BUKAN TRAVELLER

Hanya Kebetulan Lewat

BUKAN TRAVELLER - Hanya Kebetulan Lewat

SEKOLAH PENEMPATAN (SD YPPGI PYRAMID)

12654330_10205680001946048_8230682744873326876_n

Saya ditempatkan di sekolah dasar YPPGI Pyramid. YPPGI sendiri merupakan singkatan dari Yayasan Pendidikan Persekolahan Gereja Injili. Sebuah sekolah yayasan kristen. Walaupun saya muslim tidak masalah rasanya ditempatkan di sekolah manapun. Karna tujuan saya datang kesini adalah untuk memeluk mimpi anak-anak di pedalaman. Entah itu agama apapun, suku apa saja, keriting, lurus, hitam, putih semua sama. Mimpi mereka adalah mimpi Indonesia. Masa depan mereka adalah masa depan Indonesia tentunya.

SD YPPGI terletak disalah satu distrik di kabupaten Jayawijaya Papua tepatnya di distrik Pyramid. Distrik pyramid adalah distrik paling ujung yang berbatasan langsung dengan kabupaten Lanny Jaya. Dilewati oleh jalan antar kabupaten mengakibatkan akses menuju sekolah ini tidak terlalu sulit. Ada saja kendaraan yang melewatinya setiap hari. Jarak antara ibu kota kabupaten Wamena dengan distrik Pyramid sekitar lebih kurang 35 KM. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang tidak terlalu baik.
Untuk menuju kesekolah ini kita dapat menggunakan taksi dari kota wamena. Taksi sebutan untuk semua jenis angkutan umum disini, bukan taksi seperti yang biasa kita jumpai di kota. Ongkos taksi untuk sekali jalan sekitar 35 ribu rupiah. Tapi bersiaplah dengan kondisi yang ada, kita akan berdempetan dengan warga lokal terkadang mereka juga membawa babi atau anjing di dalam taksi. Untuk pertama kali harus menyesuaikan dengan aroma yang kurang sedap. Hanya sampai terbiasa saya rasa.

Ada alternatif kedua yang kami temukan untuk menuju ke sekolah penempatan dari kota Wamena. Menumpang ala backpacker bermodalkan jempol dan lambaian tangan. Distrik Pyramid merupakan akses antar kabupaten, banyak sekali kendaraan pribadi ataupun truk pasir yang melewati sekolah penempatan saya. Tak jarang kami menumpang untuk naik atau turun ke kota Wamena dengan cara berdiri di belakang bak mobil atau truk dengan pegangan ekstra, karena laju kendaraan disini sangat kencang jadi harus berpegangan yang kuat.

Distrik pyramid belum dialiri oleh aliran listrik. Sumber listrik hanya berasal dari panel surya yang menyala setiap hari dari jam 6 sore sampai jam 8 malam. Hanya cukup untuk penerangan makan malam serta untuk mengisi batrai Handphone. Tapi handphone fungsinya hanya untuk bermain game atau sekedar berfoto bersama anak-anak. Karna tidak ada jaringan telpon disini. Untuk bisa menelpon hanya bisa di lakukan di bukit signal atau pohon signal. Beberapa spot yang terdapat signal telpon, itupun harus menggunakan hp dengan merek tertentu. Hp dengan fungsi hanya untuk sms ataupun telpon saja. Jika ada rindu itulah seninya. Harus menunggu ketika turun ke kota Wamena barulah bisa menghubungi keluarga ataupun orang-orang yang dikasihi.

Sekolah dasar YPPGI Pyramid memiliki 6 ruang kelas, 3 ruang kelas sudah berdinding batu walaupun dengan kondisi bolong dan rusak, 3 ruang kelas lainnya masih berdinding papan dengan kondisi tak jauh lebih baik dari 3 ruang kelas lainnya. Satu ruang guru dengan ukuran yang tidak terlalu luas. Serta satu perpustakaan yang tampak masih baru. Untuk WC hanya ada satu. Itupun hanya diperuntukkan bagi guru. Anak-anak jika ingin buang air harus berlari ke semak-semak atau tempat manapun yang dirasa cukup tersembunyi.

Di sekolah dasar YPPGI Pyramid inilah pelajaran kehidupan dimulai. Bagaimana saya harus berjuang bersama murid-murid yang saya sayangi. Perjuangan yang tak pernah usai sampai kapanpun. Merangkai mimpi serta membuka cakrawala pengetahuan mereka. Walaupun semua tidak mudah karena sarana dan prasarana yang sangat tidak menunjang, tapi saya yakin dengan semangat yang saya punya akan ada cara-cara serta ide-ide kreatif yang nantinya akan muncul menemani petualangan hebat kami dalam belajar.

LEMBAH AGUNG BALIEM

13095838_10206393629586293_1992666247438752652_n


Generasi anak koteka
Tunjukkan pada mereka
Dari lembah yang dingin
Kita berikan senyuman

Satukan cinta kita
Dari Lembah Baliem
Dengan menari dan bernyanyi
Yakinkan kita bisa

Penggalan lirik lagu dari grup hip hop W-Town yang merupakan kumpulan anak-anak muda Wamena yang berkarya melalui musik. Menggambarkan keindahan alam lembah Baliem yang menjadi tempat nyaman bagi mereka untuk berkreasi.

