Carut marut dan kematian di sepakbola

August 24th, 2012 by seprisubarkah Leave a reply »

Bagi para pecinta sepakbola, menonton sepakbola bukan sekedar menyaksikan 22 pemain berebut bola, lebih dari menonton sepakbola memberikan kesenangan tersendiri.

Ada sesuatu yang beda ketika mendukung suatu tim yang bertanding seakan terikat dalam satu emosi yang dalam, bahkan kadang-kadang emosi yang terlibat melebihi dari apa yang pernah diperkirakan orang-orang terdekat.

Seringkali menonton sepakbola menjadi obat mujarab keluar dari tekanan hidup. Seakan sepakbola menjadi sebuah penisilin dan rekan-rekan se-penonton (kadang rekan-rekan nobar satu komunitas) menjadi dokter-dokter dadakan.

Tidak masuk akal jika tiba-tiba ketika menonton sepakbola berbuah kematian – terlepas bahwa kematian bisa terjadi dimana saja.  Belgia menjadi saksi perihnya tragedi Heysel Belgia kala mempertemukan Juventus – Liverpool. Inggris menjadi tuan rumah tragedi suporter Hillsborough.

Russia Terkena dengan tragedi Luzhniki. Sedangkan di Mesir baru-baru ini kerusuhan sepakbola terjadi di dalam stadion ketika pertandingan Liga Mesir dilangsungkan.

Tragedi-tragedi diatas terjadi didalam lapangan, lebih tepatnya terjadi tanpa sengaja, secara tiba-tiba dan sangat populer di kalangan pecinta sepakbola. Namun disini akan diceritakan sebuah kisah pahit sepakbola yang menjadi sebuah hukuman mati yang disengaja dan jarang terdengar khalayak ramai.

——————————

gp_mog-slideshow16

Di Somalia, segala aspek sepakbola telah tereksekusi kekejaman para dewa perang. Selama bertahun-tahun, negeri yang telah mengalami krisis kelaparan,perpecahan,dan kemiskinan ini mencoba bangkit bersatu kembali  melalui sepakbola. Sepakbola seakan membantu melupakan sejenak penderitaan mereka.

Somalia telah terpengaruh oleh klan fundamentalis yang menggulingkan berbagai rezim pemerintahan sejak 1980. Semua aspek termasuk sepakbola tidak luput dari pengaruh para dewa-dewa perang fundamentalis ini. Salah satu klan kejahatan Somalia adalah Al Shabab.

Al Shabab melarang para pemuda menonton dan memainkan sepakbola. Bagi yang melanggar terancam akan dibunuh, dan itu bukan sekadar ancaman. Selama Piala Dunia 2010, dua pemuda Somalia terbunuh karena kedapatan menonton sepakbola di televisi. Lain itu, klan tersebut terlibat dalam bom mobil yang menewaskan Abdi Salaan (seorang pemain bola muda berbakat) bersama 10 lainnya.

Pembina klub-klub bola lokal juga ditangkap dan dituduh merusak generasi muda dengan sepkabola. Jurnalis juga kena getahnya. Seorang jurnalis terbunuh Maret lalu setelah meliput pertandingan sepakbola. Sebuah situasi yang sangat-sangat tidak kondusif bagi talenta-talenta lokal untuk berkembang.

Tidak heran jika pemain-pemain muda lebih memilih hijrah ke luar negeri untuk menyelamatkan karir. Contohnya adalah Cisse Aadan Abshir. pemain ini adalah pencetak gol terbanyak sepanjangan sejarah timnas Somalia dengan 30 gol.

Kini ia bermain di klub Norwegia Eidsvold Turn. Pada 2011 kemarin ia dinobatkan sebagai pemain terbaik Somalia selama satu dekade.

Belum lagi kalau menyebut bakat-bakat muda lain yang memilih keluar negeri seperti :  Liba Habdi (Ferencvaros Hungaria), Ayub Daud (Juventus Italia), Abisalam Ibrahim (Manchester City Inggris). Abisalam konon menjadi pemain Somalia pertama yang bermain di Liga Inggris.

