Archive for July, 2012

The Art of Being Lonely

July 22nd, 2012

_47919438_alone4661

Ada perbedaan antara sepi dan menyepi.  Sepi bisa diartikan sebuah situasi dimana tidak adanya suatu aktivitas individu pada suatu tempat tertentu. Sedangkan menyepi bisa diartikan sebuah situasi dimana seseorang memang sengaja untuk menghindari kegiatan-kegiatan tertentu.

Biasanya seseorang bisa dikatakan kesepian jika telah berada pada tingkat kebosanan puncak pada kegiatan tertentu, disamping ia tidak memiliki tempat bercerita. Seseorang yang kesepian ini juga biasanya memiliki sisi mental yang lebih rapuh, mudah tersinggung, dan cenderung menghindari bertemu seseorang.

Agak berbeda dengan menyepi yang dilakukan sengaja dilakukan oleh individu tertentu sebagai akibat dari kesepian yang dialaminya. Dengan menyepi ia bisa fokus pada sesuatu yang ingin dicapai,merencanakan yang terbaik kedepannya, dan yang lebih penting ia bisa menjadi dirinya sendiri.

———————————————————————————

Belakangan ini saya agak gundah dengan situasi rumah. Penyebabnya karena situasi rumah yang kotor dan terlalu banyak orang didalam rumah. Saya, yang masih berusaha menyelesaikan tugas akhir, tentu membutuhkan kondisi kondusif dan tenang.

Terlalu banyak orang ternyata membuat pikiran-pikiran aneh di otak saya. Adakalanya sifat mereka yang pendiam menyeratkan pesan sinisme pada saya yang memang banyak di rumah. Kadang beberapa anggota keluarga yang memang tidak bisa diam justru makin membuat rumit situasi.

Hanya perasaan saya semata kah?? memang. tapi perasaan-perasaan negatif itulah akibat dari akumulasi kejenuhan pada suatu tempat, dalam hal ini rumah. Solusi terbaik saya akhirnya menyingkir beberapa hari dari rumah. Kost-an teman menjadi tujuan menyepi, disamping teman saya yang pulang kampung dan kunci dititipkan ke seorang teman lainnya.

Anggap saja menyepi ini liburan saya yang lain (tentu saja sudah izin orang tua :D ). Pada fase ini saya bisa fokus menyiapkan tugas akhir, bertukar pikiran dengan teman yang juga saya ajak menginap, dan yang pasti bisa menjadi diri sendiri yang kadang-kadang tidak bisa saya terapkan di rumah jika dalam kondisi tertekan.Ibarat permainan kata-kata, saya mengalami “sendiri dalam keramaian” hingga akhirnya memilih “menyepi dari keramaian”.

Ada teman yang menganggap saya tidak memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Tetapi sekali lagi, yang mengetahui kondisi saya ya saya sendiri. Saya yang mengetahui, saya yang menjalani. Lagipula hanya pada situasi tertentu saya menyingkir dari rumah. Ah, andai dia mengerti…

———————————————————————————–

Dari sinilah saya mengerti sebuah seni menyendiri ternyata juga mujarab. Jika ada senior beswandjarum saya yang memilih seni bermalas-malasan menjadi sebuah liburan, maka saya menemukan seni menyendiri ini sebagai solusi yang baik (setidaknya untuk saya). Tidak masalah yang mana yang dipilih, karena setiap orang berbeda-beda karakter dan penyesuaian diri sehingga butuh cara mereka sendiri untuk mengatasi keadaan.

Mencerna Sebuah Kegalauan

July 19th, 2012

SOCCER-ENGLAND/PLAYER

Sudah jadi berita hangat di media-media, baik lokal maupun luar, bahwa juru selamat Arsenal, Robin van Persie tidak akan memperpanjang kontrak yang sedianya akan jatuh tempo pada 2013. Dengan tidak diperpanjangnya kontrak van Persie, Arsenal memiliki dua opsi : Melepasnya pada bursa transfer pemain musim panas ini dengan imbalan berjuta-juta Pounds atau  melepasnya tahun depan dengan konsekuensi tidak mendapat fee transfer.

