Archive for November, 2012

Warna lain matchday 5 Liga Champions 2012-2013

November 29th, 2012

Matchday 5 liga Champions 2012-2013 memberikan sebuah warna baru tapi lama : munculnya penguasa baru dari level medioker. AC Milan dan Real Madrid harus puas memastikan posisi dua, sementara Chelsea nasibnya di ujung tanduk.

Bisa dibilang liga Champions musim 2012-2013 penuh kejutan, apalagi menjelang berakhirnya babak/fase grup. Tim-tim tradisional Eropa berhasil dibuat repot oleh tim-tim medioker yang bahkan masih dibilang anak baru di kompetisi atas Eropa.

Porto yang notabene juara liga Champions dua kali memang berhasil menguasai puncak grup A. Namun posisi puncak Porto bisa direbut oleh klub medioker yang mulai menanjak, Paris Saint Germain (PSG) karena di partai terakhir kedua tim akan bertemu.

Jalan kedua tim level menengah Eropa tersebut tentu akan lebih berat lagi di fase gugur, karena dipastikan persaingan akan lebih kuat. Tim-tim tradisional Eropa semua akan muncul di fase gugur tersebut.

Schalke yang dua kali mengganjal Arsenal kini memimpin grup B dengan 11 poin. Schalke akan memastikan posisi puncak jika berhasil mengalahkan Montpellier di partai terakhir, apapun hasil yang diraih Arsenal.

Shakhtar Donestk – tim menengah Ukraina – di grup E secara tak terduga berhasil membuat salah satu tim tradisional – Juventus atau Chelsea – akan tersingkir di fase grup. Shakhtar dengan poin 10 unggul 1 poin atas Juventus dan 3 poin atas Chelsea.

Jadi apapun hasil yang diraih Shakhtar di partai terakhir melawan Juventus tetap akan membawa mereka lolos ke fase grup. Sementara Chelsea sebagai juara bertahan harus menang atas Nordsjaelland sembari berharap Shakhtar mengalahkan Juventus agar mereka lolos ke fase grup. Sementara Juventus tinggal meraih hasil seri di partai terakhir untuk lolos.

» Read more: Warna lain matchday 5 Liga Champions 2012-2013

Arsenal-Liverpool : Seolah Kehilangan Karakter

November 28th, 2012

Jika dulu Liverpool dikenal sebagai raja Inggris di era 1980-an, maka Arsenal dikenal sebagai pengganggu hegemoni Manchester United di awal millenium. Kini kedua tim dikenal sebagai pesakitan. Ada apa sebenarnya??

Dibanding tim Inggris lainnya, Liverpool bisa dibilang yang paling sukses dengan parameter delapan belas juara liga Inggris ditambah 5 juara liga Champions. Belum lagi jika menghitung piala lokal dan piala UEFA. Namun banyak trofi yang diraih Liverpool adalah ketika masa 1970 hingga 1980 ketika The Reds dilatih Bill Shankly dan Bob Paisley.

Awal millenium baru pun tidak begitu buruk bagi Liverpool. Setidaknya mereka pernah merebut treble winners pada 2001, Piala FA 2006 serta liga Champions 2005.

Tetapi dari 1989 hingga sekarang belum satu-pun gelar liga Inggris yang didapat Liverpool. Treble winners 2001 tidak sama yang diraih Manchester United 1999. Liverpool 2001 meraih Piala UEFA, Piala Liga, dan Piala FA – tanpa gelar liga Inggris.

Paceklik gelar mulai datang pertengahan 2000-2010. Indikasinya berubah saat Fernando Torres datang pada 2007. Rafael Benitez sang pelatih mengubah karakter Liverpool yang bermain cepat dan mengandalkan bola-bola mati menjadi permainan rapat memendek khas Spanyol, demi mengakomodasi Torres.

Terbukti Liverpool gagal meraih satu-pun gelar dalam rentang Torres dan Benitez bekerja sama, hingga mereka berdua hengkang pada musim 2010-2011. Perombakan yang dilakukan Roy Hodgson dan Kenny Dalglish setelah era Benitez tidak begitu berdampak baik.

Kapten sekaligus simbol kesuksesan 2005 Steven Gerrard seperti lelah mengangkat Liverpool sendirian. Ia butuh rekan-rekan yang dapat menginspirasi kembali karakter khas yang ditunjukkan Liverpool saat masih berjaya.

