Archive for August, 2012

Tentang Supercoppa Espana musim ini

August 25th, 2012

cristiano-ronaldo-544-and-lionel-messi-greeting-each-other-before-a-real-madrid-vs-barcelona-kickoff-in-2012

Setelah kemarin ada Community Shield Inggris, kini ada lagi hajatan Piala Super Spanyol.  Yeah, it’s Supercopa Espana!!. Sebenarnya tajuk turnamen home-away ini hanya sebagai tirai pembuka musim liga Spanyol, namun karena yang bertarung adalah Real Madrid vs Barcelona maka tajuk partai berubah menjadi Supercopa Espana El Clasico.

Sejatinya memang Piala Super Spanyol memang ditujukan untuk menandai pembuka musim liga Spanyol, namun kali ini Liga Spanyol telah bergulir. Jadilah ajang ini sebagai trofi pembuka musim 2012-2013 bagi Real Madrid atau Barcelona. Bagi pecinta sepakbola ini adalah dua kali kesempatan menyaksikan pertarungan fisik, skill, dan mental rivalitas abadi Spanyol.

Tidak seperti di Italia atau Inggris yang melangsungkan satu partai Piala Super, Spanyol menggelar dua partai memberlakukan sistem home-away. Dari situlah pecinta sepakbola dapat menyaksikan dua pertandingan El Classico di awal musim, masing-masing bertempat di Nou Camp dan Santiago Bernabeu.

Lalu kenapa biasanya dilakukan sebelum musim dimulai, sekarang dilangsungkan ketika musim telah berjalan?? simpel karena federasi sepakbola Spanyol memundurkan jadwal terkait hajatan nominasi pemain terbaik Eropa dimana pemain-pemain Real Madrid dan Barcelona mendominasi nomine penghargaan.

Lucunya, UEFA melalui presiden Michel Platini mengamuk karena partai ini diselenggarakan beberapa jam setelah partai Liga Eropa antara Luzern vs Genk. Siapa juga yang mau menyaksikan partai gurem Eropa daripada melewatkan duel seru El Classico Madrid-Barca?? begitu mungkin yang ada di benak Platini.

Dan seperti El Classico-El Classico sebelumnya yang patut ditunggu adalah reaksi Mourinho The Only One versus Tito Villanova sebagaimana mereka beradu di pinggir lapangan Nou Camp musim lalu.

Kala itu Mourinho yang menang karena berhasil “moncolok” mata pelatih Barcelona sekarang, walau Real Madrid kalah agregat 4-5 dari Barcelona.

Nah kali ini di leg 1 Piala Super Spanyol, Villanova yang menang 3-2 atas Mourinho. Alhasil Mou – julukan Mourinho – cuma bisa mengeluh ke media atas kontroversi offside Pedro dan diving Iniesta. Semacam pembalasan pahit dari Villanova??

Belum bisa dipastikan, karena leg 2 masih berlangsung di Santiago Bernabeu, markas Madrid. Menang 1-0 saja pasukan putih-putih telah bisa membawa pulang Piala Super Spanyol, yang artinya dendam Villanova masih terus kesumat.

Kalau Barcelona bisa seri atau menang di leg 2,  dominasi Barcelona dipastikan terus berlanjut di era tiki-taka mereka sejak 2008. Kita nantikan tanggal 30 Agustus nanti.

Carut marut dan kematian di sepakbola

August 24th, 2012

Bagi para pecinta sepakbola, menonton sepakbola bukan sekedar menyaksikan 22 pemain berebut bola, lebih dari menonton sepakbola memberikan kesenangan tersendiri.

Ada sesuatu yang beda ketika mendukung suatu tim yang bertanding seakan terikat dalam satu emosi yang dalam, bahkan kadang-kadang emosi yang terlibat melebihi dari apa yang pernah diperkirakan orang-orang terdekat.

Seringkali menonton sepakbola menjadi obat mujarab keluar dari tekanan hidup. Seakan sepakbola menjadi sebuah penisilin dan rekan-rekan se-penonton (kadang rekan-rekan nobar satu komunitas) menjadi dokter-dokter dadakan.

