Bung Karno dan Cagar Budaya Bengkulu

October 7th, 2011 by seprisubarkah Leave a reply »

Sejarah mencatat presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno  pernah diasingkan di Bengkulu dalam masa 1938-1942. Pada masa itu, Bung Karno masih berstatus sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia.

Sebelum Bengkulu, sempat pula sang proklamator berkelana menghabiskan masa pengasingan di Bandung (1928), Sukamiskin (1930-1932), dan Flores (1934). Selama masa pengasingan di tiga daerah tersebut, Bung Karno terus melakukan kontak dengan dunia luar.Karena itulah, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan surat perintah untuk mengasingkan Bung Karno di Bengkulu pada tahun 1938.

Pada masa awal pengasingan di Bengkulu, Bung Karno diinapkan di suatu hotel yang yang bernama Hotel Centrum, mengingat belum ada rumah yang layak di Bengkulu pada periode tersebut. Setelah itu, Bung Karno menempati sebuah rumah yang telah disiapkan dimana rumah tersebut berdiri di atas lahan Tang Eng Cian, seorang pengusaha pemasok kebutuhan sehari-hari untuk pemerintah Belanda.

Di rumah tersebut, Bung Karno masih terus berkomunikasi dengan tokoh-tokoh rekan perjuangan kemerdekaan lain, seakan tidak pernah tahu tujuan utama ia diasingkan di Bengkulu.

Komunikasi yang terus berjalan ini terus menggelorakan semangat kemerdekaan hingga ia keluar dari Bengkulu pada 1942 dan akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945.

Pada awalnya, rumah Bung Karno termasuk dalam suatu kompleks rumah pengasingan dengan luas total 4 hektar. Namun sejak memproklamasikan diri menjadi provinsi Bengkulu, pemerintah daerah menggunakan beberapa rumah dalam kompleks mejadi kantor dengan membiarkan rumah utama berdiri sendiri.

Rumah yang berbentuk persegi kotak memiliki atap limas, berdinding putih polos, pintu masuk persegi panjang, dan jendela persegi panjang tersebut memiliki dimensi luas 162 m2 dengan ukuran 9×18 m, cukup besar untuk didiami beberapa orang tahanan pengasingan.

Bagian dalam rumah terdiri dari beberapa bagian dengan fungsinya masing-masing. Dari bagian depan, terdapat beranda yang asri yang sering dijadikan tempat berkumpul Bung Karno bersama teman-temannya. Beranda itu kini menjadi tempat loket masuk pengunjung yang hanya dikenakan biaya Rp 2.500,00.

Sederet dengan beranda, terdapat ruang tamu dan ruang penyimpanan sepeda onthel Bung Karno. Ruang tamu yang terletak pada sisi kiri beranda terdiri dari beberapa buah kursi kayu dan satu meja kayu. Sedangkan sepeda onthel yang disimpan di beranda kanan seakan berbicara bahwa ia pernah digunakan oleh salah satu orang terhebat negeri ini.

rumah bung karno

Rumah Bung Karno

plakat nama

Plakat nama

Masuk sedikit ke dalam rumah, akan terlihat kamar tidur dan ruang perpustakaan. Ruang tidur terdiri dari dua kamar, sedangkan perpustakaan pribadi Bung Karno terdiri dari dua lemari kaca yang menyimpan buku-buku bacaan sang proklamator. Di sekitar ruang perpustakaan dapat dilihat sebuah lemari penyimpanan kostum drama.

Menengok sedikit ke dinding rumah, terlihat beberapa memorabilia foto yang tersusun acak. Ada pose Bung Karno bersama teman-temannya, dengan Ibu Fatmawati beserta anak-anaknya, dan yang menjadi favorit setiap pengunjung, surat cinta Bung Karno untuk Ibu Fatmawati :) .

surat cinta bung karno

Surat cinta Bung Karno

Keluar dari sisi dalam rumah, akan tersaji sebuah beranda kecil yang menghadap pekarangan belakang. Beranda kecil tersebut memiliki sebuah sumur yang terletak disebelah kanan beranda. Sumur yang konon menjadi tempat mandi Bung Karno tersebut ramai untuk sekadar mencuci muka, ataupun berwudhu.

sumur di rumah bung karno

Sumur di rumah Bung Karno

Perkembangan budaya sudah dapat terlihat dari rumah pengasingan ini. Banyak yang belum tahu dan benar-benar tahu bila Bung Karno adalah seorang pemusik, atau paling tidak sebagai seseorang yang meng-apresiasi musik. Terbukti dengan sederet buku-buku tentang musik berwarna hitam yang tampaknya berseri.