» Read more: Arsenal-Liverpool : Seolah Kehilangan Karakter

Menjaga Sebuah Kultur

November 27th, 2012

Jika diibaratkan sebuah sistem, kultur sepakbola adalah bagian teratas dari penjalanan filosofi sepakbola sebuah klub. Kultur sepakbola terus ditopang dari era-era yang saling berantai dengan sebuah simbol kejayaan pada suatu era, sang pemain sepakbola.

Bisa dibilang Barcelona adalah klub terkuat saat ini. Tidak perlu saya jelaskan mendetil karena cukup melihat mereka bermain maka akan langsung menyadari bahwa mereka yang terbaik. Bukti klub terkuat pada era kini diperkuat berbagairaihan trofi mayor baik ditingkat individu maupun tim.Sebuah kebetulan kah?? tentu saja tidak karena melewati sebuah proses.

Dimulai jauh sebelum era sepakbola modern sekarang seorang dari Belanda yang membawa akar-akar totall football datang ke Barcelona. Dialah Johan Cruyff sang maestro.

Totall Football yang menjadi kultur sepakbola Barcelona adalah terjemahan langsung ke sepakbola dari karakter orang Belanda yang tergila-gila akan ruang dan spasi. Singkatnya karakter tersebut membuat pemain-pemain Belanda bisa merekayasa pikiran lawan dengan menciptakan ruang gerak sekecil-kecilnya ketika lawan menyerang.

Selanjutnya ketika menyerang, pemain-pemain Belanda akan menciptakan ruang gerak yang luas antar mereka sehingga lawan akan merasa lapangan akan menjadi sangat luas. Karena itulah totall football membuthkan kedinamisan gerak antar pemain.

Dengan totall football itu, Belanda berhasil menjuarai Piala Eropa 1988 dan menjadi tim paling menghibur di era 1970-an dengan gelar : Juara tanpa mahkota.

Filosofi permainan Belanda tersebut  tersebut kemudian ditanamkan Cruyff ke Barcelona dan terus digaungkan dari generasi ke generasi hingga yang terbaru yang kita kenal sekarang.

» Read more: Menjaga Sebuah Kultur

Mengenai Peran Asosiasi Sepakbola

November 26th, 2012

Peran asosiasi sepakbola sangat mempengaruhi performa tim nasional, disamping memliki pembinaan dan liga yang kompetitif. Maka jika salah satu dari ketiga komponen tersebut hilang, maka lihatlah Inggris atau Indonesia sebagai contohnya.

Negara sepakbola maju yang memiliki liga yang hebat bisa dipastikan memiliki tim nasional yang hebat pula. Tidak sepenuhnya benar jika kita melihat Inggris yang liga lokalnya sangat mendunia namun prestasi tim nasionalnya jalan di tempat.

Jerman, Spanyol, atau Italia mungkin contoh yang tepat. Bundesliga Jerman, La Liga Spanyol, dan Serie-A Italia telah mengudara di seluruh dunia, pun demikian prestasi timnas ketiga negara sangat stabil.

Namun apakah hanya dengan liga yang kompetitif dan mendunia saja bisa mempunyai tim nasional yang tangguh?? Belum tentu jika asosiasi sepakbola negara bersangkutan tidak mendukung, dalam hal ini saya bisa bilang carut marut.

Dalam sebuah artikel saya pernah membaca jika Juergen Klinsmann pernah mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa kesuksesan tim nasional Jerman selama ini di Eropa (3 juara Piala Eropa) dan dunia (3 juara dunia)  tidak memiliki resep khusus.

Klinsmann mengatakan hal tersebut karena pernah mengalami sendiri tim nasional Jerman kala memasuki persiapan dan fase final Piala Dunia 2006. Lebih lanjut ia mengatakan DFB (Asosiasi Sepakbola Jerman) memiliki peran yang besar dalam kesuksesan tim nasional.

Oleh DFB, Klinsmann diberi kuasa penuh dalam menjalankan metode kepelatihan mulai dari pemilihan pemain hingga penggunaan pola permainan. Setelah menentukan hal-hal taktis, ia kemudian mengajukan konsep permainan  ke DFB.

DFB yang menerima usulan dan konsep Klinsmann dan Loew – asisten pelatih saat itu – kemudian memilah yang baik. Kemudian tidak sekadar menyetujui konsep Klinsmann, namun DFB juga mensosialisasikan konsep permainan ke klub-klub Bundesliga untuk diterapkan.

Kinsmann dan DFB sepakat untuk berharap bahwa siapapun yang akan dipanggil akan terbiasa dengan pola yang akan digunakan Jerman di Piala Dunia 2006. Dan hasilnya, Jerman sukses mengubah pola bermain ortodoks mereka 3-5-2, berganti ke pola permainan menyerang yang diusulkan Klinsmann sehingga sukses menyabet juara ketiga Piala Dunia 2006.