Tidak masuk akal jika tiba-tiba ketika menonton sepakbola berbuah kematian – terlepas bahwa kematian bisa terjadi dimana saja.  Belgia menjadi saksi perihnya tragedi Heysel Belgia kala mempertemukan Juventus – Liverpool. Inggris menjadi tuan rumah tragedi suporter Hillsborough.

Russia Terkena dengan tragedi Luzhniki. Sedangkan di Mesir baru-baru ini kerusuhan sepakbola terjadi di dalam stadion ketika pertandingan Liga Mesir dilangsungkan.

Tragedi-tragedi diatas terjadi didalam lapangan, lebih tepatnya terjadi tanpa sengaja, secara tiba-tiba dan sangat populer di kalangan pecinta sepakbola. Namun disini akan diceritakan sebuah kisah pahit sepakbola yang menjadi sebuah hukuman mati yang disengaja dan jarang terdengar khalayak ramai.

——————————

gp_mog-slideshow16

Di Somalia, segala aspek sepakbola telah tereksekusi kekejaman para dewa perang. Selama bertahun-tahun, negeri yang telah mengalami krisis kelaparan,perpecahan,dan kemiskinan ini mencoba bangkit bersatu kembali  melalui sepakbola. Sepakbola seakan membantu melupakan sejenak penderitaan mereka.

Somalia telah terpengaruh oleh klan fundamentalis yang menggulingkan berbagai rezim pemerintahan sejak 1980. Semua aspek termasuk sepakbola tidak luput dari pengaruh para dewa-dewa perang fundamentalis ini. Salah satu klan kejahatan Somalia adalah Al Shabab.

Al Shabab melarang para pemuda menonton dan memainkan sepakbola. Bagi yang melanggar terancam akan dibunuh, dan itu bukan sekadar ancaman. Selama Piala Dunia 2010, dua pemuda Somalia terbunuh karena kedapatan menonton sepakbola di televisi. Lain itu, klan tersebut terlibat dalam bom mobil yang menewaskan Abdi Salaan (seorang pemain bola muda berbakat) bersama 10 lainnya.

Pembina klub-klub bola lokal juga ditangkap dan dituduh merusak generasi muda dengan sepkabola. Jurnalis juga kena getahnya. Seorang jurnalis terbunuh Maret lalu setelah meliput pertandingan sepakbola. Sebuah situasi yang sangat-sangat tidak kondusif bagi talenta-talenta lokal untuk berkembang.

Tidak heran jika pemain-pemain muda lebih memilih hijrah ke luar negeri untuk menyelamatkan karir. Contohnya adalah Cisse Aadan Abshir. pemain ini adalah pencetak gol terbanyak sepanjangan sejarah timnas Somalia dengan 30 gol.

Kini ia bermain di klub Norwegia Eidsvold Turn. Pada 2011 kemarin ia dinobatkan sebagai pemain terbaik Somalia selama satu dekade.

Belum lagi kalau menyebut bakat-bakat muda lain yang memilih keluar negeri seperti :  Liba Habdi (Ferencvaros Hungaria), Ayub Daud (Juventus Italia), Abisalam Ibrahim (Manchester City Inggris). Abisalam konon menjadi pemain Somalia pertama yang bermain di Liga Inggris.

————————

Jauh dari Afrika, mari menengok Indonesia. Negeri kepulauan Hindia ini memiliki sisi pahit sepakbola berbeda dari Somalia. Di Indonesia lumrah terjadi yang namanya kekerasan antar suporter. Para basis suporter klub tertentu di Indoensia memang memiliki sensivitas tinggi terhadap basis suporter klub lain.

Kasus terkenal adalah ketika seorang suporter Persib Bandung tewas dikeroyok suporter Persija Jakarta kala Persib Bandung tandang ke stadion Gelora Bung Karno – yang diklaim sebagai kandang Persija. Persija-Persib dikenal memiliki rivalitas suporter yang panas.

Ditengarai perselisihan dikarenakan persaingan gengsi antar kota besar Indonesia. Bandung dengan kota mode, Jakarta dengan metropolitannya membuat kedua kubu enggan mengalah.

