Menyemai budaya di Tapak Paderi

October 21st, 2011 by seprisubarkah Leave a reply »

Komunitas Penggebuk Dol Bengkulu

Komunitas Penggebuk Dol Bengkulu

Jika anda berkesempatan berkunjung ke Kota Bengkulu, maka sempatkanlah mampir ke sebuah pantai di sisi utara kota. Pantai itu bernama Pantai Tapak Paderi, tepat berhadapan dengan simbol kekuasaan Inggris di Bengkulu, Benteng Marlborough.

Di pantai ini akan ditemui berbagai aktifitas mulai dari berdagang, berwisata, atau bahkan hanya sekadar lewat menuju lokasi tujuan. Maklum Pantai Tapak Paderi merupakan jalur yang menghubungkan Universitas Bengkulu dan pusat kota Bengkulu.

Dalam lalu lintas kesibukan pantai ini juga ditemui beberapa kolompok orang berdiskusi bersama mengeluarkan ide untuk membuat sesuatu yang benar-benar menjadi “sesuatu”. Perwujudan ide yang ada di kepala dan hati menjadi lebih penting karena apa yang telah didiskusikan tadi menjadi cerminan keseriusan.

Saya bisa ceritakan kepada anda tentang frekuensi berkumpul beberapa komunitas semakin tinggi, ditambah atraksi yang ditampikan yang kadang-kadang menreka anggap sebagai latihan. Bahkan pernah ada ketika tiga komunitas berbeda berkumpul pada momen yang sama dan menampilkan atraksi pada saat yang hampir bersamaan pula.

Mereka melakukan itu bukan sekadar untuk sekadar unjuk gigi seolah-olah “saya bisa melakukan ini” tetapi mereka menyemai budaya di Pantai Zakat. Cara mereka menyemai budaya itu berbeda sesuai dengan ekspresi kemampuan dan bakat.

Komunitas Penggebuk Dol adalah salah satunya. Komunitas penggebuk drum tradisional Bengkulu ini memliki jam latihan – di Pantai Zakat – sekitar sore hari Rabu atau Sabtu.

Salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika pertama kali melihat mereka berlatih Dol beberapa bulan yang lalu. Ketika itu saya mengira mereka hanya berlatih untuk mempertahankan kemampuan mereka menggebuk dol, sembari sesekali berkumpul bersama anggota komunitas untuk sekadar berdiskusi ringan.

Namun ternyata mereka sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi kegiatan festival budaya serta meramaikan festival tabot. Saat itu bolehlah saya menyebut mereka berlatih rajin dengan motivasi kompetisi.

Yang terjadi kemudian, entah kebetulan atau tidak, mereka selalu berlatih reguler di pelataran Pantai Tapak Paderi tiap minggunya setelah kegiatan festival budaya. Sementara anggapan saya tentang komitmen mereka berlatih hanya mendekati kompetisi patah dengan sendirinya.

Selain Komunitas penggebuk Dol, ternyata ada komunitas lain yang juga berhubungan dengan budaya – bisa disebut budaya indonesia adopsi. Komunitas itu bernama Komuntias Capoeira Bengkulu.

Capoeira adalah seni bela diri yang dikembangkan oleh budak Afrika di Brazil. Lambat laun kesenian ini berkembang di penjuru dunia hingga ke Indonesia. Saya kurang tahu pasti kapan tanggal pastinya komunitas Capoeira terbentuk, tetapi yang jelas hari terbentuknya komunitas ini menjadi simbol masuknya Capoeira di Bengkulu.

Berbeda dengan komunitas Penggebuk Dol, Kamunitas Capoeira Bengkulu mengadakan latihan pada hari minggu pagi. Latihan Capoeiran yang menonjolkan ketahanan otot tangan dan bahu serasa menunjukkan bahwa seni ini tidak kalah bersaing dengan seni-seni lain.

Sedikit arogan memang, tetapi menumbuhkan rasa percaya diri dari anggota komunitas dan membuat komunitas lain mengakui keberadaannya.

Lain dari itu adalah seni Parkour, kesenian dari Prancis dimana seseorang diwajibkan memanjat sesuatu  dan melompatyang bertujuan untuk berpindah Рseperti definisinya dalam bahasa Indonesia : Parkour = berpindah.

Tidak seperti Komunitas Capoeira dan Komunitas Penggebuk Dol, komunitas Parkour memilih Benteng Marlborough sebagai pusat latihan. Selain karena medan perlompatan yang banyak di sekitar benteng, komunitas ini memilih Benteng Marlborough karena jarang sekali ada yang memanfaatkan bagian belakang benteng yang sepi.

Menjelang pagelaran dan festival budaya ketiga komunitas yang sering berada di sekitaran Pantai Tapak Paderi ini semakin intensif melakukan latihan. Selain karena festival budaya, sekali lagi mereka sebenarnya menyemai budaya di Pantai Tapak Paderi.

Kalau untuk musim Festival Tabot 2011, menarik untuk disimak persaingan ketiga komunitas seni dan seni – atau dalam konteks tulisan bisa disebut budaya –¬† itu sendiri untuk bisa dipahami masyarakat Bengkulu.

Advertisement

4 comments

  1. Wana Darma says:

    aku anak parkur lo bung :) itu bukannya olahraga yak?

  2. seprisubarkah says:

    wah, ane buka anak parkur, parkur juga bisa masuk ke seni loh, seni yang mengandalkan kretifitas tangan :D

  3. ainunnimatu says:

    wah parkour tuh yang seperti apa yaa?? bagus tuh disertakan gambarnya…
    kalau capoera di kampus juga udah jadi UKM, dulu pengen ikuut tapi cewek jarang ya ikut begituan :)

    please check reply and comment again:

  4. seprisubarkah says:

    parkour seni meloncat ala brazil yang lagi ngetrend di dunia, cek aja di google

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 + 7?