Archive for September, 2012

Happiness : The Power of Giving

September 23rd, 2012

“Bahagia itu sederhana”, itulah kata-kata yang saya dapat dari seorang teman di twitter tentang bagaimana ia menghabiskan waktu malamnya bersama sepotong baju tidur dan gadget Blackberry sambil tiduran. Yah, logikanya ia sangat begitu keletihan usai aktifitas seharian.

Memang aktifitas sehari-hari membuat kita jenuh, pusing, stress dan sejenisnya, dan kita membutuhkan sesuatu untuk membunuhnya. Cara membunuhnya pun sesuai dengan deskripsi bahagia menurut kita.

Saya, yang masih sibuk menyelesaikan tugas akhir, memang tidak terlalu sibuk teman saya yang tadi karena ia memang telah bekerja di sebuah bank. Tetapi bisa dibayangkan bagaimana jika tugas akhir seorang jurusan teknik elektro dengan basic tugas yang belum pernah dipelajari selama kuliah??, yah itulah yang saya hadapi.

Belakangan, saya menemukan kesenangan dalam hal baru : mengajar. Basi memang jika membandingkan pengalaman saya mengajar dengan teman-teman seangkatan. Tapi konteks saya mengajar disini adalah lebih dari seorang murid dan guru, dengan tambahan keikhlasan memberi – bukan lebay :p .

Sederhananya, anak-anak datang ke rumah dengan niat belajar, maka saya akan bantu – terlepas dari mereka akan membayar atau tidak, itu urusan ke-seribu menurut saya. Memang tujuan utama mereka belajar dengan ibu saya yang juga guru SD, tetapi tidak ada salahnya bila saya membantu.

Alasan saya membantu sederhana, karena jumlah anak-anak tidak sebanding lagi dengan kekuatan ibu saya untuk mengajar. Jadi saya bagi dua kelompok belajar dengan masing-masing kelompok 5 orang. Alasan lain adalah mendekatkan diri saya dengan anak-anak jika saja mereka datang belajar ketika ibu saya sudah pergi haji nanti (29/9).

Dan sesuai jargon “bahagia itu sederhana”, saya menemukan kebahagiaan berinteraksi dengan anak-anak, bermain dengan mereka. Saya sadar untuk mendekatkan diri dengan mereka saya perlu menyaru menjadi salah satu dari mereka, tentu tidak jika saya dengan orang dewasa. :D

Anak-anak yang masih lugu, sangat senang jika saya dengarkan mereka, apapun yang mereka bicarakan – asal masih dalam koridor anak-anak. Lagipula rasanya sangat menyenangkan kembali menjadi seorang yang bermain lepas, tidak terpikirkan semua masalah – jika saya bersama mereka, dan menambah semangat saya untuk memberi yang terbaik untuk mereka.

“Bahagia itu sederhana”. Bermain, belajar, berinteraksi bersama mereka sangat menyenangkan dan bahagia. Kekuatan memberi ini semoga saja terus berlanjut mungkin jika saya sudah masuk fase kehidupan yang lain. :)

cimg0072

Happy Birthday my dear Dinri, This post is dedacated for you all. :)

Mengapa Arsenal Memerlukan Serangan Balik??

September 21st, 2012

Gol Lukas Podolski ke gawang Liverpool : Hasil serangan balik

Gol Lukas Podolski ke gawang Liverpool : Hasil serangan balik

Berkaca pada partai-partai Arsenal di awal-awal musim ini, satu hal yang bisa dibaca : Arsenal selalu kesulitan menghadapi pertahanan kuat tim papan bawah, sebaliknya selalu menangguk untung ketika lawan bermain terbuka.

Partai melawan Sunderland dan Stoke City membuktikan hal tesebut. Arsenal harus puas bermain kacamata 0-0 meski mendominasi pertandingan. Saat lawan Liverpool, Southampton, dan Montpellier mereka menangguk kemenangan 2-0, 6-1, dan 2-1, dan ketiga lawan Arsenal terakhir bermain terbuka.

