Skip to content

Recent Articles

13
Oct

Yogya yang Unik dari Mata Jurnalistik

IMG_9143ed copy          

Bagi saya jurnalistik itu unik.Oleh karena itulah saya mengambil peminatan media dan jurnalistik saat kuliah dan beberapa kali bekerja part time sebagai jurnalis. Dan mata kuliah yang berbau jurnalistik bagi saya selalu bisa bikin saya melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda. Ini, adalah pengalaman saya waktu harus menjalani PKL sebuah mata kuliah yang berhubungan dengan jurnalistik di kota Yogyakarta. Orang Indonesia tentu semua tahu bahwa Yogyakarta adalah kota yang unik..tapi lewat sudut pandang  jurnalistik, entah kenapa bagi saya kota ini terlihat makin unik.

Sudah beberapa kali saya pergi ke Yogyakarta. Tapi kunjungan saya tahun 2012 lalu beda, karena saya ke Jogja dalam rangka tugas  praktikal untuk mata kuliah Fotografi Jurnalistik.Berbicara tentang fotografi jurnalistik salah satu fotografer senior pernah berkata:

Bedanya fotografi jurnalistik dengan fotografi biasa itu, kita nggak sekedar motret saja, tapi kita harus bisa bercerita lewat foto yang kita hasilkan. Fotonya harus punya nilai berita. (Yuyung abdi, 2012)

Dan inilah yang menjadi tantangan mata kuliah ini. Tugas akhir semester mata kuliah ini adalah berupa PKL, di mana kita  harus terjun langsung ke lapangan buat motret sekaligus nyari berita dari apa yang kita potret. Setelah sempat milih-milih kota mana yang kira-kira mau kita jadiin tempat PKL, kota Yogyakarta pun jadi pilihan terbaik kita untuk mengeksekusi tugas akhir semester ini. Dengan pertimbangan di sana bakal banyak momen dan hal yang bisa diabadikan dan diberitakan. Wisatanya dapet, budayanya dapet, banyak deh.

Tapi, ternyata semua nggak sesimpel yang dibayangkan pemirsa.. Pas nyampe sana, tetep bingung juga mau beritain apa. Nah ini dia tantangan yang sebenarnya. Kalo biasanya ke Jogja cuman buat jalan-jalan, dan cuci mata  doang, kali ini beda. Mau nggak mau pokoknya gimana caranya biar kita lebih peka sama sekelilingnya dan nangkap momen yang ada di sekitaran Jogja.  Selama 5-7 Juli perburuan di Jogja,  inilah hasil perburuan saya. Yang jelas tugas ini bikin saya melihat Yogyakarta dengan kaca mata yang berbeda.

Dan selama dua hari di sana, saya cukup banyak jepret-jepret segala sesuatu tentang Kota Jogja. Dan.. inilah poto lain yang berhasil saya jepret hasil ngider di sekitar Malioboro, Pasar beringharjo, Keraton, Tamansari, dan stasiun tugu Yogyakarta.

IMG_9132

SENYUM SEHAT : Anaknya siapa?  Kayaknya anak SD lagi berwisata ke Jogja. Habis mereka lucu, dan pas ngeliat saya nenteng-nenteng kamera eh mereka minta dipoto. Kalau nggak salah lokasinya di depan Monumen 11 Maret.  Senyuum Sehaaat :D

IMG_9342 edit

KREATIF: Becak Merah Putih ini saya temui di kawasan Malioboro. Memang banyak becak-becak yang nggak kalah nyentrik dari ini. Banyak yang dihias juga, tapi ini yang paling menarik mata saya, karena konsepnya Indonesia banget. Catnya merah putih, ada benderanya juga. Waktu saya ngobrol sama Bapaknya, dia bercerita bahwa pengen becaknya tampil beda, konsep Indonesia dipilih sebagai bentuk rasa nasionalisme. Wokee deh Pak!! Saking nyentriknya becak ini juga pernah masuk salah satu stsiun Tv swasta yang terkenal dengan joget cesarnya looh.. kata Bapaknya sih haha.

 

IMG_9194N YAMBI : Salah satu hal yang cukup membuat saya tertarik adalah minat baca masyarakat Yogyakarta. Di sekitaran jalan Malioboro, Pasar Beringharjo contohnya saya kerap melihat para pencari nafkah di tempat-tempat ini, membaca koran di waktu senggang mereka. Ini adalah Bapak becak, di pintu selatan Pasar Beringharjo yang saya dapati tengah asik membaca koran sambil menunggu penumpang. Saat saya tanya, mereka mengatakan paling suka membaca berita tentang sepakbola. Foto ini asli coy, bukan rekayasa atau sandiwara.

