Namaku Tika, usia 24 tahun, bergolongan darah B, ambisius dan sangat keras kepala. Anak pertama dari 3 bersaudara  dan aku adalah perempuan satu-satunya. Aku adalah aku yang sibuk dengan duniaku sendiri, aku adalah aku yang tidak mengenal apa arti lelaki di hidupku ini, aku adalah aku yang belajar menata kehidupan berdasarkan dengan pikiranku dan hatiku sendiri, aku adalah aku yang kini terperangkap dengan duniaku dan menanti seorang yang pantas untuk dinanti. Dan entah kapan itu terjadi.

Pagi buta, di sudut sebuah kota

6 September 2016,

Still alone in my office room, stay with my lovely laptop and flat. Entah hidupku berasa seperti ini. Menjadi seorang manager bukan hal yang mudah untuk di lalui, bukan hal mudah untuk di jalankan, di umur yang seperti sekarang ini aku berubah menjadi seorang yang entah bisa di bilang anti sosial. Bukan hanya untuk di kantor tapi juga untuk dilingkungan sekitarku. Apapun yang terjadi, aku terkadang hanya akan ber “Ohhh” ria dan “Oke” ria. Tapi semua berubah saat aku mulai mengenal Facebook 1 bulan yang lalu. Maaf aku adalah orang yang sangat Gaptek dengan akun sosial dan saat mengenalnya takut akan menjadi sebuah candu. Entah kenapa aku mulai asik dengan dunia maya ku sendiri. Asik mengutak-atik nya. Entah apa fungsi Mark menemukan facebook, mungkin karena dia kesepian sama sepertiku. Atau karena dia tidak memiliki teman sepertiku? entahlah, mari kita menemukan jawabannya bersama-sama. Dan hanya dengan satu klik saja, semua berubah menjadi apa yang bukan kemauan kita.

Hampir 2 jam aku hanya berkutat dengan laptop kesayanganku. Hanya ini yang aku tau dan aku punya, hanya ini yang aku miliki untuk hari ini karena tidak ada satupun hal penting yang harus aku kerjakan. Ber-chat ria dengan kawan yang tidak pernah lagi aku lihat parasnya dihadapanku itulah pekerjaan pada hari ini. Yahh.. Arni dan Tety adalah 2 sahabat karibku yang terpisah hampir 9 tahun lamanya. Arni menyelesaikan S2 nya di Bandung dan Tety sibuk bekerja disebuah perusahaan konstruksi. Jarak, entah apa arti jarak itu kini semua akan bersatu dengan chat di Facebook.

“Arni: Mblo? masih omblo?”

“Tika: Apaansih!”

“Arni: Mblo, sampai kapan? awas jadi perawan tua”

“Tika: Gue butuh calon imam, jadi wajar gue pilih-pilih dan belum nemu!”

“Arni: Mblo, kan ada Ardi, Rahman, Setya, kenapa kamu tolak semua?”

“Tika: Karena aku butuh yang bertanggungjawab sama aku, nyai!”

“Arni: Mblo, semenjak training di Jakarta bahasa mu jadi elo gue di mix sama kopi aku kamuan. ehh.. woles mbak bro, jangan sensitif”

“Tika: Oke, sak karebmu!”*

Dan akupun langsung menutup laptoku begitu saja. Marah? tidak, aku tidak marah dengan beberapa singgungan teman karibku itu. Tapi, hanya merasa risih karena hanya aku di antara mereka yang tidak pernah merasakan nikmatnya masa muda yang dinamakan pacaran. Aku kolot, mungkin iya, tapi biarlah seperti itu. Setiap malam minggu, saat kami memiliki waktu meet up bertiga itu akan menjadi berlima kalian pasti tau kenapa, aku akan menjadi hantu di antara mereka dan pasangan masing-masing.  Poor me! Menjadi butiran debu diantara para berlian. Aku berusaha menyibukkan diri dengan hal lain, handphone. Dunia keduaku. dan akan berlanjut sampai ada pekerjaan menanti.