Aku

Mencintaimu

Tanpa Tanda Tanya

¿

A Novel By

Sarita Gillyan Kartika Sari Syarena Rudolf Blanche

Apakah cinta harus dibuktikan dengan kata-kata?

Apakah harus ditulis dengan sebuah pena?

Apakah harus diucapkan dengan alat penghubung antar manusia?

Cinta.. hanyalah cinta..

Yang tersirat dibenak manusia yang merasakannya..

Termasuk diriku…

Kini cukup kutuliskan kata “cinta”dihatimu saja..

Untuk siapapun kelak yang akan bersamamu..

Jaga tulisanku itu bersamanya……

Dear My Life……

Suatu sore, luapan Tuhan mulai murka di langit buta.

Merangkai rinai air hujan yang semakin lama lebat dalam jenuhku.

Langkahku mulai gontai, melawan takdir yang dikatakan Tuhan dalam cuacanya.

Kakiku  berpijak pasti, menusuri takdir yang sudah kian meneriaki benakku, memasuki hatiku, relung jiwaku,, hanya dengan satu tujuanku ingin berjumpa denganmu. untuk menghapus semua rindu yang terbenam dalam diriku, untuk menghapus rasa sukaku padamu.

Ditiap langkahku telah kuputuskan dalam catatan takdir yang ku rangkai sendiri saat itu, bahwa hari ini adalah hari terakhir aku akan bertemu dengan mu. Dan itu cukup alasan terbesarku untuk melupakanmu.

PROLOG

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya

¿

Tuhan….

Dalam tiap hembusan napas tubuhku, hadir Mu bagaikan candu.

Dalam detak jantung yang bertalu mengganggu khianatku, aku teringat akan karma Mu

Dalam derap langkah kecilku Engkau berikan limpahan kasih sayang dan cinta.

Dalam genggaman tanganku kau berikan asa tanpa batas di cakrawala.

Tuhan…. Aku mencintai Mu tanpa tanda tanya

Keluargaku..

Ayahku yang super..

Ibuku yang tercinta..

Dalam tiap tujuan hidupku terbayang masa depan kalian di benakku.

Dalam butiran air mata yang menetes di pipiku, tersirat malu atasku.

Dalam rinaian kehidupanku, terkubur aku dalam citamu.

Keluargaku, Ayahku, Ibuku…. Aku merindukanmu tanpa tanda tanya

Sahabatku..

Dalam sinar mentari yang menerawangi hari-hariku kau ada

Dalam tiap hembusan angin yang menyentuh kulitku kau tiba

Dalam lingkungan absurdku kau menatapku penuh ragu

Dalam kegamanganku, kau menerobos egoku

Sahabatku… Aku menyayangimu tanpa tanda tanya

Kamu..

Untuk yang terakhir di hatiku..

Dalam detik ku menghindari hadirmu, kau datang

Dalam hari-hari ku merindu, kau mengacuhkanku

Dalam tiap rapuhku, bayangmu mengganggu

Untukmu.. Aku menyukaimu tanpa tanda tanya……………..

Thanks To:

Alloh, Nabiku, Orang Tuaku, Keluarga besarku, Saudara-saudaraku, Tetehku, Anemkata (Ani Emi Ika dan Q (ita), Himabastra Indonesia, Teater BASTRA, Beswan DJARUM 27 ( Andi, Ansori, Eqy, Eva, Cardo, Icha), Abangku Kak Rizal E, Mbak jumi, mbak ami, mbak luluk, Akhmad D, Raya “hagong”, Kanaya, Yolanda, Tiwi, Dwi, dll….

Awal aku

Panggil Aku…… Pagi “

P

agi, panggil aku seperti itu. Pejuang kehidupan yang menapaki bumi 20 tahun lamanya, dan kini tengah tahun ke- 3 berstatus mahasiswa disebuah Universitas negeri satu-satunya yang terdapat di Propinsi ini. Seorang mahasiswa yang menatap nanar masa depannya dengan kecintaannya terhadap seni musik dan tari. Seorang mahasiswa salah jurusan ini seorang perantauaan dari sebuah pulau kecil nun jauh disana, bersebelahan dengan negara luar biasa Singapura. Pagi Anggraeni Lukita, itulah nama aneh yang diberikan oleh orang tuaku saat aku mulai terlahir didunia dan berpijak di bumi hingga saat ini. Nama aneh ini tercipta tanpa sejarah namun tidak ada yang mau merubah sedikitpun. Pagi? Mengapa harus Pagi? Alasan yang terucap pada saat aku pertanyakan namaku untuk pertama kalinya pada ayahku adalah “ Pagi itu indah anakku, dan kamu akan bersemangat selalu Pagi”. Hanya itu latar belakang namaku dan sugesti namaku pun benar! Aku tercipta sebagai orang yang tidak bisa diam, lalu di kamus otakku tidak ada kata LELAH. Pagi dan pagi, itu semangat yang ada padaku. Tertancap sudah dibenakku dari luapan namaku. Namaku tak seindah anggapan orang tuaku. Bahkan orang menganggap namaku terlalu aneh sehingga saat itu aku menjadi bahan tertawaan teman-teman sebayaku, bahan ejekan orang lain dan  bahan gunjingan. Pada saat aku SD, temanku selalu meledek aku dengan memanggil namaku di koridor sekolah“ pagi….” ujarnya. Tiap  kali aku menoleh dengan panggilan itu, mereka selau meledekku “ kami gak manggil kamu kok! Pede banget sih!” ujarnya sambil menjulurkan lidah kearahku. Aku kesal. Tapi, namaku yang unik namaku yang cantik. Aku tetap akan mensyukurinya sebagai nama terindah yang aku miliki di dunia ini yang orang lain tidak punya. Hanya aku yang memiliki nama ini. Pagi.. Pagi.. Pagi..

