Soal UH 1

February 10th, 2018 by seprisubarkah No comments »

Silakan download file soal UH 1. download soal

Menambahkan Widget

January 26th, 2018 by seprisubarkah No comments »

Widget adalah hiasan blog yang biasanya ditampilkan pada sisi kanan, atas, bawah atau kiri halaman utama. Fungsinya adalah sebagai penghias blog, namun tak jarang pula widget justru membuat tampilan blog sulit terbuka (loading lama). Pada wordpress, widget bisa ditampilkan melalui menu appearance. Pada blogger, widget bisa ditampilkan melalui menu tata letak/layout.

Bagi kalian yang sudah mahfum dengan blog, sebaiknya skip saja tulisan ini :D . Namun untuk kalian kelas 8H SMPIT Iqra yang ingin sekali membuat indah blognya, berikut beberapa referensi widget blogger.

1. Follow me on twitter by custom icon

Fungsi widget ini adalah untuk menampilkan link twitter kalian di blog. Kunjungi custom icon, pilih ikon seperti digambar, kemudian edit sesuka hati kalian.

7

2. Flag counter

Widget flag counter berguna untuk menampilkan warga negara-negara yang mengunjungi blog kalian.

8

First Post Since…. : Membuat Presentasi di Blogger

January 26th, 2018 by seprisubarkah No comments »

Assalamualaikum,

It’s been a long time since i posted my last post. Pada kesempatan ini saya akan membuat sebuah tutorial penampil slide di google yang biasa disebut google slide. Google slide adalah fitur pada google drive. Tulisan ini saya khususkan untuk murid-murid 8H yang berbahagia. Semoga bermanfaat.

» Read more: First Post Since…. : Membuat Presentasi di Blogger

Sebuah Catatan

May 2nd, 2014 by seprisubarkah No comments »

Tidak sengaja saya membaca sebuah catatan tentang ujian nasional dari seorang pelajar di Surabaya. Catatan tersebut berisikan curahan hati sang pelajar terhadap dilematika ujian nasional sehingga memaksa saya untuk ikut menyuarakan tentang ujian nasional dan sistem pendidikan Indonesia, walau hanya dalam kapasitas catatan webblog.

Dalam catatan tersebut diatas, sang pelajar mengungkapkan 3 poin negatif tentang ujian nasional. Tiga poin tersebut adalah :

1. Kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional

2. Bobot soal ujian nasional keluar dari SKL, dimana soal ujian nasional terbagi dalam 20 paket

3. Standar sekolah Indonesia yang belum merata sehingga sulit mencapai tolak ukur hasil belajar

Megingat poin-poin negatif tersebut, maka saya mencari apa sebenarnya tujuan dari ujian nasional. Dan menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 153/U/2003 Tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 bahwa tujuan dan fungsi ujian nasional seperti yang tercantum dalam SK Mendiknas 153/U/2003 yaitu :

1.  Mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik

2. Mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah.

3. Mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional, propinsi, kabupaten/kota, sekolah/madrasah, dan kepada masyarakat.

Dari tujuan-tujuan ujian nasional diatas, saya ingin berpikir kembali ke dasar. Apakah belajar itu? idealnya belajar adalah suatu kegiatan yang menuntut proses berpikir pemelajar. Belajar dikaitkan dengan kemampuan untuk hidup. Sebagai contoh dalam Biologi, anak Harimau memperhatikan induknya mencari mangsa. Anak Harimau tersebut mau tidak mau harus memperhatikan karena hal tersebut karea berkaitan dengan daur hidup. Jika salah memahami, maka akan berbahaya untuk kehidupan ia selanjutnya alias sulit mendapat makan.

Jadi, bagaimana sebenarnya belajar di Indonesia? Belajar di Indonesia hanya mengapal, menghapal, dan mendapat nilai. Itu terjadi dari bangku dasar hingga bangku tinggi. Lalu pencapaian belajar seperti apa yang diharapkan? apakah nilai-nilai tinggi seorang pemelajar? atau kecemerlangan pola pikir dan karakter?

————————————————————————————————-

Saya ingin mengulang kembali masa dimana saya belajar di sekolah. Saya masih ingat ketika itu belajar adalah menghapal. Saya dijejali berbagai macam ilmu pengetahuan tanpa melihat pandangan dan hubungannya dengan dunia aktual.