IMG_8941di
NYAMBI : Jualan sambil baca atau baca sambil jualan? Kalau ini bapak-bapak yang jualan koran di depan Pasar Beringharjo. Saya sempet ngobrol-ngobrol dikit sama bapaknya. Karena udah bertahun-tahun jualan koran, diapun jadi suka baca koran. Soalnya sambil menunggu pembeli biasanya juga baca koran yang dia jual. Oh iya, kalau di Jogja kata Bapaknya, koran yang paling laku adalah KR  (Kedaulatan rakyat) sama Tribun Jogja.

IMG_9157

A BOX OF SNAIL : Keong-keong dalam box yang saya dapati sedang dijual oleh seorang nenek-nenek di sekitar Pasar Beringharjo.  Warna-warni asik sekali. Inilah salah satu yang unik dari kota Yogyakarta, masih banyak sekali orang yang bisa dikatakan sudah lanjut usia tapi masih terlihat segar bugar dan turut mencari nafkah dengan berjualan di sekitaran area-area wisata. Jualannya pun macem-macem, kayak ini nih.

Kalau di Yogya, jualan jamupun nggak cukup dengan satu cara

IMG_9113ed

Pake Gerobak Jamu Motor. Ini buatan Bapaknya sendiri loh. Saya nemu (ceileh nemu) bapaknya di depan Tamansari

IMG_9179ed

Kalo yang satu ini masih klasik abis, tapi juga keren abis. pake sepeda onthel. Ibunya jualan di sekitar pasar Beringharjo.Seneng aja masih ada yang jualan jamu pake sepeda kayak gini.

IMG_9183 ed

BIKIN LUWE Part 1: Kipas, kipas, bakar, bakar, ibu-ibu penjual sate di dekat Pintu Selatan pasar Beringharjo

IMG_9173

BIKIN LUWE part2 : Salah satu penjual pecel yang banyak menghiasi depan Pasar Beringharjo Jogja.

IMG_9492

IMG_9500POTRET PERNIAGAN: Saya selalu penasaran, berapa jumlah uang yang berputar dipusat–pusat perdagangan seperti ini setiap harinya. Ini adalah Pasar Beringharjo Yogyakarta. Pasar yang sudah bertahun-tahun menjadi salah satu nadi kehidupan masyarakat di kota ini.
IMG_9388

SI EMAK : Ndak tahu emak siapa nih, yang jelas bukan emak saya haha. Ibu-ibu yang lagi tawar-menawar belanjaan di Malioboro

 

Dan..tentu saja yang selalu berkesan dan tak boleh terlupkan dari menyusuri Jogja adalah mampir ke Angkringan-nya

IMG_9325ed

sembari menyeruput kopi yang diseduh penjualnya dengan penuh cinta (apasih)
sungguh kesenangan kecil yang sangat menyenangkanlah pokoknya..
Beautiful Yogyakarta..

IMG_9327ed

Dan inilah output dari tugas fotografi jurnalistik tersebut. Yang jelas semua hasil perburuan dari Jogja itu harus dibuat menjadi 1 halaman koran berisi berita dan foto jepretan sendiri, dan  di-layout sendiri.

Senang rasanya bisa menelisik Yogyakarta yang unik dari sudut pandang jurnalistik.  Karena semua yang terlihat biasa, menjadi lebih istimewa jika dilihat dengan mata lebih terbuka lewat jurnalistik. Dan saya yakin kok, nggak cuma Yogyakarta, kota-kota lain di Indonesia pasti lebih unik jika dilihatnya dari sudut pandak jurnalistik…termasuk Derawan yang bakal jadi hadiah buat pemenang lomba blog competition tahun ini heheheks.

Semua foto oleh: Riza Roidila.

kabar-jogja_riza-roidila-copycilik

13
Oct

#2 Saat Saya Menjadi Reporter Sebuah Liga Basket di Indonesia

“Bangsa yang Generasi Mudanya, Cuma Perlu Meng-Upgrade PD-nya”

Foto: Riza Roidila

Sang Pemenang.  Foto: Riza Roidila.

Di postingan pertama, saya mengatakan dengan percaya diri bahwa Indonesia masih punya generasi muda yang luar biasa. Baik potensinya maupun semangatnya. Ya, memang benar. Tapi satu hal, yang selama ini membuat bangsa kita mungkin masih sering dipandang remeh, atau mungkin  tidak bisa menunjukkan kemampuan sebenarnya di hadapan bangsa lain adalah karena rasa percaya diri bangsa kita yang mungkin kurang. Dan hal tersebut juga saya palajari saat menjadi reporter di liga basket pelajar itu yang membuat saya menarik kesimpulan bahwa:

Generasi muda Indonesia itu sebenarnya punya banyak potesi, namun kadang yang perlu dilakukan hanya meng-upgrade kepercayaan dirinya dan menyingkirkan yang namanya : MINDER! Barulah Indonesia bisa menjadi CHAMPION yang sesungguhnya.