Pola kombinasi manajerial pelatih Jerman – sekarang Joachim Loew – dan dukungan DFB kembali menunjukkan hasilnya sebagaimana yang kita lihat di  Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan terakhir Piala Eropa 2012. Dari ketiga turnamen tersebut, paling buruk Jerman berakhir di semifinal.

Spanyol dan Italia

Spanyol tidak sekejam Jerman. Asosiasi sepakbola Spanyol (RFEF) menugaskan pelatih tim nasional untuk menentukan pola dan skema permainan. RFEF kemudian melanjutkan proposal pelatih kepada anggota La Liga dan memastikan skema untuk tim nasional dapat dipahami oleh semua anggota.

Skema yang digariskan pelatih tim nasional tidak sebatas level senior, tetapi juga termasuk level junior U-15, U-17, hingga U-23. Beruntung pula Spanyol memiliki Barcelona yang sangat handal menyumbang pemain dalam segala level umur, atau Real Madrid juga katakanlah.

Tahu sendiri bagaimana skema Barcelona dalam possession football dan Real Madrid yang lihai memainkan serangan balik. Hasil yang didapat Spanyol sungguh luar biasa : Piala Eropa 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010.

Italia termasuk yang sadar akan tim nasionalnya. Untuk para pemain muda diberikan kompetisi sebangsa primavera hingga pelatihan wasit terkenal Coverciano. Asosiasi Sepakbola Italia (FIGC) sangat paham kultur sepakbola bertahan Italia, sehingga Juventus atau klub-klub lain yang menyumbang pemain tim nasional tidak canggung lagi memainkan pola bertahan.

Salah satu yang patut dikagumkan FIGC adalah cara mereka menangani tim nasional dalam masa krisis. Ketika hendak memulai Piala Dunia 2006 dengan kasus suap Calciopoli, FIGC segera mengisolasi tim nasional dari media agar bisa fokus. Lalu pemain yang terkait kasus suap langsung dikenai sanksi dicoret dari tim nasional, bahkan ada yang sampai masuk penjara.

Terbaru, ketika Italia kembali diguncang suap Scomessopoli cara yang sama diambil FIGC seperti tahun 2006. Korbannya salah satunya bek handal Domenico Criscito. Hasil yang didapat tim Italia : Juara Piala Dunia 2006 dan Juara 2 Piala Eropa 2012.

————————————————————————————————-

Apa yang dilakukan Jerman, Spanyol, dan Italia adalah sebuah pendekatan dan manajemen yang baik dari asosiasi sepakbola terhadap tim nasional dan komponen-komponen yang membentuk tim nasional yang kuat. Asosiasi-asosiasi sepakbola tersebut memainkan peran sentral untuk membentuk tim nasional yang tangguh dengan visi yang baik, wibawa yang kuat, dan cerdas.

Ah, lalu saya teringat timnas Indonesia yang ditahan Laos (26/11). :D

Chelsea – Man.City : Saatnya Bangkit!!

November 25th, 2012

Kedua tim tengah mengalami masa ujian. Jika nasib Chelsea di Liga Champions di ujung tanduk,maka Manchester City dipastikan gagal lolos grup. Mereka wajib bangkit di laga ini untuk menjaga momentum.

Tiga gol dari Juventus cukup untuk menuntaskan Roberto Di Matteo dari kursi pelatih. Di Matteo yang membawa Chelsea meraih gelar ganda musim lalu dianggap Roman Abramovich tidak cukup baik menangani Chelsea musim ini.

Memang, di awal start Chelsea cukup baik dengan mengemas 4 kemenangan dari 4 laga. Sebelum puncaknya ditahan Liverpool dan kalah dari West Brom dan Juventus. Alhasil mereka kini tertahan di posisi 3 grup E dengan 7 poin tertinggal 3 poin dari Shakhtar dan 2 poin dari Juventus. Di Liga Inggris, mereka tertahan di posisi 4 tertinggal dari United, City bahkan West Brom!!!.

Seperti diutarakan diatas, Chelsea sempat mendominasi Inggris dengan 7 kemenangan dan 1 seri sehingga memimpi sendirian dengan beda hampir 5 poin dari Manchester United, saat itu. Nah sesudah kemenangan melawan Spurs 2-4, roda seperti berbalik.