Bila salah menilai Bung Karno sebagai seorang pemusik, maka bolehlah menilai ia seorang seniman. Dalam masa pengasingannya di Bengkulu, ia menyusun naskah drama yang berjudul Monte Carlo. Bukan hanya sekadar naskah, sempat pula cerita naskah dipentaskan. Beberapa kostum drama Monte Carlo disimpan di lemari penyimpanan kostum drama.

buku-buku musik bung karno

Buku-buku musik Bung Karno

Ibu Fatmawati

Dalam pengasingannya di Bengkulu Bung Karno bertemu dengan seorang wanita bernama Fatmawati yang seorang anak seorang ulama Muhammadiyah. Sebuah pertemuan yang berbuah suatu rasa cinta.Sebuah drama menghiasi jalinan cinta Bung Karno dengan Ibu Fatmawati karena demi sebuah hubungan tersebut Bung Karno harus merelakan pergi Ibu Inggit, istri Bung Karno sebelunnya.

Peran krusial Ibu Fatmawati dalam perjuangan kemerdekaan adalah menjahit sang saka merah putih atau yang dikenal bendera pusaka yang digunakan dalam upacara proklamasi 17 Agustus 1945.

Sebuah rumah yang dahulu ditempati oleh Ibu Fatmawati terletak beberapa ratus meter dari rumah Bung Karno. Rumah yang kental dengan corak khas Bengkulu tersebut terdiri dari ruang tidur, beranda, dan beberapa lemari penyimpanan.

rumah ibu fatmawati

Rumah Ibu Fatmawati

Sebagai sebuah saksi sejarah, rumah Ibu Fatmawati juga menampilkan beberapa foto seperti foto dirinya sedang menjahit bendera pusaka, dan ketika ia berfose bersama Bung Karno. Namun yang paling utama jelaslah sebuah kotak kayu kecil berisikan sebuah bendera merah putih yang digunakan masyarakat Bengkulu dalam upacara kemeredekaan.

Masjid Jami’

Tak hanya meninggalkan sebuah rumah, Bung Karno sempat pula menrancang dan membangun sebuah masjid di Bengkulu. Masjid itu kini menjadi nama Masjid Jami’ Bengkulu.

masjid jami' Bengkulu

masjid jami' Bengkulu

Masjid yang terletak di pusat kota tersebut dirancang seperti masjid kuno Jawa dengan bentuk atap limas bertingkat. Sebuah asimilasi budaya yang dibawa Bung Karno yang berasal dari lingkungan Jawa.

Interior dalam masjid penuh dengan atap kayu dan tiang-tiang penyangga bertuliskan kaligrafi arab. Sedangkan mimbar utama masjid mengadopsi  gerbang utama sebuah tabot. Kombinasi unik buadaya Jawa dan Bengkulu tersaji unik lagi dala interior masjid.

Masjid ini masih ramai pengunjung lokal yang ingin beribadah atau turis luar yang ingin mengabadikan momen disini. Untuk masuk tidak pelu dipungut biaya, hanya ada kotak sumbangan seikhlasnya untuk penitipan sandal dan parkir sepeda motor.

Pusat Jajanan Khas Bengkulu

Seperti tersadar dengan banyaknya pengunjung di rumah Bung Karno dan Ibu Fatmawati, warga setempat dengan kreatif mendirikan beberapa bangunan toko yang khusus menjual barang-barang khas Bengkulu.

Beberapa bangunan toko tersebut kini menjadi pusat jajanan khas Bengkulu. Menjadi pusat karena memang itulah satu-satunya tempat menjual barang-barang khas Bengkulu seperti Lempok Durian, Batik Besurek, Kerajinan Kulit Lantung dan beberapa makanan khas lainnya. Menjadi pusat juga karena berdiri berhadapan dengan kompleks rumah Bung Karno dan Ibu Fatmawati.

pusat jajanan di depan rumah Bung Karno

pusat jajanan di depan rumah Bung Karno

Sudah menjadi kebiasaan bagi wisatawan untuk menjadikan pusat jajanan khas Bengkulu ini menjadi sebuah paket perjalanan budaya. Mereka yang telah berkunjung ke rumah Bung Karno ataupun Ibu Fatmawati sering menyempatkan diri mampir membeli cinderamata khas Bengkulu.


Bung Karno dan  Budaya Bengkulu

Dalam masa pengasingan Bung Karno di Bengkulu telah memberikan penguruh pembangunan budaya yang cukup signifikan bagi Bengkulu baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung, Bung Karno merancang dan mendirikan masjid Jami’ dan meninggalkan sebuah rumah pengasingan. Oleh pemerintah, kedua bangunan tersebut kini menjadi cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang.

3Ibu Fatmawati, sang istri kedua presiden pertama Indonesia meninggalkan sebuah rumah yang juga menjadi cagar budaya. Tak hanya itu, ia juga memberikan Bung Karno lima orang anak pemimpin bangsa : Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh.