……………..

Ada banyak tim yang berlaga di liga DBL, namun hanya beberapa tim yang memberi kesan tersendiri bagi saya. Salah satunya adalah tim basket putra dari SMAN 1 Blitar. Saya bukan berasal dari Blitar lho.  Tapi selama mengikuti perkembangan tim ini saat berkompetisi di liga basket pelajar di mana saya menjadi reporter, saya akui salut dengan perjuangan mereka. Bisa dibilang mereka ini tim yang “From Zero to Hero” dan tim yang besar karena kerja keras.

Pertama kali tahu tentang tim basket ini saat ditugaskan untuk meliput liga basket pelajar ini untuk musim 2012 di wilayah  regional selatan yang diselenggarakan di Kota Malang. Waktu itu mereka menjadi tim dengan status debutan, artinya mereka baru pertama kali ikut serta di liga basket  tersebut. Bagi sebuah tim dengan status debutan, yang berasal dari sebuah kota daerah yang berlaga di tengah tim-tim yang sebelumnya sudah pernah bermain di liga ini, di kota lain pula, hal itu tentu bukan hal yang mudah. Mental, tentu jadi tantangan utama.

 Tapi luar biasanya, tim ini sukses menarik perhatian di kiprah mereka sebagai debutan. Di laga demi laga yang mereka jalani, tim ini mereka selalu menunjukkan permainan yang seakan tidak kenal lelah saat bertanding, bahkan di kalangan reporter tim ini disebut tim romusha, karena daya gedornya yang tinggi dan seolah nggak punya capek saat bertanding. Tidak heran, karena saat saya wawancara dengan pelatih tim ini dengan tegas sang pelatih berkata, “Kerja keras sepanjang pertandingan memang selalu saya tekankan ke anak-anak. Kami datang jauh-jauh dari Blitar, kalau kami mainnya nggak serius ya mending pulang saja”.   Pelatih tim ini selalu bilang kalau selama buzzer terakhir belum dibunyikan, mereka belum kalah atau menang dan mereka nggak bakal menyia-nyiakan setiap detik pertandingan. Mereka siap habis-habisan hingga akhir laga.

Semangat juang anak-anak dari Blitar yang luar biasa tinggi ini berbuah manis.  Di tahun pertama mereka ikut dalam liga basket pelajar ini, siapa sangka sebagai debutan mereka bisa langsung melesat ke babak final regional selatan 2012. Dua kaa untuk mereka, luar biasa!

IMG00212-20120602-2023

Ini foto saat SMAN 1 Blitar berhasil lolos ke babak final tahun 2012, para pemainnya hampir semua masih kelas X SMA. Foto: Riza R.

kembar (jevanda & Jevando) SMAN 1 BLITAR -Rully Novianto Radar Malang 1

Duo pemain kembar dari SMAN 1 Blitar.

Di final tahun 2012, performa tim ini juga mengesankan. Meski melawan tim yang sudah lebih sering berlaga di DBL, mereka tidak gentar. Perlawanan tak kenal lelah hingga akhir pertandingan terus ditunjukkan. Sayang, waktu itu  mereka harus kalah super tipis atas tim putra SMA Kolese Santo Yusuf Malang dengan skor 59-60. Hiks nggak tega rasanya saat mau nggak mau harus wawancara mereka usai pertandingan waktu itu. Masih ingat sekali bagaimana kecewanya mereka karena tidak bisa membalikkan keadaan di detik-detik akhir pertandingan…

But..life goes by…dan 1 tahun kemudian…

Bukan SMAN 1 Blitar namanya kalau, setelah kalah justru menyerah. Kalah di final tahun 2012, membuat tim ini lebih menggelora di musim kompetisi tahun 2013. Dan ya, sekali lagi saya beruntung karena masih diberi kesempatan untuk meliput jalannya liga ini di kota Malang sehingga saya bisa melihat perjuangan mereka tahun ini. Dan bukan SMAN 1 Blitar namanya kalau tidak membuat kejutan hehehe. Masih banyak diperkuat pemain tahun lalu, SMAN 1 Blitar akhrinya keluar sebagai pemenang regional selatan tahun 2013..Di tahun keduanya berpartisipasi di liga basket pelajar ini, mereka berhasil meraih trofi champion yang tahun lalu gagal mereka dapatkan di laga final. Melihat perjalanan tim ini, rasanya seperti kisah yang ada di film-film..setelah kalah, akhirnya jadi pemenang dengan usaha tak kenal lelah. Itulah kenapa saya menyebut tim ini sebagai tim “From Zero to Hero”.