Dimulai dengan kalah dari Shakhtar di Liga Champions lalu kalah dari United di Liga Inggris. Kemudian setelah itu kemenangan tidak pernah lagi mampir di kubu Stamford Bridge. Ditengarai kekalahan kontroversial dari Manchester United lah yang menghancurkan Chelsea, dari mental serta fisik.

Maka dengan sederetan hasil tanpa menang itulah ditambah dibantai Juventus, Roberto Di Matteo didepak. Rafael Benitez sebagai boss baru Chelsea diharapkan membawa perubahan, terutama untuk Fernando Torres.

» Read more: Chelsea – Man.City : Saatnya Bangkit!!

Manusia Itu Bernama Ronaldo

November 16th, 2012

Cristiano Ronaldo Santos Aveiro, lahir di kepulauan terpencil Madeira Portugal 27 tahun silam.  Masa kecil hingga remajanya ia habiskan di tempat itu hingga umur 12 tahun bergabung dengan Sporting  Lisbon. Selanjutnya, seperti semua orang ketahui : bergabung dengan Manchester United di 2003 dan Real Madrid pada tahun 2009.

Di dua klub terakhir, Ronaldo hampir meraih segalanya. Tiga trofi liga Inggris, 1 Piala FA, 2 Piala liga serta dua paling fenomenal : trofi Liga Champions (2008) dan Piala Dunia  antar klub (2008). Semua bersama Manchester United.

Bersama Real Madrid ia meraih 1  Piala Raja dan Liga Spanyol. Itu semua belum termasuk penghargaan pribadi mulai dari pemain terbaik di Inggris hingga pemain terbaik dunia (2008). Bisa dikatakan 2008 adalah tahun panen gelar untuk Ronaldo.

Dengan sederet prestasi tersebut ditambah wajah rupawan, tak heran ia begitu melimpah dengan materi. Wanita?? jangan ditanya, berulang kali gosip-gosip media menjodohkan pria Portugal dengan model-model dan wanita cantik dari seluruh dunia.

Tidak lupa pula jika membicarakan Ronaldo, maka wajib membicarakan kehidupan malam, koleksi mobil-mobil mewah atau tampang sengak ketika bermain. Tampang sengak itu seolah-olah membuat orang berfikiran jika Real Madrid atau Portugal tanpa Ronaldo, maka bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Memang jika melihat penampilan Portugal, katakanlah seperti di Piala Eropa lalu, permainan Ronaldo mendominasi serangan-serangan Portugal. Seakan taktik Portugal telah terbuka : Mainkan bola, lalu beri ke Ronaldo, biar dia mengolahnya.Nasib baik jika Ronaldo bermain bagus. Namun jika bermain buruk?? partai Russia vs Portugal telah menjawabnya.

Dengan segala kelebihan-kelebihannya, tak jarang ia dibandingkan dengan Lionel Messi. Jose Mourinho menyebut mereka sebagai pasangan alien yang datang dari planet lain pasca El Clasico Oktober lalu.

Namun tak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya Ronaldo adalah seorang manusia yang patut dijadikan panutan – terlepas dari segala kesombongan yang orang sebut, kehidupan malam, wanita-wanita dan keglamorannya.

Untuk menjadi Ronaldo yang sekarang setidaknya diperlukan latihan dan disiplin yang ketat. Di kamp latihan Real Madrid setidaknya ia menghabiskan rata-rata 3-4 jam latihan selama sehari dan dalam seminggu ia berlatih sekitar 5 hari seminggu!!.

Latihan teknik tersebut diikuti dengan pola diet yang baik dimana ia memiliki keteraturan antara jam tidur, sarapan, makan siang dan makan malam dengan porsi makanan yang telah ditentukan.

Belum lagi  jika mempertimbagkan Ronaldo melakukan setidaknya 2000 kali push up, 3000 kali sit up, dan latihan pull up and down. Lihatlah bentuk tubuhnya ketika sedang membuka baju.

Komitmennya bersama tim tidak perlu diragukan lagi. Contoh terbaru adalah ketika ia mendapat cedera pelipis kala menghadapi Levante. Ia tetap bermain dan mencetak satu gol untuk  membantu Real Madrid menang 2-1.

Tiga hari berselang ia kedapatan tengah berlatih bersama timnas Portugal menjelang laga melawan Gabon. Nampaknya cedera pelipis seperti luka kecil untuknya.

Itu dari dalam lapangan, bagaimana Ronaldo menjadi panutan di luar lapngan. Adalah Albert Fantrau yang seorang sahabat Ronaldo pada masa remaja yang menjadi saksi.

