Skip to content

Posts tagged ‘Behind the Report’

19
Sep

Lebih Jauh Tentang Payung Teduh

Kali ini pengen me-review album Dunia Batas plus ngulas tentang Payung Teduh. Semakin menarik karena beberapa waktu lalu saya berkesempatan ngobrol-ngobrol seru alias wawancara sama Mas Is, sang vokalis plus guitarist. Hehehe inilah yang kadang bikin saya merasa  beruntung punya   part time di halaman koran anak muda. Alhamdulilah dapat mandat nulis rubrik musik. Jadinya, kadang bersingggungan sama praktisi musik tanah air, pernah wawancara sama musisi idola juga.  Walaupun saya  ngga jago musik, nggak bisa main alat musik kecuali kunci gitar G-D-C-G-D-C,suara bahkan lebih pales dari penyanyi pales, pengetahuan soal musik juga rata-rata. Tapi semuanya kan bisa dipelajari, learning by walking kan kan..muehe? Oke, balik lagi ke topik tentang Payung teduh dan album terbarunya. Ini diak yip yip! Tarik mang!

crop2

Foto : Payungteduh

Berbicara tentang band yang berjuang di jalur indiependen, Payung Teduh sepertinya layak kalau dibilang sebagai band sedang happening di kalangan anak muda tahun ini. Awal tahun  ini mereka kembali dengan album terbarunya Dunia Batas, yang tak lain adalah bentuk repackage dari album pertama mereka, Payung Teduh (2010).

Mendengar delapan lagu yang ada di album Dunia Batas, siapa yang tak setuju jika musik Payung Teduh disebut musik penyejuk jiwa penentram hati. Bukan karena tempo yang mendayu pelan dengan lirik patah hati, jelas bukan itu. walaupun beberapa lagu emang bikin terharu. Namun di luar itu, ya lebih karena musik yang teruai di dalamnya. Harmonisasi alat musik  gitar, contrabass, drum, dan guitalele yang seperti bersinergi dengan alam adalah biang keroknya.

Album Dunia Batas terdiri dari delapan lagu. Empat di antaranya adalah lagu yang sebelumnya sudah ada di album pertama Payung Teduh (2010), dan empat lagu lagi adalah karya teranyar mereka. Orang boleh saja bilang Payung teduh itu musiknya cuma bikin galau. Genre musik mereka sendiri, ada yang bilang kalau itu folk, ada yang bilang kalau itu indie pop.  Tapi gimana kalau kata sang empunya?

Mohammad Istiqamah Djamad atau lebih dikenal dengan julukan Is  (Guitars,Vocals) mengatakan bahwa musik Payung Teduh tidak pernah dikotakkan masuk dalam satu genre tertentu. Ia mengatakan  inilah musik kami (Payung Teduh).

“Ada yang mengkategorikan kalau musik kami itu folk, kami bersyukur  telah dikategorikan dalam genre itu.” begitu katanya.

Soal genre musik Payung Teduh sepertinya terlalu malas untuk menyoal itu. Bagi mereka yang penting berkarya, berkarya sesuai hati dan keinginan mereka.

“Itulah cara kami bermusik, tidak ada genre khusus untuk menjelaskan apa musik kami bawakan, kami tidak memiliki batasan sendiri. Tapi sekali lagi, semua dikembalikan pada bagaimana pendengar menghakimi musik kami,” kata Mas Is.

Seperti yang saya katakan di awal tadi, bagi siapa saja yang pernah mendengarkan Payung Teduh tentu banyak yang setuju kalau lagu-lagu Payung Teduh kerap membuat suasana hati menjadi sendu . Saat hal itu saya tanyakan kepada Mas Is, inilah jawabannya.

“Musik Payung Teduh pun banyak yang berisi teriakan atas suatu hal, tapi kami menyampikannya ala Payung Teduh. Jika banyak yang bilang bahwa musik kami jatuhnya  bikin sendu mungkin itu tak lain bagaimana pendengar menangkap musik kami. Padahal musik kami juga banyak yang berisi teriakan, amarah, tapi emosi kan nggak harus disampaikan dengan cara teriak-teriak ”

Sebelum mentasbihkan dalam nama Payung Teduh pada 2007, dua formasi awal Payung Teduh yaitu Is dan Comi Abdul Aziz Turhan Kariko (Contrabass) lebih dikenal dengan sebutan IsComi. Keduanya tak lain adalah dua bersahabat yang berprofesi sebagai pemusik di Teater Pagupon. Berawal dari kesukaan mereka bermain musik secara instrumental di kantin FIB UI, dengan tujuan sekedar menghibur teman-teman. Semakin lama main musik bareng jadi menguatkan karakter bermusik mereka. Merepun lama-kelamaan punya pendengar setia sendiri.  Nama Payung Teduh sendiri  disematkan oleh pendengar kepada mereka berdua.

Payung Teduh semakin solid dengan bergabungnya Alejandro Saksakame atau Cito (Drums, Cajon) pada 2008 dan Ivan Penwyn atau Ivan (Guitalele) pada 2010. Di tahun itu pula album pertama dirilis, tentu atas dukungan besar dari pendegar mereka.