Situasi buruk sepakbola Indonesia tidak sekadar terjadi di level suporter, level atas turut terpengaruh – bahkan bisa dibilang bobrok level atas mempengaruhi bobrok keseluruhan sepakbola Indonesia. Jika di satu negara hanya memiliki satu federasi sepakbola, Indonesia punya dua : KPSI dan PSSI.  Namun yang diakui FIFA hanya PSSI.

Bagaimana bisa ada dua induk?? ceritanya kubu KPSI adalah pengurus PSSI era lama pimpinan Nurdin Halid yang terguling. Konon pihak yang menggulingkan adalah para pengurus PSSI sekarang sehingga pihak pengurus PSSI lama membentuk induk sepakbola tandingan, KPSI. Jelas rebutan kekuasaan terjadi karena ada banyak kepentingan.

Situasi sepakbola Indonesia tidak seperti Somalia. Penduduk Indonesia bebas menonton atau bermain sepakbola. Namun situasi sepakbola di Indonesia membunuh prestasi sepakbola Indonesia sendiri. Tidak ada bedanya dengan klan-klan kejahatan Somalia, namun objek terbunuhnya saja yang berbeda.

Nasib baik masih memayungi Indonesia karena biarpun sekarang seakan sepakbola terbunuh pelan-pelan, setidaknya negeri itu masih bisa merebut
medali-medali emas turnamen multicabang area regional atau ikut serta di kejuaraan level Piala Asia. Peringkat FIFA Indonesia masih di kisaran 150-an dunia.

Bandingkan dengan Somalia yang tidak pernah merebut prestasi apapun, bahkan ikut Piala Afrika saja tidak pernah. Peringkat FIFA SOmalia sendiri di kisaran 190-an kebawah.

—————————–

Tetapi segala sesuatunya diusahakan membaik di dua negara tersebut. Dengan kekuatan militer yang memaksa para fundamentalis keluar dari Mogadishu, sepakbola kembali memliki harapan.

Federasi Somalia meluncurkan slogan “letakkan senjata,mari main sepakbola” untuk menyemangati para pemuda untuk bermain sepakbola dan meninggalkan senjata serta kekerasan.Turnamen sepakbola untuk kedamaian pun digelar di Mogadishu.

Dari sisi teknis Federasi Somalia menunjuk wakil di Eropa dan Amerika untuk mempromosikan sepakbola Somalia dan mengusahakan bantuan keuangan untuk federasi sepakbola Somalia. Disamping itu federasi juga mengadakan kursus kepelatihan untuk mencetak pelatih-pelatih muda.

Somalia juga akan mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2014 Brazil dan mengikuti kejuaraan-kejuaraan persahabatan antar negara-negara Afrika Tengah.

Sedangkan Indonesia tengah bersiap menapaki Piala AFF 2012 di Malaysia-Thailand. Kisruh suporter disiasati dengan nota kesepahaman antar suporter dan menciptakan komunitas satu suporter Indonesia.

Jadi jika suporter di Palembang kedatangan tamu suporter dari Jakarta, maka akan disiapkan segala keperluan akomodasinya, dan nampaknya akan menular ke kelompok-kelompok suporter lainnya.

Kisruh kepengurusan induk federasi diusahakan dengan membentuk sebuah rekonsiliasi. Sekarang progres masih berjalan lambat karena kedua kubu induk federasi yang bertikai masih setia pada ego masing-masing. Mudah-mudahan jika juara Piala AFF, makin memperbaiki situasi sepakbola
Indonesia.

Monaco dan sejarah naik-turun sebuah klub sepakbola

August 23rd, 2012

Pernah mendengar Monaco?? kalau anda penggemar judi atau F1 pastilah familiar dengan nama Monaco. Yap, Monaco adalah sebuah negara kecil disekitar Prancis dan Italia yang berbentuk kerajaan.

Negara ini dikenal sebagai pusat judi – selain Las Vegas – karena memiliki kasino-kasino kelas wahid lengkap dengan senvis-servisnya. Untuk penggemar F1, sirkuit jalan raya Monaco konon menjadi salah satu seri bergengsi yang harus dimenangkan pembalap F1.

