Kembali ke Rejang

October 19th, 2011 by seprisubarkah Leave a reply »

Kembali ke daerah pesinggahan ketika saya menjalani KKN ibarat mengulang kenangan selama masa pengabdian mahasiswa pada masyarakat tersebut. Melihat kembali segala keunikan dan kesederhanaan lingkungan masyarakatnya yang hampir saya lupakan selama saya berada di kota Bengkulu.

Memang, selama empat hari yang lalu saya dan beberapa teman mendapat tugas dari beberapa dosen dan dinas perhubungan untuk melakukan survei keluar masuk asal tujuan nasinonal (siltranas) 2011 yang bertempat di perbatasan Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Lebong.

Kedua kabupaten tersebut didominasi oleh warga yang bersuku Rejang, sebuah suku tertua dan paling dominan yang berada di Provinsi Bengkulu. Suku dengan bahasa daerah, adat, dan keunikan tersendiri yang membutuhkan waktu tidak sedikit untuk memahaminya.

Saya sendiri mendapat tempat KKN di kabupaten Rejang Lebong tepatnya di kecamatan Tebat Karai Desa Peraduan Binjai. Sebuah tempat yang seluruh warganya ber-suku Rejang sehingga ketika mendapat tugas di perbatasan Rejan Lebong-Lebong seperti kembali ke masyarakat Rejang dahulu.

Perjalanan menengok kembali suku Rejang sudah terlihat sejak memasuki sawangan di salah satu desa kabupaten Rejang Lebong. Biasanya sawangan (semacam kebun pingir jalan) di kota macam Bengkulu hanya terdapat di daerah-daerah pinggiran selatan kota dengan bentuk telah terasimilasi kebun modern.

Sawangan di kabupaten ini berbeda. Sawangan sepanjang jalan desa dikelilingi pohon-pohon kopi dengan pagar bambu. Di sela-sela pohon kopi masih bisa terlihat kumpulan pohon karet yang menunggu untuk disadap petani lokal.

Sepanjang jalan masuk kabupaten Rejang Lebong hanya terdapat satu arah jalan. Kalau sedang padat-padatnya arus lalu lintas dari dan masuk kabupaten Rejang Lebong, kecepatan kendaraan hanya bisa mencapai 4o km/jam.

Berjalan menuju kabupaten Rejang Lebong dengan suku Rejang yang kental seperti bukan melihat kesibukan manusia zaman modern tetapi menikmati sebuah cakrawala budaya masyarakat-nya yang masih kental, kental dengan sebuah identitas Rejang.

Dan betapa tepatnya ketika selama jeda tugas survei siltranas lalu saya menyempatkan diri menengok adat pernikahan suku Rejang yang saya tidak pernah lihat sejak menyelesaikan KKN beberapa bulan lalu di Kepahiang.

Kalau berjalan menyusuri sawangan membawa kembali memori KKN dengan masyarakat Rejang, maka menyaksikan adat pernikahan Rejang seperti mengulang kembali pengalaman menyaksikan adat yang menyatukan dua insan manusia ini.

13Ketika menyaksikan masyarakat desa perbatasan kabupaten Rejang Lebong-Lebong membangun tarub (semacam tenda pernikahan), saya segera membantu menegakkan sebuah bambu yang digunakan untuk fondasi tenda bersama dengan seorang lelaki paruh baya yang bahkan saya belum mengenalnya.

Sepertinya apa yang disebut membangun tarub bukanlah hal yang luar biasa. Semua orang tahu dalam perkembangan dunia kini, resepsi dan acara pernikahan cukup menyewa tenda lalu menyiapkan makanan dari penyedia jasa makanan, semua yang disewa berarti dibayar.

Membangun tarub ala Rejang bersama-sama adalah cerminan kerjasama masyarakat tradisional. Sebuah kerjasama yag kini semakin luntur dengan banyaknya intrik pemecah belah berdalih kekuasaan antar golongan dan kepentingan per-seorangan.

Konon, seperti yang diceritakan seorang ibu kepada saya, jika sebuah rumah di desa beradat Rejang menyelenggarakan resepsi dan acara pernikahan dengan menyewa tenda, paling banyak hanya 30-35 orang yang akan hadir. Selebihnya, masyarakat septempat beranggapan sang empunya rumah tidak “ber-masyarakat” dengan baik sehingga cenderung malas datang ke acara.

Seperti membangun tarub yang dilakukan oleh laki-laki desa, para wanita desa mengambil peran dalam menyediakan makanan dan minuman acara pernikahan dan resepsi. Peran yang hampir selalu dilakukan wanita-wanita tradisional suku Rejang dalam sebuah keluarga – selain menjadi PNS.

121Wanita-wanita desa – didominasi kaum ibu-ibu – membawa satu wajan beras, atau seekor ayam untuk dibawa ke rumah hajatan untuk dijadikan bahan masakan acara pernikahan. Nantinya, ibu-ibu yang membawa berbagai bahan tersebut dicatat namanya dalam sebuah buku catatan pernikahan rumah hajatan.

Masing-masing rumah di desa memiliki sebuah buku acara pernikahan yang berguna memperlihatkan orang-orang yang menyumbang sesuatu di suatu acara pernikahan. Sederhananya, orang-orang yang tidak menyumbang sesuatu pada yang empunya hajatan, akan diabaikan oleh sang empunya hajatan jika yang tidak menyumbang tersebut suatu hari mempunyai acara.