Lagu Angin Pujaan Hujan, Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan, Cerita Tentang  Gunung dan Laut, Resah adalah karya-karya awal mereka. Kini dalam album Dunia Batas, selain empat lagu yang berasal dari album pertama, pendengar bisa mencoba track Berdua Saja, Rahasia dan Di Ujung Malam yang jadi amunisi baru dari mereka. Is mengatakan sebenarnya masih ada sejumlah materi baru yang belum sempat masuk dalam album Dunia Batas. Keterbatasan waktu para personel yang kesemuanya punya kesibukan di luar musik adalah kendalanya.

Atas apresiasi yang diberikan pendengar, Payung Teduh sangat berterima kasih. Mereka sendiri mengaku masih tak percaya bahwa musik yang mereka bawakan akan didengar dan dipresiasi oleh banyak orang hingga sekarang.

“Untuk saat ini yang ada di kepala kami masing-masing adalah bagaimana bekerja dan bermain musik semua bisa kita jalani dengan maksimal tanpa mengorbankan salah satunya. Yang jelas niatan awal kami di sini adalah untuk berkarya, dan kami masih ingin terus berkarya di sini,” tutupnya.(roi)

dunia-batas

Cover Album Dunia Batas
Track List:
 1. Berdua Saja 
2. Menuju Senja
3. Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan
4. Rahasia
5. Angin Pujaan Hujan
6. Di Ujung Malam
7. Resah
8. Biarkan

P.S : Berbincang dengan Mas Is walaupun saat itu saya wawancara via telepon dan sudah malam sekali karena memang Mas Is nya baru longgar di malam hari adalah hal yang menyenangkan. Dia adalah orang yang ramah dan saya rasa asik sekali. Senang bisa punya kesempatan wawancara dengannya. That’s all so long long review..hahaha, nulisnya maruk.

16
Sep

The Script and Their 3rd Album

the-script-approved-re-sized1

Kerap dijuluki sebagai musisi pencetak lagu-lagu galau, band  asal Irlandia, The Script tak merasa risih akan cap yang diberikan pada mereka. Danny O’Donoghue (vocal), Mark Sheehan (guitar), dan Glen Power (drum) terus berkarya pada jalurnya. Mereka pun  menepati janji untuk mengeluarkan album tiap dua tahun sekali.

Usai meraih kesuksesan internasional lewat dua album terdahulu The Script (2008) dan Science and Faith (2010),  band yang berbasis di London itu kembali dengan rilisan terbaru. Album yang bertitel #3, sekaligus menjadi album studio ketiga The Script dirilis 10 September lalu.

Mereka siap membuat pendengar sedikit  terkejut dengan beberapa materi di album ini. Pasalnya meski Danny dkk tetap bermain dengan musik soft rock, dan mengangkat tema-tema seputar cinta, kehidupan, sejumlah track kreasi berani The Script membuat surprise.

“People were probably listening to us missing their lost love, and wanting to slit their wrists. But this record that you’ll be able to play in pubs and clubs,” Danny tertawa renyah saat buka suara soal album #3. Ia mengatakan bahwa materi dalam album ini tak melulu soal patah hati, cinta yang hilang, tapi juga bisa membuat pendengarnya meangguk-anggukan kepala saat mendengar track di dalamnya. Setidaknya mereka mencoba untuk lebih ceria di album ini.

Buktinya tersaji secara cerdas dalam lead single album #3, Hall of Fame.  Lagu itu adalah hasil kolaborasi The Script dengan pentolan Black Eyed Peas, Will I Am. Bisa dibayangkan bagaimana musik The Script diwarnai sentuhan Hip Hop Will I Am. Maka Hall of Fame menjadi lagu soft rock dengan nuansa ‘Oh’ ‘Ah’, tidak lupa suara falseto khas Danny.  Kolaborasi yang berani dari The Script.  Hall of Fame adalah lagu yang dibuat sebagai bentuk sindiran kepada bintang-bintang instan yang lahir dari program reality show di TV.

Album #3 terdiri dari 12 track baru dan sejumlah bonus track. Danny mengatakan lagu-lagu di dalamnya masih berbicara soal epik percintaan, kehilangan, emotional yang didasarkan dari pengalaman pribadi personel yang membuat lagu-lagu di album itu bermakna dalam. Terlebih diperkuat dengan kemampuan The Script meracik lirik yang menyentuh. Tak heran jika #3, kembali jadi rilisan yang jujur dari The Script.

Track Six Degrees of Separation, adalah sepenggal pengalaman percintaan Danny yang harus diakhiri dengan perpisahan. Selain cinta, tema keluarga juga banyak mewarnai album ini.Track If You Could See Me Now, didedikasikan Danny pada sang ayah yang telah tiada. “Ini jujur, album ini seperti benar-benar cuplikan kehidupanku ,” kata Danny. Sementara lagu Give The Love Around, mengajari kita untuk mencintai keluarga hingga musuh kita.

Sebagai bonus, sejumlah live version dari hit lama The Script juga turut mewarnai album 3#. Live version itu direkam saat The Script tampil live di The Viva Stadium Dublin. Bonus track itu di antarnya Breakeven dan The Man Who Can’t Be Moved.

Tampaknya, The Script puas dengan hasil kerja mereka dalam album #3 ini. Seperti The Script biasanya, lagi-lagi mereka tak pernah peduli dengan apa yang dikatakan orang terhadap mereka. “We’re loud and proud about what we do now!” begitu kata Danny mengenai album #3. (roi)

P.S : naskah yang gagal muat di koran karena karena space yang kurang . Boleh deh di share di sini daripada tidak bermanfaangat, enjoy! :)