THR

August 11th, 2013 by seprisubarkah Leave a reply »

Lebaran telah tiba. Hari raya umat islam yang juga bernama Idul Fitri menciptakan suasana suka cita. Segenap masyarakat berbondong-bondong mengikuti ritual hari kemenangan seperti sholat ied atau ber-silaturahmi antar teman/kerabat/saudara.

Diantara momen tersebut, terselip pemandangan biasa namun sedikit menimbulkan tanya di pikiran. Kita mengenal pemandangan tersebut sebagai THR (Tunjangan Hari Raya).

THR sejatinya adalah tunjangan materi yang didapatkan karyawan swasta dan negeri. Umumnya THR diberikan menjelang libur lebaran. Besarnya bervariasi, tergantung instansi mana yang memberikan. THR sendiri sudah ada undang-undangnya melalui peraturan menteri tahun 1994.

Namun THR kadang di-salah artikan oleh banyak orang, terutama anak-anak. Saya melihat sendiri kejadian di beberapa tempat, anak-anak yang bertamu ke rumah tetangga belum mau pulang sebelum mendapatkan lembar rupiah. Mereka kadang memberi sinyal tertentu kepada tuan rumah.

Salahkah itu? silaturahmi memang tidak salah, tapi memberi uang lain cerita.  Memberi uang THR kepada orang yang tidak tepat ditakutkan akan menciptakan mental pengemis dan gratifikator, pun membentuk pribadi yang hedonis serta menilai semua dari segi material.

Bagaimana mungkin saya tidak aneh jika anak-anak sejak kecil dididik untuk menjadi pengemis keliling ke rumah-rumah pada hari raya? Tidakkah mereka diajarkan bagaimana esensi hari lebaran sebenarnya?.

Ditakutkan dengan mental seperti itu akan timbul koruptor-koruptor baru, atau minimal mau bekerja kalau ada uang. Persis seperti aparat-aparat yang menghuni berbagai birokrasi. Memang uang penting dalam kehidupan, tapi akan menjadi salah jika semua orientasi kehidupan berdasar pada uang. Ada beberapa hal yang tidak bisa diukur dengan uang seperti passion.

Mau bagaimana lagi, memang itulah yang telah diturunkan dari orang tua mereka. Pola pikir pengemis dan gratifikator yang secara tidak sadar mereka turunkan kepada anak-anak mereka. Belum lagi saya miris melihat acara-acara televisi yang menampilkan pembagian uang secara terbuka, seperti di infotainment.

Lah selagi buat mereka tidak masalah, kenapa saya yang mempermasalahkan? Bukan apa-apa, saya saja pusing dengan beberapa aparat pemerintahan yang selalu menuntut pungutan liar jikalau saya ingin mengurus sesuatu. Takutnya anak-anak mereka nanti yang kemudian menggantikan pola pikir orang tuanya.

Jika materialistis, hedonistis, dan narsistis sudah begitu akut di negeri ini, ditakutkan akan mudah bagi musuh-musuh tidak kasat mata untuk memecah belah (lagi) Indonesia. Semua gejala sudah mengarah kesana tinggal bagaimana kita menyikapinya secara bijak.

Ah, mudah-mudahan kekhawatiran saya diatas cuma sebatas pikiran acak…

Advertisement

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 multiplied by 5?