IMG_6986

After celebration. Foto : Riza Roidila

IMG_7003

Saya (tengah)

IMG_7008

IMG_7017

Duo kembar dari SMAN 1 Blitar yang sudah semakin gedhe di musim kompetisi tahun ini.

Tentu kemenangan  ini disambut haru dan bahagia. Tim ini mengajari saya bahwa kerja keras memang pantas diganjar oleh kemenangan. Namun di sisi lain tim ini juga mengajarkan pada saya bahwa rasa percaya diri tetap menjadi faktor-X yang sangat penting dan harus diperhatikan. Dan  di tahap  selanjutnya, tim ini  diuji bagaimana meningkatkan kepercayaan diri dan menghilangkan minder saat bermain di level yang lebih tinggi lagi.

Menjadi pemenang di regional selatan, membuat tim SMAN 1 Blitar berhak melaju ke final seri Jawa Timur, di DBL Arena Surabaya. Artinya  mereka harus melawan juara dari regional utara tahun 2013 yaitu tim putra dari SMA Frateran Surabaya untuk berebut trofi sebagai pemenang seri Jawa Timur. Pernah suatu ketika saat saya tanya kepada salah satu pemain SMAN 1 Blitar tentang gimana perasaan mereka waktu harus bermain di DBL Arena Surabaya. Ada yang mengatakan bahwa jujur  ada rasa minder dan kurang percaya  dalam diri mereka.

Salah seorang editor saya pernah bilang : “Tim-tim dari daerah  sebenarnya juga nggak kalah bagus dari tim-tim di regional Surabaya, tapi kebanyakan kalau di bawa ke Surabaya mereka pasti minder sama lapangannya”. Well, yang kurang lebih artinya, tim-tim dari derah sebenarnya juga punya potensi yang nggak kalah, tapi saat di bawa untuk bertanding di tempat atau di kelas yang lebih tinggi lagi rasa minder terkadang jadi penghalang sendiri bagi mereka untuk maju, termasuk minder bermain di DBL Arena Surabaya yang notabene adalah  arena basket sangat mumpuni.

Dan hal itupun benar-benar  terjadi, di final seri Jawa Timur yang diselenggarakan di DBL Arena Surabaya,  tim ini  kalah dari SMA Frateran Surabaya . Terlepas dari mungkin saja lawan mereka waktu itu memang lebih unggul, menrut saya  rasa percaya diri yang kurang bisa jadi menjadi faktor kurang maksimalnya mereka di laga final. Entahlah, tapi selama mengikuti perjalanan mereka di liga basket pelajar ini, selama meliput mereka di kompetisi ini, baru saat bertanding di Surabaya itulah saya melihat tim ini tidak segarang dan tidak habis-habisan seperti yang biasa saya lihat…entahlah saat itu saya mereka.. tim ini sedikit tidak percaya diri akan kemampuan mereka. Tapi terlepas dari itu..tetap tim ini mengajari saya banyak hal tentang perjuangan. :)

Ini, mungkin bisa dibilang perumpaan kecil tentang pentingnya rasa percaya diri yang harus dimiliki generasi muda bangsa ini. Generasi muda bangsa ini punya potensi yang luar biasa kok sebenarnya. Yang dibutuhkan terkadang adalah  mengupgrade rasa percaya diri bahwa sebenarnya kita itu bisa. Dan berbicara soal potensi dan percaya diri, saya sangat respect dengan apa yang dilakukan pelatih Timnas sepakbola Indonesia U-19, Indra Sjafri yang menurut saya cukup berani saat mengungkapkan visi dan misi timnya. Pelatih ini tidak segan menyebut timnya sebagai Garuda Jaya bahkan Raksasa Asia. bagi sebagian orang mungkin hal ini terkesan sombong..tapi buat saya tidak. Yang dilakukan beliau adalah tidak lain untuk memotivasi anak didiknya dan meningkatkan kepercayaan diri anak didiknya.  Indra Sjafri memang pernah mengatakan  bahwa dirinya sudah yakin akan potensi dan kemampuan anak didiknya, yang perlu dilakukan sekarang hanyalah meningkatkan  kepercayaan diri  anak-anak asuhnya. “Sebagai pelatih saya memang harus percaya diri dan yakin. Kalau saya sudah tak yakin, bagaimana lagi dengan para pemain saya?” begitulah ujarnya. Yah, saya setuju..generasi kita terkadang hanya harus percaya bahwa sebenarnya kita bisa!!!!!

foto: msn

foto: msn

 

 

 

 

13
Oct

#1 Saat Saya Menjadi Reporter Sebuah Liga Basket di Indonesia

idoone

Postingan ini adalah tentang pengalaman saya saat menjadi reporter liga basket pelajar di Indonesia bernama Development Basketball League atau DBL, seri Jawa Timur musim 2012 dan 2013.  Selama menggeluti part time job sebagai jurnalis, pengalaman meliput liga basket pelajar  ini jujur menjadi salah satu liputan favorit yang pernah saya lakukan. Karena nggak hanya meliput saja, tapi saya belajar banyak hal dari sana. Meliput liga basket membuat saya percaya kalau Indonesia itu, sebenarnya masih punya generasi muda yang sangat luar biasa. Baik semangatnya, ataupun potensinya.

