Discover, Learn, and Share
Monday February 24th 2020

Let’s Play the Game (Budaya Permainan Tradisional Yang Mulai Tergantikan)

GameOn Lets Play the Game (Budaya Permainan Tradisional Yang Mulai Tergantikan)

Dunia anak-anak memang selalu menyenangkan ya (ya..masih kecil, belum banyak pikiran), maunya bermain, bermain dan bermain. Ini wajar aja karena memang masa anak-anak adalah masanya bermain. Beda kalo udah Mahasiswa, tugas, tugas dan tugas, ha..ha… Tapi mereka gak sekedar bermain lho, tapi bermain sambil belajar (jangan belajar sambil bermain tapi ya..). Gak cuma anak manusia, anak kucing, anak singa, anak kuda, anak sapi, anak orang utan pun kalo masih kecil pasti sukanya bermain…(kok jadi kebon binatang gini??)

Temen-temen sendiri dulu sukanya main apa?
Congklak, Gasing, Gobak Sodor, Bentengan, patok lele, atau Taplak?

Beberapa permainan yang saya sebut di atas tadi adalah sedikit contoh dari permainan tradisional yang dulu sering saya mainkan bersama teman-teman. Saya sendiri paling seneng main bentengan (tiap instirahat sekolah sering banget main ini..), atau main golf ala tradisional yaitu patok lele, soalnya ni permainan mirip-mirip golf gitu deh, cuma bolanya pake kayu, mirip golf lah pokoknya (maksa banget si..).

Yah, karena dulu belum ada Playstation, Xbox, game PC atau game Online ala sekarang (TV aja masih item-putih,ha..ha..), permainan-permainan tradisional merupakan sumber kesenangan duniawi anak-anak pada zaman itu. Selain itu, dulu juga masih banyak tanah-tanah lapang bagi anak-anak untuk berlari-lari, melompat-lompat, jungkir balik sesuka hati. Kalo sekarang si, sekolahan aja banyak yang di pinggir jalan raya, mau lari-lari? wah, bisa tabrak lari urusannya..

Permainan tradisional memang menarik, karena selain menghibur, juga bisa dijadikan sarana pendidikan, pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan jiwa, fisik dan mental anak. Banyak hal-hal positif dan nilai-nilai moral yang diajarkan melalui permainan tradisional ini. Melalui permainan tradisional anak-anak dituntut banyak bergerak sehingga menjadi lebih aktif (jadi gak obesitas tu..), mengasah kemampuan otak, kemampuan membuat strategi, kreatif, serta setia kawan. Permainan tradisional juga melatih kemampuan bersosialisasi anak-anak karena selalu dimainkan oleh minimal 2 anak (Multiplayer mode: always On), jadi menjauhkan anak-anak dari sifat individualis. Selain itu, menurut saya permainan tradisional itu lebih ekspresif man! Soalnya kita lari-lari, teriak-teriak, gerak cepat, ketawa-ketiwi, bersemangat, bahkan ada yang sampai nangis-nangis (biasanya nangis karena jatuh, terluka waktu main, atau karena kalah terus, biasanya kalo udah ada yang nangis gini bubar deh maennya, he..he..)

play03 Lets Play the Game (Budaya Permainan Tradisional Yang Mulai Tergantikan)
Gobak sodor ni..

Pokoknya, dalam permainan tradisonal manfaat yang diberikan komplit deh, dari mengembangkan kecerdasan intelektual anak, kecerdasan emosi (termasuk sosial), kecerdasan logika, kecerdasan kinestetik, kecerdasan natural, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, serta kecedasan spiritual (jangan-jangan dulu Einstein sering main permainan tradisional ni...)

