Maestro yang sederhana

October 22nd, 2011 by seprisubarkah Leave a reply »

Ibu Efi besama kami murid SD 08

Ibu Efi besama kami murid SD 08

Kembali menengok masa saya duduk di sekolah dasar, seakan kembali melihat interaksi bersama teman-teman dan guru-guru. Sebuah interaksi sederhana namun menghasilkan kenangan yang luar biasa.

Masa sekolah dasar – saya bersekolah di SD N 08 Bengkulu – yang begitu polos, apa adanya, seperti sebuah saksi ketika saya masih tunduk pada nilai-nilai kebenaran yang diajarkan. Guru-guru yang memiliki perbedaan satu sama lain, kantin-kantin, dan teman-teman dahulu seakan menyimpan tanya untuk saya, “apakah mereka masih seperti itu?”.

Banyak sekali yang ingin diungkapkan tentang masa sekolah dasar, namun pikiran lebih membawa saya ke masa yang jarang diingat.

Perjalanan menengok masa sekolah dasar dimulai ketika saya mengingat mata pelajaran Muatan Lokal – mata pelajaran yang berisi tentang seni seperti tari, batik besurek khas Bengkulu, seni menganyam, atau seni-seni yang lain.

Saya jujur lebih senang dengan pelajaran seperti IPA, IPS daripada mengandalkan keterampilan seperti itu. Dan biasanya seperti itu, pihak sekolah mengalokasikan waktu lebih banyak untuk mata pelajaran bersifat pengasahan otak tersebut ketimbang Muatan Lokal. Jadi jangan heran – saya baru sadar sekarang – bila banyak teman-teman sekelas sama memandang Muatan Lokak seperti saya.

Guru Muatan Lokal waktu itu adalah Ibu Efi Fitriani. Seorang honorer – kini PNS – yang bisa dibilang sabar mengajari kami bagaimana mengapresiasi seni, terutama seni Bengkulu.

Ibu Efi bisa dibilang serba bisa tentang seni. Menganyam, membatik, dan menari dikuasainya dengan lahap. Bahkan dengan santainya ia telah terbang ke berbagai kota dan menjadi model sampul sebuah kumpulan peta Indonesia, atau atlas karena tari yang dibawakannya, tari persembahan.

Cerita bersama Ibu Efi terbuka ketika mata pelajaran Muatan Lokal memasuki sesi menganyam. Saya mengingat dengan jelas betapa kikuknya menaruh simpul yang benar, mengikat yang benar. Mujur sekali dengan sedikit keberuntungan saya melewati mata pelajaran tersebut dengan bantuan orang tua – lebih tepatnya dibuat.

Hampir seluruh praktek seni yang dibawakan oleh Ibu Efi di depan kelas tidak dapat saya mengerti dengan baik. Dan saya juga tahu pasti beliau mengerti keadaan saya, mengerti bila sebuah seni dan kreatifitas tidak bisa dipaksakan.

Perjalanan menengok masa sekolah dasar serasa mengulang semua memori yang memberi air ketenangan, sembari memikirkan apa yang akan dilakukan ke depannya.

Dan betapa tepatnya bila Ibu Efi bersuamikan Pak Syukri Ramzan. Bapak satu ini ibarat pengingat saya akan kenangan masa sekolah dasar dahulu. Seorang bapak dan seniman gebuk Dol – alat musik khas masyarakat Bengkulu – keturunan Bengkulu asli.

Jika Ibu Efi dan Muatan Lokal membawa saya melintasi kenangan sekolah dasar, maka Pak Syukri mengingatkan saya tentang seorang pejuang seni khususnya seni Dol dan musik Bengkulu.

Ketika bertemu dengannya beberapa jam yang lalu dalam sebuah reuni guru-guru sekolah dasar – kebetulan ibu saya dulu adalah guru SD 08 – ia berujar tentang perjuangannya membawa seni gebuk Dol menjadi seni yang bisa untuk semua kalangan, terbuka untuk semua.

Sejarahnya, seni gebuk Dol dimainkan hanya ketika upacara tabot dilaksanakan dan oleh beberapa orang lingkungan keluarga tabot (keluarga yang mengadakan dan mengkoordinasi upacara tabot). Dan hingga tahun 1985 tradisi kesenian gebuk dol masih dikeramatkan untuk keluarga tabot.