Tulisan ini sebenarnya juga terinspirasi dari apa yang menjadi trending topic di Indonesia tadi malam. Apalagi kalau bukan kemenangan timnas sepakbola Indonesia U-19 atas Korea Selatan dengan skor 3-2 di babak kualifikasi Piala Asia 2014 (12/10). Kemenangan itu memperpanjang prestasi gemilang timnas U-19 yang beberapa waktu lalu juga menjadi juara di Piala AFF 2013.  Tapi satu hal, buat saya, Evan Dimas, Maldini Pali dkk memang pantas mendapatkan kemenangan demi  kemenangan itu. Mereka mengajarkan bahwa yang berusaha sekeras tenaga dengan semangat pantang menyerah dan yang berjuang habis-habisan sampai detik terakhir pertandingan itulah yang pantas menang. Dan hal itu juga yang saya pelajari setiap meliput pertandingan basket di DBL Indonesia.

dok. JPNN

dok. JPNN

 

Setiap kali melihat pertandingan yang dilakoni oleh para punggawa garuda muda, saya selalu ingat dengan anak-anak yang bertanding basket di DBL Arena Surabaya. Ada kemiripan yang saya lihat. Memang sih, skala DBL bisa dibilang jauh lebih kecil. DBL adalah sebuah liga basket pelajar,  makanya yang bermain di dalamnya pun hanya membela tim dari sekolah masing-masing tidak seperti timnas U-19 yang berlaga membela Indonesia. Namun, sebagai generasi muda Indonesia mereka punya semangat juang yang sama-sama tingginya.

foto: riza roidila

foto: riza roidila

Generasi yang Sukanya Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan

Masih ingat saat Timnas U-19 menjamu Vietnam di final piala AFF? Deg-degan dan geregetan sepanjang pertandingan saat nonton? Akhirnya galau antara pengen terus nonton tapi juga nggak tega kalau Indonesia harus kalah dari Vietnam di babak pinalti. Ah.. tapi akhirnya …. lega sekaligus bangga  saat Indonesia akhirnya menang, nggak sedikit juga yang ikutan nangis karena terharu nggak ketulungan.  Padahal nontonnya dari tv doang…

Sekarang, bayangkan! Kalau pemandangan menegangkan dan  bikin deg-degan sepanjang pertandingan seperti itu harus kalian rasakan setiap harinya. Ya, dan itulah yang saya alami setiap harinya…waktu jadi reporter DBL Indonesia. Lebih seru, karena saya tidak hanya nonton dari tv atau tribun saja.  Melainkan menjadi salah satu yang duduk cantik di jajaran meja panitia, kepala wasit dan petugas pencatat statistik laga. Menjadi seorang jurnalis pertandingan yang bisa melihat pertandingan dengan jarak  yang sedemikian dekat tentu saja membuat saya juga bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh penonton biasa pada umumnya.

Masih teringat jelas.. wajah-wajah panik anak-anak yang bermain di DBL saat timnya  tertinggal angka,  wajah penuh keringat namun tak kenal lelah mengejar ketertinggalan poin, pelatih yang tak jarang berteriak bahkan membentak saat memberi instruksi di tengah peratndingan,   tangis haru saat mereka akhirnya mampu menyudahi laga yang berat dengan kemenangan, hingga tangis sedih karena timnya harus menyudahi pertandingan dengan  kekalahan..semua bisa saya lihat dengan jelas. Tapi dari semua pemandangan yang saya lihat setiap meliput pertandingan..sekali lagi saya percaya bahwa yang berjuang habis-habisanlah yang pantas menang.

 

foto: riza roidila

foto: riza roidila

INI! Scoreboard yang saya foto saat pertandingan final DBL SMP tahun 2012  antara tim basket SMP Santa Agnes Surabaya vs SMP Gloria Surabaya. Kebetulan saya bertugas di bagian tribun waktu itu, jadi masih sempat mengambil foto dari atas tribun. Waktu itu, sudah kuarter keempat (kuarter terakhir). Pertandingan tinggal menyisakan 2 menit 24 detik dan skor sementara 43-42. Kejar mengejar angka sepanjang pertandingan terus terjadi saat itu, sangat menengkan. Tidak tega rasanya melihat adek-adek yang masih SMP itu bertanding dalam keadaan skor yang bersaing sangat ketat seperti itu.