Tidak heran memang Arsenal memerlukan strategi serangan balik kilat. Sejak era Thierry Henry cs, inilah senjata utama mengalahkan lawan. Bukannya meremehkan strategi umpan-umpan pendek Arsene Wenger, tetapi kenyataannya Arsenal bukan Barcelona. Arsenal tidak memiliki pemain berkemampuan tinggi melewati 2-3 pemain lawan seperti pemain-pemain Barcelona.

Pada pola serangan balik, diperlukan winger-winger lincah untuk berlari, melewati lawan dengan kecepatan. Selain itu diperlukan juga finisher-finisher dingin yang cermat membaca permainan serangan balik.

Thierry Henry dan Robert Pires sangat sukses memainkan pola serangan balik tersebut kala memainkan laga melawan Inter Milan di San Siro 2004. Hampir seluruh gol dicetak lewat serangan balik. Prosesnya kebanyakan terjadi lewat kecepatan Thierry Henry melewati Javier Zanetti dan Robert Pires atau Jeremie Alliadiere yang muncul dari belakang mengeksekusi umpan hasil kreasi Henry.

Partai lain juga begitu. Melawan Liverpool juga pada musim 2003-2004 malah dua kali Henry dan Pires mencetak gol kemenangan lewat serangan balik.

Balik ke musim sekarang, Arsenal sangat mengeksploitasi kecerdasan Santi Cazorla dan Lukas Podolski dalam melakoni serangan balik. Lihat gol pertama ke gawang Liverpool, Cazorla sangat pintar membawa bola ditengah sembari memberi ruang kosong di sisi kiri untuk Podolski hingga pemain terakhir mencetak gol pertama.

Sedikit perbedaan gaya serangan balik dimana serangan-serangan balik Arsenal musim ini sering melalui Arteta-Cazorla di tengah untuk memberi umpan terbosan ke Giroud-Podolski, sedangkan dulu lebih variatif dengan Pires dan Ljungberg (sayap) serta Henry (striker) sebagai tumpuan serangan balik. Simpelnya, sekarang lebih mengandalkan peran seorang playmaker daripada dulu yang murni mengeksploitasi sayap.

Jangan lupakan, awal mula dari serangan balik yang baik adalah pertahanan yang kokoh. Itu dibuktikan dengan duet bek tengah Sol Campbell dan Kolo Toure yang berhasil membawa Arsenal tidak terkalahkan sepanjang musim 2003-2004. Logikanya, tak terkalahkan berarti kekuatan lini belakang sangat kokoh.

Dengan kehadiran Steve Bould musim ini, sangat terlihat lini belakang Arsenal kelihatan lebih rapi dari musim-musim sebelumnya. Memang Arsenal sebelum era Steve Bould menjabat sebagai asisten manajer, mengalami sindrom blunder/kesalahan lini belakang. Hampir setiap pertandingan selalu melakukan blunder.

Terima kasih kepada latar belakang Bould yang merupakan salah satu fantastic four lini belakang di era keemasaan (sekitar 1995-2000) bersama Tony Adams, Nigel Winterburn, dan Lee Dixon. Fans Arsenal menyebut membaiknya lini belakang Arsenal musim ini sebagai sebuah Bould’s effect.

Akan kita lihat bagaimana Arsenal menghadapi ujian sesungguhnya kala menghadapi juara bertahan Manchester City minggu (23/9) ini. Akankah strategi serangan balik kembali membawa keberuntungan untuk Arsenal – mengingat City akan bermain menyerang di kandangnya.

Atau Arsenal kembali ke pola umpan-umpan pendek gaya lama??. Yang jelas tiga kemenangan terakhir  membuktikan serangan balik cepat memang pilihan yang tepat.

“The Rugby” Stoke City

September 16th, 2012

crouch-1200

Sejak pertama kali promosi ke Liga Primer Inggris tahun 2008, banyak yang menganggap Stoke City tidak akan bertahan lama di kasta tertinggi sepakbola Inggris. Wajar saja, itulah pertama kali sejak era millenium baru klub dari utara Inggris tersebut baru mencicipi kasta tertinggi, sebelumnya hanya berkutat di championship atau league one.