Beruntunglah anak-anak yang memiliki sumber daya pengetahuan seperti buku, internet dan orang tua karena dengan sumber daya itu hubungan pengetahuan yang diajarkan sekolah bisa tercapai dengan dunia aktual bisa dicapai dengan baik.

Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki akses ke sumber pengetahuan? Bagaimana dengan anak-anak yang tidak dapat didampingi orang tua ketika mereka terbentur materi pelajaran?

Saya sangat merasakan bagaimana pentingnya peran orang tua dalam proses belajar anak. Orang tua begitu penting untuk menjaga kestabilan emosi anak dan mendampingi anak dalam kesulitan memahami materi.

Orang tua yang sadar akan peran membimbing anak tentu hanya bisa dicapai dengan kesejahteraan keluarga yang baik. Lalu kesejahteraan keluarga hanya bisa dicapai jika pemerintah memberdayakan masyarakat dengan pendidikan sehingga menjadi ahli di bidangnya.

————————————————————————————————-

Terakhir, saya ingin menyampaikan saran untuk pendidikan Indonesia.

1. Belajar ala Prusia dimana guru menjadi penguasa kelas dengan sistem ceramah,lalu anak-anak mendengar dengan pasif  sangat tidak relevan dengan dunia yang berkembang seiring majunya kreatifitas manusia. Maka sekolah-sekolah sudah seharusnya mengurangi porsi belajar pasif dan mengganti menjadi belajar aktif.

2. Pekerjaan rumah tidak menjadi beban anak-anak. Kebanyakan guru membuat sistem pekerjaan rumah karena materi yang tidak cukup untuk dikejar dan berkurangnya interaksi guru dengan siswa karena ada kurikulum belajar yang harus dikejar serta jumlah guru yang tidak sebanding dengan murid.

3. Menekankan pentingnya kecerdasan moral dan emosi anak karena penting untuk bekal hidup dan menghadapi masyarakat yang beragam. Saya menganggap skpetis ujian-ujian yang berkembang sekarang (termasuk ujian nasional) karena ujian  tidak sama sekali menggali potensi anak yang sesungguhnya.

4. Tidak serta merta mengagungkan nilai dalam mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu perlu diterapkan proses pembelajaran metode Problem Based Learning.

5. Reformasi dalam pemilihan guru di berbagai tingkat. Guru-guru yang berkualitas mutlak diperlukan untuk pendidikan berkualitas. Kesejahteraan guru harus berbanding lurus dengan kualitas guru.

Selamat Hari Pendidikan, semoga pendidikan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Kegiatan Kecil : Lembar Perilaku

March 17th, 2014 by seprisubarkah No comments »

Belum lama ini saya mengadakan kegiatan kecil-kecilan tentang bagaimana perasaan dan emosi anak sebenarnya. Kegiatan tersebut melibatkan deretan pertanyaan-pertanyaan yang melibatkan emosi anak, yang kemudian diberi nama Lembar Perilaku.

Lembar Perilaku (dikembangkan oleh Dr. Michele Borba)

Lembar Perilaku

Lembar Perilaku adalah suatu metode pengembangan diri untuk anak-anak yang diciptakan oleh Dr. Michele Borba, psikolog Amerika. Lembar perilaku sangat berguna untuk pengembangan diri anak dalam hal evaluasi diri, mengekspresikan emosi, belajar mengambil keputusan, serta kontrol diri melalui berpikir sebelum bertindak.

Dalam kegiatan kecil “dadakan” saya ini, terdapat lima anak yang saya pilih untuk mengisi lembar perilaku. Masing-masing anak berusia antara 10-11 tahun, atau kelas 5 SD. Dalam mengisi lembar perilaku tersebut  saya memberi isyarat kepada mereka bahwa tidak perlu mencontek, cukup isi menurut perasaan hati.

Dari kelima anak yang saya beri tugas tersebut, satu anak ternyata tidak bersedia mengisi. Jadi hanya tersisa empat anak yang bersedia. Dan hasilnya? dapat disimpulkan dalam poin-poin dibawah ini.

1. Dari lembar perilaku yang diisi oleh empat anak 10-11 tahun (empat anak tersebut berteman) ternyata memiliki konflik tersembunyi diantara mereka.