Lalu apa hal lain yang menarik dari Monaco?? diantaranya adalah pajak dan sepakbola. Monaco dianggap surganya para pekerja Eropa karena negeri ini tidak memungut pajak sepeser pun, sehingga banyak dari mereka menyimpan uang di bank-bank di Monaco. Lalu pendapatan negaranya?? jelas dari industri judi dan pariwisata.

Untuk sepakbola Monaco diwakilkan oleh sebuah klub bernama AS Monaco. Klub ini agak unik karena walaupun berada di luar wilayah Prancis, tetapi bisa mengikuti Liga Profesional di wilayah Prancis. Sama halnya Cardiff City di Britania Raya.

Sejarah klub AS Monaco bisa dibilang seunik negaranya. Dan dari sinilah akan diceritakan naik-turun AS Monaco dari mencapai final Liga Champions hingga bisa turun kasta ke divisi dua liga sepakbola Prancis.

————————–

Cerita bermula dari penunjukan kapten Prancis di Piala Dunia 1998, Didier Deschamps menjadi pelatih Monaco pada 2001. Walaupun belum pernah sekalipun melatih sebuah klub,  Deschamps dengan berani mengambil tanggung jawab itu.

Musim pertama Deschamps (2001-2002) di AS Monaco berakhir dengan posisi 15 klasemen Liga Prancis dengan poin akhir 39, hanya terpaut 6 angka dari zona degradasi. Walau begitu, presiden klub Pierre Svara tetap mempercayakan AS Monaco pada Deschamps untuk berkembang. Hasilnya : posisi kedua Liga Prancis di musim berikutnya (2002-2003).

Musim selanjutnya (2003-2004) adalah musim termanis Deschamps di AS Monaco dengan membawa klub itu ke final Liga Champions berhadapan dengan FC Porto yang ditangani pelatih terbaik era sekarang, Jose Mourinho.

Walau akhirnya kalah 0-3, Deschamps banyak dipuji karena mampu membawa tim Prancis kembali ke final Liga Champions setelah terakhir Marseille mencapainya tahun 1993. Lagipula ia masih pelatih muda, pelatih sekelas Arsene Wenger belum mampu ke final ketika masih seumur Deschamps (

Meski tetap saja di Liga Prancis, AS Monaco masih sulit menggetarkan hegemoni  Olimpique Lyon yang terkenal dengan juara Liga Prancis tujuh musim berturut-turut (2001-2008). Paling tidak posisi dua liga dari 2003-2005 sudah cukup membuat klub merah putih diingat sebagai klub besar Liga Prancis.

——————————

Sukses di lapangan berbuah penghargaan luar lapangan. Meski publik mulai menyebut AS Monaco sebagai sebuah klub besar, Monaco mesti membayar bonus tinggi pada pemain-pemain top-nya di tahun 2004. Dalam istilah
finansial klub, tahun 2003-2004 adalah tahun terburuk bagi tim.

Svara, preeiden klub, juga sarjana ekonomi, berencana membawa kembali stabilitas keuangan klub.  Tetapi apa daya, sang presiden pergi tahun akhir musim 2005 dan membuat komitmennya “membuat AS Monaco kembali ke Liga Champions, keuangan klub stabil dan menyambut musim-musim cerah AS Monaco” hanya menjadi bualan menyedihkan.

Pengganti Svara, Michel Pastor agak lebih baik. Pastor kemudian memperbaiki manajemen keuangan klub dan utang-utang klub. Tapi ia gagal membujuk Pelatih Deschamps dan para pemainnya untuk bertahan untuk musim 2006-2007. Ditengarai kepergian punggawa kesuksesan 2003-2004 dikarenakan pemotongan gaji besar-besaran oleh manajemen.

Kepergian Deschamps cs. membuat Svara dan jajaran manajemen tertekan. Hasil dilapangan tidak jauh lebih baik. Pastor membuat rekor mengganti pelatih 6 kali dalam 4 tahun. Puncak kepahitan datang ketika AS Monaco tertahan 2-2 oleh AC Ajaccio (klub divisi dua liga Prancis) di Piala Prancis. Dan seiring berjalan waktu, tim final Liga Champions  2004 terkelupas keping demi keping hingga awan kelabu mulai datang lagi tahun 2008.

