Arsenal dan Kegagalan Tiki-Taka

September 9th, 2012 by seprisubarkah Leave a reply »

arsenalvsunderland-premierleague

Arsenal adalah tim yang dikenal dengan pola penyerangan dari kaki ke kaki melalui umpan-umpan pendek ala Barcelona,atau tiki-taka. Namun pada awalnya Arsenal tidak memainkan pola bola-bola pendek dan umpan-umpan dari kaki-ke-kaki. Pada era Thierry Henry cs, Arsenal sangat sering memainkan pola serangan balik nan cepat, memanfaatkan dua winger aktif ditambah kecepatan Henry.

Barulah pada era Cesc Fabregas menjadi jendral lini tengah atau tepatnya pada awal 2007, permainan umpan-umpan pendek menjadi ciri Arsenal hingga kini.

Belakangan kritik bermunculan ketika taktik Arsenal tersebut telah dibaca oleh lawan dengan baik mengakibatkan frustasinya awak-awak Arsenal, sehingga pola permainan tidak bervariasi, terlalu terpaku pada satu pola, hingga ujung-ujungnya lupa mencetak gol (karena terlalu sibuk mengoper bola).

Bukannya sekadar mengada-ada, tapi statistik telah menunjukkan bahwa hanya 35% dari seluruh tendangan pemain-pemain Arsenal berasal dari luar kotak penalty, jauh lebih sedikit dari persentase klub-klub lain liga Inggris.  Belum lagi jika melihat hanya 8% dari keseluruhan gol Arsenal hanya berasal dari bola-bola mati/set pices.

Artinya apa?? Arsenal terlalu ceria dengan skema-skema cantik sehingga lawan dengan mudahnya menaruh seluruh pemain di area 16. Statistik musim lalu Arsenal tersebut juga mengindikasikan ada problem mencetak gol dikala pertandingan-pertandingan ketat.

Logikanya dengan penuhnya pemain-pemain lawan di area 16, maka diperlukan suatu cara “kotor” untuk memboongkar pertahanan tersebut. Caranya tidak lain adalah dengan memanfaatkan bola-bola mati, atau dengan tendangan jarak jauh. Manchester City (sang juara) telah membuktikannya.

Parahnya, ketika Arsenal sibuk dengan membongkar pertahanan lawan dengan umpan-umpan pendek,  pertahanan mereka sangat rapuh ketika diserang balik. Partai melawan Wigan dan Swansea menjadi contoh nyata rapuhnya Arsenal dari serangan balik, dan jelas hal-hal diatas menjadi masalah Arsenal beberapa tahun belakangan.

Jadi apa yang dibutuhkan Arsenal untuk mengatasi masalah-masalah tersebut?? Jujur saja itu terletak pada manajer Arsene Wenger. Jika saja Wenger tidak terlalu mudah melepas pemain-pemain bintang, dan ditambah rekrutan baru dan pola yang dinamis, maka gelar juara bisa datang minimal satu tiap musim.

Dan musim ini, Arsenal ditinggalkan Robin van Persie sera Alex Song. Mengingat mereka adalah pencipta hampir setengah gol-gol Arsenal musim lalu, maka berharap rekrutan pengganti macam Santi Cazorla, Olivier Giroud,dan Lukas Podolski bisa beradaptasi  cepat dengan iklim EPL, untuk membuktikan bahwa pola umpan-umpan pendek dari kaki-ke-kaki masih bisa memberikan hasil untuk Arsenal.

Advertisement

3 comments

  1. uji says:

    kangen nih berkunjung kesini dengan sepakbolanya mas sepri..hehehe

    walau permainannya menjadi janggal, tapi arsenal terus melahirkan pemain bintang ya :)

  2. seprisubarkah says:

    @ kak uji “we don’t buy superstars, we make them and then we sell them” -___-

  3. inibudijepang says:

    Arsenal sudah seperti Indonesia, selalu dihati mesti sering menggemaskan.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 * 9?