Archive for September 21st, 2012

Mengapa Arsenal Memerlukan Serangan Balik??

September 21st, 2012

Gol Lukas Podolski ke gawang Liverpool : Hasil serangan balik

Gol Lukas Podolski ke gawang Liverpool : Hasil serangan balik

Berkaca pada partai-partai Arsenal di awal-awal musim ini, satu hal yang bisa dibaca : Arsenal selalu kesulitan menghadapi pertahanan kuat tim papan bawah, sebaliknya selalu menangguk untung ketika lawan bermain terbuka.

Partai melawan Sunderland dan Stoke City membuktikan hal tesebut. Arsenal harus puas bermain kacamata 0-0 meski mendominasi pertandingan. Saat lawan Liverpool, Southampton, dan Montpellier mereka menangguk kemenangan 2-0, 6-1, dan 2-1, dan ketiga lawan Arsenal terakhir bermain terbuka.

Tidak heran memang Arsenal memerlukan strategi serangan balik kilat. Sejak era Thierry Henry cs, inilah senjata utama mengalahkan lawan. Bukannya meremehkan strategi umpan-umpan pendek Arsene Wenger, tetapi kenyataannya Arsenal bukan Barcelona. Arsenal tidak memiliki pemain berkemampuan tinggi melewati 2-3 pemain lawan seperti pemain-pemain Barcelona.

Pada pola serangan balik, diperlukan winger-winger lincah untuk berlari, melewati lawan dengan kecepatan. Selain itu diperlukan juga finisher-finisher dingin yang cermat membaca permainan serangan balik.

Thierry Henry dan Robert Pires sangat sukses memainkan pola serangan balik tersebut kala memainkan laga melawan Inter Milan di San Siro 2004. Hampir seluruh gol dicetak lewat serangan balik. Prosesnya kebanyakan terjadi lewat kecepatan Thierry Henry melewati Javier Zanetti dan Robert Pires atau Jeremie Alliadiere yang muncul dari belakang mengeksekusi umpan hasil kreasi Henry.

Partai lain juga begitu. Melawan Liverpool juga pada musim 2003-2004 malah dua kali Henry dan Pires mencetak gol kemenangan lewat serangan balik.

Balik ke musim sekarang, Arsenal sangat mengeksploitasi kecerdasan Santi Cazorla dan Lukas Podolski dalam melakoni serangan balik. Lihat gol pertama ke gawang Liverpool, Cazorla sangat pintar membawa bola ditengah sembari memberi ruang kosong di sisi kiri untuk Podolski hingga pemain terakhir mencetak gol pertama.

Sedikit perbedaan gaya serangan balik dimana serangan-serangan balik Arsenal musim ini sering melalui Arteta-Cazorla di tengah untuk memberi umpan terbosan ke Giroud-Podolski, sedangkan dulu lebih variatif dengan Pires dan Ljungberg (sayap) serta Henry (striker) sebagai tumpuan serangan balik. Simpelnya, sekarang lebih mengandalkan peran seorang playmaker daripada dulu yang murni mengeksploitasi sayap.

Jangan lupakan, awal mula dari serangan balik yang baik adalah pertahanan yang kokoh. Itu dibuktikan dengan duet bek tengah Sol Campbell dan Kolo Toure yang berhasil membawa Arsenal tidak terkalahkan sepanjang musim 2003-2004. Logikanya, tak terkalahkan berarti kekuatan lini belakang sangat kokoh.

Dengan kehadiran Steve Bould musim ini, sangat terlihat lini belakang Arsenal kelihatan lebih rapi dari musim-musim sebelumnya. Memang Arsenal sebelum era Steve Bould menjabat sebagai asisten manajer, mengalami sindrom blunder/kesalahan lini belakang. Hampir setiap pertandingan selalu melakukan blunder.

Terima kasih kepada latar belakang Bould yang merupakan salah satu fantastic four lini belakang di era keemasaan (sekitar 1995-2000) bersama Tony Adams, Nigel Winterburn, dan Lee Dixon. Fans Arsenal menyebut membaiknya lini belakang Arsenal musim ini sebagai sebuah Bould’s effect.

Akan kita lihat bagaimana Arsenal menghadapi ujian sesungguhnya kala menghadapi juara bertahan Manchester City minggu (23/9) ini. Akankah strategi serangan balik kembali membawa keberuntungan untuk Arsenal – mengingat City akan bermain menyerang di kandangnya.

Atau Arsenal kembali ke pola umpan-umpan pendek gaya lama??. Yang jelas tiga kemenangan terakhir  membuktikan serangan balik cepat memang pilihan yang tepat.