Nuansa budaya adopsi-an di Indonesia

October 7th, 2011 by seprisubarkah Leave a reply »

Masih segar dalam ingatan kita tentang Soimah, seniman asal Yogyakarta. Kemunculannya yang fenomenal di beberapa televisi swasta mengundang berbagai decak kagum. Bagaimana tidak, seorang Soimah yang dibesarkan dalam dunia karawitan tradisional Jawa tiba-tiba mengguncang pakem seni dengan membawakan lagu bahasa Jawa dalam nuansa hip-hop.

Tentu Soimah tidak sendirian dalam mengekspresikan pakem barunya karena ia bersama Jogja Hip-Hop Foundation bersama-sama membesarkan sebuah tema baru budaya lagu daerah di Indonesia.Tak tanggung-tanggung, mereka diundang ke New York, kota dengan lingkungan hip-hop yang kental, sebagai apresiasi sebuah komunitas Hip-Hop Bronx.

Tema serupa juga terjadi dalam budaya komedi Indonesia. Jangan sebut anda pecinta komedi kalau belum menyaksikan sebuah tren dagelan baru bernama Stand up Comedy, sebuah komedi tunggal hasil adapatasi dari Amerika Serikat. Untuk menyaksikannya, anda bisa tonton sebuah tv swasta ataupun mengunduh di situs video terkemuka.

Bagi tokoh pembesar genre komedi baru ini, Stand up Comedy diibaratkan sebagai suatu hiburan alternatif. Sudah terlalu letih melihat hiburan-hiburan di Indonesia yang masih seputar sinetron, film laga gaib, musik non-orisinil, ataupun film berhantu garing.

Masih menurut mereka, Stand up Comedy memberikan suatu pelajaran bagi kita untuk menertawakan diri sendiri dan memperbaiki kekurangan yang ada pada diri kita untuk bisa lebih baik lagi. Pun untuk mengkritisi suatu permasalahan bangsa dengan cerdas, kreatif, tanpa terlalu serius dengan istilah-istilah formal seperti banyak media membahas suatu masalah.

stand up comedyPernah ada suatu Presiden negara adidaya, sebut saja Amerika Serikat, dimana seorang presiden masa 2004 ke bawah habis dibantai Stand up comedian lokal. Sang presiden, yang belakangan saya ketahui bernama George W. Bush, mengerti akan hal tersebut.

Ia sadar dengan membalas cemoohan para komedian tunggal Amerika hanya akan memberikan dua kemugkinan, ia yang menjadi turun atau pada komedian tunggal Amerika yang naik (lebih ke sisi psikologi publisitas).

Kini di Indonesia, belum ada reaksi dari berbagai pihak dalam menanggapi serbuan open mic (istilah pertunjukan komedi tunggal) dari komedian tunggal di Indonesia. Padahal jujur saja, banyak sekali nama pejabat, bahkan presiden dibawa-bawa dalam materi pertunjukan. Asumsikan saja mereka (pejabat) telah belajar dari presiden Bush. :D

Lagu Daerah Bengkulu dalam nuansa Pop/Rock

Sedikit menyamai Soimah dan Stand up Comedy, adalah pertunjukan grup musik indie (kelompok musik yang mencoba mencari jalan tenar) dalam sebuah festival musik.

Sudah biasa bagi kita mendengar mereka yang bernyanyi dengan tema itu-itu saja, cinta, kasih sayang, ataupun istilah lain yang masih dalam satu spesies. Sudah biasa dan penat pula bagi kita dengan gaya dan seni bermusik yang tidak orisinil, kesannya meniru suatu kelompok yang sudah tenar. :)

Sebuah pentas musik di Bengkulu yang kebetulan saya gawangi sebagai panitia memberikan sebuah tema baru namun lama bagi kelompok musik lokal Bengkulu. Mereka diharuskan membawakan dua buah lagu daerah Bengkulu dengan genre masing-masing disamping mempromosikan satu lagu unggulan kelompok mereka sendiri.

dscf0772Tujuannya sederhana, agar masyarakat muda Bengkulu semakin kuat dengan budaya daerah sendiri, terutama lagu daerah untuk sebuah kelompok musik. Lainnya, agar masyarakat muda Bengkulu semakin mengena dalam sebuah misi peremajaan budaya Bengkulu.

Miris sekali bila anak muda Bengkulu terlalu larut dalam dunia mereka tanpa melihat lagi budaya sendiri, seperti yang dicemaskan sesepuh kota Bengkulu yang beberapa bulan lalu saya temui di kegiatan KKN.

Saya tidak tahu pasti reaksi sang sesepuh melihat sebuah pertunjukan musik yang membawakan lagu-lagu daerah Bengkulu seperti Batik Besurek, Toy Botoy-botoy, Sungai Suci, Sekundang Setungguan dalam aliran rock/pop. Namun inilah sedikit cara kami untuk ingat akan budaya Bengkulu melalui jalur musik.

Kebetulan dalam proses penulisan ini saya sedang mengunduh lagu daerah suku Rejang yang banyak menghadirkan nuansa lagu dalam pantun, bagus juga untuk diangkat dalam posting selanjutnya.

Jadi kepikiran, bagaimana kalau mendirikan komunitas komedi tunggal di Bengkulu??? :D

Advertisement

10 comments

  1. dianratnasari says:

    keren banget mas..
    dari budaya sampe komedi..
    mari melestarikan budaya Indonesia dimulai dari daerah masing-masing..
    mau mendirikan komedi bengkulu juga mas?

  2. seprisubarkah says:

    mksh sebelumny..
    coba2 aj dulu, sp tau ad yg nyangkut ntar :D

  3. misbahul ihsan (ihsan beswan kudus) says:

    Sepri, aku gantian berkunjung ke blogmu :-)

    Wah, kalo di indonesia acara seperti Stand up Comedy, kayaknya udah ada deh, di Metro Tv kalo gak salah, pernah liat juga pas melem2 nonton.

    Tami tema tema yang diangkat masih berkesan komedy, bukan kritikan tentang pemerintahan. :-)

    Wah klo dibengkulu ada pop rock, mungkin nanti dikudus saya bisa buat Orkestra Gamelan :D hihihihi..

  4. Ditta.w.Utami says:

    Wah, banyak yang sedang membahas Bengkulu, ya…. :D

    Jadi inget temen Ditta yang dari sana… T.T

    Hmm… peremajaan budaya Bengkulu… seneng baca istilah ini :)

  5. seprisubarkah says:

    iya udah ditulis di posting kalo stand up dah metro tv (saya nulisnya di salah satu tv swasta) :D
    orkestra gamelan?? ada konduktor nya dong :D

  6. seprisubarkah says:

    siapa teman ditta di bengkulu dit??

  7. Bowo says:

    terkadang akar rumput bidaya asli kita dianggap ketinggalan zaman oleh sebagian orang, hal ini karena kuatnya pengarh budaya pop (baca: asing, red) yang masuk ke negeri ini. Untungnya muncul sosok seperti Soimah atau band indie yg digawangi Sepri yang mencoba mengemas ebudayaan asli dengan kemasan baru yang lebih up to date… oen of a good step to keep our culture….exellent

  8. seprisubarkah says:

    makasih mas wo…keep posting juga mas :D

  9. Gilang "gendon" Adikara says:

    sipdeh, asimilasi (eh, ato akulturasi y?) budaya kan sering bikin sesuatu yang fresh dan unik :D
    yang jelas, budaya lama ga tergerus, tapi budaya baru tetap bisa kita nikmati

  10. seprisubarkah says:

    setujah sama gilang..makasih kunjungannya :D

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 * 5?