Fantrau dan Ronaldo bermain bersama dalam satu tim di suatu kejuaraan di Portugal. Pada saat bersamaan, pelatih Sporting Lisbon datang menyaksikan sembari berjanji “siapa yang mencetak gol lebih banyak maka ia akan masuk akademi Sporting”.

Ronaldo mencetak gol pertama, Fantrau gol kedua. Pada proses gol ketiga, Fantrau berhasil melewati kiper lawan sementara Ronaldo berlari disampingnya. Logikanya Fantrau bisa langsung mencetak gol, sekaligus “memenangkan” tiket ke akademi.

Ternyata, ia mengoper ke Ronaldo sehingga ia hanya mencetak satu gol, Ronaldo dua gol hingga peluit akhir pertandingan. Fantrau hanya mengatakan pada Ronaldo bahwa ia lebih baik dari dirinya sehingga menganggap Ronaldo lebih pantas masuk akademi.

Waktu berjalan hingga kini menjadi Ronaldo yang menjadi superstar. Fantrau?? sejauh yang saya baca ia hanya menjadi pengangguran. Namun ia memiliki  rumah bagus dan mobil disamping membina keluarga. Darimana semua hartanya berasal?? Fantrau menjawab dengan bangga : “Semuanya pemberian Ronaldo.”

Well itulah manusia bernama Cristiano Ronaldo. Meski sering dicap buruk dengan kehidupan malam, glamor dan playboy, tidak salahnya mencontoh sesuatu yang baik dari Ronaldo : kerja keras, disiplin, dan tahu cara membalas budi.

Arsenal – Fulham : Bersiap Memulai Konsistensi

November 10th, 2012

Laga Arsenal vs Fulham akan dilangsungkan nanti malam (10/11) waktu Indonesia atau siang waktu Inggris. Sebelum laga ini, beberapa catatan tidak terlalu bagus menghampiri kedua tim. Namun yang perlu diperhatikan adalah munculnya kekuatan dari striker baru kedua tim. Bagaimana prediksi jalannya laga??

Sudah satu pekan terakhir Arsenal terus menuai hasil buruk, baik di Inggris maupun di kompetisi eropa. Di liga Inggris, Arsenal terakhir kali menang 2 minggu lalu atas juru kunci Queens Park Rangers. Terakhir mereka dihabisi Manchester United 2-1 pekan lalu.

Di Eropa sama saja. Schalke 04 yang notabene masih gurem di eropa sanggup merepotkan Arsenal. The Royal Blues berhasil mengalahkan Arsenal 2-0 di Emirates dan menahan 2-2 di Aufschalke Arena.

Praktis posisi Arsenal di liga lokal sama prihatinnya dengan di eropa. Di liga lokal mereka menempati posisi 7 dengan 15 poin, jauh dari eksistensi klub-klub besar lain. Sedangkan di eropa, mereka tertahan di posisi kedua dengan 7 poin tertinggal 1 poin dari pemuncak grup Schalke 04.

Skuad yang jomplang menjadi penyebab Arsenal gagal konsisten dari pekan ke pekan. Memang jika diperhatikan, line up yang sering diturunkan Arsenal selalu hampir sama. Paling hanya merotasi penyerang antara Walcott, Giroud, atau Gervinho.

Kedalaman skuad Arsenal memang terbilang parah. Sangat terasa sekali jika ada satu saja pemain kunci yang absen, maka pemain cadangan belum tentu bisa langsung nyetel dengan permainan. Belum lagi kualitas pemain pengganti Arsenal yang sangat meragukan.

Coba lihat seperti Chelsea atau MU jika mereka ditinggal pemain-pemain kunci karena cedera. Selalu ada saja yang bisa menggantikan dan kualitas pemain cadangan dengan pemain inti tidak begitu jauh. Itulah kelebihan memiliki kedalaman skuad yang bagus.

Lalu kenapa hanya itu-itu saja skuad Arsenal yang diturunkan?? Kenapa kedalaman skuad sangat buruk??. Kenyataannya itulah blunder strategi transfer Arsene Wenger yang menjual beberapa pemain kunci mulai dari zaman Patrick Vieira 2005 hinga Robin van Persie 2012.

Arsene Wenger dinilai terlalu mengedepankan sisi bisnis ketimbang prestasi. pertimbangannya adalah persaingan yang dibalut sistem financial fair play dimana sebuah klub harus mencapai titik keuntungan tertentu untuk bisa ikut serta dalam kompetisi sepakbola.

Namun apakah harus se-lebay itu mengantisipasi FFP?? coba tanya MU atau klub-klub besar lain.

