Archive for October 7th, 2011

Nuansa budaya adopsi-an di Indonesia

October 7th, 2011

Masih segar dalam ingatan kita tentang Soimah, seniman asal Yogyakarta. Kemunculannya yang fenomenal di beberapa televisi swasta mengundang berbagai decak kagum. Bagaimana tidak, seorang Soimah yang dibesarkan dalam dunia karawitan tradisional Jawa tiba-tiba mengguncang pakem seni dengan membawakan lagu bahasa Jawa dalam nuansa hip-hop.

Tentu Soimah tidak sendirian dalam mengekspresikan pakem barunya karena ia bersama Jogja Hip-Hop Foundation bersama-sama membesarkan sebuah tema baru budaya lagu daerah di Indonesia.Tak tanggung-tanggung, mereka diundang ke New York, kota dengan lingkungan hip-hop yang kental, sebagai apresiasi sebuah komunitas Hip-Hop Bronx.

Tema serupa juga terjadi dalam budaya komedi Indonesia. Jangan sebut anda pecinta komedi kalau belum menyaksikan sebuah tren dagelan baru bernama Stand up Comedy, sebuah komedi tunggal hasil adapatasi dari Amerika Serikat. Untuk menyaksikannya, anda bisa tonton sebuah tv swasta ataupun mengunduh di situs video terkemuka.

Bagi tokoh pembesar genre komedi baru ini, Stand up Comedy diibaratkan sebagai suatu hiburan alternatif. Sudah terlalu letih melihat hiburan-hiburan di Indonesia yang masih seputar sinetron, film laga gaib, musik non-orisinil, ataupun film berhantu garing.

» Read more: Nuansa budaya adopsi-an di Indonesia

Bung Karno dan Cagar Budaya Bengkulu

October 7th, 2011

Sejarah mencatat presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno  pernah diasingkan di Bengkulu dalam masa 1938-1942. Pada masa itu, Bung Karno masih berstatus sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia.

Sebelum Bengkulu, sempat pula sang proklamator berkelana menghabiskan masa pengasingan di Bandung (1928), Sukamiskin (1930-1932), dan Flores (1934). Selama masa pengasingan di tiga daerah tersebut, Bung Karno terus melakukan kontak dengan dunia luar.Karena itulah, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan surat perintah untuk mengasingkan Bung Karno di Bengkulu pada tahun 1938.

Pada masa awal pengasingan di Bengkulu, Bung Karno diinapkan di suatu hotel yang yang bernama Hotel Centrum, mengingat belum ada rumah yang layak di Bengkulu pada periode tersebut. Setelah itu, Bung Karno menempati sebuah rumah yang telah disiapkan dimana rumah tersebut berdiri di atas lahan Tang Eng Cian, seorang pengusaha pemasok kebutuhan sehari-hari untuk pemerintah Belanda.

Di rumah tersebut, Bung Karno masih terus berkomunikasi dengan tokoh-tokoh rekan perjuangan kemerdekaan lain, seakan tidak pernah tahu tujuan utama ia diasingkan di Bengkulu.

Komunikasi yang terus berjalan ini terus menggelorakan semangat kemerdekaan hingga ia keluar dari Bengkulu pada 1942 dan akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945.

» Read more: Bung Karno dan Cagar Budaya Bengkulu