisah KKN yang tak Terduga
Beauty of Kedaton – Kisah KKN yang tak Terduga

Ini bukan tulisan seorang backpacker atau travelista, hanya seseorang yang ingin berbagi cerita, tentang takdir yang [Read More]

Let’s Play the Game (Budaya Permainan Tradisional Yang Mulai Tergantikan)

Dunia anak-anak memang selalu menyenangkan ya (ya..masih kecil, belum banyak pikiran), maunya bermain, bermain dan [Read More]

I Don’t Know Indonesia, but I Know Bali (Ayo Kita Jaga Budaya Indonesia Melalui Pariwisata)

Ini sepenggal pengalamanku waktu ikut pelatihan Dare To Be A Leader & Debate Batch 2 yang diadakan oleh Djarum [Read More]

The Trilogy (Artikel Penutup Lomba Blog Beswan Djarum)

Hahhhh.. Akhirnya setelah lelah menulis ditengah kurangnya waktu, selesai juga 3 tulisan yang saya ikut sertakan di [Read More]

Sekarang Kamu bisa Akses Blog ini lebih mudah dengan alamat: iam.blogmamet.com

Pages

Interesting Sites

Insider

Archives