Dalam prosesi upacara 17 Agustus, masyarakat Bengkulu masih melaksanakan sebuah tradisi pengambilan bendera  dari rumah Ibu Fatmawati dimana penyerahan dipimpin oleh walikota dan perwakilan dari keluarga Ibu Fatmawati. Bendera itu nantinya akan digunakan dalam upacara di halaman tumah Ibu Fatmawati.

Jangan lupa pula peninggalan seni Bung Karno. Sedikit demi sedikit ia menyalurkan bakat seni dengan pergelaran drama serta meninggalkan buku-buku musik. Masih tersimpan dengan rapi pakaian-pakaian drama serta buku musik di rumah pengasingannya.

Secara tidak langsung, Bung Karno menginspirasi lahirnya pusat jajanan khas Bengkulu yang menyajikan barang-barang hasil kesenian masyarakat Bengkulu seperti Batik Besurek, Lampok Durian, dan Kerajinan Kulit Lantung.

Inilah takdir, inilah suratan nasib. Takdir yang membuat Bung Karno “singgah” di Bengkulu, takdir pula yang menyatukan ia dengan putri daerah Bengkulu. Sudah takdir pula beberapa sampel budaya bengkulu berkaitan erat dengan sang proklamator.

Jadi, tidak terbayang bagaiman bila dulu Belanda tidak mengasingkan Bung Karno di Bengkulu. :)

special thanks to : Maria Puspita

Alamat situs

1. Rumah Bung Karno :

Jl. Soekarno-Hatta raya kelurahan Anggut Atas

2. Rumah Ibu Fatmawati :

Jl. Fatmawati raya kelurahan Penurunan

3. Masjid Jami’

Jl. Jend. Sudirman raya sekitar lingkungan pertigaan Soeprapto

4. Pusat Jajanan Khas Bengkulu

Sepanjang jalan Soekarno-Hatta dan jalan Fatmawati Bengkulu

Dibuang Sayang

Bung Karno di depan rumah

Bung Karno di depan rumah

Kamar tidur di Rumah Bung Karno

Kamar tidur di Rumah Bung Karno

Sepeda Onthel Bung Karno

Sepeda Onthel Bung Karno

Lukisan dinding Rumah Bung Karno

Lukisan dinding Rumah Bung Karno

Bersama teman seperjuangan

Bersama teman seperjuangan

kursi dan meja di beranda

kursi dan meja di beranda

Perpustakaan pribadi Bung Karno

Perpustakaan pribadi Bung Karno

Lemari penyimpanan kostum drama

Lemari penyimpanan kostum drama

Ibu Fatmawati dan keluarga

Ibu Fatmawati dan keluarga

Langit-langit Masjid Jami'

Langit-langit Masjid Jami'

Mimbar bercorak Tabot Bengkulu

Mimbar bercorak Tabot Bengkulu

Kain batik besurek di pusat jajanan khas Bengkulu

Kain batik besurek di pusat jajanan khas Bengkulu

Kerajinan kulit lantung

Kerajinan kulit lantung

Advertisement

12 comments

  1. M. Nurul Ikhsan Saleh says:

    Wow, great post. Ternyata di Bengkulu juga ada tempat budaya yang luar biasa bersejarah ya. Selain tempat ini, ada lagi gak tempat yang cukup bersejarah di Bengkulu?

    Sedangkan yang ini tempat bersejarah di Yogyakarta :

  2. seprisubarkah says:

    ada jg yang lain, nanti di post jg kok..
    oke saya kunjung balik masbro :D

  3. arnis.silvia says:

    gambarnya mini amat sep?

    weh weh weh, aku kira cuma di blitar aja tmpat bersejarahnya bung karno. hehehe.. ternyata yg di blitar itu cuma makamnya..

    sip sip sip, nais post :D

  4. seprisubarkah says:

    kasian yang fakir benwit mbak arnis :D
    makasih kunjungannya :)

  5. seprisubarkah says:

    makasih udah kunjungi markas ane gan rian :)

  6. budiariyanto says:

    Bung Karno, kita bangga pernah memilikinya… bagus postingannya bro, tp gambarnya kon mini ya? sengaja atau resolusi kameranya? sip2

  7. Alfonsus D. Johannes says:

    wahh.. baru tau juga kalo bung Karno pernah menulis naskah drama :)

    btw, seru nih kalo ditampilin surat2 cinta Presiden untuk istrinya… hehe

  8. seprisubarkah says:

    kasian yang fakir benwit kayak ane mas bud :D

  9. seprisubarkah says:

    ada tuh gambarnya, cuma agak mini..

  10. ismi laila wisudana says:

    Wah, dgr ceritamu ttg bung karno di bengkulu, serasa sedang jalan-jalan di bengkulu jadinya :)

  11. seprisubarkah says:

    hehe,ditunggu kunjungan baliknya mi :D

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?