Menjawab Pertanyaan Caca

February 16th, 2014 by seprisubarkah Leave a reply »

Kurang lebih setahun yang lalu, Caca (@chachasaphira) yang kala itu masih duduk di kelas 1 SMP bertanya kepada saya. Pertanyaannya kira-kira begini, “Kenapa ada seorang kakak yang pintar (akademis) sedangkan adiknya biasa-biasa saja?”.

Tentu agak sukar menjawab, karena memang saya tidak begitu familiar dengan pendidikan atau psikologi pendidikan, atau yang psikologi yang berhubungan dengan otak secara kompleks yaitu psikologi klinis.

Sekarang, saya merasa mendapat inspirasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun saya tidak berencana untuk memberitahu langsung empat mata dengan Caca karena mungkin saja dia sudah lupa. Jadi jika Caca tiba-tiba ingat pertanyaan tersebut, mudah-mudahan ia membaca tulisan ini.

————————————————————————————————–

1. Poin Pertama

Kecerdasan, dalam hal ini intelejensi otak, berhubungan dengan gizi yang diasup. Hal tersebut wajar karena proses belajar adalah proses yang melibatkan sel-sel syaraf individu. Menurut Salman Khan dalam bukunya One World Schoolhouse, ketika sel-sel dilibatkan dalam proses pembelajaran, sel tersebut akan berkembang.

Kemudia sel-sel yang terdidik akan mengembangkan jalur sinaptik baru menghubungkan sesel tersebut dengan sel-sel lain. Proses ini berulang seiring dengan frekuensi belajar manusia. Sehingga jaringan-jaringan yang dibentuk membangun hubungan yang lebih banyak membentuk sebuah pemahaman.

Ada banyak proses kimia dan elektrik yang terjadi, sehingga ini menjadi alasan belajar atau berfikir membutuhkan kalori. Pengasupan gizi yang baik akan membentuk sel-sel syaraf yang baik untuk perkembangan otak. Ibaratkan saja proses belajar sama dengan membentuk otot, semakin sering seseorang berlatih maka semakin terbentuk otot seseorang tersebut.

Jadi, poin pertama adalah tentang gizi. Anak yang kecerdasannya baik kadangkala mendapatkan asupan gizi yang baik. Begitu pula sebaliknya.

2. Poin Kedua

Kecerdasan berfikir tidak akan berarti banyak tanpa kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional pada masa perkembangan anak-anak dan remaja meliputi bagaimana ia mendorong dirinya untuk terus berusaha, melawan godaan untuk memuaskan diri, memotivasi diri secara internal, dan lain-lain.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak  yang memiliki nilai akademik yang bagus ternyata memiliki kecerdasan emosional yang baik. Padahal bisa jadi anak-anak dalam penelitian tersebut memiliki IQ yang tidak terlalu jauh perbedaanya.

3. Poin Ketiga

Dalam bukunya Emotional Intelligence, Daniel Goleman mengatakan bahwa emosi itu menular. Dari situ dapat diperkirakan bahwa pengharapan dan pola pikir positif dapat ditularkan kepada orang lain.

Lingkungan yang kondusif, entah itu di keluarga dan sekolah membuat anak labih baik dalam belajar. Sehingga jika anak-anak berada dalam lingkungan positif, maka ia akan menjadi pribadi yang positif dan menular pada keinginan yang kuat untuk belajar.

————————————————————————————————–

Dari sini saya bisa simpulkan bahwa prestasi akademik seorang anak dipengaruhi oleh kombinasi kecerdasan berfikir (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan moral. Semua itu dipelajari secara awal dari keluarga.

Advertisement

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 * 3?