Semua perjalan hidupku normal seperti manusia biasanya. Hari-hari normal yang aku lalui baik soal perkuliahan, organisasi, beasiswa semua lancar. Dengan mukjizat, dukungan serta doa, aku akhirnya dapat menjadi salah satu mahasiswa beruntung yang berkesempatan mendapatkan beasiswa yang satu-satunya di negeri ini di iklankan lewat media massa, dan elektronik. Beasiswa elit dari sebuah perusahaan terbesar di Indonesia. Seberuntung aku di bidang akademis, aku tidak pernah beruntung soal cinta. Aku sudah 2 kali menjalin cinta dan GAGAL semua, pengalamanku dengan pacar pertama punya pacar yang posesifnya bukan main. Aku diatur sana sini tidak punya kebebasan. Harus berteman dengan ini dengan itu semaunya dia tanpa memikirkan ketidaknyamananku. Hubungaku pun berakhir setelah 3bulan bersama. Pada saat umurku 16 tahun aku bertemu dengan pacar keduaku, aku bisa bertahan dengannya 3 tahun. Namun, aku bertemu dengan belahan jiwa yang SALAH. Dia tipe manusia yang tidak setia. Sudah untuk ketiga kalinya dalam 3 tahun aku bersamanya dia menduakanku dengan 3 perempuan yang berbeda. Bodohnya  Aku, aku masih bisa memaafkan dia lagi dan lagi hingga pada saat dia mengulangi untuk kesekian kalinya akupun tersiksa. Ketikan aku menyuruhnya untuk memilih, ia sang mantanku itu memilih selingkuhannya. Kejam. Dunia percintaan memang kejam. Buat aku mulai saat itu takut untuk jatuh cinta. Lebih baik aku di jodohin dari pada aku cari orang yang salah alamat masuk ke hati aku “lagi”. 1 tahun 7bulan sudah aku mempertahankan gelar JoJoba alias Jomblo-jomblo Bahagia. Sampai saat ini aku bersumpah dengan diriku sendiri tidak mau jatuh cinta lagi. Tapi, semua itu sirna. Semua itu lenyap. Ketika aku bertemu dengan seseorang bernama Danu. Seseorang yang membuat aku merasakan jatuh cinta lagi saat bertemu dengannya. Namun, cintaku itu bertepuk sebelah tangan. Sampai detik ini. Tidak berubah, karena hanya aku yang menyukainya. Seorang yang biasa saja pada saat pertama kali jumpa. Aku sampai saat ini, sampai detik ini, tidak punya alasan untuk mengapa aku jatuh cinta padanya. Dia orang yang pernah membuat aku tertawa, tapi yang paling bisa membuat aku menangis saat ini. Dia orang yang pernah aku benci, tapi yang paling kurindukan kehadirannya kini.

When I Go To B******

“B

andung? Kita Outbond di Bandung?. Serius………………???” Teriakku secara spontan saat mengetahui acara Outbond selanjutnya di Bandung. Aku rindu kota kelahiranku, suasananya, sejuknya, alam yang melambai ramah. Aku merindukan itu semua. “Iya kita bakal pergi ke Bandung, ke Cikole!”. Jawab Ari tegas. Ari adalah ketua dari Distrik kotaku. Ia yang memegang kendali dari semua urusan yang menyangkut pautkan nama kami di dunia perbeasiswaan ini. Ia orang yang kami pilih karena Ia orang yang sangat dewasa. Ari seorang mahasiswa dari Teknik Lingkungan di Kampusku, seorang Batak yang halus hatinya. Selain Ari, teman-temaku ada ber 5 yang mendapatkan beasiswa ini. Ada Aisyah, Mario, Putra, Yanti dan Rahma. Kami berasal dari berbagai Jurusan di Universitas kami. Aisyah berasal dari jurusan Ilmu Pemerintahan dengan program konsentrasi ke Hubungan Internasional, seorang yang unik yang pernah kami tau. Dimanapun dia tidak pernah mengenakan celana jeans atau celana panjang apapun pada saat acara. Rok panjang adalah style yang ia punya. Sama halnya dengan Aisyah, Mario satu fakultas dengannya. Sedangkan putra berasal dari fakultas teknik sama dengan Ari namun bedanya Putra masuk di Teknik Industri. Kalau Yanti, ia seorang mahasiswi Ilmu Perikanan, dia cantik, anggun, menawan. Semua mata tertuju padanya ketika saat pertama kali jumpa. Lalu, Rahma, seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi yang santun akhlaknya. Lemah lembut bahasanya. Dan ini adalah keluarga kecil kami. Kembali ke Cikole, Dimana Cikole itu??? Secepat kilat aku membuka google map yang terdapat di Handphoneku. Saat mister Google sedang mencari aku asik membayangkan kesejukan paris van java itu. Apa yang harus aku beli, apa yang harus aku bawa, semua terbayang jelas di mataku pada saat itu. Mari kembali ke mister google ia telah menemukan tempat Outbond kami dan ternyata itu LEMBANG!!!!!! Ya Tuhan…. Betapa bahagianya aku mengetahui ini semua. Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak menginjakkan kaki kesana, aku dapat pergi ke kota itu lagi.

