Meng-Clannad

August 3rd, 2013 by seprisubarkah Leave a reply »

Dunia mengenal bahasa Inggris sebagai bahasa universal, yang berarti bahasa yang bisa digunakan oleh semua orang untuk berkomunikasi dengan semua orang. Walau tetap saja, bahasa mandarin yang paling banyak dituturkan di dunia mengingat jumlah populasi Cina yang luar biasa banyak.

Pada abad pertengahan bahasa Inggris disebut sebagai “La Lingua Pura”,bahasa murni. Istilah tersebut muncul karena keenganan penguasa gereja menggunakan bahasa Inggris dalam protokol sehari-hari (gereja sering menggunakan bahasa latin atau Italia). Ilmuwan – yang pada masa tersebut sering bertentangan dengan gereja¬† – lalu menggunakan bahasa Inggris yang tidak digunakan gereja sebagai bahasa standar percakapan dan publikasi.

Dengan kata lain, istilah bahasa murni adalah sebuah istilah yang menunjukkan bahwa bahasa Inggris belum terjamah oleh gereja, atau memang sengaja tidak dijamah. Anda bisa mencari referensi karya John Milton – yang satu masa dengan Galileo – untuk membuktikannya.

Seiring dengan waktu penggunaan bahasa Inggris semakin meluas. Semua aspek kehidupan dipengaruhi oleh bahasa Inggris mulai dari media massa, media sosial, hingga lamaran pekerjaan.

Saya menemukan fakta bahwa hampir semua perusahaan menggunakan bahasa Inggris sebagai syarat untuk masuk perusahaan mereka. Wajar mengingat mesin, literatur, dan faktor-faktor administrasi tidak bisa lepas dari bahasa Inggris.

Pun demikian dengan media massa arus utama yang memiliki setidaknya satu jam program berbahasa Inggris.Di media sosial, tidak sulit menemukan anak-anak usia SMP yang sudah fasih mengisi kolom bio twitter dengan bahasa Inggris, bahkan memperbarui status dengan bahasa Inggris.

Tidak ada yang menyalahkan dengan munculnya fenomena global bahasa Inggris ini. Disamping tuntutan, gengsi kadang bisa membuat orang terpaksa untuk berbahasa Inggris. Dalam konteks ini seseorang dapat dianggap intelek jika sudah bisa atau paling tidak memamerkan sedikit kemampuan bahasa Inggris-nya.

Lalu bagaimana dengan bahasa ibu kita sendiri, bahasa Indonesia?. Sedikit yang benar-benar memahami bahwa kebanggaan berbahasa Indonesia adalah sesuatu yang mahal sekarang. Anggun C. Sasmi mungkin adalah sosok yang tapat bagaimana ia bisa menempatkan diri dalam berbahasa. Hal itu diaplikasikan dengan sebisa mungkin membenarkan istilah-istilah asing yang secara reaksi muncul dari perkataanya.

Musik juga memberi peran terhadap kebanggan berbahasa. Orang Indonesia yang melek musik sekarang lebih merasa musik luar negeri lebih enak didengar daripada musik dalam negeri yang saya harus akui semakin jauh kualitasnya dari masa ke masa. Dengan rasa nyaman oleh musik luar negeri itulah kemudian membuat alam ingatan kita semakin kuat dengan bahasa Inggris.

Mungkin kita harus melihat ke Clannad. Mereka menggunakan dua bahasa pada lagu-lagu mereka sehingga tidak heran jika satu album Clannad terdiri dari 5 lagu berbahasa Inggris dan 5 lagu berbahasa Gaelik. Dari situ kekuatan untuk bangga atas jati diri bangsa semakin timbul.

Sebagai info, Republik Irlandia (asal Clannad) menggunakan bahasa Inggris dan gaelik sebagai bahasa resmi. Tetapi bahasa gaelik adalah identitas utama masyarakat Irlandia, khususnya di daerah pesisir pantai.

Indonesia juga bisa berbangga atas karya daur ulang Cokelat atas lagu-lagu perjuangan yang sering kita dengar. Masalahnya adalah apresiasi kita terhadap karya-karya Cokelat tersebut. Industri mengatakan bahwa musik tersebut ternyata tidak menguntungkan di Indonesia, masyarakat sangat dimanja dengan musik cinta bernuanasa melow.

Karena itulah terjadi sebuah kemunduran di industri musik Indonesia.Akhirnya saya memimpikan musik Indonesia yang membawa musik dengan cita rasa tinggi dengan tidak melupakan diri sebagai bangsa Indonesia. Saya memimpikan musik yang meng-Clannad…

Advertisement

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?