Lembah baliem terletak di kabupaten Jayawijaya dengan ibukota Wamena. Merupakan sebuah lembah yang dikelilingi oleh pegunungan Jayawijaya di Propinsi Papua. Untuk menuju kesana akses satu-satunya adalah menggunakan pesawat terbang dari ibu kota Propinsi Papua yakni Jayapura. Karena belum ada jalur penghubung darat menuju pegunungan tengah Papua. Hal ini jugalah yang mengakibatkan tingginya harga barang di Wamena.

Saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di potongan surga di timur Indonesia berkat Program mengajar SM3T dari kementrian ristek dan tekhnologi. Selama satu tahun mengabdikan diri sebagai seorang guru. Lembah baliem berada di ketinggian 1600 mdpl dengan suhu antara 10-15 derajat Celcius. Lembah Baliem sendiri memiliki panjang 80 Km dan lebar 20 km.

Lembah baliem dihuni oleh masyarakat suku Dani, Yali, dan Lani. Seperti kebanyakan masyarakat Papua daerah pegunungan dengan ciri-ciri berambut keriting pendek, kulit hitam, serta bentuk rahang yang kuat. Jumlah penduduk yang mendiami Lembah ini sekitar 100.000 jiwa.

IMG_20160319_050532

“Yogotak Hubuluk Motok Hanorogo” yang berarti hari esok harus lebih baik dari hari ini adalah semboyan kabupaten Jayawijaya yang menunjukkan bahwa masyarakat disini menginginkan perubahan kearah yang lebih baik setiap harinya.

Pertama kali meginjakkan kaki di bandara Wamena yang terasa adalah hembusan angin pegunungan yang sejuk. Di pintu keluar bandara akan kalian temui masyarakat asli yang menggunakan koteka. Biasanya mereka akan menarik wisatawan untuk berfoto bersama yang nantinya akan dimintai uang sebagai balas jasa karna sudah berfoto bersama mereka. Kisaran harga yang diminta sebesar 20 ribu sampai 50 ribu rupiah tergantung pandai tidaknya menawar.

Kota wamena tidak terlalu luas. Hanya kota kecil dengan penduduk yang tidak terlalu padat. Beberapa jalan utama. Pusat perbelanjaan hanya berupa swalayan dan pasar. Kota inilah yang menjadi jantung perekonomian masyarakat pegunungan tengah Papua. Akses keluar masuk dan distribusi barang berlangsung disini sebelum dikirim ke berbagai daerah di sekitar kabupaten Jayawijaya.

Kabupaten Jayawijaya sendiri memiliki 44 distrik yang tersebar di bentangan Lembah Baliem. Saya sendiri di tempatkan bertugas di salah satu distrik yang berjarak 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan dari ibukota kabupaten. Di Lembah agung Baliem inilah semua cerita indah saya akan dimulai.

LAHIRNYA SEBUAH MIMPI

SALAM2

Papua adalah mimpi terbesarku dari dulu. Dimulai dari perpustakaan sekolah ketika SMA. Setelah membaca sebuah buku tentang Lembah baliem. Buku yang bercerita tentang eloknya alam pegunungan jayawijaya serta uniknya budaya masyarakat suku Dani. Suku yang mendiami tanah ajaib di Lembah agung baliem. Tradisi pemotongan jari ketika kehilangan salah satu anggota keluarga mereka. Sejak saat itu bumi cendrawasih menjadi target dari semua mimpi yang mulai saya rangkai.
Ketika melanjutkan kuliah di Universitas Riau dengan jurusan bimbingan konseling membuat saya semakin yakin bahwa jalan hidup saya adalah menjadi seorang guru dan tanah Papualah yang akan menjadi ladang juangnya nanti. Tekad itu semakin hari semakin kuat. Tak hentinya saya mencari informasi tentang guru-guru yang telah terlebih dahulu mengajar di pelosok Indonesia.
Mulai dari sosok yang sangat menginspirasi seperti Butet manurung yang berjuang untuk mengajar suku anak dalam sampai pada perjuangan para pengajar muda Indonesia mengajar yang salah satunya sangat menarik bagi saya adalah pengabdian di kabupaten Fak-fak Papua. Lagi-lagi Papua yang selalu menjadi daya tarik utama dari topik pencarian saya.
Setelah menamatkan pendidikan di Universitas Riau menjadi pintu gerbang awal perjuangan saya untuh meraih mimpi. Mimpi untuk memeluk anak-anak timur Indonesia. Mulai dari mengikuti seleksi Indonesia mengajar angkatan ke VIII yang belum mengizinkan saya untuk bergabung sampai pada jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan yakni mengikuti Program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal) angkatan ke IV. Setelah mengikuti berbagai seleksi dan persiapan akhirnya saya resmi menjadi salah satu peserta SM3T yang ditugaskan di Kabupaten Jayawijaya Papua.
Seperti Tuhan sedang memeluk mimpi-mimpi saya. Semuanya menjadi nyata. Secara langsung Lembah baliem dipilihkan sebagai tempat pengabdian. Seolah semua memori masalalu menguap seketika. Ingatan saya tentang perpustakaan sekolah, masa perkuliahan, dan akhirnya apa yang saya capai sekarang. Semua seperti memiliki benang merah yang tak terputus. Semua mimpi yang saya jaga tetap membara akhirnya direstui oleh sang Ilahi.