Archive for the ‘gooners’ category

Latah Garuda Muda

September 23rd, 2013

Semua tahu Indonesia sedang dalam masa cobaan, termasuk untuk sepakbolanya. Beragam isu yang sangat perlu untuk dibenahi seperti pembinaan pemain muda, sistem kompetisi yang baku, organisasi bebas politik atau standar baku stadion kian jauh untuk diselesaikan. Kemudian semua itu menjadi suatu pandangan negatif untuk sepakbola Indonesia.

Tapi kemudian semua dibalikkan oleh sebuah tim berisi anak-anak muda yang berlaga di Piala AFF U-19. Anak-anak muda dari seluruh Indonesia berlaga tanpa “bantuan” satu pun pemain naturalisasi. Pandangan negatif kemudian berubah menjadi euforia optimisme. Semua dibuat latah olehnya, termasuk saya.

Ada apa gerangan? ternyata skuad Garuda Muda Tim Nasional Indonesia U-19 berhasil merengkuh juara AFF U-19 setelah mengalahkan Vietnam 7-6 melalui adu pinalti. Gelar juara disebut-sebut sebagai yang pertama dari kompetisi resmi setelah terakhir juara SEA Games 1991.

Wajar saja kemudian kegirangan menggema dimana-mana. Puasa gelar 12 tahun ibarat pecah tadi malam. Semua liputan olahraga tidak ada satu pun yang melewatkan momen langka tadi malam. Petinggi PSSI rela turun langsung menyambut pahlawan-pahlawan muda, walau kadang terselip motif busuk pencitraan.

Tim nasional Indonesia U-19 memang juara. Timnas berhasil memperagakan sepakbola yang baik meski tetap saja ada masalah fisik atau emosi menghantui, maklum mereka masih dibawah 19 tahun. Sang kapten Evan Dimas memperlihatkan ketenangan seorang kapten dan gelandang pengatur tempo lapangan tengah.

Lihatlah bagaimana ia mengatasi tekanan saat ditempel dua pemain Vietnam, atau saat ia mengantar tim meraih kemenangan 3-1 atas Thailand lewat trigol-nya. Bertrio dengan M. Hargianto dan Zulfiandi, mereka mengontrol lini tengah dengan baik, walau kadang saya sesekali melihat Zulfiandi masih terbawa tekanan saat ditempel lawan.

Evan Dimas mengidolakan seorang Ahmad Bustomi, sesama gelandang tengah. Bedanya Bustomi telah di level timnas senior. Lucunya, Bustomi belum pernah mencicipi gelar juara satu untun timnasnya.

Tak lupa seorang penjaga gawang bernama Rafli Murdinato yang sangat cemerlang di partai final. Menggagalkan berbagai peluang Vietnam, baik secara one on one atau shooting by distance. Ketenangan seorang kiper seperti Rafli jarang ada pada kiper-kiper muda sekarang.

Berbicara ketenangan, tentu tidak menarik jika kita tidak membahas adu pinalti melawan Vietnam. Beberapa pemain memiliki ketenangan tersebut saat momen krusial menghadang. Ilham Udin saat mengambil tendangan penentu sangat terbantu pencaya dirinya ketika dihampiri satu per satu oleh teman-temannya sebelum mengembil tendangan.

Atau pemain-pemain lain yang mengatasi tekanan dengan berhasil mengecoh kiper ke arah yang salah. Kemudian mengungkapkan kelegaannya dengan sujud sukur atau menyemangati kiper Rafli.

Dan yang pasti seluruh tim telah belajar mengatasi partai final dan Vietnam karena pada babak grup mereka kalah 1-2 dari Vietnam. Pelatih Indra Syafri patut mendapat kredit lebih untuk ini.

Maka pantaslah Timnas Indonesia U-19 menjadi juara. Langkah awal membantuk tim nasional yang kuat telah terbetuk, tinggal bagaimana pengurus dan pemegang kepentingan mengurusi sepakbola dengan baik. Ingat masih banyak kelemahan yang perlu diperbaiki seperti tekel (bahkan saya melihat ada pemain Indonesia yang pantas mendapat straight red card ) masih sesekali brutal, koordinasi lini tengah dan belakang serta penyelesaian.

Final words, Selamat untuk kalian garuda muda…

sumber gambar : google.com (bola.liputan6.com)

Pindah Konfederasi

September 11th, 2013

Dalam konteks geografi, agak sulit menemukan kasus sebuah negara pindah benua. Misalkan China yang tadinya Asia pindah ke Amerika. Namun di konfederasi sepakbola, itu bisa terjadi. Kazakhstan, Israel, Turki, dan Australia adalah contoh nyata.

Zona Oseania adalah salah satu konfederasi sepakbola selain dari konfederasi utama dunia seperti Eropa, Asia,dkk. Australia adalah salah satu kekuatan dari zona oseania pada awalnya. Setiap hajatan kualifikasi Piala Dunia tim kangguru selalu hampir bisa memuncaki klasemen.