————————

Jauh dari Afrika, mari menengok Indonesia. Negeri kepulauan Hindia ini memiliki sisi pahit sepakbola berbeda dari Somalia. Di Indonesia lumrah terjadi yang namanya kekerasan antar suporter. Para basis suporter klub tertentu di Indoensia memang memiliki sensivitas tinggi terhadap basis suporter klub lain.

Kasus terkenal adalah ketika seorang suporter Persib Bandung tewas dikeroyok suporter Persija Jakarta kala Persib Bandung tandang ke stadion Gelora Bung Karno – yang diklaim sebagai kandang Persija. Persija-Persib dikenal memiliki rivalitas suporter yang panas.

Ditengarai perselisihan dikarenakan persaingan gengsi antar kota besar Indonesia. Bandung dengan kota mode, Jakarta dengan metropolitannya membuat kedua kubu enggan mengalah.

Situasi buruk sepakbola Indonesia tidak sekadar terjadi di level suporter, level atas turut terpengaruh – bahkan bisa dibilang bobrok level atas mempengaruhi bobrok keseluruhan sepakbola Indonesia. Jika di satu negara hanya memiliki satu federasi sepakbola, Indonesia punya dua : KPSI dan PSSI.  Namun yang diakui FIFA hanya PSSI.

Bagaimana bisa ada dua induk?? ceritanya kubu KPSI adalah pengurus PSSI era lama pimpinan Nurdin Halid yang terguling. Konon pihak yang menggulingkan adalah para pengurus PSSI sekarang sehingga pihak pengurus PSSI lama membentuk induk sepakbola tandingan, KPSI. Jelas rebutan kekuasaan terjadi karena ada banyak kepentingan.

Situasi sepakbola Indonesia tidak seperti Somalia. Penduduk Indonesia bebas menonton atau bermain sepakbola. Namun situasi sepakbola di Indonesia membunuh prestasi sepakbola Indonesia sendiri. Tidak ada bedanya dengan klan-klan kejahatan Somalia, namun objek terbunuhnya saja yang berbeda.

Nasib baik masih memayungi Indonesia karena biarpun sekarang seakan sepakbola terbunuh pelan-pelan, setidaknya negeri itu masih bisa merebut
medali-medali emas turnamen multicabang area regional atau ikut serta di kejuaraan level Piala Asia. Peringkat FIFA Indonesia masih di kisaran 150-an dunia.

Bandingkan dengan Somalia yang tidak pernah merebut prestasi apapun, bahkan ikut Piala Afrika saja tidak pernah. Peringkat FIFA SOmalia sendiri di kisaran 190-an kebawah.

—————————–

Tetapi segala sesuatunya diusahakan membaik di dua negara tersebut. Dengan kekuatan militer yang memaksa para fundamentalis keluar dari Mogadishu, sepakbola kembali memliki harapan.

Federasi Somalia meluncurkan slogan “letakkan senjata,mari main sepakbola” untuk menyemangati para pemuda untuk bermain sepakbola dan meninggalkan senjata serta kekerasan.Turnamen sepakbola untuk kedamaian pun digelar di Mogadishu.

Dari sisi teknis Federasi Somalia menunjuk wakil di Eropa dan Amerika untuk mempromosikan sepakbola Somalia dan mengusahakan bantuan keuangan untuk federasi sepakbola Somalia. Disamping itu federasi juga mengadakan kursus kepelatihan untuk mencetak pelatih-pelatih muda.

Somalia juga akan mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2014 Brazil dan mengikuti kejuaraan-kejuaraan persahabatan antar negara-negara Afrika Tengah.

Sedangkan Indonesia tengah bersiap menapaki Piala AFF 2012 di Malaysia-Thailand. Kisruh suporter disiasati dengan nota kesepahaman antar suporter dan menciptakan komunitas satu suporter Indonesia.

Jadi jika suporter di Palembang kedatangan tamu suporter dari Jakarta, maka akan disiapkan segala keperluan akomodasinya, dan nampaknya akan menular ke kelompok-kelompok suporter lainnya.

Kisruh kepengurusan induk federasi diusahakan dengan membentuk sebuah rekonsiliasi. Sekarang progres masih berjalan lambat karena kedua kubu induk federasi yang bertikai masih setia pada ego masing-masing. Mudah-mudahan jika juara Piala AFF, makin memperbaiki situasi sepakbola
Indonesia.

Advertisement

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 in addition to 4?