Legenda

August 14th, 2013 by seprisubarkah Leave a reply »

Orang sudah tentu mengenal sosok-sosok pemain seperti Paolo Maldini, Zinedine Zidane, Ryan Giggs, Javier Zanetti, Francesco Totti dan lain-lain. Apakah persamaan mereka? ya mereka adalah para legenda sepakbola, lebih spesifik mereka adalah mereka legenda klub-klub eropa.

Apa yang membuat mereka dijadikan legenda sepakbola? selain kemampuan olah bola yang baik ada beberapa komponen lain yang melekat pada diri mereka masing-masing. Kemampuan olah bola mumpuni tidak ada artinya tanpa dibarengi sikap, mental, dan etika bermain yang baik.

Denilson adalah salah satu pemain brilian pada akhir 1997 ketika ia dibeli dengan harga selangit oleh Real Betis dari Sao Paolo sehingga menjadikan ia sebagai pemain termahal dunia saat itu.

Kenyataan membuktikan harga Denilson terlalu mahal. Musim pertama dihabiskan dengan mencetak hanya 2 gol, Real Betis hanya dibawa ke posisi 11. Lepas dari itu, Denilson menjelma menjadi pemain medioker yang mengembara  di klub-klub medioker pula.

Apa yang salah dengan Denilson? secara kemampuan Denilson tidak kalah dengan Ronaldo, atau Rivaldo katakanlah. Dua nama terakhir berhasil membawa Brasil menjadi juara dunia. Ekspektasi harga dan sikap mental menjadi penghalang Denilson untuk maju. Ia tidak memiliki sesuatu untuk menjadi seorang legenda.

Ia sudah terlalu wah dengan harga selagit di umur yang masih sangat muda. Tidak masalah jika dibarengi sikap mental yang baik, namun jika tidak maka kemunduran hanya tinggal menunggu waktu.

Seorang Ryan Giggs, Francesco Totti ,dan Javier Zanetti memiliki kepemimpinan dan loyalitas yang kuat terhadap klubnya, dtambah secara kemampuan mereka tidak kalah dengan pemain lain.

Jika diibaratkan dalam matriks kepemimpinan, kepemimpinan terletk pada sumbu Y dan kemampuan pada sumbu X, maka ketiga legenda tersebut memiliki angka yang tinggi untuk kedua sumbu sehingga aura yang dihasilkan akan menjadi bagus.

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Lain halnya jika jika seorang pemain hanya mengandalkan kemampuan tanpa kepemimpinan diri yang kuat, ia hanya menghasilkan keluaran yang biasa-biasa saja. Kepemimpinan diri ini juga termasuk sikap mental, pembawaan, emosi yang terkendali serta cara menghadapi tekanan.

Strong Image

Legenda lain seperti David Beckham adalah contoh unik. Ia seperti tidak sengaja mencitrakan dirinya menjadi sosok yang begitu diingat, begitu dikagumi walau secara restasi tidak secemerlang Ronaldo atau Lionel Messi.

Siapa tidak mengenal iklan produk tata rambut Brylcream? Pada iklan tersebut Beckham dicitrakan sebagai pemain modis dengan kekuatan seorang lelaki sejati. Hal tersebut digambarkan dengan latar belakang Beckham sedang mencetak gol lewat tendangan jarak jauh.

Tentunya Brylcream tidak mengambil sembarangan duta mereka. Beckham yang gandrung gonta-ganti rambut tentu adalah sosok sempurna untuk memberikan pesan “rambutmu adalah gayamu”.

Jangan lupakan juga image Beckham sebagai pengambil tendangan bebas yang andal. Siapapu generasi 1990 pasti ingat tendangan pisang Beckham saat Inggris melawan Kolombia pada Piala Dunia 1998.

Berbicara Beckham tentu tidak afdol jika tidak menyebut para wanita-wanita disekelilingnya semacam Rebecca Loose, Victoria Adams dll. Beckham dicitrakan media sebagai pria ganteng dengan hobi gonta ganti pacar meski belakangan ia digambarkan sebagai pria keluarga/family man.

Semua tentang Beckham diatas dikupas habis oleh media seolah Beckham sendiri menginginkannya sehingga penggemar sepakbola – terutama wanita – mendapat sisi menarik lain dari sepakbola. Beckham adalah legenda media dan pencitraan.

Faktor X

Pada akhirnya semua legenda sepakbola dunia memang memiliki faktor lain di luar sepakbola untuk tetap diingat. Para pakar menyebutnya dengan faktor X. Faktor X adalah penentu keberhasilah, tidak dapat diambil, melekat pada diri manusia, dan tidak diperoleh dalam waktu sekejap.

Lihatlah bagaimana Zanetti, Giggs, Totti, Maldini atau Buffon yang setia kepada klubnya walaupun dalam keadaan susah sekalipun. Mereka memiliki faktor X berupa kepemimpinan, kemampuan, etika, mental, dan loyalitas tersendiri.

Lihatlah Beckham dengan faktor media, citra, dan segala sisi unik kehidupannya yang semuanya dikombinasikan menjadi sebuah faktor X yang unik.

Lihatlah Lionel Messi. Ia adalah satu-satunya pemain yang menggondol bola emas pemain terbaik dunia empat kali berturut-turut. Ia mewujudkannya dengan kemampuan bertanding bak alien. Tinggal menunggu waktu saja sebelum ia menjadi legenda Barcelona.

Semua pemain-pemain sepakbola mempunyai cara tersediri dalam bermain. Mereka juga mempunyai cara sendiri untuk diingat, untuk dijadikan legenda. Mereka memiliki faktor X masing-masing. Maka faktor X dan legenda memiliki satu kesamaan : melekat pada diri masing-masing individu.

Advertisement

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?