Mengapa anak-anak berperilaku mengganggu?

January 18th, 2014 by seprisubarkah Leave a reply »

Beberapa hari yang lalu berkumpullah murid-murid di rumah saya untuk belajar. Semua berjalan dengan lancar hingga tiba waktunya pulang. Seorang murid bernama Fifi tiba-tiba datang dengan muka muram sembari menangis. Kemudian saya mengetahui ada kesalahpahaman dan konflik antar teman sehingga Fifi bersitegang dengan teman-teman yang biasanya akrab dengannya.

Lalu ada seorang gadis bernama Viona yang tiba-tiba datang menangis setelah sebelumnya pergi bermain dengan teman-temannya. Kebetulan teman yang sama dengan teman-teman Fifi. Ia mengatakan bahwa ia telah didorong dan disakiti dalam suatu kontak. Reaksi teman-teman yang melakukannya sangat mengejutkan, “Cuma segitu aja nangis“, “Saya nggak mau minta maaf, malas banget!”.

Memang dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan pelajaran. Mereka perlu belajar lebih banyak tentang moral, pendidikan, maupun tentang esensi belajar itu sendiri. Dan konflik antar mereka adalah salah satu sarana untuk mengambil hikmah dan belajar moral sosial yang benar, tergantung dari adanya orang-orang terdekat untuk mengarahkan.

Menurut Dr. Michel Borba dalam bukunya Building Moral Intelligence, anak-anak sering mengganggu dan melakukan kontak fisik berbahaya sehingga menimbulkan konflik, disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut.

1. Kurang empati. Tidak memahami perasaan orang yang tidak diperlakukan dengan baik. Dalam hal diatas, teman-teman Fifi dan Viona belum bisa ber-empati dengan baik.

2. Kurang harga diri. Ia merasa rendah diri, sehingga merendahkan orang lain.

3. Balas dendam. Ia sering diejek sehingga mengejek kembali sebagai pembalasan.

4. Ingin diakui. Karena ingin dianggap seseorang/sesuatu dalam kelompoknya, ia menjelek-jelekkan kelompok lain.

5. Tidak mampu mengatasi masalah. Tidak tahu bagaimana mengatasi permasalahan atau perselisihan, sehingga ia mengejek atau mengatai orang lain.

6.  Cemburu. Ia cemburu karena anak lain mendapat perhatian lebih entah dari guru atau orang yang dihormati lainnya. Dalam kasus Fifi, itulah yang terjadi.

7. Bagaimana ia diperlakukan. Ia diperlakukan tidak baik, sehingga meniru perbuatan yang tidak baik.

8. Ingin menunjukkan kekuasaan. Mengganggu orang lain membuat ia merasa lebih berkuasa.

9. Tidak pernah diharapkan berlaku baik. Tidak seorang pun mengatakan bahwa perilaku buruk itu tidak diperbolehkan.

10. Kemampuan bersosialisasi yang rendah. Ia tidak tahu cara berinteraksi yang baik dan benar – bekerja sama, berunding, berkompromi, membesarkan hati, mendengarkan – sehingga ia merendahkan orang lain.

 

Advertisement

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 in addition to 6?