Skip to content

Recent Articles

25
Sep

Paradoks

Aku sungguh tahu apa jawabnya. Tapi entahlah begitu sulit menyampaikan jika hanya akan berakhir dengan tertawaan.

19
Sep

Lebih Jauh Tentang Payung Teduh

Kali ini pengen me-review album Dunia Batas plus ngulas tentang Payung Teduh. Semakin menarik karena beberapa waktu lalu saya berkesempatan ngobrol-ngobrol seru alias wawancara sama Mas Is, sang vokalis plus guitarist. Hehehe inilah yang kadang bikin saya merasa  beruntung punya   part time di halaman koran anak muda. Alhamdulilah dapat mandat nulis rubrik musik. Jadinya, kadang bersingggungan sama praktisi musik tanah air, pernah wawancara sama musisi idola juga.  Walaupun saya  ngga jago musik, nggak bisa main alat musik kecuali kunci gitar G-D-C-G-D-C,suara bahkan lebih pales dari penyanyi pales, pengetahuan soal musik juga rata-rata. Tapi semuanya kan bisa dipelajari, learning by walking kan kan..muehe? Oke, balik lagi ke topik tentang Payung teduh dan album terbarunya. Ini diak yip yip! Tarik mang!

crop2

Foto : Payungteduh

Berbicara tentang band yang berjuang di jalur indiependen, Payung Teduh sepertinya layak kalau dibilang sebagai band sedang happening di kalangan anak muda tahun ini. Awal tahun  ini mereka kembali dengan album terbarunya Dunia Batas, yang tak lain adalah bentuk repackage dari album pertama mereka, Payung Teduh (2010).

Mendengar delapan lagu yang ada di album Dunia Batas, siapa yang tak setuju jika musik Payung Teduh disebut musik penyejuk jiwa penentram hati. Bukan karena tempo yang mendayu pelan dengan lirik patah hati, jelas bukan itu. walaupun beberapa lagu emang bikin terharu. Namun di luar itu, ya lebih karena musik yang teruai di dalamnya. Harmonisasi alat musik  gitar, contrabass, drum, dan guitalele yang seperti bersinergi dengan alam adalah biang keroknya.

Album Dunia Batas terdiri dari delapan lagu. Empat di antaranya adalah lagu yang sebelumnya sudah ada di album pertama Payung Teduh (2010), dan empat lagu lagi adalah karya teranyar mereka. Orang boleh saja bilang Payung teduh itu musiknya cuma bikin galau. Genre musik mereka sendiri, ada yang bilang kalau itu folk, ada yang bilang kalau itu indie pop.  Tapi gimana kalau kata sang empunya?

Mohammad Istiqamah Djamad atau lebih dikenal dengan julukan Is  (Guitars,Vocals) mengatakan bahwa musik Payung Teduh tidak pernah dikotakkan masuk dalam satu genre tertentu. Ia mengatakan  inilah musik kami (Payung Teduh).

“Ada yang mengkategorikan kalau musik kami itu folk, kami bersyukur  telah dikategorikan dalam genre itu.” begitu katanya.

Soal genre musik Payung Teduh sepertinya terlalu malas untuk menyoal itu. Bagi mereka yang penting berkarya, berkarya sesuai hati dan keinginan mereka.

“Itulah cara kami bermusik, tidak ada genre khusus untuk menjelaskan apa musik kami bawakan, kami tidak memiliki batasan sendiri. Tapi sekali lagi, semua dikembalikan pada bagaimana pendengar menghakimi musik kami,” kata Mas Is.

Seperti yang saya katakan di awal tadi, bagi siapa saja yang pernah mendengarkan Payung Teduh tentu banyak yang setuju kalau lagu-lagu Payung Teduh kerap membuat suasana hati menjadi sendu . Saat hal itu saya tanyakan kepada Mas Is, inilah jawabannya.