Pak Syukri beruntung menjadi seorang yang di luar keluarga tabot dan di luar upacara tabot yang dapat memainkan kesenian gebuk Dol ketika ia masih bocah. Saat berusia mahasiswa, ia mengusulkan beberapa perubahan pada sesepuh lingkungan tabot.

Ia mengusulkan agar kesenian gebuk Dol dibawa ke pentas pertunjukan. Ia beranggapan seni gebuk Dol adalah kekayaan musik etnik di Indonesia, sayang sekali bila hanya dimainkan sebentar (di upacara tabot 1-10 Muharam).

Entah disetujui atau tidak, yang jelas ia telah membawa gebuk Dol ke ranah pertunjukan. Seperti yang ia lakukan dengan mengiringi tari pertunjukan, di Bengkulu, beberapa daerah di Pulau Jawa – termasuk di Istana Negara, dan festival kesenian di Sumatra, telah berkali-kali ke Malaysia dan Singapura.

Tahun 2011 ini, ia bahkan berkeliling Australia dan Uni Emirat Arab dengan pasukan Dol-nya.

Perubahan lain yang ia lakukan adalah dengan memasang tali temali pada dinding luar Dol. Tali-tali ini dipasang agar bisa diangkat sang penggebuk dol ketika ingin berimprovisasi. Tidak terbayang sebuah Dol – yang beratnya hampir 25kG – akan diangkat tanpa tali ketika sang pemain ingin berpindah tempat.

Dengan segala apresiasi terhadap kesenian Dol Bengkulu, jangan heran bila ia meraih penghargaan Penampil Terbaik Festival Musik Etnis Hitam Putih 2007, Penampil Terbaik Solo Ethnic Music 2007, dan Penyaji Terbaik Festival Musik Musantara 2006.

Dalam berkeluarga pun, ia diakui sebagai suami dan ayah yang pengertian dan sabar. Hingga ia – bersama Ibu Efi tentunya – membesarkan anak-anak mereka dalam lingkungan seni yang kental, dengan karakter Pak Syukri anak-anaknya bebas memilih jalur yang dikehendaki.

Memang, Ibu Efi dan Pak Syukri tidak sefenomenal seniman-seniman lain macam Mas Djaduk, Mas Butet, atau yang lain. Dan memang niat mereka membesarkan seni gebuk Dol murni dan seni tari hanya untuk melestarikan budaya kesenian khas Bengkulu.

Karena itulah, mereka saya anggap sebagai maestro-maestro yang sederhana. Mewujudkan perubahan kecil namun besar dan menanamkan inspirasi – minimal untuk saya.

Advertisement

11 comments

  1. tristyantoprabowo says:

    ih seru pengalaman masa SD=nya, beruntung ya punya guru seperti bu efi dan bd kenal jg dg suaminya yg seniman gebuk dol…. penasaran seperti apa itu gebuk dol… sepri punya gambarnya gk? hehe :)

  2. Wana Darma says:

    hidup ibu guru!
    mesti sepri subarkah adalah anak kecil yang ada di paling kiri foto itu!

  3. seprisubarkah says:

    wahahaha…iya,bener :D

  4. seprisubarkah says:

    hahaha,makasih mas wo…

  5. yunitasiti says:

    wah,, senangnya lihat foto jadul:)
    SD memang punya kennagn khusus yang pasti g bakal terlupa… Pengen deh jadi guru, dan nanti ndidik muridnya dengan baik dengan petuah2nya. hehe, sayang jurusannya agak nyeleweng. Tapi, tak maslah, supri yang berbagi ceriat di blog juga bisa jadi guru buat kok :), hehe.. Ayo, sebarakan semangat cinta budaya Indonesia lewat kompetisi blog ini, layaknya guru yang beri petuah, hehe..

  6. vesy says:

    bl0g ny anteng, singan.. enak enak enak

  7. vesy says:

    bl0g nya anteng, ringan.. enak enak enak

  8. Wana Darma says:

    mukanya ga banyak berubah B)

  9. seprisubarkah says:

    @wana hahaha,kalo berubah kayak michael jackson jadinya bro :D

  10. seprisubarkah says:

    @yuniasiti saya sepri, bukan supri :D
    ayo sebarkann cinta cinta budaya indonesia :D

  11. seprisubarkah says:

    @mbak vesy makasih mbak kunjungannya :D

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?