2. Dari empat anak, satu anak bermasalah dengan sisi egosime pribadi dan belum matangnya untuk memandang dari sisi orang lain.

3. Dari empat anak, ada satu anak yang memiliki nurani yang baik namun tidak memiliki kepercayaan diri dan ekspresi emosi yang baik.

Foto0141

Lembar perilaku tersebut diatas menyadarkan saya pentingnya perkembangan emosi anak pada masa perkembangan. Lembar perilaku mungkin hanya sebuah coretan di kertas, namun saya berharap mereka setidaknya dapat mengekspresikan emosi mereka serta mengevaluasi diri untuk lebih baik.

Menjawab Pertanyaan Caca

February 16th, 2014 by seprisubarkah No comments »

Kurang lebih setahun yang lalu, Caca (@chachasaphira) yang kala itu masih duduk di kelas 1 SMP bertanya kepada saya. Pertanyaannya kira-kira begini, “Kenapa ada seorang kakak yang pintar (akademis) sedangkan adiknya biasa-biasa saja?”.

Tentu agak sukar menjawab, karena memang saya tidak begitu familiar dengan pendidikan atau psikologi pendidikan, atau yang psikologi yang berhubungan dengan otak secara kompleks yaitu psikologi klinis.

Sekarang, saya merasa mendapat inspirasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun saya tidak berencana untuk memberitahu langsung empat mata dengan Caca karena mungkin saja dia sudah lupa. Jadi jika Caca tiba-tiba ingat pertanyaan tersebut, mudah-mudahan ia membaca tulisan ini.

————————————————————————————————–

1. Poin Pertama

Kecerdasan, dalam hal ini intelejensi otak, berhubungan dengan gizi yang diasup. Hal tersebut wajar karena proses belajar adalah proses yang melibatkan sel-sel syaraf individu. Menurut Salman Khan dalam bukunya One World Schoolhouse, ketika sel-sel dilibatkan dalam proses pembelajaran, sel tersebut akan berkembang.

Kemudia sel-sel yang terdidik akan mengembangkan jalur sinaptik baru menghubungkan sesel tersebut dengan sel-sel lain. Proses ini berulang seiring dengan frekuensi belajar manusia. Sehingga jaringan-jaringan yang dibentuk membangun hubungan yang lebih banyak membentuk sebuah pemahaman.

Ada banyak proses kimia dan elektrik yang terjadi, sehingga ini menjadi alasan belajar atau berfikir membutuhkan kalori. Pengasupan gizi yang baik akan membentuk sel-sel syaraf yang baik untuk perkembangan otak. Ibaratkan saja proses belajar sama dengan membentuk otot, semakin sering seseorang berlatih maka semakin terbentuk otot seseorang tersebut.

Jadi, poin pertama adalah tentang gizi. Anak yang kecerdasannya baik kadangkala mendapatkan asupan gizi yang baik. Begitu pula sebaliknya.

2. Poin Kedua

Kecerdasan berfikir tidak akan berarti banyak tanpa kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional pada masa perkembangan anak-anak dan remaja meliputi bagaimana ia mendorong dirinya untuk terus berusaha, melawan godaan untuk memuaskan diri, memotivasi diri secara internal, dan lain-lain.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak  yang memiliki nilai akademik yang bagus ternyata memiliki kecerdasan emosional yang baik. Padahal bisa jadi anak-anak dalam penelitian tersebut memiliki IQ yang tidak terlalu jauh perbedaanya.

3. Poin Ketiga

Dalam bukunya Emotional Intelligence, Daniel Goleman mengatakan bahwa emosi itu menular. Dari situ dapat diperkirakan bahwa pengharapan dan pola pikir positif dapat ditularkan kepada orang lain.

Lingkungan yang kondusif, entah itu di keluarga dan sekolah membuat anak labih baik dalam belajar. Sehingga jika anak-anak berada dalam lingkungan positif, maka ia akan menjadi pribadi yang positif dan menular pada keinginan yang kuat untuk belajar.

————————————————————————————————–

Dari sini saya bisa simpulkan bahwa prestasi akademik seorang anak dipengaruhi oleh kombinasi kecerdasan berfikir (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan moral. Semua itu dipelajari secara awal dari keluarga.