“Musik Payung Teduh pun banyak yang berisi teriakan atas suatu hal, tapi kami menyampikannya ala Payung Teduh. Jika banyak yang bilang bahwa musik kami jatuhnya  bikin sendu mungkin itu tak lain bagaimana pendengar menangkap musik kami. Padahal musik kami juga banyak yang berisi teriakan, amarah, tapi emosi kan nggak harus disampaikan dengan cara teriak-teriak ”

Sebelum mentasbihkan dalam nama Payung Teduh pada 2007, dua formasi awal Payung Teduh yaitu Is dan Comi Abdul Aziz Turhan Kariko (Contrabass) lebih dikenal dengan sebutan IsComi. Keduanya tak lain adalah dua bersahabat yang berprofesi sebagai pemusik di Teater Pagupon. Berawal dari kesukaan mereka bermain musik secara instrumental di kantin FIB UI, dengan tujuan sekedar menghibur teman-teman. Semakin lama main musik bareng jadi menguatkan karakter bermusik mereka. Merepun lama-kelamaan punya pendengar setia sendiri.  Nama Payung Teduh sendiri  disematkan oleh pendengar kepada mereka berdua.

Payung Teduh semakin solid dengan bergabungnya Alejandro Saksakame atau Cito (Drums, Cajon) pada 2008 dan Ivan Penwyn atau Ivan (Guitalele) pada 2010. Di tahun itu pula album pertama dirilis, tentu atas dukungan besar dari pendegar mereka.

Lagu Angin Pujaan Hujan, Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan, Cerita Tentang  Gunung dan Laut, Resah adalah karya-karya awal mereka. Kini dalam album Dunia Batas, selain empat lagu yang berasal dari album pertama, pendengar bisa mencoba track Berdua Saja, Rahasia dan Di Ujung Malam yang jadi amunisi baru dari mereka. Is mengatakan sebenarnya masih ada sejumlah materi baru yang belum sempat masuk dalam album Dunia Batas. Keterbatasan waktu para personel yang kesemuanya punya kesibukan di luar musik adalah kendalanya.

Atas apresiasi yang diberikan pendengar, Payung Teduh sangat berterima kasih. Mereka sendiri mengaku masih tak percaya bahwa musik yang mereka bawakan akan didengar dan dipresiasi oleh banyak orang hingga sekarang.

“Untuk saat ini yang ada di kepala kami masing-masing adalah bagaimana bekerja dan bermain musik semua bisa kita jalani dengan maksimal tanpa mengorbankan salah satunya. Yang jelas niatan awal kami di sini adalah untuk berkarya, dan kami masih ingin terus berkarya di sini,” tutupnya.(roi)

dunia-batas

Cover Album Dunia Batas
Track List:
 1. Berdua Saja 
2. Menuju Senja
3. Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan
4. Rahasia
5. Angin Pujaan Hujan
6. Di Ujung Malam
7. Resah
8. Biarkan

P.S : Berbincang dengan Mas Is walaupun saat itu saya wawancara via telepon dan sudah malam sekali karena memang Mas Is nya baru longgar di malam hari adalah hal yang menyenangkan. Dia adalah orang yang ramah dan saya rasa asik sekali. Senang bisa punya kesempatan wawancara dengannya. That’s all so long long review..hahaha, nulisnya maruk.

16
Sep

The Script and Their 3rd Album

the-script-approved-re-sized1

Kerap dijuluki sebagai musisi pencetak lagu-lagu galau, band  asal Irlandia, The Script tak merasa risih akan cap yang diberikan pada mereka. Danny O’Donoghue (vocal), Mark Sheehan (guitar), dan Glen Power (drum) terus berkarya pada jalurnya. Mereka pun  menepati janji untuk mengeluarkan album tiap dua tahun sekali.

Usai meraih kesuksesan internasional lewat dua album terdahulu The Script (2008) dan Science and Faith (2010),  band yang berbasis di London itu kembali dengan rilisan terbaru. Album yang bertitel #3, sekaligus menjadi album studio ketiga The Script dirilis 10 September lalu.

