Temaram di Museum Bengkulu

October 20th, 2011 by seprisubarkah Leave a reply »
museum bengkulu

Halaman depan Museum Bengkulu

“Kami memiliki hampir seluruh benda-benda warisan sejarah yang berkenaan dengan Provinsi Bengkulu,” jelas Muhardi ketika kami berdiskusi tentang museum Bengkulu pada sore hari beberapa hari yang lalu.

“Bengkulu kaya akan sejarah dan budaya”, tambahnya yakin. “Semua orang yang tinggal – minimal lahir di Bengkulu – akan antusias mengenai budaya dan sejarah provinsi ini. Pengasingan Bung Karno tahun 1938 dulu semakin memperkaya budaya dan antusias masyarakat Bengkulu.”

Muhardi – atau saya bisa memanggilnya Pak Muhardi – adalah kurator Museum Nasional Bengkulu, satu-satunya museum buatan pemerintah Bengkulu setelah zaman pembebasan Provinsi Bengkulu.

“Salah satu tugas saya adalah merawat dan mengumpulkan benda-benda peninggalan sejarah, budaya, dan alam walau dalam aplikasi-nya saya banyak dibantu oleh teman-teman lain di UPTD Museum Negeri BSoftskill, Djarum Beasiswa Plus, engkulu.”

Museum Bengkulu telah menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) sejak dirintis pada tahun 1978. Sebagai UPTD, Museum Bengkulu memiliki lingkungan dan wilayah tugas sendiri yang langsung bertanggung jawab pada Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu.

Obrolan kami berlangsung di bagian belakang gedung museum yang berhadapan langsung dengan kantor kurator museum. Kami memilih di bagian belakang karena bagian depan dan hampir seluruh ruangan museum sedang direnovasi.

Ketika obrolan terjadi saya masih belum sadar akan semakin berkurangnya minat dan apresiasi masyarakat Bengkulu berkunjung ke museum. Karenanya saya masih bisa mengerti optimisme Pak Muhardi bahwa masyarakat Bengkulu tetap senang pergi ke museum. Bahwa masyarkat Bengkulu masih ingin mengetahui  benda-benda koleksi budaya dan sejarah Bengkulu serta memahami profil provinsi yang terdiri dari 9 kabupaten dan satu kotamadya ini.

Bengkulu memang sangat kaya budaya. Mulai dari festival – saya meyakini demikian – tabot, mekarnya Bunga Rafflesia di Kepahiang, penampilan tari sekapur sirih untuk penyambutan tamu-tamu besar, dan berbagai situs-situs bersejarah yang menjadi cagar budaya.

Masih ada beberapa adat istiadat lain dari bermacam-macam suku di Bengkulu seperti suku Rejang, suku Serawai, ataupun suku Lembak dimana masing-masing suku menampilkan adat budaya masing-masing.

Saya lalu teringat pengalaman survei siltranas dan KKN di lingkungan ber-suku Rejang dengan adat pernikahannya yang unik. Atau betapa kerasnya nada bicara orang suku serawai ditambah dengan sedikit plesetan bahasa Inggris dalam kosakata bahasa suku Serawai.

Belum lagi ketika mengingat rumah pengasingan Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang menjadi bagian cagar budaya. Terasa sekali takdir seakan memilih Bengkulu untuk menjadi bagian sejarah pergolakan politik kemerdekaan Indonesia.

Bagi Museum Bengkulu dan Pak Muhardi, datangnya para pelancong budaya sangat memberi gairah untuk terus berbenah diri. Saya masih belum mengerti sepenuhnya tentang hubungan pelancong dan gairah berbenah diri.

museum-1Tetapi ia memberi contoh ketika ada beberapa rombongan atau perseorangan memberi masukan lewat buku tamu ataupun lewat obrolan antar sesama pengunjung tentang keadaan museum, itu akan menjadi bahan untuk bisa membuat museum terasa sangat rindu untuk dikunjungi, entah itu dengan perombakan interior ataupun pembaruan benda-benda sejarah budaya.

“Tentu ada beberapa pengunjung hanya datar-datar saja menanggapi benda-benda museum ataupun museum itu sendiri,” jelas Pak Muhardi. “Tetapi dengan orang-orang seperti anda yang haus budaya, museum seperti mengingat kembali pelancong-pelancong yang serius menekuni budaya, terutama tentang Bengkulu.”

Sesuai dengan masa-masa libur sekolah ataupun kantor, menjelang pertengahan atau akhir tahun adalah masa-masa sibuk buat museum Bengkulu. Pelancong yang bosan dengan hawa Pantai Panjang yang belakangan ramai dengan pembangunan tak jelas hinggap di museum Bengkulu.