————————————————————————————————

Di sisi sang tamu, Fulham, saat ini masih berada pada posisi satu strip tepat dibawah Arsenal. Terakhir kali mereka menang adalah tiga minggu yang lalu kala menghabisi Aston Villa di kandang sendiri. Dua laga terakhir Fulham menghasilkan hasil seri, 2-2 dengan Everton dan 3-3 dengan Reading.

Dilihat dari beberapa laga terakhir, kualitas penyerang yang bagus merata menjadi kekuatan utama Fulham. Dimitar Berbatov, Brian Ruiz, Hugo Rodallega, atau bahkan bek Chris Baird berperan penting atas 5 poin terakhir Fulham.

Satu lagi kekuatan Fulham adalah tidak bermain di eropa, sehingga mereka bisa menghemat tenaga menghadapi Arsenal. Tentu saja strategi serangan balik yang dalam dua pertemuan terakhir selalu mereka terapkan kala bersua Arsenal siap mereka pasang lagi.

Jika saja tidak ada perubahan pola main kedua tim dari beberapa pekan lalu. Maka diprediksi Arsenal akan mendominasi jalannya permainan, berusaha menembus tembok Fulham. Sementara Fulham lebih bertahan dengan memanfaatkan detil kecil pertandingan (set piece,pelanggaran,etc).

Kemungkinan hasil seri sagant besar di game ini. Pertandingan mungkin akan ditentukan bagaimana kedua tim mengatasi masa sulit mereka. Arsenal yang menembus tembok, atau Fulham yang keluar menyerang balik.

So, jikalau seri dituai, sulit bagi kedua tim kembali ke penampilan konsisten mereka. Jikalau menang maka bersiap untuk percaya diri menghadapi laga selanjutnya. Kedua tim perlu mendapatkan konsistensi untuk memperbaiki posisi mereka sekarang.

@ncdftrh99

November 5th, 2012

Memang sudah lama saya tidak bertandang ke rumah teman kuliah saya Nico Dafitrah (@ncdftrh99) karena saya sedang membutuhkan program yang kebetulan dia yang punya. Rumahnya agak masuk kompleks yang tidak terlalu kumuh juga tidak terlalu mewah, standar lah untuk kota-kota Indonesia.

Seperti biasa pertemuan dua teman lama, waktu dihabiskan dengan menanya kabar dan cerita lain tetek bengek sembari menyalin data ke flash drive saya.

Obrolan makin lama makin serius, dan yang menarik adalah tentang masa depan. Yah, masa depan. Tentang bagaimana nasib dia nanti dengan pacarnya yang sekarang, sampai menanyakan saya kapan punya pasangan?? Seperti heran saja melihat saya yang dari dulu begini. :D

Sepertinya saya mulai menangkap keresahan sang teman yang begitu mencintai pacarnya sekarang, atau dalam hal ini saya boleh bilang dia takut dipisahkan karena prinsip orang tua sang pacar.

Orang tua sang pacar ingin agar anaknya menikah dengan PNS. Hell yeah, PNS!!! Pegawai pemerintahan selamanya dengan standar gaji yang bisa diukur.

Sampai-sampai sang teman memprotes cara berfikir orang tua yang terlalu kolot, terlalu memuja bahwa PNS adalah sebuah pencapaian suci – di kota kami, entah di tempat lain. Padahal bekerja sektor lain potensial menghasilkan lebih banyak dari hanya seorang PNS – kata teman saya.

Tertawa adalah satu-satunya yang saya lakukan sembari berkata, ” Buktikan dulu kalau kerja lain bisa menghasilkan lebih banyak, baru protes ke orangnya”. Diserang setengah bercanda seperti itu teman saya malah seperti curhat takut kehilangan pacarnya.

“Kalau saya sih mudah saja, jodoh tidak akan kemana. Kalau cewek habis ya tinggal pacaran dengan cowok. Hidup ini jalani saja, jangan difikirkan nanti stroke”, begitu kira-kira balasan saya masih dicampur tawaan.

Obrolan lain malah lebih serius – atau yang lain bisa menganggap tidak jelas. Memang tidak jelas sekali bawaanya kalau kami membahas apa yang terjadi di Indonesia, hubungannya dengan pilpres Amerika, sampai kaitannya dengan teori konspirasi yang membuat saya kini anteng saja menanggapi yang berhubungan dengan negeri adidaya tersebut.

