Sebuah Catatan

May 2nd, 2014 by seprisubarkah Leave a reply »

Tidak sengaja saya membaca sebuah catatan tentang ujian nasional dari seorang pelajar di Surabaya. Catatan tersebut berisikan curahan hati sang pelajar terhadap dilematika ujian nasional sehingga memaksa saya untuk ikut menyuarakan tentang ujian nasional dan sistem pendidikan Indonesia, walau hanya dalam kapasitas catatan webblog.

Dalam catatan tersebut diatas, sang pelajar mengungkapkan 3 poin negatif tentang ujian nasional. Tiga poin tersebut adalah :

1. Kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional

2. Bobot soal ujian nasional keluar dari SKL, dimana soal ujian nasional terbagi dalam 20 paket

3. Standar sekolah Indonesia yang belum merata sehingga sulit mencapai tolak ukur hasil belajar

Megingat poin-poin negatif tersebut, maka saya mencari apa sebenarnya tujuan dari ujian nasional. Dan menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 153/U/2003 Tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 bahwa tujuan dan fungsi ujian nasional seperti yang tercantum dalam SK Mendiknas 153/U/2003 yaitu :

1.  Mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik

2. Mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah.

3. Mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional, propinsi, kabupaten/kota, sekolah/madrasah, dan kepada masyarakat.

Dari tujuan-tujuan ujian nasional diatas, saya ingin berpikir kembali ke dasar. Apakah belajar itu? idealnya belajar adalah suatu kegiatan yang menuntut proses berpikir pemelajar. Belajar dikaitkan dengan kemampuan untuk hidup. Sebagai contoh dalam Biologi, anak Harimau memperhatikan induknya mencari mangsa. Anak Harimau tersebut mau tidak mau harus memperhatikan karena hal tersebut karea berkaitan dengan daur hidup. Jika salah memahami, maka akan berbahaya untuk kehidupan ia selanjutnya alias sulit mendapat makan.

Jadi, bagaimana sebenarnya belajar di Indonesia? Belajar di Indonesia hanya mengapal, menghapal, dan mendapat nilai. Itu terjadi dari bangku dasar hingga bangku tinggi. Lalu pencapaian belajar seperti apa yang diharapkan? apakah nilai-nilai tinggi seorang pemelajar? atau kecemerlangan pola pikir dan karakter?

————————————————————————————————-

Saya ingin mengulang kembali masa dimana saya belajar di sekolah. Saya masih ingat ketika itu belajar adalah menghapal. Saya dijejali berbagai macam ilmu pengetahuan tanpa melihat pandangan dan hubungannya dengan dunia aktual.

Beruntunglah anak-anak yang memiliki sumber daya pengetahuan seperti buku, internet dan orang tua karena dengan sumber daya itu hubungan pengetahuan yang diajarkan sekolah bisa tercapai dengan dunia aktual bisa dicapai dengan baik.

Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki akses ke sumber pengetahuan? Bagaimana dengan anak-anak yang tidak dapat didampingi orang tua ketika mereka terbentur materi pelajaran?

Saya sangat merasakan bagaimana pentingnya peran orang tua dalam proses belajar anak. Orang tua begitu penting untuk menjaga kestabilan emosi anak dan mendampingi anak dalam kesulitan memahami materi.

Orang tua yang sadar akan peran membimbing anak tentu hanya bisa dicapai dengan kesejahteraan keluarga yang baik. Lalu kesejahteraan keluarga hanya bisa dicapai jika pemerintah memberdayakan masyarakat dengan pendidikan sehingga menjadi ahli di bidangnya.

————————————————————————————————-

Terakhir, saya ingin menyampaikan saran untuk pendidikan Indonesia.

1. Belajar ala Prusia dimana guru menjadi penguasa kelas dengan sistem ceramah,lalu anak-anak mendengar dengan pasif  sangat tidak relevan dengan dunia yang berkembang seiring majunya kreatifitas manusia. Maka sekolah-sekolah sudah seharusnya mengurangi porsi belajar pasif dan mengganti menjadi belajar aktif.

2. Pekerjaan rumah tidak menjadi beban anak-anak. Kebanyakan guru membuat sistem pekerjaan rumah karena materi yang tidak cukup untuk dikejar dan berkurangnya interaksi guru dengan siswa karena ada kurikulum belajar yang harus dikejar serta jumlah guru yang tidak sebanding dengan murid.

3. Menekankan pentingnya kecerdasan moral dan emosi anak karena penting untuk bekal hidup dan menghadapi masyarakat yang beragam. Saya menganggap skpetis ujian-ujian yang berkembang sekarang (termasuk ujian nasional) karena ujian  tidak sama sekali menggali potensi anak yang sesungguhnya.

4. Tidak serta merta mengagungkan nilai dalam mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu perlu diterapkan proses pembelajaran metode Problem Based Learning.

5. Reformasi dalam pemilihan guru di berbagai tingkat. Guru-guru yang berkualitas mutlak diperlukan untuk pendidikan berkualitas. Kesejahteraan guru harus berbanding lurus dengan kualitas guru.

Selamat Hari Pendidikan, semoga pendidikan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Advertisement

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?