“The Rugby” Stoke City

September 16th, 2012 by seprisubarkah Leave a reply »

crouch-1200

Sejak pertama kali promosi ke Liga Primer Inggris tahun 2008, banyak yang menganggap Stoke City tidak akan bertahan lama di kasta tertinggi sepakbola Inggris. Wajar saja, itulah pertama kali sejak era millenium baru klub dari utara Inggris tersebut baru mencicipi kasta tertinggi, sebelumnya hanya berkutat di championship atau league one.

Namun prediksi kemudian meleset. Tidak seperti kebanyakan klub promosi yang canggung main di pentas utama, Stoke tampil dengan apa adanya mereka : memainkan sepakbola simpel ala Inggris klasik. Hasilnya hingga kini The Potters sanggup bertahan di Liga Primer.

Bagaimana sepakbola simpel ala Stoke City?? praktis mengandalkan kekuatan pemain, duel-duel udara, permainan keras ala “rugby”, dan memanfaatkan set pieces. Semua orang tahu hal tersebut, namun baru sadar kekuatan tersebut ketika Stoke memainkan tahun keduanya di Liga Primer.

Wajar jika disebut tim rugby karena kadangkala permainan terlalu keras diterapkan anak-anak The Potters. Yang terkenal adalah kasus tekel maut Ryan Shawcross terhadap pemain Arsenal Aaron Ramsey di musim 2009-2010. Atau cara mencetak gol melalui throw in jauh ala Rory Delap. Jadi wajar tim rugby identik dengan Stoke City.

Melihat statistik, hanya 39% penguasaan bola rata-rata musim lalu. Dilanjutkan dengan memenangkan 15,3 duel-duel udara setiap game, 14 gol dari permainan terbuka serta 20 gol dari set pieces/bola-bola mati. Simpel, sangat mengandalkan fisik, dan mematikan.

Salah satu peran penting pola penyerangan ala Stoke City adalah sayap. Pemain sayap yang dimiliki harus handal ,cepat,dan tepat mengumpan. Tinggal bagaimana bola umpan pemain sayap dimanfaatkan Peter Crouch, atau Kenwayne Jones – entah dieksekusi langsung atau dipantulkan ke lini kedua.

Jermaine Pennant, sang pemain sayap kanan, sangat vital untuk tim. Musim lalu ia membuat rata-rata 2,3 umpan silang per game dan dilanggar 1,7 kali per game. Biasanya jika dilanggar akan menghasilkan bola-bola mati, atau throw in, yang siap dimanfaatkan Crouch cs.

Musim ini, Stoke kedatangan pemain baru : Michael Knightly dan Charlie Adam. Khalayak beranggapan kedatangan kedua playmaker adalah cara pelatih Tony Pullis mengurangi ketergantungan terhadap pola lama. Namun kenyataan justru sebaliknya.

Knightly yang berposisi sayap kanan – bergantian dengan Pennant – telah menghasilkan rata-rata 1 umpan silang per game, dan 1,7 pelanggaran atas dirinya per game. Lebih baik dari Pennant yang baru menghasilkan satu crossing. So, Pullis nampaknya ingin lebih menajamkan sayap untuk mendukung taktik lamanya.

Agak menarik justru kedatangan Charlie Adam dari Liverpool. Adam dikenal dengan playmaker cerdas bertipe Andrea Pirlo, berkebalikan dari filosofi Stoke yang terkenal kuat, dispilin, dan keras.

Berposisi playmaker kadang menempatkan pemain di sentral lapangan. Di Stoke City, dua gelandang tengah biasanya adalah bertipe perusak, breaker. Itu yang didapat dari duet gelandang tengah Stoke musim lalu, Glenn Whelan dan Dean Whitehead.

Statistik berbicara, Whelan membuat rata-rata 1,9 tekel dan 1,5 intersep per geme musim lalu. Sementara Whitehead membukukan rata-rata 1,7 tekel dan 1,4 intersep.

Itu masih kalah dibanding kerja Adam bersama Liverpool musim lalu. Ia membuat 2,2 tekel  dan 1,6 intersep per game musim lalu. Walau Adam lebih banyak bertarung di tengah daripada melakukan defensive pressure ala Whelan dan Whitehead.

Menarik ditunggu bagaimana Adam yang kemarin bermain terbiasa menyerang bersama Liverpool kini harus agak lebih bertahan – menyesuaikan pola Stoke City yang cenderung bertahan – untuk menghadang serangan lawan.

Bisa saja Adam berperang vital dalam serangan balik, mengingat kreativitas cerdasnya atau berperan dobel dalam bertahan dan mengeksekusi bola mati – salah satu kelihaiannya kala di Blackpool (2010).

Menarik ditunggu bagaimana anak-anak Stoke menerapkan pola lama mereka yang kini dipertajam lagi. Hasil awal Liga Primer telah mengindikasikan ke arah sana, dimana seluruh laga (4 laga)  diakhiri imbang!!! (termasuk melawan Arsenal dan Man. City).

Mengingat target mereka yang hanya bertahan di kasta tertinggi – sembari berharap lolos ke eropa – maka tak heran pola sederhana : bertahan, disiplin,kuat,keras,dan mengandalkan umpan panjang akan terus digunakan hingga akhir musim.

Advertisement

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 plus 7?