Dan agak teracuni fikiran negatif kalau kami mengobrol tentang tema-tema diatas. Sampai-sampai dia berfikir kalau lebih baik kiamat saja lah -__-. Ya sudahlah, jalani saja hidup. Itulah yang saya katakan padanya, tapi jangan lupa  dengan usaha. Hehehe :D

Teek..salinan data sudah selesai. Let’s go home

Balada Sang Gembala

November 4th, 2012

Ada suatu nilai tentang seorang gembala. Dengan domba-domba yang digiringnya, ia percaya dapat membawa mereka ke suatu tempat yang baik.

Dan ketika domba-domba telah dewasa, mungkin akan lupa jasa-jasa sang gembala. Namun gembala yakin, nilai dari sang penciptalah yang terus membuat ia maju meninggalkan memori tentang ia dan domba terdahulu.

Euforia kemenangan Manchester United (MU) atas Arsenal masih terasa untuk anak-anak – baik itu yang berkaitan dengan tim mapun para pendukung – MU. Kemenangan battle of old Trafford dengan musuh lama yang sedang sakit membuat mereka naik ke posisi utama liga Inggris menggeser Chelsea. Klub disebut terakhir kini sedang dalam masa ujian setelah pekan lalu (28/10) kalah menyakitkan dari MU dan seri dari Swansea (3/10).

Banyak yang mengatakan Robin Van Persie yang mengatrol permainan MU saat ini, ada juga yang berkoar skuad Mu sangat kompetitif di semua lini untuk merebut kembali gelar yang dicuri Manchester City. Apapun itu, saya menganggap ada sosok penting lain dalam kesuksesan dan kestabilan MU di papan atas liga Inggris : Sir Alex Ferguson.

Selayaknya pelatih-pelatih lain, Alex muda memulai karir sebagai pesepakbola di tanah kelahirannya Skotlandia. Tujuh belas musim dihabiskan bersama klub-klub seperti Aberdeen, St. Johnstone atau Falkirk.

Namun sebagai pemain ia tidak menghasilkan pencapaian sefenomenal angkatan-angkatannya, sebut saja,Franz Beckenbauer di Jerman atau Bobby Charlton di Inggris. Ia hanya meraih dua gelar juara divisi 2 bersama Falkirk dan St. Johnstone

Nasib berubah kala ia memutuskan menjadi manajer. Beberapa klub Skotlandia merasakan betul servis Alex dimana ia memberi beberapa gelar lokal dan gelar Eropa terutama untuk Aberdeen. Sepertinya ia tahu betul bahwa jalannya adalah di jajaran manajerial – dibuktikan dengan menjadi pelatih di usia sangat muda 32 tahun.

Paling terkenal adalah kesuksesannya bersama Manchester United sejak tahun 1986 hingga kini. Kesohoran pria pengunyah permen karet ini menjadi terkenal sejak liga Inggris masih berformat Divisi Satu atau setelah berformat Liga Primer. Total ia telah merengkuh 12 titel liga Inggris – lebih banyak dari sebuah klub bernama Chelsea!! – dan itu belum termasuk gelar-gelar lokal lainnya yang bisa mencapai puluhan gelar.

Tentu saja yang paling fenomenal adalah ia berhasil membawa MU menjadi klub pertama di Inggris yang meraih treble winners ­– juara Liga Inggris, juara Piala FA, dan juara Liga Champions – untuk menjadikannya sebagai pelatih tersukses di Britania Raya. Tak heran gelar sir melekat di depan namanya.

Hingga kini sir Alex masih konsisten membawa MU untuk terus meraih kejayaan bersama pemain-pemain binaannya. Mulai dari era Brian McClair, Mark Hughes, Ryan Giggs, David Beckham, Wayne Rooney hingga yang terbaru Danny Wellbeck dan Tom Cleverley cs.

» Read more: Balada Sang Gembala

Battle of Old Trafford : Lunturnya Sebuah Rivalitas

November 3rd, 2012

Arsenal dan Manchester United adalah dua klub besar Inggris, yang bersama Liverpool dan Chelsea membentuk kekuatan yang bernama The Big Four. Terbentuknya pola kekuatan empat tim tersebut dikarenakan pola distribusi gelar juara Liga Inggris yang bergilir antara keempat tim tersebut.

Liverpool mendominasi di era 1980 hingga 1990 awal, Manchester United bersama Arsenal mendominasi dari era 1990 akhir hingga 2000 awal  hingga terakhir Chelsea yang mendominasi dari pertengahah 2000 hingga awal 2010.