Proses yang sama juga terjadi ketika masa-masa study tour sekolah-sekolah di provinsi Bengkulu. “Saya tidak yakin bisa menemui saudara jika berada pada keadaan sibuk di bulan-bulan sibuk seperti itu,” katanya menggambarkan kesenangan yang ia bayangkan.

Berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya (bahkan bertahun-tahun), kali ini pergerakan jumlah pengunjung museum tidak terlalu menggembirakan. Ditambah lagi dengan renovasi panjang museum yang berlangsung hingga tanggal 31 Desember 2011 mendatang. Semakin menyiratkan perubahan-perubahan yang  dilakukan guna menarik kembali antusiasme masyarakat berkunjung ke museum.

Kembali khayalan saya berlari jauh ke Museum Bengkulu, ke Pak Muhardi, ke benda-benda warisan sejarah dan budaya Bengkulu. Adakah Pak Muhardi dapat kembali menikmati kesibukannya dengan pelancong-pelancong budaya??. Adakah krisis kecintaan dan kesadaran budaya menerpa museum Bengkulu dan budaya Bengkulu??. Adakah benda-benda warisan sejarah di museum kembali dapat dipahami??.

Dalam pikiran saya, ada temaram di Museum Bengkulu. Menekuni renovasi yang masih lama dan jumlah pengunjung yang turun untuk beberapa tahun belakangan ini. Bisnis” tidak secerah tahun-tahun sebelumnya.

Advertisement

21 comments

  1. Ainun says:

    Sayangnya museum memang sudah gak lagi jadi salah satu tujuan wisata pendidikan dan budaya sih, di Malang juga begitu, hmh, mesti ada terobosa untuk mengembangkan kecintaan akan museum nih :)

    visit juga yaaa:

    atau

  2. seprisubarkah says:

    hehe,mudah2an museum jadi lebih baik lagi :D
    makasih kunujunganny ainun :)

  3. budiariyanto says:

    dengar kata museum, ingat sejarah…. dalam sejarah tergores banyak catatan, catatan penting menjadi orang kagum dan bangga terhadapnya, namun ada yang menarik saat kita berbicara ttg sejarah, tidak sedikit dari bangsa ini yang memaknainya cukup dengan cerita bermakna-saja, tanpa mengambil maknanya. meramu ulang sejarah, mengkontekstualisasikannya dengan tuntutan zaman adalah sesuatu yg jauh lebih bijaksana dan menarik. jika saja kita banyak yg bisa melakukannya, tentu bangsa kita semakin cepat progress-nya. ^_^

  4. seprisubarkah says:

    waw,dalam masbud, mungkin saya harus belajar memaknai sejarah :)

  5. soccertale says:

    kalimat terkahir sepertinya miris sekali :(
    tetap semangat untuk Bengkulu..

  6. P. Agnia Sri Juliandri says:

    cool! udah lama nih ga ke museum :D

  7. adhadi says:

    mantap lek, la pacak pulo kau nulis tentang bengkulu

  8. seprisubarkah says:

    iyo lah di, amb kan penulis :D
    cakmano jalan2 kito di??

  9. seprisubarkah says:

    makasih kunjungannya putu :)

  10. seprisubarkah says:

    makasih udah berkunjung bro johan, semangat buat cerita bolanya :D

  11. Wana Darma says:

    entah kenapa saia tidak bisa menikmati museum gitu ya sep..

  12. destianingrumratnaprabawardani says:

    sayang sekali yah padahal dari museum kita bisa banyak belajar… semakin kalah tergerus zaman

  13. shatriyani says:

    wah tutup sampe desember?? pada renovasi besar-besaran kayaknya..

  14. seprisubarkah says:

    @shatriyani iya sampe desember, kayaknya betul ap kata kamu, ada pengerjaan besar-besaran

  15. seprisubarkah says:

    iya semoga museum juga lebih baik lagi :)

  16. seprisubarkah says:

    semakin tergerus budaya barat, sedih -_-

  17. anafitria says:

    pengunjung museum aceh juga semakin jarang.. -__-

  18. seprisubarkah says:

    @anafitria turut berduka, tugas kita sebagai duta tak terlihat untuk menyemarakkan kmbali :D

  19. ahmadzikra says:

    hampir di semua daerah, museum2 itu ibarat nama dia sendiri : museum. museum yang terancam dimuseumkan.
    melalui promosi tulisan2 semacam ini dan keaktifan kita lah yang bisa membantu menghidupkannya.
    :)

  20. seprisubarkah says:

    @ahmadzikra hahaha,bener juga, museum malah jadi museum…
    mksh udah main zik.. :D

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 plus 2?