Sebagai pemuncak klasemen, Australia tidak langsung bisa melaju ke babak utama Piala Dunia karena harus melakoni play-off melawan salah satu wakil konfederasi Asia, Amerika Selatan, bahkan Eropa. Celakanya mereka hampir selalu gagal di babak ini.

Tercatat Australia gagal di play-off 1986 kalah dari Skotlandia, Argentina (1994), Iran (1998), dan Uruguay (2002). Hanya sekali mereka memenangi play-off yaitu tahun 2006, itupun dengan susah paya melewati babak adu penalty melawan Uruguay. Karena itu mereka mendapat julukan tim hampir lolos piala dunia.

Australia vs Uruguay 2006

Maka tepat tahun 2006, Federasi Sepakbola Australia memutuskan pindah konfederasi, menyeberang ke Asia. Nasib baik didapat dengan lolos langsung di kualifikasi piala dunia secara berurutan, yaitu kualifikasi Piala Dunia 2010 dan 2014.

Terbaru, Tim Nasional Australia menjadi anggota terbaru Federasi Sepakbola Asean (AFF). Bisa dibayangkan dominasi Australia akan seperti apa, kecuali mereka menganggap gelaran Piala AFF sebagai ajang tarung tim nasional U-23. Namun tetap saja merepotkan anggota AFF lain.

Turki, Kazakhstan, Israel

Secara geografis Turki, Israel, dan Kazakhstan adalah bagian dari Asia sehingga mereka bisa saja ikut bertarung di kualifikasi Piala Dunia konfederasi Asia. Namun mereka memilih untuk bergabung ke konfederasi Eropa.

Turki memang dekat dengan Eropa, namun juga adalah bagian Asia. Kota Istanbul adalah symbol dari keunikan tersebut karena seberang kota adalah Eropa dan seberang satunya adalah Asia. Mereka dihubungkan dengan jembatan Bosphorus.

Turki tercatat telah mengikuti Piala Eropa 1996, 2000, dan 2008. Paling fenomenal tentu saja pencapaian di Piala Dunia 2002 saat mengalahkan wakil Asia Korea Selatan di perebutan tempat ketiga. Jangan lupa pula gol Semih Senturk yang membuyarkan impian Kroasia menuju semifinal Piala Eropa 2008.

Di level klub, Turki juga salah satu negara yang disegani di Eropa. Galatasaray mencatat prestasi bagus saat menjuarai Piala UEFA 2000 mengalahkan Arsenal. Fans Galatasaray  dan Turki juga terkenal militant saat mendukung timnya. Itu dibuktikan dengan terciptanya suasana gemuruh stadion yang luar biasa, seperti menginginkan lawan terintimidasi sepanjang waktu.

Israel dan Kazakhstan memang masih kalah dibanding Turki. Keduanya belum pernah sekalipun ikut kejuaraan Eropa atau Dunia. Paling bagus adalah Israel yang ikut Piala Eropa U-12, itupun karena mereka adalah tuan rumah.

Dibanding tim nasionalnya, klub-klub Israel justru lebih sering meramaikan kejuaran Eropa semacam Liga Champions atau Liga Eropa. Klub-klub seperti Maccabi Tel-Aviv atau Maccabi Haifa adalah paling tersohor. Meski tetap saja jadi santapan empuk raksasa-raksasa Eropa.

Maccabi Tel Aviv contohnya. Liga Champions 2004-2005 adalah semacam kuburan buat mereka. Secara bergantian Juventus, Bayern Munich dan Ajax Amsterdam manghajar mereka. Koran lokal menyebut mereka samsak, lebih sering digebuk.

Juventus vs Maccabi

Kazakhstan adalah anggota baru UEFA. Mereka baru bergabung tahun 2002 setelah sebelumnya tergabung di zona Asia. Catatan Kazakhstan bersama zona Asia terbilang buruk. Mereka menjadi baying-bayang Korea, Jepang bahkan tetangganya sendiri Uzbekistan. Nama terakhir masih konsisten di zona Asia.

Sama seperti Israel, Kazakhstan juga belum pernah ikut kejuaraan Asia dan Eropa. Perbedaannya klub-klub Kazakhstan tidak pernah terdengar di kejuaran Eropa. Kazakhstan memainkan laga pertama sebagai anggota baru UEFA dengan menahan imbang Estonia 0-0.

Alasan Pindah

Ada beberapa alasan dari beberapa tim diatas untuk pindah konfederasi. Australia menginginkan pindah agar peluang lolos ke Piala Dunia lebih besar ketimbang harus selalu play-off dengan tim dari Amerika Selatan yang secara materi setara, namun lebih alot.

Dengan pindah ke zona Asia, Australia tidak perlu takut untuk sekadar finish di posisi kedua grup karena dua posisi teratas sudah pasti lolos babak Piala Dunia. Itu terbukti di dua gelaran kualifikasi Piala Dunia terakhir.

