Skip to content

October 13, 2013

#2 Saat Saya Menjadi Reporter Sebuah Liga Basket di Indonesia

“Bangsa yang Generasi Mudanya, Cuma Perlu Meng-Upgrade PD-nya”

Foto: Riza Roidila

Sang Pemenang.  Foto: Riza Roidila.

Di postingan pertama, saya mengatakan dengan percaya diri bahwa Indonesia masih punya generasi muda yang luar biasa. Baik potensinya maupun semangatnya. Ya, memang benar. Tapi satu hal, yang selama ini membuat bangsa kita mungkin masih sering dipandang remeh, atau mungkin  tidak bisa menunjukkan kemampuan sebenarnya di hadapan bangsa lain adalah karena rasa percaya diri bangsa kita yang mungkin kurang. Dan hal tersebut juga saya palajari saat menjadi reporter di liga basket pelajar itu yang membuat saya menarik kesimpulan bahwa:

Generasi muda Indonesia itu sebenarnya punya banyak potesi, namun kadang yang perlu dilakukan hanya meng-upgrade kepercayaan dirinya dan menyingkirkan yang namanya : MINDER! Barulah Indonesia bisa menjadi CHAMPION yang sesungguhnya.

……………..

Ada banyak tim yang berlaga di liga DBL, namun hanya beberapa tim yang memberi kesan tersendiri bagi saya. Salah satunya adalah tim basket putra dari SMAN 1 Blitar. Saya bukan berasal dari Blitar lho.  Tapi selama mengikuti perkembangan tim ini saat berkompetisi di liga basket pelajar di mana saya menjadi reporter, saya akui salut dengan perjuangan mereka. Bisa dibilang mereka ini tim yang “From Zero to Hero” dan tim yang besar karena kerja keras.

Pertama kali tahu tentang tim basket ini saat ditugaskan untuk meliput liga basket pelajar ini untuk musim 2012 di wilayah  regional selatan yang diselenggarakan di Kota Malang. Waktu itu mereka menjadi tim dengan status debutan, artinya mereka baru pertama kali ikut serta di liga basket  tersebut. Bagi sebuah tim dengan status debutan, yang berasal dari sebuah kota daerah yang berlaga di tengah tim-tim yang sebelumnya sudah pernah bermain di liga ini, di kota lain pula, hal itu tentu bukan hal yang mudah. Mental, tentu jadi tantangan utama.

 Tapi luar biasanya, tim ini sukses menarik perhatian di kiprah mereka sebagai debutan. Di laga demi laga yang mereka jalani, tim ini mereka selalu menunjukkan permainan yang seakan tidak kenal lelah saat bertanding, bahkan di kalangan reporter tim ini disebut tim romusha, karena daya gedornya yang tinggi dan seolah nggak punya capek saat bertanding. Tidak heran, karena saat saya wawancara dengan pelatih tim ini dengan tegas sang pelatih berkata, “Kerja keras sepanjang pertandingan memang selalu saya tekankan ke anak-anak. Kami datang jauh-jauh dari Blitar, kalau kami mainnya nggak serius ya mending pulang saja”.   Pelatih tim ini selalu bilang kalau selama buzzer terakhir belum dibunyikan, mereka belum kalah atau menang dan mereka nggak bakal menyia-nyiakan setiap detik pertandingan. Mereka siap habis-habisan hingga akhir laga.

Semangat juang anak-anak dari Blitar yang luar biasa tinggi ini berbuah manis.  Di tahun pertama mereka ikut dalam liga basket pelajar ini, siapa sangka sebagai debutan mereka bisa langsung melesat ke babak final regional selatan 2012. Dua kaa untuk mereka, luar biasa!

IMG00212-20120602-2023

Ini foto saat SMAN 1 Blitar berhasil lolos ke babak final tahun 2012, para pemainnya hampir semua masih kelas X SMA. Foto: Riza R.

kembar (jevanda & Jevando) SMAN 1 BLITAR -Rully Novianto Radar Malang 1

Duo pemain kembar dari SMAN 1 Blitar.

Di final tahun 2012, performa tim ini juga mengesankan. Meski melawan tim yang sudah lebih sering berlaga di DBL, mereka tidak gentar. Perlawanan tak kenal lelah hingga akhir pertandingan terus ditunjukkan. Sayang, waktu itu  mereka harus kalah super tipis atas tim putra SMA Kolese Santo Yusuf Malang dengan skor 59-60. Hiks nggak tega rasanya saat mau nggak mau harus wawancara mereka usai pertandingan waktu itu. Masih ingat sekali bagaimana kecewanya mereka karena tidak bisa membalikkan keadaan di detik-detik akhir pertandingan…

But..life goes by…dan 1 tahun kemudian…

Bukan SMAN 1 Blitar namanya kalau, setelah kalah justru menyerah. Kalah di final tahun 2012, membuat tim ini lebih menggelora di musim kompetisi tahun 2013. Dan ya, sekali lagi saya beruntung karena masih diberi kesempatan untuk meliput jalannya liga ini di kota Malang sehingga saya bisa melihat perjuangan mereka tahun ini. Dan bukan SMAN 1 Blitar namanya kalau tidak membuat kejutan hehehe. Masih banyak diperkuat pemain tahun lalu, SMAN 1 Blitar akhrinya keluar sebagai pemenang regional selatan tahun 2013..Di tahun keduanya berpartisipasi di liga basket pelajar ini, mereka berhasil meraih trofi champion yang tahun lalu gagal mereka dapatkan di laga final. Melihat perjalanan tim ini, rasanya seperti kisah yang ada di film-film..setelah kalah, akhirnya jadi pemenang dengan usaha tak kenal lelah. Itulah kenapa saya menyebut tim ini sebagai tim “From Zero to Hero”.