———————————–

Di era presiden Jerome de Bontin. AS Monaco mulai membangun kekuatan finansial klub dengan  memotong 40% tagihan gaji, dan membuat keuntungan dari transfer permain sebesar 16 juta Euro. Di lapangan, situasi tidak kunjung membaik. Monaco di Masa Bontin konsisten di papan tengah Liga Prancis mulai dari  posisi 10,9,12,dan 11 dalam kurun 2006-2009.

Para pendukung mulai cemas dengan keadaan Monaco yang cenderung menuju level medioker.Kepanikan para pendukung mulai terasa lebih ketika start buruk di musim 2010-2011 dan dipermalukan klub antah berantah, Chambery, di ajang piala Prancis pada Januari 2011.

Kecemasan para pendukung menjadi kenyataan akhir musim 2010-2011. Meski Laurent Banide telah berusaha mengangkat klub, kemenangan Olympique Lyon 2-0 atas Monaco di Stade Louis II (stadion kandang AS Monaco) memastikan klub kerajaan turun kasta ke divisi dua Liga Prancis.

——————————

Bagi para pendukung, luka awal terdegradasi memudar sering waktu namun sakitnya terasa konstan jika mereka mengingatnya kembali. Mereka yang terbiasa menonton pertandingan klub melawan para raksasa macam Lyon, Marseille kini harus merelakan klub kesayangan jatuh ke jurang degradasi untuk pertama kali dalam dua dekade.

AS Monaco, seperti juga Leeds United di Inggris, kini terdegradasi karena awan gelap ketidaksinambungan finansial klub berdampak pada permainan. AS Monaco kini harus terbiasa menghadapi lawan macam Arles Avignon, SC Bastia dikala dulu terbiasa menghadapi Lyon, Marseille cs.

Well, setelah degradasi Monaco diambil alih miliuner Rusia Dmitry Rybolovlev. Kemunculan sang taipan ditandai dengan merekrut pelatih kelas wahid macam Clauido Ranieri. Ranieri terkenal karena telah menangani klub-klub besar Eropa sepeti Atletico Madrid, Juventus,Chelsea, Parma.

Yang lebih penting untuk Monaco adalah sejarah sang pelatih dalam mengangkat klub dari jurang divisi dua menuju divisi satu liga. Itu telah  di Italia sebanyak tiga kali. Harapan keuangan yang stabil pun mendekati kelegaan karena taipan Rusia dikenal royal bagi tim sepakbola, seperti Roman  Abramovich di Chelsea.

Di musim baru 2012-2013, AS Monaco menduduki puncak klasemen divisi dua Liga Prancis. Sebuah awal bagus untuk mengembalikan sebuah mantan klub besar ke habitat aslinya. Akhirnya para pendukung bisa menikmati kembali pesona klub bermodal harapan dari baru dari Rusia.

Indahnya Perayaan

August 22nd, 2012

Football are back!!. Liga-liga terbesar di dunia telah memulai kompetisi. Sapnyol dan Inggris telah memulai liga minggu (19/8) lalu, menyusul Italia dan Jerman minggu depan (26/8).

Menyaksikan Liga Inggris kemarin ada banyak momen yang patut dijadikan moment of the week, diantaranya cederanya Sergio Aguero atau debut Robin Van Persie bersama Man. United. Namun dari semua momen tersebut, saya menarik menyimak selebrasi gol pemain Man. City  Samir Nasri.

Di laga Man.City vs Southampton yang berakhir 3-2 kemarin, Nasri mencetak satu gol kemenangan di menit 80 setelahsebelumnya Man.City  sempat tertinggal 1-2.

Seusai mencetak gol, Nasri membuka kostum biru langit dan memperlihatkan baju dalam bertuliskan Ied Mubarak atau selamat hari raya idul fitri untuk semua muslim yang merayakan.

Nasri sendiri memang muslim. Ia lahir di kota Marseille di Prancis Selatan dari keluarga imigran Aljazair. Bukan Nasri seorang yang lahir di Marseille, dari darah Aljazair dan muslim. Sebelumnya di era 1900-an muncul seorang maestro sepakbola yang jugapunya kesamaan dengan Nasri, Zinedine Zidane.