“tanggal berapa kita berangkat??”

“sekitar tanggal 2 Februari, kita kena di Batch 2” Jawab Ari sambil memperhatikan persyaratan yang tertera pada layar laptopnya.

“Bareng sama siapa tu?”

“Bareng sama anak Jember, Surabaya, Banjarmasin, Lombok, Malang”

“Asikk….”

Dan khayalankupun berkembang perlahan demi perlahan.

“Wah, Pagi bias ketemu JODOH ne disana!” Celetuk Putra.

“OOyyy…. Sembarangan loe kalo ngomong! Gue betah Jomblo!!” Jawabku ketus.

“Ehh, ini Bandung man,, Bandung surganya tempat orang-orang cantik and cuakep kaya gue!”

“Kamu cantik, bukan Cakep okeh” terang Yanti.

“Hahahahahaha….. Mama kita udah angkat bicara!” ledekku. Aku mencibir kearah Putra. Dan iapun membalasnya dengan cibiran tanda mengolok.

“Sudah-sudah, jadi kita fiks ya di Batch 2 yang nggak bias ikut Cuma Aisyah. Terus, kaya apa rencana kita buat memperpanjang masa liburan kita itu?” Ari membuka percakapan kita.

“Aku punya usul! Kita nginep aja di Paksoma Homestay, Oomku pernah nginap disitu, nggak tau jauh atau nggak dari Lembang yang jelas tempatnya agak nyaman kok.” Tukasku.

“berapa lama kita mau stay di Bandung, teman-teman?”

“3 hari aja cukup! Semoga dapet cewek Bandung!” ujar Mario

“Hedew, cewek aja pikiranmu!” sahut Rahma

“Mario,Mario,,ckckckck” Aisyah menggelengkan kepala seraya menatap Mario yang juga menatapnya.

“Apa sih syah….”

“ayo lanjut teman-teman udah siang ini,  bagaimana menurut kalian?” potong Ari.

“4 hari ajalah, biar puas kita ke Trans Studio Bandungnya, biar kita biar jalan-jalannya.” Ujarku.

“Baiklah, bagaimana teman-teman? Kita menginap di Paksoma Homestay buat 4 hari setelah Outbond kita selesai.”

“SEPAKATTTTT…..” teriak kami semua. Sambil tertawa riuh menanti kegembiraan libur panjang telah tiba.

Akhirnya rapatpun ditutup, 2 jam rapat gini aja loh padahal. Capek yang kurasa, tak ayal membuatku senyum-senyum sendiri menanti hadirnya Bandung kan kutapaki lagi….

“Heh!! Jangan senyum-senyum sendiri ya! Bisa GILA lo!” ucap Putra sambil menepis tanganku.

“eits, apa-apaan loe, aku lagi senang loh. Jangan ganggu aku!!”

“wahh… mikirin biar dapet cowok di Bandung yaa..”

“Putra, tolong aja ya, aku masih betah ama status KEJOMBLOANKU!! NGERTI???? Jadi nggak usah bahas masalah kenapa gue nggak punya PACAR!” Jelasku sambil mempercepat langkahku yang mungil ini.

Aku langsung pergi kearah motorku dan melaju. Agak sedikit males meladeni Putra yang membahas soal masalah kenapa aku jomblo. Emang salah gitu aku jomblo? Jomblo itu pilihan karena belum ada yang membuat aku jatuh cinta jelas ajalah aku masih jomblo tingting!. Sepanjang jalan yang aku lakukan mengomel terus sepanjang masa. Bagaimana tidak? Lelah rasanya mendengarkan orang yang tiap kali bertemu yang dibahas itu-itu saja. Seandainya Tuhan tahu, aku juga ingin memiliki orang yang dapat berbagi kasih, berbagi cinta dan berbagi cerita. Mungkin waktunya saja yang kurang tepat, dan belum tepat.

(BERSAMBUNG)