Archive for July, 2013

Komentar Bocah-Bocah

July 26th, 2013

Hari mulai beranjak sore ketika saya dikejutkan dengan kedatangan tiga bocah SMP. Saya agak heran karena jarang-jarang mereka datang main ke rumah saya. Selidik punya selidik ternyata mereka perlu bantuan mengerjakan pekerjaan rumah.

Ketiga anak tersebut adalah Otek, Laras, dan Ica. Sebenarnya mereka bukan termasuk anak baru bagi saya karena masa SD mereka sering belajar bersama ibu saya. Hanya Ica yang saya belum kenal lebih jauh, hanya kenal-kenal saja.

Sepanjang sore kami habiskan dengan belajar dan bermain. In fact, lebih banyak main daripada belajar. Itu inisiatif saya saja mengingat mereka sepanjang hari berkutat dengan pelajaran. Jadi hanya materi yang mereka belum paham saja yang saya jelaskan lebih rinci.

Anyway, selama bermain itu saya menemukan kata-kata ajaib yang keluar dari mereka. Berikut rinciannya :

“Kalu HP tu namonyo BBS kak…BB Senter”

Laras ketika saya menjelaskan merek telepon genggam terbaru yang saya punya,Nokia 100 Classic. Kalau di-Indonesia-kan bisa berarti “HP kakak itu julukannya sekarang BB senter”. Jujur saya baru mendengar yang namanya BB senter. Yang jelas kata BB senter membuat saya bertanya-tanya, apa hubungannya BB, senter, dan Nokia 100? :D

“Belok kiri apo belok kanan dak?

Otek sewaktu diminta menjelaskan rumah temannya Tasya. Kalau di-Indonesia-kan berarti “Belok kiri apa belok kanan?”.Yang aneh dari peryataan Otek diatas adalah tangannya bergerak ke kiri saat dia mengucapkan kata-kata diatas. Sedikit lupa dengan hal-hal dasar tentang arah. Bagaimanapun juga kami mengoreksi ucapaan Otek sambil tertawa.

“Ambo jugo model, tapi idak cak itu nian..”

Reaksi Ica ketika melihat foto adik tingkatnya di SD dulu, Dian. Kalau di-Indonesia-kan bisa berarti “Saya juga model tapi gak gitu-gitu amat“.Ica merasa pose yang ditampilkan Dian saat poto bersama terlalu berlebihan. Memang semaca SD Ica sering mengikuti berbagai lomba fashion.

Sebagai penutup inilah komentar terakhir Rizki – belakangan dia juga datang diajak tiga temannya diatas – ketika saya iseng jodohkan dia dengan Otek/Ica.

“Lah mereka siapa? gak level”

Saya hanya tertawa… :D

Gratifikasi… Budaya Indonesia kah?

July 13th, 2013

Konon ketika mengurus persyaratan wisuuda, ada beberapa detail yang harus diselesaikan salah satunya mengurus kartu bebas perpustakaan baik itu fakultas dan universitas. Idealnya pengurusan tersebut ditujukan agar tidak ada mahasiswa yang hendak lulus lupa mengembalikan buku perpustakaan.

Prosedurnya saya kira tidak terbelit-belit. Cukup periksa buku apa saja yang telah dipinjam, lalu dikembalikan beserta kartu perpustakaannya. Atau yang kartunya sudah hilang dikenakan denda barang 15 ribu rupiah, itupun sudah termasuk tinggi menurut saya.

Masalahnya adalah ketika semua telah dipastikan “aman” sang petugas meminta mahasiswa mentransfer  uang 50 ribu rupiah yang disetorkan ke nomor rekening tertentu tanpa jelas tujuannya. Belum lagi ketika menyerahkan kertas bebas pustaka, petugas lain meminta 1000 rupiah dengan dalih uang fotocopy.

Hari-hari selanjutnya saya menemukan seorang guru yang memberikan bimbingan ekstra muridnya di rumah guru tersebut. Idealnya jika si guru tersebut “benar-benar” guru tentu ia harus ikhlas membimbing anak-anak yang dirasa kurang cukup belajar di kelas. Atau minimal guru memberi kelas etika tambahan di luar sekolah, jika si anak  memang alotnya keterlaluan.

Memang bukan tugas utama guru untuk membuat anak pintar dengan sekeja, pastilah peran orangtua sangat berpengaruh. Jadi guru bisa melempar tanggung jawab? tidak juga karena di sekolah guru adalah orang tua kedua. Otomatis dia harus memberikan contoh yang baik.

Kembali lagi ke masalah pemberian terhadap guru. Jadi guru tersebut memberikan pernyataan bahwa jika “belajar” tambahan di rumahnya, apapun yang akan terjadi nilai akan didongkrak. Mudahnya, si A belajar dirumah guru  B lalu si orangtua A memberi sejumlah “materi” kepada guru B. Lalu dengan ajaib nilai si A melonjak sedangkan murid C yang tidak belajar dirumah guru tersebut cenderung di anaktiri-kan.

Gratifikasi

Lalu apakah kedua contoh tersebut adalah termasuk gratifikasi? mari kita periksa definisi gratifikasi supaya tidak ada fitnah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

GRATIFIKASI merupakan hadiah pemberian di luar gaji

Ada salahnya dengan gratifikasi? mari kita cermati kedua peristiwa diatas. Pungutan yang dilakukan oknum perpustakaan dengan maksud memperkaya diri sendiri jelas sangat tidak baik dari segi norma sosial, norma agama dan norma etika.

Gratifikasi menghasilkan generasi-generasi yang materialistik. Saya tidak bisa membayangkan apa yang orang katakan jika saja ada orang luar negeri bermaksud survei atau belajar di universitas tersebut, menemkan hal-hal semacam itu. Pikiran negatif paling tidak terlintas di pikiran orang luar negeri tersebut.

Atau saya makin risih dengan pola tingkah guru dan orang tua yang membiasakan gratifikasi. Anak secara otomatis akan dicuci pikirannya bahwa gratifikasi dalam hal negatif tersebut diatas adalah legal, keharusan.

Gratifikasi tidak bisa dijadikan alasan untuk menambah gaji yang tidak bisa lagi dijadikan pegangan. Kalau gaji kurang atau habis, kenapa tidak coba buka usaha, kenapa tidak keluar dari pekerjaan lalu mencari pekerjaan lain?.

Saya rasa sebagai orang dewasa tentu bisa berpikir bahwa gaji “petugas” segitu-segitu saja. Lalu kenapa ngotot menjadi petugas jika gengsi dan nafsu material begitu tinggi sedangkan gaji segitu-segitu saja?. Jadi petugas harus siap hidup sederhana.

Saya yakin banyak lagi yang lebih parah daripada dua contoh kasus diatas dengan melibatkan instansi dan materi yang lebih banyak pula. Pertanyaannya adalah, apakah gratifikasi sekarang jadi budaya Indonesia??