Menarik untuk disimak adalah Arsenal vs Manchester United (MU). Rivalitas yang terbentuk dari gesekan kedua klub murni urusan lapangan hijau – tidak seperti MU vs Liverpool yang mengedepankan ego kedaerahan – terlebih lagi ketika Arsene Wenger masuk ke Arsenal tahun 1997.

Arsenal menjadi satu-satunya pengganggu MU di Liga Inggris dari 1997-2005 dengan merebut liga Inggris 1998,2002,dan 2004. Dan dikala MU mendominasi Liga Inggris pun Arsenal masih bisa konsisten di posisi kedua.

Titik persaingan memuncak kala Arsenal menjuarai Liga Inggris 2002 dan 2004. Di tahun 2002, Arsenal yang tinggal menuai 1 poin saja untuk merebut juara Liga Inggris harus berkunjung ke Manchester United. Laga sulit, namun mereka berhasil membawa 3 poin slewat gol semata wayang Sylvain Wiltord. Hasil tersebut memastikan mereka menjuarai Liga Inggris 2002.

Di musim 2003-2004 adalah era tak terkalahkan Arsenal selama satu musim penuh sekaligus menjadi juara Inggris sehingga mereka dijuluki The Invicibles alias tak terkalahkan. Julukan tersebut diberi ketika mereka berhasil menahan MU di Old Trafford dengan skor 0-0 pada pekan keempat.

Laga yang dilangsungkan di Old Trafford tersebut diwarnai dengan beberapa insiden sehingga dijuluki The Battle of Old Trafford. Insiden dimulai dengan kartu merah kapten Arsenal Patrick Vieira di menit 80, lalu diikuti dengan dihadiahkannya penalti untuk MU setelah Martin Keown menjatuhkan Diego Forlan di menit-menit akhir laga.

Kemudian Ruud Van Nistelrooy gagal mengeksekusi penalti dipanas-panasi oleh Martin Keown. Lalu pemain-pemain lain yang ikut panas mulai terlibat baku hantam. Diantara mereka yang baku hantam terdapat nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Kolo Toure, dan Roy Keane. Hasil laga, 4 pemain MU mendapat kartu kuning dan dua kenai denda oleh FA. Satu pemain Arsenal mendapat kartu merah, 1 kartu kuning dan lima lainnya mendapat denda dari FA.

Final Piala FA 2004-2005 kembali mempertemukan Arsenal – MU di Cardiff. Bermain di tempat netral ternyata membuat MU kesetanan, selama 120 menit Arsenal digempur habis-habisan namun tak berhasil menjebol gawang Jens Lehmann.

Adu penalti memutuskan Arsenal berhak menjuarai Piala FA setelah penendang keempat MU, Paul Scholes gagal menaklukkan Lehmann. Sementara penendang terakhir Arsenal Patrick Vieira berhasil menjebol gawang Roy Carroll.

Mirisnya, Piala FA 2005 adalah gelar terakhir Arsenal hingga kini. Banyak juga yang beranggapan inilah rivalitas kompetitif Arsenal – MU terakhir. Kini Arsenal telah dianggap sebagai klub besar dengan ambisi juara seadanya semenjak mereka pindah dari stadion lama Higbury ke stadion baru Emirates.

Melemahnya rivalitas kedua kubu diperkuat dengan pernyataan Alex Ferguson pada tahun 2010 yang meminta pendukung MU berhenti mengejek Arsenal sebagai tim yang sakit.

Logikanya, pelatih yang dulu tak berhenti memainkan perang urat syaraf dengan Arsene Wenger kenapa tiba-tiba mengasihani Arsenal?? Atau Ferguson melakukan itu karena tidak menganggap Arsenal sebagai rival lagi??. Benar saja, Arsenal memang tidak lagi menjadi rival utama MU dengan penegasan kekelahan terbesar Arsenal atas MU 8-2 di Old Trafford pada Agustus 2011.

Menatap Battle of Old Trafford jilid 21 sejak era Premier League, Arsenal masih dalam performa tidak meyakinkan. Lini belakang masih saja keropos, lini depan tumpul,dan  tidak ada lagi kapten inspirator seperti Vieira dan Parlour yang mau bertarung. Arsenal cenderung menjadi tim lamban dengan hanya mengandalkan permainan bola-bola pendek.

Sementara MU masih saja berbahaya, cepat, dan memiliki variasi permainan yang baik. Masih MU dan  Alex Ferguson seperti yang era mereka medominasi Liga Inggris dulu.

Jika sudah begini, akankan rivalitas MU-Arsenal semakin luntur?? Akankan MU kembali menang mudah atas Arsenal??. Mari kita lihat nanti malam.