Wajarlah jika kemunculan Nasri di Marseille era 2006-2008 sempat disebut sebagai titisan Zidane.Hingga bermain di Arsenal (2008-2011) dan Man. City (2011-kini) Nasri hampir selalu terlihat melakukan ritual berdoa sebelum bertanding.

—————————————————————

Jauh sebelum selebrasiidul fitri dari gol Nasri, dunia sempat terpelotot dengan selebrasi religi ala Frederick Kanoute. Pemain Mali yang pernah membela Tottenham Hotspurs  ini memperlihatkan kaos dalam unik kala membela Sevilla di era 2010-an.

Kala mencetak gol ke gawang Deportivo La Coruna tahun 2009  ia memperlihatkan kaos dukungan terhadap Palestina dalam 4 bahasa. Waktu itu Palestina memang sedang dalam serangan agresi Israel. Sebelum itu, ia rela menutup sponsor judi di kostum Sevilla dengan plester hitam karena ia yakin Islam melarang segala bentuk perjudian.

————————————————————–

Terakhir adalah Pappis Demba Cisse. Pemain Newcastle dan timnas Senegal ini selalu melakukan selebrasi gol religi bersama partner lini depannya di Newcastle – bahkan mungkin di timnas Senegal – Demba Ba.

Seusai mencetak gol, keduanya melakukan ritual sujud di pojok lapangan sebagai wujud syukur pada Tuhan. Rekan-rekan se-timnya yang mengerti selebrasi tersebut secara sadar tidak akan berada di depan mereka, hanya menunggu di samping mereka.

Hebatnya Pappis Cisse yang baru dibeli Newcastle dari Hoffenheim Jerman Januari 2012 telah menjadi top scorer Newcastle musim 2011-2012. Gol-nya ke gawang Chelsea di bulan Mei malah dinobatkan sebagai gol terbaik selama satu musim.

———————————————————————————————

Akhirnya, setiap pemain memiliki caranya sendiri untuk merayakan gol dengan sesuatu yang datang dari hati. Seperti kita di hari idul fitri lalu yang secara ikhlas menjalin kembali lagi silaturahmi dengan sanak keluarga.

Aksi para pemain sepakbola tersebut diatas juga dapat dijadikan contoh sebagai pemain muslim berprestasi, disaat makin banyak kita mendengar adanya tawuran saat lebaran. -_-

Kriteria kapten

August 14th, 2012

maradona

Melihat partai seru Man.City vs Chelsea kemarin secara tidak sengaja saya memfokuskan pada sosok John Terry dan Vincent Kompany. Mereka adalah kapten Chelsea dan Man.City, kebetulan keduanya juga berposisi sebagai palang pertahanan.

Melihat keduanya lalu pikiran melayang tentang bagaimana sosok ideal sebagai kapten. Kalau melihat keduanya, nampaknya mereka dipilih karena bertipe peneriak, garang, kadang perlu dengan sebuah pemecah kebutuan tim.

Lalu saya teringat kapten-kapten lain. Cesc Fabregas misalnya. Selama bermain di Arsenal ia ditunjuk sebagai kapten di era 2010-an. Cesc bertipe slow, elegan, dan cenderung tidak berteriak sebagai penyemangat rekan se-tim. Terkadang kreativitas permainannya justru sebagai faktor utama penunjukan-nya sebagai kapten tim.

Mundur lebih jauh bisa dilihat Diego Maradona dan Carlos Dunga. Maradona berposisi striker sering membuat kejadian-kejadian ajaib yang menolong timnya, ntah dari gol-nya ataupun dari permainan cantik-nya. Intinya ke-brilian-an Maradona dijadikan inpirasi rekan-rekannya.

Carlos Dunga tidak seperti Maradona. Ia dianggap sebagai pemain kelas dua dari sisi skill dan belum ada apa-apanya dibanding Vampeta atau Leonardo mungkin. Tapi pelatih Brazil saat menukangi samba di PD 1994 Carlos Perreira mengangap ia sebagai pemain yang paling bisa menyatukan tim.