IMG_6986

After celebration. Foto : Riza Roidila

IMG_7003

Saya (tengah)

IMG_7008

IMG_7017

Duo kembar dari SMAN 1 Blitar yang sudah semakin gedhe di musim kompetisi tahun ini.

Tentu kemenangan  ini disambut haru dan bahagia. Tim ini mengajari saya bahwa kerja keras memang pantas diganjar oleh kemenangan. Namun di sisi lain tim ini juga mengajarkan pada saya bahwa rasa percaya diri tetap menjadi faktor-X yang sangat penting dan harus diperhatikan. Dan  di tahap  selanjutnya, tim ini  diuji bagaimana meningkatkan kepercayaan diri dan menghilangkan minder saat bermain di level yang lebih tinggi lagi.

Menjadi pemenang di regional selatan, membuat tim SMAN 1 Blitar berhak melaju ke final seri Jawa Timur, di DBL Arena Surabaya. Artinya  mereka harus melawan juara dari regional utara tahun 2013 yaitu tim putra dari SMA Frateran Surabaya untuk berebut trofi sebagai pemenang seri Jawa Timur. Pernah suatu ketika saat saya tanya kepada salah satu pemain SMAN 1 Blitar tentang gimana perasaan mereka waktu harus bermain di DBL Arena Surabaya. Ada yang mengatakan bahwa jujur  ada rasa minder dan kurang percaya  dalam diri mereka.

Salah seorang editor saya pernah bilang : “Tim-tim dari daerah  sebenarnya juga nggak kalah bagus dari tim-tim di regional Surabaya, tapi kebanyakan kalau di bawa ke Surabaya mereka pasti minder sama lapangannya”. Well, yang kurang lebih artinya, tim-tim dari derah sebenarnya juga punya potensi yang nggak kalah, tapi saat di bawa untuk bertanding di tempat atau di kelas yang lebih tinggi lagi rasa minder terkadang jadi penghalang sendiri bagi mereka untuk maju, termasuk minder bermain di DBL Arena Surabaya yang notabene adalah  arena basket sangat mumpuni.

Dan hal itupun benar-benar  terjadi, di final seri Jawa Timur yang diselenggarakan di DBL Arena Surabaya,  tim ini  kalah dari SMA Frateran Surabaya . Terlepas dari mungkin saja lawan mereka waktu itu memang lebih unggul, menrut saya  rasa percaya diri yang kurang bisa jadi menjadi faktor kurang maksimalnya mereka di laga final. Entahlah, tapi selama mengikuti perjalanan mereka di liga basket pelajar ini, selama meliput mereka di kompetisi ini, baru saat bertanding di Surabaya itulah saya melihat tim ini tidak segarang dan tidak habis-habisan seperti yang biasa saya lihat…entahlah saat itu saya mereka.. tim ini sedikit tidak percaya diri akan kemampuan mereka. Tapi terlepas dari itu..tetap tim ini mengajari saya banyak hal tentang perjuangan. :)

Ini, mungkin bisa dibilang perumpaan kecil tentang pentingnya rasa percaya diri yang harus dimiliki generasi muda bangsa ini. Generasi muda bangsa ini punya potensi yang luar biasa kok sebenarnya. Yang dibutuhkan terkadang adalah  mengupgrade rasa percaya diri bahwa sebenarnya kita itu bisa. Dan berbicara soal potensi dan percaya diri, saya sangat respect dengan apa yang dilakukan pelatih Timnas sepakbola Indonesia U-19, Indra Sjafri yang menurut saya cukup berani saat mengungkapkan visi dan misi timnya. Pelatih ini tidak segan menyebut timnya sebagai Garuda Jaya bahkan Raksasa Asia. bagi sebagian orang mungkin hal ini terkesan sombong..tapi buat saya tidak. Yang dilakukan beliau adalah tidak lain untuk memotivasi anak didiknya dan meningkatkan kepercayaan diri anak didiknya.  Indra Sjafri memang pernah mengatakan  bahwa dirinya sudah yakin akan potensi dan kemampuan anak didiknya, yang perlu dilakukan sekarang hanyalah meningkatkan  kepercayaan diri  anak-anak asuhnya. “Sebagai pelatih saya memang harus percaya diri dan yakin. Kalau saya sudah tak yakin, bagaimana lagi dengan para pemain saya?” begitulah ujarnya. Yah, saya setuju..generasi kita terkadang hanya harus percaya bahwa sebenarnya kita bisa!!!!!

foto: msn

foto: msn

 

 

 

 

Read more from Blog Competition 2013

Share your thoughts, post a comment.

(required)
(required)

Note: HTML is allowed. Your email address will never be published.

Subscribe to comments

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 times 2?