Mengapa anak-anak berperilaku mengganggu?

January 18th, 2014 by seprisubarkah No comments »

Beberapa hari yang lalu berkumpullah murid-murid di rumah saya untuk belajar. Semua berjalan dengan lancar hingga tiba waktunya pulang. Seorang murid bernama Fifi tiba-tiba datang dengan muka muram sembari menangis. Kemudian saya mengetahui ada kesalahpahaman dan konflik antar teman sehingga Fifi bersitegang dengan teman-teman yang biasanya akrab dengannya.

Lalu ada seorang gadis bernama Viona yang tiba-tiba datang menangis setelah sebelumnya pergi bermain dengan teman-temannya. Kebetulan teman yang sama dengan teman-teman Fifi. Ia mengatakan bahwa ia telah didorong dan disakiti dalam suatu kontak. Reaksi teman-teman yang melakukannya sangat mengejutkan, “Cuma segitu aja nangis“, “Saya nggak mau minta maaf, malas banget!”.

Memang dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan pelajaran. Mereka perlu belajar lebih banyak tentang moral, pendidikan, maupun tentang esensi belajar itu sendiri. Dan konflik antar mereka adalah salah satu sarana untuk mengambil hikmah dan belajar moral sosial yang benar, tergantung dari adanya orang-orang terdekat untuk mengarahkan.

Menurut Dr. Michel Borba dalam bukunya Building Moral Intelligence, anak-anak sering mengganggu dan melakukan kontak fisik berbahaya sehingga menimbulkan konflik, disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut.

1. Kurang empati. Tidak memahami perasaan orang yang tidak diperlakukan dengan baik. Dalam hal diatas, teman-teman Fifi dan Viona belum bisa ber-empati dengan baik.

2. Kurang harga diri. Ia merasa rendah diri, sehingga merendahkan orang lain.

3. Balas dendam. Ia sering diejek sehingga mengejek kembali sebagai pembalasan.

4. Ingin diakui. Karena ingin dianggap seseorang/sesuatu dalam kelompoknya, ia menjelek-jelekkan kelompok lain.

5. Tidak mampu mengatasi masalah. Tidak tahu bagaimana mengatasi permasalahan atau perselisihan, sehingga ia mengejek atau mengatai orang lain.

6.  Cemburu. Ia cemburu karena anak lain mendapat perhatian lebih entah dari guru atau orang yang dihormati lainnya. Dalam kasus Fifi, itulah yang terjadi.

7. Bagaimana ia diperlakukan. Ia diperlakukan tidak baik, sehingga meniru perbuatan yang tidak baik.

8. Ingin menunjukkan kekuasaan. Mengganggu orang lain membuat ia merasa lebih berkuasa.

9. Tidak pernah diharapkan berlaku baik. Tidak seorang pun mengatakan bahwa perilaku buruk itu tidak diperbolehkan.

10. Kemampuan bersosialisasi yang rendah. Ia tidak tahu cara berinteraksi yang baik dan benar – bekerja sama, berunding, berkompromi, membesarkan hati, mendengarkan – sehingga ia merendahkan orang lain.

 

Berawal Dari Diri Sendiri

October 17th, 2013 by seprisubarkah No comments »

Ada ide dari beberapa orang yang saya anggap sangat brilian sebagai langkah awal (atau mungkin lanjutan) untuk setidaknya sedikit mengubah penampilan buruk bangsa kita, bangsa Indonesia. Beberapa dari mereka tentu saja menginspirasi banyak lainnya untuk berbuat sesuai dengan bidangnya, termasuk saya.

Pandji Pragiwaksono dan Salman Khan sangat berjasa besar bagi lingkungan melalui kegerahan dan semangat mereka. Pun demikian dengan karya-karya dan ide-ide mereka sehingga apapun yang orang katakan lumrah, ternyata perlu dipikirkan dan dikaji ulang.

Salman Khan

Saya menangkap kesamaan mereka dalam bidang yang mereka geluti adalah adanya panggilan dalam alam bawah sadar mereka untuk berbuat sesuatu. Mereka membuat perubahan dalam karya yang mereka ciptakan, untuk kebaikan sesama. Tidak mudah menemukan apa yang menjadi semangat seseorang untuk mengejar apa yang ingin mereka cita-citakan untuk perubahan, atau kebaikan, seperti yang mereka lakukan.