Kembali lagi ke Inggris, Sir Alex Ferguson memilih Roy Keane dan Bryan Robson karena mereka gelandang bertipe box-to-box, tidak letih bertarung di lini tengah. Roy Keane sendiri memang badung, semua rekan segan padanya dan sering menciptakan tendangan spektakuler – belakangan karena itulah Keane dijuluki captain marvel.

Di Wales, pelatih timnas menunjuk Aaron Ramsey sebagai kapten. Agak aneh memang, karena ia masih muda. Permainan di Arsenal juga dibilang masih angin-anginan – kalau tidak mau dibilang buruk. Namun apakah seorang muda selalu menjadi tolok ukur bahwa ia dianggap belum mampu memimpin??

———————————————————————————————–

Apapun itu, menjadi hak preogatif pelatih untuk menunjuk seorang kapten. Tentu sang pelatih lebih mengenal timnya, tau yang terbaik untuk timnya.

Sedikit banyak, strategi dominan pelatih dan latar belakang pelatih semasa menjadi pemain yang membuat sang pelatih menunjuk seorang kapten timnya. Logikanya jika tim bermain dengan karakter bertahan, akan menjadikan sosok tangguh sebagai inspirasi. AC Milan dan Juventus menjadi contoh kala menunjuk Paolo Maldini dan Gianluigi Buffon menjadi kapten.

Terakhir, jelaslah menjadi nilai mutlak dari pelatih jika kepemimpinan seorang pemain sangat dibutuhkan jika ingin menjadi kapten. Semau tahu jika sebuah tim – dalam terminologi dapat diaplikasikan lebih luas – butuh sosok hebat dengan kepemimpinan yang kuat.

Feeding Father

August 13th, 2012

Belakangan yang menarik perhatian saya adalah Malaga CF, klub asal provinsi Andalusia Spanyol. Bukan karena kejutannya yang menembus play-off Liga Champions  tetapi karena tindak-tanduk aneh klub tersebut di bursa transfer. Seperti yang kita ketahui, sejak diambil alih oleh Sheikh Abdullah bin Nassar Al Thani tahun 2010 klub ini tiba-tiba menjadi sebuah kekuatan fenomena bursa transfer – menyaingi duo Real Madrid dan Barcelona dengan membeli sejumlah pemain bintang sepakbola dunia.

Imbas dari kebijakan royal Malaga di bursa transfer bisa dilihat dari prestasi dua musim terakhir dengan lolos Liga Europa dan play-off Liga Champions, bahkan tidak menutup kemungkinan akan lolos fase grup jika berhasil melewati Panathinaikos. Padahal jika mengamati sepak terjang Liga Spanyol Malaga adalah klub medioker atau  bisa dibilang sering bolak-balik divisi satu-dua.

Lalu apa tintak-tanduk aneh Malaga?? ya mereka menjual pemain-pemain bintang macam Santiago Cazorla ataupun Solomon Rondon ke luar Spanyol. Ada apakah gerangan?? apakah Syekh Arab kehabisan duit atau ada masalah lain??.

Ternyata politik bermain dalam akusisi Malaga ke tangan sang Syekh. Pada saat sang Syekh hendak mengajukan bidding membeli Malaga, ia juga turut menyertakan proposal membuat pelabuhan khusus dan hotel bintang lima di kawasan Marbella – Marbella kebetulan berada di provinsi Andalusia. Pembelian Malaga adalah cara untuk membuat politisi dan pemerintahan lokal supaya jatuh hati pada sang Syekh.

Jelas Malaga dijadikan alat, tapi tidak ada yang peduli. Toh, tetap saja uang mengalir deras dari Syekh Al Thani ke klub guna membangun kekuatan Malaga CF. Tim terbang tinggi dan akhirnya mencapai kualifikasi liga champions – bahkan fans berharap Adebayor, van Persie, Tevez atau Sahin berlabuh di Malaga di musim depan.

Masalah kemudian muncul kala tiba-tiba Dewan Provinsi Andalusia menolak proposal Al Thani membangun pelabuhan kapal mewah dan hotel bintang lima.  Dapat dimengerti bila Syekh Al-Thani tidak senang, menunjukkan kemarahan di twitter, dan nampaknya tidak akan lagi menyokong klub dengan uang-uangnya.