SMP Santa Agnes, waktu itu akhirnya membuktikan bahwa mereka punya daya juang dan mental yang luar biasa dengan keluar sebagai pemenang. Pertandingan berakhir  dengan skor akhir super tipis 46-45. Hanya selisih setengah bola sodara, setengah bola. Bisa dibayangkan gimana menegangkannya pertandingan final waktu itu?

IMG_1242

IMG_1240

IMG_1254

Foto-foto: Riza Roidila

 

Inilah..detik-detik menegangkan final antara SMP santa Agnes vs SMP Gloria 1 Surabaya tahun 2012 lalu.

Di film-film olahraga kalian juga pasti pernah melihat kan, sebuah tim yang awalnya kalah tapi dengan semangat juang yang tinggi akhirnya bisa membalikkan keadaan di detik-detik terakhir pertandingan?  Nyatanya, yang seperti itu nggak cuma ada di film saja. Saat menjadi reporter di liga basket peljar ini  entah sudah berapa kali saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa yang seperti itu memang ada.

Bahkan, pernah suatu ketika saya harus mengganti seratus persen berita yang sudah saya tulis dalam waktu kurang lebih setengah jam, karena ternyata ada pertandingan yang lebih seru dan berakhir dengan babak overtime (tambahan waktu). Waktu itu adalah pertandingan antara SMKN 3 Buduran Sidoarjo  melawan SMAN 13 Surabaya. Kuarter 4 berakhir dengan skor 19-19 , itu artinya babak overtime. Lagi-lagi laga menegangkan di depan mata. Sebagai seorang reporter, dalam kasus seperti ini antara tegang karena pertandingannya seru dan tegang juga karena saya harus ganti naskah dalam waktu setengah jam saja sebelum deadline haha. Dan sekali lagi, drama skor tipis terjadi kembali. Kali ini, pada 16 detik terakhir, SMKN 3 Buduran yang berjuluk Ship  akhirnya mengunci kemenangan mereka dengan skor akhir 24-23. Sekali lagi skor yang super tipis sodaraaaa…….tipissss…

Dan... keesokan harinya pun, terbitlah halaman koran tentang pertandingan menegangkan itu.

Dan… keesokan harinya pun, terbitlah halaman koran tentang pertandingan menegangkan itu.

Dan sekali lagi, saya melihat bahwa semangat juang dan kerja keras habis-habisan itu..benar-benar bisa merubah keadaan bahkan di detik-detik akhor pertandinga. Satu lagi pertandingan yang juga sukses bikin saya sebagai jurnalis jadi ikutan  tegang dan mojok di meja panitia karena deg-degan adalah pertandingan antara SMAN 17 Surabaya melawan rival bebuyutannya SMAN 16 Surabaya. Pertandingan ini juga berlangsung ketat sejak awal. Dan layaknya film, pertandingan ini juga berakhir dengan drama yang menegangkan. SMAN 17 yang awalnya tertinggal, dengan ajaib akhirnya menang dengan skor super tipis  22-21. Semuanya berkat shooting dari salah satu pemain SMAN 17 tepaaat waktu buzzer tanda akhir pertandingan kemudian berbunyi yang tepat mendarat di ring lawan. Fiuuuh…

Well, sekali lagi saya akui anak-anak yang bermain di liga basket ini nggak pernah setengah-setengah saat berjuang. Dan tim dengan metal pemenang adalah mereka yang tidak pernah mengendurkan daya juangnya bahkan di detik akhir pertandingan. Lima detik, dua detik sisa pertandingan rasanya tidak pernah dibuang cuma-cuma oleh mereka bahkan untuk berbalik mengejar kemenangan. Bahkan jika itu harus dengan menguras tenaga terakhir sekalipun.

 

Foto: Wahyudin

Foto: Wahyudin

Generasi dengan Loyalitas Super Tinggi         

Suporter SMAN 5 Surabaya. Foto : Wahyudin/DetEksiJP

Suporter SMAN 5 Surabaya dengan atribut berwarna kuning tidak lelah menyuntikkan semangat bagi timnya. Foto : Wahyudin/DetEksiJP

JIKA, di lapangan saya selalu dibuat kagum dengan semangat juang anak-anak yang bertanding, maka  dari tribun, saya juga sering dibuat terkagum dengan  semangat-semangat yang berkoar dari tribun. Siapa lagi kalau bukan semengat dari para pemain keenam, yang selalu menjadi faktor pendukung kemenangan sebuah pertandingan. Mereka adalah suporter  setia dari masing-masing tim.