Namun saat ini, kita sadari bahwa permainan tradisonal yang begitu bermanfaat tadi mulai tergusur oleh permainan-permainan modern. Contohnya permainan-permainan elektronik seperti Playstation, Xbox, Nintendo dan Game online yang ramai beredar di masyarakat. Sebenarnya sah-sah saja permainan-permainan modern ini dimainkan oleh anak-anak asal dengan porsi yang tepat. Tapi kebanyakan anak-anak justru kecanduan dengan permainan modern ini (pernah ngalamin juga soalnya, tapi lama-lama bosen..).PS%203 Lets Play the Game (Budaya Permainan Tradisional Yang Mulai Tergantikan)

Padahal, permainan-permainan elektronik modern justru mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap pertumbuhan anak. Meskipun ada beberapa game edukasi yang dibuat, permainan elektronik cenderung membuat anak kurang bergerak dan menyendiri, sehingga mereka menjadi lebih sulit bersosialisasi, pemalu dan individualistis. Parahnya lagi, untuk game elektronik, seringkali orang tua tidak memperhatikan rating Game tersebut, apakah rating game tersebut untuk semua umur, anak-anak, remaja, atau dewasa. Hal ini tentu saja sangat berbahaya karena akan meracuni pikiran anak-anak jika rating gamenya tidak sesuai. Seperti kita tahu banyak adegan-adegan yang menggambarkan kekerasan, kata-kata kasar, berdarah-darah dan adegan kurang pantas lainnya pada game-game elektronik yang memiliki rating 17+ (macem GTA, Resident Evil, Bully, dll). Anak-anak sendiri cenderung meniru apa yang dilihat, didengar dan dirasa olehnya, serta tertanam di pikiran bawah sadarnya (saringannya belum kuat, beda sama orang dewasa). Ini tentu saja sangat dikhawatirkan merusak pribadi anak itu sendiri.

Singkatnya, permainan elektronik zaman sekarang bisa membuat anak menjadi malas bergerak, kurang kreatif , serba mau cepat, anti sosial, Individualistis dan memamerkan kekasaran.

Nah, disinilah budaya permainan tradisional yang penuh manfaat ini perlu kita lestarikan lagi. Permainan tradisional adalah bagian dari budaya karena merupakan salah satu warisan leluhur kita yang patut kita jaga. Ada banyak sekali permainan tradisional di Indonesia. Ingat, anak-anak adalah generasi yang paling penting, karena merekalah yang akan meneruskan kelangsungan hidup negeri ini. Sudah seharusnya kita memperkenalkan budaya Indonesia sejak mereka kecil, yaitu melalui permainan tradisional ini. Saya jadi ingat pesan guru Asuma kepada Shikamaru waktu mereka lagi main catur (It’s Naruto time..).

naruto c316 8 Lets Play the Game (Budaya Permainan Tradisional Yang Mulai Tergantikan)

Guru Asuma “Shikamaru, jika diandaikan konoha itu sebagai bidak-bidak catur, siapakan yang menjadi rajanya?”
Shikamaru: “tentu saja Hokage”
Guru Asuma: “Hmm..dulu aku juga berpikir begitu, tapi ternyata aku salah, ternyata bukan Hokage”
Shikamaru: “Lalu siapa guru?”
Guru Asuma: “bst..bst..bst…” (berbisik kepada shikamaru)

Saya sempat bertanya-tanya apa sebenarnya jawaban yang dikatakan guru Asuma. Lalu setelah beberapa episode berlalu, barulah apa yang dikatakan guru Asuma itu ketahuan, jawabannya adalah “Anak-anak Konoha” alias generasi-generasi baru penerus bangsa. Dari sini kita tahu bahwa “Raja yang sebenarnya” pada bidak catur bukanlah presiden debagai kepala negara, namun Anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa. Jika presiden mati, masih banyak orang yang menggantikan, namun jika generasi penerus mati, tinggal menunggu waktu saja sampai Indonesia hancur dengan sendirinya. Bagimana generasi penerus akan mengenal budaya negerinya jika tidak kita perkenalkan sejak dini?

anak indonesia Lets Play the Game (Budaya Permainan Tradisional Yang Mulai Tergantikan)

Sekali lagi, anak-anak Indonesia sekarang perlu dikenalkan kembali dengan budaya permainan tradisional. Agar manfaat positif yang dibawa dari permainan tersebut tertanam seiring pertumbuhan mereka. Semangat keindonesiaan, kecintaan akan tanah air, dan kepedulian terhadap sesama akan semakin tumbuh karena mereka sudah mengenal budaya Indonesia sejak kecil, melalui permainan tradisional.