Namun saya memahami bahwa perubahan datang dari diri sendiri terlebih dahulu. Perubahan datang kepada mereka yang skeptis terhadap apa yang ada disekitarnya, perubahan datang kepada mereka yang mempertanyakan sebuah kebiasaan yang memang patut dikaji ulang ke-efisienan-nya.

Berapa dari kita yang sadar bahwa membuat SIM (Surat Izin Mengemudi) menggunakan CALO dengan biaya yang luar biasa diatas normal adalah suatu bentuk dukungan terselubung terhadap praktek korupsi dan suap menyuap?

Berapa dari kita yang menyadari bahwa membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) dengan menyetujui biaya yang diluar dari batas adalah suatu bentuk lain terhadap pungutan liar?

Lalu apa yang harus dilakukan dengan itu? Tidak membuat SIM atau SKCK? tentu saja cara legal, resmi (kalau perlu menolak segala bentuk praktek liar) adalah yang terbaik  untuk dilakukan. Namun sekali lagi, setiap orang berbeda prilaku dan pemikiran sehingga yang perlu ditenkankan sekali lagi adalah kesadaran diri sendiri untuk menciptakan perubahan (atau minimal memikirkan perubahan, dengan sedikit kegelisahan terhadap kebiasaan lama) ke arah yang lebih baik.

Rasanya sudah terlalu bosan untuk mengatakan bahwa praktik membuang sampah di tempatnya adalah salah satu bentuk kedisiplinan dalan kebersihan. Praktik tersebut secara langsung dapat membuat orang ke sikap, pemikiran, dan perilaku yang lebih baik. Tujuannya adalah perilaku positif diharapkan dapat mengubah perilaku negatif lain, atau setidaknya menyadarkan, seseorang tersebut.

Pandji dan Salman tentu saja mengalami siklus berani mengubah dan berpikir perubahan setelah menyadari adanya sesuatu yang harus dirubah dari diri sendiri kearah yang lebih baik. Dan tentu saja, apakah kita tidak ingin berubah untuk lingkungan yang lebih baik? Dan sekali lagi langkah awal adalah dengan berubah dan menggerakkan perilaku positif pada diri sendiri.

Latah Garuda Muda

September 23rd, 2013 by seprisubarkah No comments »

Semua tahu Indonesia sedang dalam masa cobaan, termasuk untuk sepakbolanya. Beragam isu yang sangat perlu untuk dibenahi seperti pembinaan pemain muda, sistem kompetisi yang baku, organisasi bebas politik atau standar baku stadion kian jauh untuk diselesaikan. Kemudian semua itu menjadi suatu pandangan negatif untuk sepakbola Indonesia.

Tapi kemudian semua dibalikkan oleh sebuah tim berisi anak-anak muda yang berlaga di Piala AFF U-19. Anak-anak muda dari seluruh Indonesia berlaga tanpa “bantuan” satu pun pemain naturalisasi. Pandangan negatif kemudian berubah menjadi euforia optimisme. Semua dibuat latah olehnya, termasuk saya.

Ada apa gerangan? ternyata skuad Garuda Muda Tim Nasional Indonesia U-19 berhasil merengkuh juara AFF U-19 setelah mengalahkan Vietnam 7-6 melalui adu pinalti. Gelar juara disebut-sebut sebagai yang pertama dari kompetisi resmi setelah terakhir juara SEA Games 1991.

Wajar saja kemudian kegirangan menggema dimana-mana. Puasa gelar 12 tahun ibarat pecah tadi malam. Semua liputan olahraga tidak ada satu pun yang melewatkan momen langka tadi malam. Petinggi PSSI rela turun langsung menyambut pahlawan-pahlawan muda, walau kadang terselip motif busuk pencitraan.

Tim nasional Indonesia U-19 memang juara. Timnas berhasil memperagakan sepakbola yang baik meski tetap saja ada masalah fisik atau emosi menghantui, maklum mereka masih dibawah 19 tahun. Sang kapten Evan Dimas memperlihatkan ketenangan seorang kapten dan gelandang pengatur tempo lapangan tengah.