Mereka siap membuat pendengar sedikit  terkejut dengan beberapa materi di album ini. Pasalnya meski Danny dkk tetap bermain dengan musik soft rock, dan mengangkat tema-tema seputar cinta, kehidupan, sejumlah track kreasi berani The Script membuat surprise.

“People were probably listening to us missing their lost love, and wanting to slit their wrists. But this record that you’ll be able to play in pubs and clubs,” Danny tertawa renyah saat buka suara soal album #3. Ia mengatakan bahwa materi dalam album ini tak melulu soal patah hati, cinta yang hilang, tapi juga bisa membuat pendengarnya meangguk-anggukan kepala saat mendengar track di dalamnya. Setidaknya mereka mencoba untuk lebih ceria di album ini.

Buktinya tersaji secara cerdas dalam lead single album #3, Hall of Fame.  Lagu itu adalah hasil kolaborasi The Script dengan pentolan Black Eyed Peas, Will I Am. Bisa dibayangkan bagaimana musik The Script diwarnai sentuhan Hip Hop Will I Am. Maka Hall of Fame menjadi lagu soft rock dengan nuansa ‘Oh’ ‘Ah’, tidak lupa suara falseto khas Danny.  Kolaborasi yang berani dari The Script.  Hall of Fame adalah lagu yang dibuat sebagai bentuk sindiran kepada bintang-bintang instan yang lahir dari program reality show di TV.

Album #3 terdiri dari 12 track baru dan sejumlah bonus track. Danny mengatakan lagu-lagu di dalamnya masih berbicara soal epik percintaan, kehilangan, emotional yang didasarkan dari pengalaman pribadi personel yang membuat lagu-lagu di album itu bermakna dalam. Terlebih diperkuat dengan kemampuan The Script meracik lirik yang menyentuh. Tak heran jika #3, kembali jadi rilisan yang jujur dari The Script.

Track Six Degrees of Separation, adalah sepenggal pengalaman percintaan Danny yang harus diakhiri dengan perpisahan. Selain cinta, tema keluarga juga banyak mewarnai album ini.Track If You Could See Me Now, didedikasikan Danny pada sang ayah yang telah tiada. “Ini jujur, album ini seperti benar-benar cuplikan kehidupanku ,” kata Danny. Sementara lagu Give The Love Around, mengajari kita untuk mencintai keluarga hingga musuh kita.

Sebagai bonus, sejumlah live version dari hit lama The Script juga turut mewarnai album 3#. Live version itu direkam saat The Script tampil live di The Viva Stadium Dublin. Bonus track itu di antarnya Breakeven dan The Man Who Can’t Be Moved.

Tampaknya, The Script puas dengan hasil kerja mereka dalam album #3 ini. Seperti The Script biasanya, lagi-lagi mereka tak pernah peduli dengan apa yang dikatakan orang terhadap mereka. “We’re loud and proud about what we do now!” begitu kata Danny mengenai album #3. (roi)

P.S : naskah yang gagal muat di koran karena karena space yang kurang . Boleh deh di share di sini daripada tidak bermanfaangat, enjoy! :)


19
Aug

Kata Mereka

Selain menulis dan membaca hal paling mengasyikkan untuk dilakukan itu adalah mendengar. Saya paling suka mendegar celotehan teman-teman saya tentang cita-cita, mimpi mereka. Saya pikir semua orang itu istimewa dengan pemikiran mereka. Makanya sering banget, setelah denger kalimat luar biasa  keluar dari mulut mereka, saya diam-diam mencatatnya. Ini hanya beberapa dari banyak kalimat ajaib orang-orang di sekitar saya. Haha mungkin mereka sendiri sudah lupa pernah mengatakannya. Tapi saya selalu ingat kawan…

Kunci orang sukses itu jujur, ulet,

dan berbakti pada orang tua Roi.