Memang tidak mudah mewujudkan kembali permainan tradisional ini. Namun, saat saya sedang googling di internet, ada sebuah komunitas yang bernama komunitas Hong (informasi lebih lengkap searching aja ya..) yang mempunyai tujuan mencari, mendokumentasikan, melestarikan dan mempopulerkan kembali berbagai permainan tradisional yang ada di Indonesia. Saat ini mereka sudah mengumpulkan sebanyak 250 permainan tradisional dari seluruh Indonesia (O iya komunitas Hong juga pernah masuk Kick Andy). Ada lagi sebuah sekolah yang memasukkan permainan tradisional ini menjadi kegiatan ekstrakulikuler bagi siswanya, sungguh usaha yang patut mendapat apresiasi dan patut kita contoh. Dan saya pikir, memasukkan permainan tradisional sebagai ekstrakulikuler seperti sekolah tadi bisa menjadi masukan bagi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memulai pelestarian permainan tradisional melalui lingkungan pendidikan. Memang, dukungan pemerintah terhadap upaya-upaya pelestarian budaya seperti ini sangat kita harapkan, agar permainan-permainan tradisonal kita ini tidak hilang dimakan zaman.

Well, ini adalah tulisan ketiga saya dari trilogi artikel tentang Budaya Indonesia dalam rangka mengikuti lomba Blog Beswan Djarum yang diadakan oleh Djarum Beasiswa Plus. Bagaimanapun, ini adalah bentuk ekspresi saya dalam menyikapi kebudayaan Indonesia saat ini. Bisa menang lomba ini hanyalah bonus, yang terpenting, walaupun jauh dari sempurna, artikel-artikel saya ini bisa bermanfaat dan menginspirasi bagi yang membacanya.

Dan ini bukan berarti tulisan saya tentang budaya Indonesia sudah habis, akan ada artikel lain dikesempatan berbeda.

Akhir kata, berbanggalah kita terlahir sebagai orang Indonesia..Proud to be Indonesian Guys!

Ending theme, Indonesia Raya..
httpv://www.youtube.com/watch?v=tyhYt80w-Vw

Salam..

2 Comments for “Let’s Play the Game (Budaya Permainan Tradisional Yang Mulai Tergantikan)”

  • Utus Mustaqim says:

    Anak-anak sekarang emangnya pada gk pernah maen bentengan ya?
    Gk kayak kita dulu ya mat. Kasian mereka yang gk pernah maen, padahal seru ya…

  • rahmathidayat says:

    @Utus Mustaqim
    Kayaknya udah jarang Tus, apalagi di kota..
    Iya, mereka gak tau betapa serunya men bentengan, he..he..


Leave a Comment

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 + 4?

More from category

Beauty of Kedaton – Kisah KKN yang tak Terduga
Beauty of Kedaton – Kisah KKN yang tak Terduga

Ini bukan tulisan seorang backpacker atau travelista, hanya seseorang yang ingin berbagi cerita, tentang takdir yang [Read More]

I Love Korean Pop (Sebuah Era Invasi Budaya)

Semangat pagi semuanya!!! Kembali lagi di artikel saya yang masih bicara tentang budaya ni, setelah kemarin saya sudah [Read More]

I Don’t Know Indonesia, but I Know Bali (Ayo Kita Jaga Budaya Indonesia Melalui Pariwisata)

Ini sepenggal pengalamanku waktu ikut pelatihan Dare To Be A Leader & Debate Batch 2 yang diadakan oleh Djarum [Read More]

The Trilogy (Artikel Penutup Lomba Blog Beswan Djarum)

Hahhhh.. Akhirnya setelah lelah menulis ditengah kurangnya waktu, selesai juga 3 tulisan yang saya ikut sertakan di [Read More]

Sekarang Kamu bisa Akses Blog ini lebih mudah dengan alamat: iam.blogmamet.com

Pages

Interesting Sites

Insider

Archives