Sebuah adat yang sangat unik – dari adat-adat pernikahan rejang lain, dengan anggapan semua orang Rejang seperti itu. Tak heran jika semua masyarakat suku Rejang – entah itu kembali dari perantauan atau bertahan di kampung halaman – masih berpegang pada membangun tarub dan memasak bersama-sama. Saya sendiri melihatnya disini sebagai sebuah keharusan yang melestarikan kebiasaan adat serta kultur kerjasama masyarakat.

Saya tiba-tiba jadi teringat pada sebuah artikel surat kabar yang menyebutkan bahwa baru-baru ini pemerintah kabupaten Rejang Lebong menyelenggarakan sebuah acara adat pernikahan masal di balai kota.

Tujuannya sederhana, untuk memfasilitasi puluhan pasangan untuk menikah – hampir mirip dengan reality show nikah gratis. Usaha pemerintah yang cukup bisa diapresiasi dan signifikan dalam pelestarian budaya lokal sekaligus mensosialisaikan adat pernikahan Rejang pada khalayak luar.

Memang suku Rejang tidak se-tenar suku-suku lain yang banyak disebutkan oleh anak-anak sekolah dalam mata pelajaran sosial – walau orang-orang selalu ingat Rejang Lebong adalah salah satu kabupaten tempat suku Rejang berdiam dengan penambangan emas terbesar di Sumatra.

Dan dengan minimnya kesadaran budaya masyarakat semakin menambah berat untuk mengenalkan lebih jauh budaya suku Rejang ke seluruh Indonesia.

Tetapi bagi saya, suku Rejang telah memberikan kesadaran berbudaya yang jarang saya dapatkan selama hidup di suasana kota. Sebuah suku yang sederhana, yang mampu mewujudkan kesadaran berbudaya seorang alumni beswan djarum (Djarum Beasiswa Plus) dari Bengkulu.

Advertisement

18 comments

  1. budiariyanto says:

    adat yang unik dan menarik untuk di simak, adat adalah bagian dari kekuatan masyarakat kita..jati diri komunitasnya dan mewarnai keberagaman budaya bangsa indonesia,,, sippp… nice2…. brother…

  2. dianratnasari says:

    wah saya tiba-tiba teringat dimana ya..ada kok yang sama seperti suku rejang, kalau menikah gitu menyumbangnya dicatatin.nanti gnti bales-balesan gitu.
    Kegotong royongan dalam acara khajatan seperti itu disana masih kental ya.Masak bersama.Semoga tidak digerus oleh budaya asing..amin..
    Bagus Mas..lanjutkan..

  3. Herwina Wahyutami Rahayu says:

    Lucu juga yaa kalau nikah warga gotong royong memasak bersama.. Padahal sekarang udah banyak orang yang gamau repot dengan hal-hal seperti itu.

  4. seprisubarkah says:

    ya itulah adat sana, di rejang, orang2nya pun masih kelihatan tradisional :D

  5. seprisubarkah says:

    makasih dian, lanjutkan juga tulisannya :D

  6. seprisubarkah says:

    makasih mas bud,

  7. ainunnimatu says:

    Wah, kostum pernikahannya seperti kostum Jawa ya :)
    Ay senang banget kalau lihat alur prosesi pernikahan yang amsih kentala adatnya. Agak beda nih sama suku Rejang, kalau pernikahan Bugis biasanya tuh benar-benar tumpah ruah orang, baik yang diundang atau yang sengaja mengundangkan dirinya :D Meski bagaimanapun orang itu secara sosialisasi. Tapi soal gotong royong, memang kok, semua suku bangsa kita tuh Indonesia banget soal bantu-membantu. Sukses juga guru kita mengajarkan berat sama dijinjing ringan sama dipukul, hehe :)

    reply comment:

    ayoo ke TKP lagi :)

  8. seprisubarkah says:

    iya hampir sama, makasih udah berkunjung ay..

  9. johan says:

    padek tu sep, raso nak pai ke museum jugo

    main2 yo

  10. seprisubarkah says:

    wai iyo nian jo, cuma agak berek kini ko, tutup smp desember,
    iyo gek amb main2 yo :D

  11. abdbasidl says:

    hampir sama kyk pernikahan di Jawa menurutku.. Dimana ketika ada suatu hajatan pernikahan, hampir sebagian org desa terlibat.. :D Gotong Royong itu sangat Indonesia.. :D

  12. nurulikhsan says:

    Terimakasih mas Sepri, sudah mengenalkan kepada kita tentang budaya suku Rejang. Salute! teruslah berkarya, mengenalkan kekayaan budaya di Nusantara. Salam Semangat untuk mencintai Budaya Nusantara ! :-)

  13. shatriyani says:

    bagus sep, kembangkan terus tulisan tentang bengkulu. recommended page nih!!!

  14. seprisubarkah says:

    @shatriyani makasih shatriyani, saya kunjungi juga blogmu :D

  15. seprisubarkah says:

    @nurulikhsan iya sama-sama, kita sebagai duta budaya masing-masing wajib mengenalkan pada daerah lain tentang budaya daerah

  16. seprisubarkah says:

    sangat indonesia, mari kita gotong royong lestarikan budaya indonesia :)

  17. misbahul ihsan (ihsan beswan kudus) says:

    Indonesia itu sangat Kaya akan budaya ya, banyak sekali ragam yang berbeda, dari adat pernikahan disetiap daerah saja sudah berbeda, bahkan dalam satu kota sekalipun masih terdapat ragam yang berbeda..
    Nice post, jadinya tau tentang adat dibengkulu :-)

  18. seprisubarkah says:

    @ican pastinya bro, banyak yang beragam dalam tiap2 daerah, dan itu sangta asik untuk diceritakan :D
    makasih udah berkunjung

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 in addition to 4?