Ada saja yang selalu menarik dari ulah  suporter  tim yang berjuang di liga basket ini. Yel-yel yang membahana di seantero lapangaan, gerakan-gerakan kompak, hingga atribut kembaran senantiasa menghiasi DBL Arena Surabaya, venue pertandingan. Kadang saya heran, karena mereka seolah tidak ada capeknya terus-terusan meneriakkan yel-yel  sepanjang pertandingan, padahal tidak jarang mereka baru pulang dari sekolah waktu itu. Bagi saya, meskipun mereka tidak berlaga secara langsung di arena pertandingan, semangat dan keberadaan para suporter ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata..Semengat mereka bisa saya rasakan mampu memberikan kekuatan tersendiri bagi tim-tim yang berlaga. Dan satu lagi, keberadaan suporter bagi saya juga menunjukkan bahwa negara ini punya orang-orang dengan loyalitas tinggi…meski di liga basket ini skalanya lebih kecil.

 

Itulah yang membuat saya senang pernah menjadi reporter di liga basket pelajar di Indonesia ini. Setiap hari, saat meliput saya selalu bisa merasakan semangat anak muda Indonesia. Saya senang berada di tengah anak-anak SMP maupun SMA yang berpartisipasi di even ini. Dari mereka saya belajar banyak hal, tentang apa yang disebut perjuangan, apa itu berusaha hingga titik darah penghabisan, dan bahwa kemenangan itu bukan sesuatu yang cuma-cuma didapatkan tapi memang harus diperjuangkan dengan kerja keras. Kalau ada yang bilang bahwa Indonesia tidak punya masa depan, karena tidak punya generasi muda yang luar biasa, SAYA TIDAK SETUJU. Saya yakin kok, pemuda-pemuda di Indonesia itu masih sama seperti yang pernah diucapkan Soekarno dulu “Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Dulu pemuda Indonesia, memang berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sekarang? Pun saya rasa masih begitu…pemuda Indonesia masih berkontribusi untuk terus mengharumkan nama bangsa ini. Porsinya dan caranya saja yang sudah berbeda.. karena jaman juga sudah berubah..Tapi saya yakin, saya percaya Indonesia masih punya masa depan di tangan generasi bangsanya…

 

 

2013-05-20 15.07.38

2013-05-20 19.51.21

2013-05-20 19.49.06

 IMG_2332eded

 

 “Saya, usai  liputan. Kerjaan saya adalah bikin naskah pertandingan yang terbit di halaman koran DetEksi Jawa Pos, keesokan harinya”

 Menjadi jurnalis itu menyenangkan, karena membuat saya belajar banyak hal dari setiap peristiwa yang saya liput, apapun itu.

 

 

 

 

30
Nov

Team-Mates Trip

img_1701

Team-mates trip to Bromo, East Java, Indonesia.

img_1816

img_1836

img_19121

30
Nov

Welcome Desember

img_2415

Selamat datang Bulan Desember. Ditandai dengan merekahnya Bunga Desember di depan rumah Bulek (tante) saya :)

Photo  by: my self

6
Oct

Becak Merah Putih : Bidik Jogja 1

Beberapa waktu lalu, tepatnya pertengahan Juni 2012, saya berkesempatan mengunjungi Kota Yogyakarta, Yeaah Horay Horay. Ya ya ya memang kota yang satu itu nggak ada matinya untuk dikunjungi. Selalu menyenangkan, dan meninggalkan kesan tersendiri di hati para sodara-sodara setanah air. Tapi kali ini sedikit beda, karena vakansi ke Jogja kali ini bermodus Tugas Akhir Semester sebuah mata kuliah yang cukup asik. Fotografi Jurnalistik, yang mengasah kemampuan menjepret yang nggak asal jepret, juga  mengasah kemampuan menulis berita dari foto yang dijepret.

Sebagai Tugas UAS saya dan teman-teman diwajibkan untuk membuat satu halaman koran yang memuat berita dan foto hasil jepretan dan tulisan kami sendiri.  Dan untuk tugas sini,  Yogyakarta jadi pilihan kami untuk hunting foto dan berita.  Hehehe awalnya sih modusnya sekalian pengen liburan tapi yah begitulah seenak-enaknya liburan kalau kemasannya tugas tetap jadi beban. Hahahaa akhirnya jadi boomerang.

Tapi sangat menyenangkan. Karena pada akhirnya vakansi ke Jogja ini  nggak sekedar jalan-jalan, melihat-lihat bule berseliweran, mupeng belanja barang murah atau berfoto-foto narsis di kawasan Keraton Jogja. Tapi lebih dari itu. Mau nggak mau kita harus buka mata, telinga, hidung,  lebih lebar, agar bisa menemukan dan mendapatkan moment-moment menarik untuk diberitakan dan didokumentasikan. Dan ini salah satu hasil buruan  saya! Cerita tentang Becak Merah Putih, Jeng-jeng!