Namun prediksi kemudian meleset. Tidak seperti kebanyakan klub promosi yang canggung main di pentas utama, Stoke tampil dengan apa adanya mereka : memainkan sepakbola simpel ala Inggris klasik. Hasilnya hingga kini The Potters sanggup bertahan di Liga Primer.

Bagaimana sepakbola simpel ala Stoke City?? praktis mengandalkan kekuatan pemain, duel-duel udara, permainan keras ala “rugby”, dan memanfaatkan set pieces. Semua orang tahu hal tersebut, namun baru sadar kekuatan tersebut ketika Stoke memainkan tahun keduanya di Liga Primer.

Wajar jika disebut tim rugby karena kadangkala permainan terlalu keras diterapkan anak-anak The Potters. Yang terkenal adalah kasus tekel maut Ryan Shawcross terhadap pemain Arsenal Aaron Ramsey di musim 2009-2010. Atau cara mencetak gol melalui throw in jauh ala Rory Delap. Jadi wajar tim rugby identik dengan Stoke City.

Melihat statistik, hanya 39% penguasaan bola rata-rata musim lalu. Dilanjutkan dengan memenangkan 15,3 duel-duel udara setiap game, 14 gol dari permainan terbuka serta 20 gol dari set pieces/bola-bola mati. Simpel, sangat mengandalkan fisik, dan mematikan.

Salah satu peran penting pola penyerangan ala Stoke City adalah sayap. Pemain sayap yang dimiliki harus handal ,cepat,dan tepat mengumpan. Tinggal bagaimana bola umpan pemain sayap dimanfaatkan Peter Crouch, atau Kenwayne Jones – entah dieksekusi langsung atau dipantulkan ke lini kedua.

Jermaine Pennant, sang pemain sayap kanan, sangat vital untuk tim. Musim lalu ia membuat rata-rata 2,3 umpan silang per game dan dilanggar 1,7 kali per game. Biasanya jika dilanggar akan menghasilkan bola-bola mati, atau throw in, yang siap dimanfaatkan Crouch cs.

Musim ini, Stoke kedatangan pemain baru : Michael Knightly dan Charlie Adam. Khalayak beranggapan kedatangan kedua playmaker adalah cara pelatih Tony Pullis mengurangi ketergantungan terhadap pola lama. Namun kenyataan justru sebaliknya.

Knightly yang berposisi sayap kanan – bergantian dengan Pennant – telah menghasilkan rata-rata 1 umpan silang per game, dan 1,7 pelanggaran atas dirinya per game. Lebih baik dari Pennant yang baru menghasilkan satu crossing. So, Pullis nampaknya ingin lebih menajamkan sayap untuk mendukung taktik lamanya.

Agak menarik justru kedatangan Charlie Adam dari Liverpool. Adam dikenal dengan playmaker cerdas bertipe Andrea Pirlo, berkebalikan dari filosofi Stoke yang terkenal kuat, dispilin, dan keras.

Berposisi playmaker kadang menempatkan pemain di sentral lapangan. Di Stoke City, dua gelandang tengah biasanya adalah bertipe perusak, breaker. Itu yang didapat dari duet gelandang tengah Stoke musim lalu, Glenn Whelan dan Dean Whitehead.

Statistik berbicara, Whelan membuat rata-rata 1,9 tekel dan 1,5 intersep per geme musim lalu. Sementara Whitehead membukukan rata-rata 1,7 tekel dan 1,4 intersep.

Itu masih kalah dibanding kerja Adam bersama Liverpool musim lalu. Ia membuat 2,2 tekel  dan 1,6 intersep per game musim lalu. Walau Adam lebih banyak bertarung di tengah daripada melakukan defensive pressure ala Whelan dan Whitehead.

Menarik ditunggu bagaimana Adam yang kemarin bermain terbiasa menyerang bersama Liverpool kini harus agak lebih bertahan – menyesuaikan pola Stoke City yang cenderung bertahan – untuk menghadang serangan lawan.

Bisa saja Adam berperang vital dalam serangan balik, mengingat kreativitas cerdasnya atau berperan dobel dalam bertahan dan mengeksekusi bola mati – salah satu kelihaiannya kala di Blackpool (2010).

