Archive for December, 2012

Life is for the taking

December 15th, 2012

Ada seorang anak, katakanlah si A, yang sedari kelas satu SMP – atau mungkin juga kelas 6 SD, saya tidak tahu pasti – sudah tahu pasti cita-cita apa yang ingin dicapainya. Terkesan biasa memang kalau mengingat masa lalu kita yang juga ditanya oleh guru tentang cita-cita.

Tapi saya sadar ditak sepenuhnya dari kita mengerti apakah memang benar cita-cita itu yang ingin kita kejar, maksudnya jika kita ditanya guru tentang cita-cita kelak banyak dari kita yang hanya sekadar menjawab. Setelah itu lepas perkara.

Dan belakangan si A aktif mengikuti lomba antar sekolah, OSN, dan kegiatan lainnya.

Lalu ada seorang anak lagi, katakanlah si B. Selama masa sekolah dasar ia telah meraih berbagai juara lomba mata pelajaran. Hingga sekarang kelas 7 SMP pun ia masih aktif mengikuti lomba, OSN bahkan PASIAD. Lebih banyak yang dia ikuti, makin banyak tekanan yang ia dapat. Ia sendiri mengaku memang mengeluh akan jadwalnya yang membuat dia tidak mempunyai waktu bermain lagi.

————————————————————————————————

Iri rasanya melihat mereka berkembang begitu pesat. Parameternya jelas, kegiatan-kegiatan yang mereka ikuti tentu membuat perkembangan mental, kedewasaan, dan emosi mereka jauh melebihi rata-rata anak seusia mereka. Proses akan membuat mereka berkembang, hasil yang dicapai urusan kesekian.

Mereka memang baru kelas 7 di SMP, atau masih gurem di kegiatan-kegiatan yang mereka dikuti sekarang. Belum lagi tekanan dari kakak tingkat mereka yang jelas-jelas menjadikan mereka ancaman baru untuk aktualisasi diri di sekolah.

Seiring berjalannya waktu, mereka akan menyadari hasil yang akan mereka tuai nanti. Semua pengorbanan mereka, akan terbayar dengan lunas. Semua keluh-kesah mereka, akan berganti dengan senyum penuh kesyukuran. Ujungnya,orang tua mereka akan bangga.

Jika sudah begini saya sekali lagi menyadari butuh usaha, pengorbanan, dan doa untuk mencapai hasil yang maksimal. Dan sekali lagi saya merasa miris dengan masa-masa sekolah yang saya alami.

Ya begitulah hidup, it’s up to you to get your life for the taking, or going where the wind blows..

#Now Playing :   Mr. Big РGoing Where The Wind Blows

Form is Temporary, Class is Permanent

December 2nd, 2012

Jika sebuah liga sepakbola adalah perlombaan maraton maka yang diperlukan adalah konsistensi gerak, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat. Konsistensi inilah yang berperan besar membuat sebuah tim menjadi tim yang berkelas.

Ada beberapa kejadian dalam dunia sepakbola yang mencerminkan judul diatas yang terjadi semalam (1/12). Yang paling tersohor adalah kekalahan Tim Nasional Indonesia – saya lebih senang menyebutnya Tim Nasional PSSI Djohar – dari tetangga Malaysia dengan 2-0.

Kalau mau jujur, sebenarnya kegagalan Indonesia di AFF Cup sudah bisa terdeteksi dari jauh-jau hari. Jangan melihat ketika laga 2 uji coba di senayan, namun lihatlah dari tahun-tahun awal ketika Djohar Arifin memegang PSSI.

Semua rekor buruk pelan-pelan mulai dipecahkan. Indonesia kalah 10-0 dari Bahrain dan hanya bermain 1-1 dengan tim yang bahkan tidak resmi, Kurdistan. Rekor kekalahan 10 golmembuat FIFA menyelidiki kasus ini apakah terindikasi suap atau tidak.

Dari sisi organisasi juga lebih buruk. PSSI yang mempunyai tandingan bernama KPSI hanya memperbolehkan Tim Nasional Indonesia memanggil pemain yang berlaga di Liga Primer, tidak Liga Super. Diskriminasi?? sangat jelas jika kita tahu siapa sebenarnya pemegang kekuasaan Liga Primer – PSSI dan Liga Super – KPSI.

Belum cukup dengan kontaminasi politik pada organisasi tertinggi, Tim Nasional Indonesia kembali tidak menjelaskan bagaimana sistem pembinaan pemain mudanya. Bagaimana kabar tim SAD Uruguay?? Bagaimana kelanjutan pemain-pemain juara hasil AC Milan Junior Camp?? Apa ceritanya pembinaan pemain juara Homeless World Cup??.

Maka dari tiga parameter Рliga yang terpecah dua, organisasi carut marut, pembinaan pemain kacau Рitulah maka tidak terlalu terkejut Indonesia gagal total di AFF 2012. Yang membanggakan adalah antusiasme penggemar TimNas Indonesia yang tetap tinggi menonton pertandingan AFF, walau  disuguhi performa buruk di tiga pertandingan grup B.

Kemenangan melawan Singapura pun saya anggap sebagai form bukan class. Indonesia bisa saja kalah lagi melawan Singapura jika saja Singapura bermain seperti melawan Malaysia. Atau jika mau berburuk sangka, pertandingan Indonesia vs Singapura saya anggap hasil pengaturan skor.

» Read more: Form is Temporary, Class is Permanent