Lihatlah bagaimana ia mengatasi tekanan saat ditempel dua pemain Vietnam, atau saat ia mengantar tim meraih kemenangan 3-1 atas Thailand lewat trigol-nya. Bertrio dengan M. Hargianto dan Zulfiandi, mereka mengontrol lini tengah dengan baik, walau kadang saya sesekali melihat Zulfiandi masih terbawa tekanan saat ditempel lawan.

Evan Dimas mengidolakan seorang Ahmad Bustomi, sesama gelandang tengah. Bedanya Bustomi telah di level timnas senior. Lucunya, Bustomi belum pernah mencicipi gelar juara satu untun timnasnya.

Tak lupa seorang penjaga gawang bernama Rafli Murdinato yang sangat cemerlang di partai final. Menggagalkan berbagai peluang Vietnam, baik secara one on one atau shooting by distance. Ketenangan seorang kiper seperti Rafli jarang ada pada kiper-kiper muda sekarang.

Berbicara ketenangan, tentu tidak menarik jika kita tidak membahas adu pinalti melawan Vietnam. Beberapa pemain memiliki ketenangan tersebut saat momen krusial menghadang. Ilham Udin saat mengambil tendangan penentu sangat terbantu pencaya dirinya ketika dihampiri satu per satu oleh teman-temannya sebelum mengembil tendangan.

Atau pemain-pemain lain yang mengatasi tekanan dengan berhasil mengecoh kiper ke arah yang salah. Kemudian mengungkapkan kelegaannya dengan sujud sukur atau menyemangati kiper Rafli.

Dan yang pasti seluruh tim telah belajar mengatasi partai final dan Vietnam karena pada babak grup mereka kalah 1-2 dari Vietnam. Pelatih Indra Syafri patut mendapat kredit lebih untuk ini.

Maka pantaslah Timnas Indonesia U-19 menjadi juara. Langkah awal membantuk tim nasional yang kuat telah terbetuk, tinggal bagaimana pengurus dan pemegang kepentingan mengurusi sepakbola dengan baik. Ingat masih banyak kelemahan yang perlu diperbaiki seperti tekel (bahkan saya melihat ada pemain Indonesia yang pantas mendapat straight red card ) masih sesekali brutal, koordinasi lini tengah dan belakang serta penyelesaian.

Final words, Selamat untuk kalian garuda muda…

sumber gambar : google.com (bola.liputan6.com)

Pindah Konfederasi

September 11th, 2013 by seprisubarkah No comments »

Dalam konteks geografi, agak sulit menemukan kasus sebuah negara pindah benua. Misalkan China yang tadinya Asia pindah ke Amerika. Namun di konfederasi sepakbola, itu bisa terjadi. Kazakhstan, Israel, Turki, dan Australia adalah contoh nyata.

Zona Oseania adalah salah satu konfederasi sepakbola selain dari konfederasi utama dunia seperti Eropa, Asia,dkk. Australia adalah salah satu kekuatan dari zona oseania pada awalnya. Setiap hajatan kualifikasi Piala Dunia tim kangguru selalu hampir bisa memuncaki klasemen.

Sebagai pemuncak klasemen, Australia tidak langsung bisa melaju ke babak utama Piala Dunia karena harus melakoni play-off melawan salah satu wakil konfederasi Asia, Amerika Selatan, bahkan Eropa. Celakanya mereka hampir selalu gagal di babak ini.

Tercatat Australia gagal di play-off 1986 kalah dari Skotlandia, Argentina (1994), Iran (1998), dan Uruguay (2002). Hanya sekali mereka memenangi play-off yaitu tahun 2006, itupun dengan susah paya melewati babak adu penalty melawan Uruguay. Karena itu mereka mendapat julukan tim hampir lolos piala dunia.

Australia vs Uruguay 2006

Maka tepat tahun 2006, Federasi Sepakbola Australia memutuskan pindah konfederasi, menyeberang ke Asia. Nasib baik didapat dengan lolos langsung di kualifikasi piala dunia secara berurutan, yaitu kualifikasi Piala Dunia 2010 dan 2014.