Menarik ditunggu bagaimana anak-anak Stoke menerapkan pola lama mereka yang kini dipertajam lagi. Hasil awal Liga Primer telah mengindikasikan ke arah sana, dimana seluruh laga (4 laga)  diakhiri imbang!!! (termasuk melawan Arsenal dan Man. City).

Mengingat target mereka yang hanya bertahan di kasta tertinggi – sembari berharap lolos ke eropa – maka tak heran pola sederhana : bertahan, disiplin,kuat,keras,dan mengandalkan umpan panjang akan terus digunakan hingga akhir musim.

Arsenal dan Kegagalan Tiki-Taka

September 9th, 2012

arsenalvsunderland-premierleague

Arsenal adalah tim yang dikenal dengan pola penyerangan dari kaki ke kaki melalui umpan-umpan pendek ala Barcelona,atau tiki-taka. Namun pada awalnya Arsenal tidak memainkan pola bola-bola pendek dan umpan-umpan dari kaki-ke-kaki. Pada era Thierry Henry cs, Arsenal sangat sering memainkan pola serangan balik nan cepat, memanfaatkan dua winger aktif ditambah kecepatan Henry.

Barulah pada era Cesc Fabregas menjadi jendral lini tengah atau tepatnya pada awal 2007, permainan umpan-umpan pendek menjadi ciri Arsenal hingga kini.

Belakangan kritik bermunculan ketika taktik Arsenal tersebut telah dibaca oleh lawan dengan baik mengakibatkan frustasinya awak-awak Arsenal, sehingga pola permainan tidak bervariasi, terlalu terpaku pada satu pola, hingga ujung-ujungnya lupa mencetak gol (karena terlalu sibuk mengoper bola).

Bukannya sekadar mengada-ada, tapi statistik telah menunjukkan bahwa hanya 35% dari seluruh tendangan pemain-pemain Arsenal berasal dari luar kotak penalty, jauh lebih sedikit dari persentase klub-klub lain liga Inggris.  Belum lagi jika melihat hanya 8% dari keseluruhan gol Arsenal hanya berasal dari bola-bola mati/set pices.

Artinya apa?? Arsenal terlalu ceria dengan skema-skema cantik sehingga lawan dengan mudahnya menaruh seluruh pemain di area 16. Statistik musim lalu Arsenal tersebut juga mengindikasikan ada problem mencetak gol dikala pertandingan-pertandingan ketat.

Logikanya dengan penuhnya pemain-pemain lawan di area 16, maka diperlukan suatu cara “kotor” untuk memboongkar pertahanan tersebut. Caranya tidak lain adalah dengan memanfaatkan bola-bola mati, atau dengan tendangan jarak jauh. Manchester City (sang juara) telah membuktikannya.

Parahnya, ketika Arsenal sibuk dengan membongkar pertahanan lawan dengan umpan-umpan pendek,  pertahanan mereka sangat rapuh ketika diserang balik. Partai melawan Wigan dan Swansea menjadi contoh nyata rapuhnya Arsenal dari serangan balik, dan jelas hal-hal diatas menjadi masalah Arsenal beberapa tahun belakangan.

Jadi apa yang dibutuhkan Arsenal untuk mengatasi masalah-masalah tersebut?? Jujur saja itu terletak pada manajer Arsene Wenger. Jika saja Wenger tidak terlalu mudah melepas pemain-pemain bintang, dan ditambah rekrutan baru dan pola yang dinamis, maka gelar juara bisa datang minimal satu tiap musim.

Dan musim ini, Arsenal ditinggalkan Robin van Persie sera Alex Song. Mengingat mereka adalah pencipta hampir setengah gol-gol Arsenal musim lalu, maka berharap rekrutan pengganti macam Santi Cazorla, Olivier Giroud,dan Lukas Podolski bisa beradaptasi  cepat dengan iklim EPL, untuk membuktikan bahwa pola umpan-umpan pendek dari kaki-ke-kaki masih bisa memberikan hasil untuk Arsenal.