Aku di sini adalah untuk menyenangkan orang tuaku,

tapi sebagai gantinya aku akan terus

berkarya dengan caraku

(seorang caon rockstar yang juga bercita-cita pengen jadi pegawai PLN sukses)

Hidup itu harus punya target!!

Setiap hari harus ada target yang harus dipenuhi!

Ayo dul..

(seorang traveller yang hobi nulis dan dulu bercita-cita pengen tinggal luar negeri)

Aku hanya ingin berpikiran seperti anak kecil.

Mereka tidak berfikir bagaimana sesuatu itu harus rasional,

tapi mereka berfikir apa adanya, meski itu irrasional.

(seorang idealis yang bercita-cita menjadi seorang negarawan)


AYO MANA KARYAMU??

(Seorang pengajar muda yang selalu membakar semangat dan menantang naluri berkarya anak ajarnya)

Ayo move on!

Sudah saatnya kamu masuk ke lingkungan baru..

dan tambah relasi baru..

(Seorang calon istri politisi besar negeri ini yang bercita-cita punya PR Agency profesional)

Dan terakhir, ini bukan kalimat penyemangat tapi pendapat seorang teman tentang saya

Kamu itu seperti musik indie,

unik,menarik,

tapi hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat keunikanmu.

(Seorang yang berparas unik dan bercita-cita jadi PR profesional Pertamina)

18
Aug

Quotes ‘konsensus’

“Ketika nulis bukan lagi hobi,

tapi tuntutan kerja, rasanya mati rasa.

Lantas Bagaimana?”

Sebuah kalimat hasil konsensus dari perbincangan ngalor-ngidul dengan seorang teman yang juga suka menulis dan sama-sama belajar jurnalistik.

6
Aug

Sukses. Apa Itu?

succes

Sukses itu apa? Aku coba tanyakan pertanyaan ini ke beberapa teman.. Dan tepat! jawabannya berbeda-beda. Karena semua orang punya tolok ukur suksesnya masing-masing. Aku-kamu-mereka-semuanya, berhak untuk sukses sesuai keinginan mereka. Kadang, mungkin kita menilai kehidupan orang lain kurang sukses, tapi mungkin saja menurut mereka, mereka sudah sukses dengan kehidupannya.

Sukses itu saat mereka bisa memenuhi apa yang diinginkan di luar apa yang dibutuhkan #JB (bukan Justin Bieber)

Sukses itu kalau sudah bisa membahagiakan atau membanggakan orang tuanya #anonim (apakah suksesmu diukur dari kebahagiaan orang tuamu, tapi gimana kalo kamu sendiri nggak bahagia?)

Sukses itu kalo kita  bisa berguna buat sekitar kita #MPS (Bukan Metodologi Penelitian Statistik)

Sukses itu kalau semua bisa dikerjakan sesuai target #PYA

Orang  yang umurnya lebih tua dari kita, entah itu orang tua kita, guru SMA kita, ustad di masjid deket rumah kita, sampai tetangga kita  ngasih doa-doanya untuk masa depan kita. “Semoga besok sukses ya nak, belajar pinter jadi orang sukses, tapi kalau sukses jangan lupa sama asalnya,” kata-kata klasik yang entah sudah berapa kali saya dengar. Saya sendiri tidak paham, sukses seperti apa yang dimaksud orang-orang itu saat mengatakannya. Tapi, 100% persen mungkin benar kalau sukses yang dimaksud orang-orang tua itu adalah : kondisi di mana kita bisa bekerja, punya banyak uang, punya keluarga, hidup tak kekurangan,  bawa mobil saat pulang ke kampung halaman. Itukah sukses?  Hahaha makna sukses yang sangat sempit. Semua orang punya ukuran sendiri tentang kesuksesan. Jadi nggak heran kalau, apa yang kamu pikir sukses, nggak sukses buat rang lain. Orang yang berasal dari desa terpencil, mungkin saja menyebut anaknya yang kerja jadi TKI di luar negeri sudah sukses. Tapi beda lagi pastinya dengan definisi sukses Ciputra atau  Bob Sadino .