Mengenai kontroversi ini, beragam pendapat keluar dari para penggemar Arsenal. Di satu sisi ada yang menganggap RvP (singkatan Robin van Persie) tidak loyal, tidak setia, tergiur gaji tinggi. Sedangkan pada sisi lain para supporter yang telah tahu watak para petinggi Arsenal beberapa tahun belakangan hanya bisa maklum dengan keputusan RvP.

Seperti diketahui, jajaran petinggi Arsenal sangat doyan melego pemain-pemain terbaiknya tiap musim mulai dari Cesc Fabregas, Thierry Henry, Samir Nasri, Mathieu Flamini. Balik tahun lama, Ashley Cole, Aliaksandr Hleb juga jadi korban kebijakan yag berlawanan dengan arus kompetisi sepakbola sekarang.

Arsenal ibarat telah hilang sentuhannya dalam konteks sebuah klub besar. Mereka kini lebih senang jika hanya duduk di peringkat 4 besar sembari berharap sebuah trofi datang  – yang membuat para suporter terus terbuai angin surga para petinggi dan pelatih.

Para pemain-pemain berbakat yang mulai naik daun sangat sumringah bila masa depannya dikaitkan dengan ketertarikan Arsenal kepada pemain bersangkutan. Kini, lihatlah situasinya dengan Jan Vertonghen dan Eden Hazard yang justru lebih senang merapat ke klub rival, Tottenham dan Chelsea.

Kembali ke van Persie, keengganan sang kapten musim lalu untuk memperpanjang kontrak ditengarai karena tidak adanya ambisi klub meraih kesuksesan (dalam hal ini trofi juara). Indikatornya jelas dalam bursa transfer pemain dimana Arsenal tidak pernah benar-benar aktif bergerak mencari solusi puasa gelar selama 7 tahun, yang ada malah menjual pemain-pemain terbaik untuk proses peningkatan profit. Hmm…

Akibatnya jelas, setiap musim selalu labil. Melawan raksasa Manchester United dibantai 8-2, bahkan melawan klub promosi sebangsa Swansea juga dibuat tidak berdaya.

———————————————————————————————-

Sekarang bayangkan jika anda/saya adalah seorang karyawan dengan prestasi baik bekerja pada suatu instansi dengan tujuan/visi dan manajemen buruk. Sementara ada beberapa instansi lain dengan visi tim yang baik, manajemen yang bagus, ditambah dengan peningkatan gaji yang lebih baik.

Terlalu materialistik?/ memang. Namun kita tidak semata-mata bicara materialistik, namun bagaimana cara instansi – dalam hal ini Arsenal – memperlakukan karyawannya. Tentu dengan banyak cara seperti visi standar sebuah kemajuan tim.

Sang karyawan juga ingin prestasi individu dibarengi dengan kesuksesan instansi dalam sebuah kompetisi, apalagi selama beberapa tahun bekerja untuk instansi  yang sama terus menunjukkan pencapaian tim yang staganan. Selalu hanya puas dengan parameter-parameter ganjil dalam kompetisi yang justru tidak disaingkan dalam kompetisi.

Ingat, kesuksesan sebuah instansi/tim sangat berpengaruh pada minat seorang karyawan untuk bergabung dalam instansi tersebut. Jika hanya menargetkan prestasi “itu-itu” saja – dalam konteks Arsenal :  peringkat 4 Liga – maka  kualitas karyawan yang berminat bergabung dengannya juga “itu-itu”  saja.

—————————————————————————————-

Belakangan, Arsenal dicap sebagai feeder clubs atau pemasok pemain berkualitas bagus untuk tim-tim tertentu. Predikat ini tak ada bedanya dengan sekolah sepakbola, atau menyamakan diri dengan Ajax Amsterdam.

Ya, Ajax Amsterdam dikenal sebagai penelur pemain-pemain bola berbakat yang disebar ke seluruh penjuru Eropa pada era 1990-an. Lihat prestasi dan kualitas Ajax sekarang jika mengabaikan juara Liga Belanda, sangat miris!!.

Well, pahit memang untuk para suporter Arsenal. Disaat para pendukung klub-klub lain berpesta untuk kemenangan tim mereka menjuarai kompetisi, para pendukung Arsenal dipaksa merayakan “juara sebagai klub terkaya nomor 4″.

Dimulai dengan saga van Persie, nikmatilah Gunnercoaster sekali lagi musim ini….