Dampaknya jelas, Malaga yang masih memiliki utang pajak sekitar 30 juta euro harus menjual Cazorla dan Rondon untuk cara cepat melunasinya. Di masa depan, Malaga harus mencari sendiri pendapatan dan dana transfer klub. Bersyukurlah mereka lolos ke liga champions yang bertaburan uang, agar setidaknya dapat membangun lagi kekuatan mereka di masa depan.

——————————————————————————————————————————————————————

Agak aneh karena kisah Malaga hampir mirip dengan kebanyakan mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Karena sudah terlalu lama menjadi anggota kampus mereka lalu diultimatum orang tua dengan menyetop duit bulanan. Dapat dimengerti kemarahan orang tua tersebut karena memang idealnya 5 tahun seorang mahasiswa sudah bisa lulus.

Imbas dari ancaman tersebut mahasiswa akhirnya mencari kerja sampingan untuk bertahan hidup. Namun dengan bekerja ini diharuskan bisa membagi waktu antara studi – spesifiknya bisa tugas akhir – dan kerja. Jika tidak akan kolaps sendiri, kuliah berantakan kerja jadi tidak menentu.

Memang orang tua tidak se-ekstrim Syekh Al-Thani dalam tujuan menyokong dana, hanya ingin anaknya lulus kuliah. Namun dari sini kita bisa melihat persamaan bila seorang – bisa juga sebuah grup – feeding father suatu saat bisa menghentikan dukungannya pada kita bila kita terlalu terlena. Terlepas dari alasan-alasan mereka mencopot sokongannya, kita wajib bersiap untuk stand on our knee in order to survive.

Kenangan Yang Terulang??

August 8th, 2012

Entah mengapa saya teringat kembali kenangan ketika SMP. Kenangan ketika bersekolah yang penuh dengan hal-hal unik, kadang terkesan miris. Mulai masuk kelas I, saya dianggap pendiam sehingga jarang terlihat bersama hingga akhirnya masuk kelas II menemukan teman yang bisa dibilang cukup dekat.  Mereka adalah Danu dan Bimo.

Umumnya murid-murid SMP yang cenderung berkelompok, berbagai hal kita lakukan bersama mulai dari membentuk kelompok tugas hingga pulang sekolah bersama. Keakraban berlanjut hingga SMA sampai akhirnya kami terpisah saat  memasuki tahap perguruan tinggi. Bimo di Sleman, Danu di Jogja dan saya sendiri tetap di kampung halaman, Bengkulu.

Sebelumnya tidak pernah saya menanggapi kelakar-kelakar masa SMP ketika bersama mereka secara berlebihan. Sampai saya ingat sesuatu yang pernah mereka katakan ketika pulang bersama.

Bimo : “Eh, nanti kalau sudah besar pastilah kita bisa punya rumah bagus, bertetangga dalam satu komplek?? iya kan Nu??”

Danu : “Iya kita tinggal di tempat yang penuh dengan cahaya terang. Sepri biarkan saja di tempat gelap penuh sarang laba-laba di belakang gang”

Siapapun tahu jika anak SMP yang bicara demikian pastilah tidak perlu ditanggapi serius, ditambah pula memang saya tidak mengerti betul maksud mendalam dari kata-kata tersebut sehingga tidak perlu repot-repot menanggapi.

Lagipula saya sadar peran saya di sebuah komunitas pertemanan dari dulu tidak pernah berubah : sebagai objek penderita kelakar :D .

Masalahnya adalah mengapa yang diucapkan mereka sampai saat ini mendekati kebenaran?? Ya mendekati kebenaran jika melihat Danu yang sudah bekerja dan keliling Indonesia serta Bimo yang terlihat enjoy dengan pekerjaan barunya. Saya sendiri masih berjuang dengan sidang tugas akhir, what a irony!!!

Pada akhirnya saya berharap ini hanya sebuah kebetulan, kebetulan yang terlalu bagus untuk bisa terjadi. Karena saya percaya apa yang diusahakan manusia itulah yang akan didapatkan manusia bersangkutan – selama Tuhan masih mengizinkan. Dari situ saya bisa instrospeksi diri pada kekurangan yang masih sering saya lakukan.