Sejauh ini saya sendiri belum tahu, sukses yang seperti apa yang ideal itu. Tapi yang jela untuk saat ini saya setuju dengan difinisi sukses yang dikatakan seorang creative enterpreneur bernama Jerry Aurum.

“Sukses bukanlah menghasilkan uang sebanyak-banyaknya, namun menghasilkan karya-karya terbaik melalui bidang yang kita cintai,”

Kalau kalian? Apa sukses menurut kalian?

succes-or-failure

1
Aug

Layanan Jasa ?

img00604-20120727-1702

Ini foto  yang saya jepret waktu terjebak di tengah kemacetan sore jalanan di jajartunggal wiyung Surabaya (tempat KKN), beberapa hari yang lalu. Pemandangan yang cukup menggelitik, iklan layanan jasa “pasang susuk” . Tapi sorry gan bagian contact person-nya disensor dikit, nggak mau dong ntar dikira ikut mempromosikan iklan layanan jasa luar biasa ini hahaha.

28
Jul

Terlalu Banyak yang Terlewatkan

Juli – Pertengahan tahun – dan sekali lagi banyak yang terlewatkan untuk diceritakan lewat tulisan.

Memang selalu begitu, sampai kapanpun rasa malas akan terus berbanding terbalik dengan produktivitas. Malas menulis di blog itu berarti blog bakal kosong melompong. Yes, kenapa tiba-tiba memutuskan untuk menulis di blog ini, memang tidak lepas dari keisengan beberapa hari yang lalu. Browsing-browsing iseng, buka blog lama yang ternyata walaupun masih saja sedikit isinya *minimal ada postingan yang bisa dibaca*. That was fun! Membaca beberapa catatan kecil, tentang celotehan kehidupan diri sendiri. Setidaknya membuatku berpikir “Oh iya dulu pernah gini, oh iya dulu aku kok bisa gini ya,”.  Klasik, akhirnya aku melihat sendiri manfaat tulisan, dia mengikat peristiwa, mengikat sejarah yang bahkan tak mampu diingat otak kita.  Kemudian aku buka blog seorang teman yang sangat instens dalam menulis apa yang dia alami. Tak ada yang istimewa sebenarnya, tapi terlihat sangat luar biasa. Aku berpikir, sebenarnya sudah cukup lama aku punya blog, dan sampai sekarang sudah beranak menjadi 3 blog (pertama blogspot yang aku buat sejak SMA kelas 1, kedua wordpress yang aku buat sejak kuliah semster satu, dan yang terakhir ini domain blog gratisan ari beswan djarum). Tapi pada akhirnya nasib blog itu sama saja, terbengkalai. Luar biasa fantastis yes yes yes! Aku berpikir sebenarnya permasalahannya sama :

1. Kemalasan menulis yang dikambinghitamkan dengan kesibukan

2. Terlalu banyak berpikir sebelum nulis. Ingin menulis ini, menulis itu, menulis yang seperti ini, menulis yang seperti itu. Ohhh come  on…just write it!

3. Dan akhirnya cuma bisa menyesal. Terlalu banyak peristiwa, pengalaman yang akhirnya basi untuk diceritakan.

4. Dan yang terakhir…entah mengapa aku seperti kehilangan rumah untuk nge-blog. Sering berganti-ganti blog membuatku  seperti bingung untuk memulainya lagi. Rasanya sulit sekali. Karena menulis blog sama halnya dengan membangun dirimu sendiri di media sosial ini. You are what you write…. Saat apa yang dituliskan seperti tidak mencerminkan siapa dirimu rasanya seperti sia-sia. Tapi bagaimana bisa blogmu jadi cerminan dirimu kalau aku sendiri bahkan belum mulai menulis di situ.

Ya..sepertinya aku sudah menemukan di mana kesalahanku. “Sempetin waktu dul, seberapa sibuknya kamu. Kudu tekad! Nulis pegalaman sehari-hari lak podo seh ambek curhat engkok ngalir. Tapi lak nggak dipekso yo ngono iku selalu terkalahkan dengan tak sempat” begitu kata seorang teman yang juga seorang blogger.