Terbaru, Tim Nasional Australia menjadi anggota terbaru Federasi Sepakbola Asean (AFF). Bisa dibayangkan dominasi Australia akan seperti apa, kecuali mereka menganggap gelaran Piala AFF sebagai ajang tarung tim nasional U-23. Namun tetap saja merepotkan anggota AFF lain.

Turki, Kazakhstan, Israel

Secara geografis Turki, Israel, dan Kazakhstan adalah bagian dari Asia sehingga mereka bisa saja ikut bertarung di kualifikasi Piala Dunia konfederasi Asia. Namun mereka memilih untuk bergabung ke konfederasi Eropa.

Turki memang dekat dengan Eropa, namun juga adalah bagian Asia. Kota Istanbul adalah symbol dari keunikan tersebut karena seberang kota adalah Eropa dan seberang satunya adalah Asia. Mereka dihubungkan dengan jembatan Bosphorus.

Turki tercatat telah mengikuti Piala Eropa 1996, 2000, dan 2008. Paling fenomenal tentu saja pencapaian di Piala Dunia 2002 saat mengalahkan wakil Asia Korea Selatan di perebutan tempat ketiga. Jangan lupa pula gol Semih Senturk yang membuyarkan impian Kroasia menuju semifinal Piala Eropa 2008.

Di level klub, Turki juga salah satu negara yang disegani di Eropa. Galatasaray mencatat prestasi bagus saat menjuarai Piala UEFA 2000 mengalahkan Arsenal. Fans Galatasaray  dan Turki juga terkenal militant saat mendukung timnya. Itu dibuktikan dengan terciptanya suasana gemuruh stadion yang luar biasa, seperti menginginkan lawan terintimidasi sepanjang waktu.

Israel dan Kazakhstan memang masih kalah dibanding Turki. Keduanya belum pernah sekalipun ikut kejuaraan Eropa atau Dunia. Paling bagus adalah Israel yang ikut Piala Eropa U-12, itupun karena mereka adalah tuan rumah.

Dibanding tim nasionalnya, klub-klub Israel justru lebih sering meramaikan kejuaran Eropa semacam Liga Champions atau Liga Eropa. Klub-klub seperti Maccabi Tel-Aviv atau Maccabi Haifa adalah paling tersohor. Meski tetap saja jadi santapan empuk raksasa-raksasa Eropa.

Maccabi Tel Aviv contohnya. Liga Champions 2004-2005 adalah semacam kuburan buat mereka. Secara bergantian Juventus, Bayern Munich dan Ajax Amsterdam manghajar mereka. Koran lokal menyebut mereka samsak, lebih sering digebuk.

Juventus vs Maccabi

Kazakhstan adalah anggota baru UEFA. Mereka baru bergabung tahun 2002 setelah sebelumnya tergabung di zona Asia. Catatan Kazakhstan bersama zona Asia terbilang buruk. Mereka menjadi baying-bayang Korea, Jepang bahkan tetangganya sendiri Uzbekistan. Nama terakhir masih konsisten di zona Asia.

Sama seperti Israel, Kazakhstan juga belum pernah ikut kejuaraan Asia dan Eropa. Perbedaannya klub-klub Kazakhstan tidak pernah terdengar di kejuaran Eropa. Kazakhstan memainkan laga pertama sebagai anggota baru UEFA dengan menahan imbang Estonia 0-0.

Alasan Pindah

Ada beberapa alasan dari beberapa tim diatas untuk pindah konfederasi. Australia menginginkan pindah agar peluang lolos ke Piala Dunia lebih besar ketimbang harus selalu play-off dengan tim dari Amerika Selatan yang secara materi setara, namun lebih alot.

Dengan pindah ke zona Asia, Australia tidak perlu takut untuk sekadar finish di posisi kedua grup karena dua posisi teratas sudah pasti lolos babak Piala Dunia. Itu terbukti di dua gelaran kualifikasi Piala Dunia terakhir.

Turki, Israel dan Kazakhstan mungkin berbeda dengan Australia. Mereka bisa saja bergabung dengan Asia, dan menjadi saingan berat kekuatan tradisional semacam Jepang, Korea atau Arab Saudi. Mungkin kedekatan kultur dan emosi dengan orang Eropa menjadi faktor, atau bisa jadi mereka menginginkan kualitas sepakbola lebih maju jika sering beradu dengan tim-tim terbaik.

 gambar : google.com