BECAK MERAH- PUTIH

Becak Merah Putih. Foto oleh diri sendiri

Becak Merah Putih. Foto oleh diri sendiri

Becak Merah Putih ini saya temui di kawasan Malioboro. Memang banyak becak-becak yang nggak kalah nyentrik dari ini. Banyak yang dihias juga, tapi ini yang paling menarik mata saya, karena konsepnya Indonesia banget. Catnya merah putih, ada benderanya juga. Waktu saya ngobrol sama Bapaknya, dia bercerita bahwa pengen becaknya tampil beda, konsep Indonesia dipilih sebagai bentuk rasa nasionalisme. Wokee deh Pak!! Saking nyentriknya becak ini juga pernah masuk TransTv looh.. kata Bapaknya sih haha.

Lesson : Saya akui Pengemudi Becak di sana nggak cuma asal cari uang nganter penumpang, fyi mereka punya integritas sama profesi yang digeluti. Maaf, nggak kayak becak yang banyak saya temui di kota ‘ini’ yang ala kadarnya, dan istilahnya Sukur angger. Becak di Jogja setidaknya sangat terawat, antara satu pengemudi becak guyub satu sama lain dan mereka  menghargai profesi yang mereka jalani itu.

Hasil buruan lain,tetep tentang Becak-Becak yang cihuy

Antar ke Tujuan. Aku potret karena topi bapaknya lucu, entah kenapa  kalau lihat Bapak ini inget reog ponorogo. Nggak tau kenapa haha

Antar ke Tujuan. Aku potret karena topi bapaknya lucu, entah kenapa kalau lihat Bapak ini inget reog ponorogo. Nggak tau kenapa haha

HORE LULUS. Siswa taman kanak-kanak dan kelompok bermain Pedagodia diarak dengan becak untuk merayakan hari kelulusan mereka, buat dapet foto ini saya dan Dina salah satu teman saya harus jauh-jauh naik becak ke lokasi arak-arakan. Total abis!

HORE LULUS. Siswa taman kanak-kanak dan kelompok bermain Pedagodia Yogyakarta diarak dengan becak untuk merayakan hari kelulusan mereka. Buat jepret moment ini saya dan Dina salah satu teman saya harus jauh-jauh naik becak ke lokasi arak-arakan. Kami dengar info soal arak-arakan ini juga dari tukang becak. Becak becak dan becak. Total abis!

HOBI BACA. Di waktu senggang, sambil menunggu penumpang, pengemudi becak yang mangkal di Pintu Selatan Pasar Beringharjo Yogyakarta banyak yang menghabiskan waktu sambil baca. Ini Aseli Candid loo, dan saya terkesan sekali sama moment ini. Mereka paling suka baca berita tentang olahraga.

HOBI BACA. Di waktu senggang, sambil menunggu penumpang, pengemudi becak yang mangkal di Pintu Selatan Pasar Beringharjo Yogyakarta banyak yang menghabiskan waktu sambil baca. Ini Aseli Candid loo, dan saya terkesan sekali sama moment ini. Mereka paling suka baca berita tentang olahraga.

6
Oct

Absurd ‘LOVE’

Mendengar seorang teman bercerita tentang cinta, tentang perempuan yang membuatnya terpesona, sangat menyenangkan. Memang, apalagi kisah yang paling menyenangkan untuk disimak selain kisah cinta. Dan rasa paling absurd di dunia tapi dia nyata adalah cinta. Saat menyukai seseorang, memang ada saatnya menunjukkan, ada saatnya melihat feedback yang diberikan, dan ada saatnya kembali ke repertoar dan hanya memandangnya dari kejauhan. Buat teman yang sedang berjuang untuk cintanya…semangat :) Aku neng mburimu jeeeh XOXO

foto & editing oleh diri sendiri

foto & editing oleh diri sendiri

26
Sep

Paradoks

Tapi begitulah hidup, selalu iya dan tidak. Selalu benar dan salah. Hitam dan Putih. Pun jika abu-abu itu ada, sangat sulit mendeskripsikannya.

26
Sep

Paradoks

Hal yang paling menyebalkan adalah saat harus bilang tidak padahal dalam hati sungguh mati ingin mengatakan ya.

26
Sep

Paradoks

Dan aku masih ingin merutuk kedewasaan, dunia yang menyebalkan dan orang-orang yang palsu di sekitaran. Andai saja aku bisa berhenti di masa kecil yang sungguh jujur dan menyenangkan.