Ya aku akan mencobanya. Bukankah menulis blog sama halnya dengan menulis sendiri pemikiranku, pengalamanku, pada akhirnya itu bisa jadi sejarahku.  Kepada beberapa orang yang kerap mengingatkan aku untuk menulis di blog lagi, terima kasih. maaf aku belum memenuhi janjiku pada kalian. But I will.

Tken from AP

10
Feb

Quote

You are what you read. You are what you write (Andrea Hirata)

2
Feb

Review Album Tulus – TULUS

Cover Album Tulus

TULUS, jadi tajuk album ini sesuai dengan nama sang musisi. Seperti semua album self titled, album ini tentu membawa misi untuk memperkenalkan musik yang ditawarkan sang penyanyi.

Album ini berisi 10 lagu yang diciptakan sendiri oleh Muhammad Tulus.Di Bandung sendiri kota asalnya, Tulus pernah menggelar mini konser bertajuk An Introduction untuk memperkenalkan musik di albumnya ini.

Album Tulus dibuka dengan introduction track berjudul Merdu Untukmu (intro version). Di lagu ini, Tulus mengungkapkan keinginannya bernyanyi dan membingkai nada merdu buat semua pendengarnya. Yang unik dari track ini, adalah latar musik yang kemeresek, terdengar seperti suara radio atau televisi yang kena gangguan gelombang. Dari lagu pembuka ini, sudah ketahuan bahwa sang penyanyi punya vocal yang sangat mumpuni. Track yang hanya berdurasi 1 menit 9 detik ini langsung dilanjutkan dengan lagu Teman Pesta yang jazzy tapi upbeat. Mulai lagu kedua inilah, ketahuan bahwa musik dalam album ini punya aransemen yang menyentuh ranah jazz namun dibalut dalam musik yang ringan seperti pop dan pastinya easy listening.Di track ketiga Kisah Sebentar kental dengan aroma bossanova .

Di track selanjutnya bersiaplah untuk jatuh cinta pada vocal sang penyanyi. Lagu  Sewindu yang juga jadi jagoan album ini, bisa membuat jatuh cinta pada vokal Tulus meski  mendengar untuk pertama kalinya.  Lagu ini punya lirik yang mellow bercerita tentang seorang lelaki yang ditinggalkan perempuan yang dicintainya setelah satu windu kebersamaan mereka. Meski lagu sedih, aransemen musik yang groove tak segan buat pendengarnya ikut bergoyang. Dalam album ini Sewindu juga ada dalam Rhodes Version yang musiknya hanya diiringi piano saja. Lagu bertema cinta juga masih lekat di lagu Teman Hidup dan Jatuh Cinta.

Kekuatan dari album ini tak hanya pada eksplorasi nada yang jazzy, tapi juga ada pada lirik-lirik,yang meski tak sederhana, tapi mudah dipahami, kadang terbilang unik juga. Dengar saja track bertajuk Diorama, dan Tuan Nona Kesepian. Khusus buat lagu Diorama, entah kenapa dalam lagu ini Tulus memilih untuk membawakannya dalam versi Studio Live. Tapi jangan salah, walaupun versi Studio Live suara di lagu ini sangat bening dan stereo.

Ada introduction, maka harusnya ada outro. Begitu juga dengan Tulus yang tak mau menutup album ini begitu saja. Kalau di pembuka, pendengar disajikan lagu Merdu Untukmu versi intro, di penutup album lagu Merdu Untukmu hadir lagi dalam versi outro. Masih dalam musik dan lirik yang sama, bedanya kalau di intro, Merdu Untukmu berlatar suara noise seperti radio gangguan geombang, di outro latar musiknya adalah suara bising jalanan. Hmm unique closing yang membuat album ini jadi album yang jadi recommended list untuk dimiliki. (rizaroidila)