Turki, Israel dan Kazakhstan mungkin berbeda dengan Australia. Mereka bisa saja bergabung dengan Asia, dan menjadi saingan berat kekuatan tradisional semacam Jepang, Korea atau Arab Saudi. Mungkin kedekatan kultur dan emosi dengan orang Eropa menjadi faktor, atau bisa jadi mereka menginginkan kualitas sepakbola lebih maju jika sering beradu dengan tim-tim terbaik.

 gambar : google.com

Legenda

August 14th, 2013

Orang sudah tentu mengenal sosok-sosok pemain seperti Paolo Maldini, Zinedine Zidane, Ryan Giggs, Javier Zanetti, Francesco Totti dan lain-lain. Apakah persamaan mereka? ya mereka adalah para legenda sepakbola, lebih spesifik mereka adalah mereka legenda klub-klub eropa.

Apa yang membuat mereka dijadikan legenda sepakbola? selain kemampuan olah bola yang baik ada beberapa komponen lain yang melekat pada diri mereka masing-masing. Kemampuan olah bola mumpuni tidak ada artinya tanpa dibarengi sikap, mental, dan etika bermain yang baik.

Denilson adalah salah satu pemain brilian pada akhir 1997 ketika ia dibeli dengan harga selangit oleh Real Betis dari Sao Paolo sehingga menjadikan ia sebagai pemain termahal dunia saat itu.

Kenyataan membuktikan harga Denilson terlalu mahal. Musim pertama dihabiskan dengan mencetak hanya 2 gol, Real Betis hanya dibawa ke posisi 11. Lepas dari itu, Denilson menjelma menjadi pemain medioker yang mengembara  di klub-klub medioker pula.

Apa yang salah dengan Denilson? secara kemampuan Denilson tidak kalah dengan Ronaldo, atau Rivaldo katakanlah. Dua nama terakhir berhasil membawa Brasil menjadi juara dunia. Ekspektasi harga dan sikap mental menjadi penghalang Denilson untuk maju. Ia tidak memiliki sesuatu untuk menjadi seorang legenda.

Ia sudah terlalu wah dengan harga selagit di umur yang masih sangat muda. Tidak masalah jika dibarengi sikap mental yang baik, namun jika tidak maka kemunduran hanya tinggal menunggu waktu.

Seorang Ryan Giggs, Francesco Totti ,dan Javier Zanetti memiliki kepemimpinan dan loyalitas yang kuat terhadap klubnya, dtambah secara kemampuan mereka tidak kalah dengan pemain lain.

Jika diibaratkan dalam matriks kepemimpinan, kepemimpinan terletk pada sumbu Y dan kemampuan pada sumbu X, maka ketiga legenda tersebut memiliki angka yang tinggi untuk kedua sumbu sehingga aura yang dihasilkan akan menjadi bagus.

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Lain halnya jika jika seorang pemain hanya mengandalkan kemampuan tanpa kepemimpinan diri yang kuat, ia hanya menghasilkan keluaran yang biasa-biasa saja. Kepemimpinan diri ini juga termasuk sikap mental, pembawaan, emosi yang terkendali serta cara menghadapi tekanan.

Strong Image

Legenda lain seperti David Beckham adalah contoh unik. Ia seperti tidak sengaja mencitrakan dirinya menjadi sosok yang begitu diingat, begitu dikagumi walau secara restasi tidak secemerlang Ronaldo atau Lionel Messi.

Siapa tidak mengenal iklan produk tata rambut Brylcream? Pada iklan tersebut Beckham dicitrakan sebagai pemain modis dengan kekuatan seorang lelaki sejati. Hal tersebut digambarkan dengan latar belakang Beckham sedang mencetak gol lewat tendangan jarak jauh.

Tentunya Brylcream tidak mengambil sembarangan duta mereka. Beckham yang gandrung gonta-ganti rambut tentu adalah sosok sempurna untuk memberikan pesan “rambutmu adalah gayamu”.

Jangan lupakan juga image Beckham sebagai pengambil tendangan bebas yang andal. Siapapu generasi 1990 pasti ingat tendangan pisang Beckham saat Inggris melawan Kolombia pada Piala Dunia 1998.

Berbicara Beckham tentu tidak afdol jika tidak menyebut para wanita-wanita disekelilingnya semacam Rebecca Loose, Victoria Adams dll. Beckham dicitrakan media sebagai pria ganteng dengan hobi gonta ganti pacar meski belakangan ia digambarkan sebagai pria keluarga/family man.

Semua tentang Beckham diatas dikupas habis oleh media seolah Beckham sendiri menginginkannya sehingga penggemar sepakbola – terutama wanita – mendapat sisi menarik lain dari sepakbola. Beckham adalah legenda media dan pencitraan.

Faktor X

Pada akhirnya semua legenda sepakbola dunia memang memiliki faktor lain di luar sepakbola untuk tetap diingat. Para pakar menyebutnya dengan faktor X. Faktor X adalah penentu keberhasilah, tidak dapat diambil, melekat pada diri manusia, dan tidak diperoleh dalam waktu sekejap.

Lihatlah bagaimana Zanetti, Giggs, Totti, Maldini atau Buffon yang setia kepada klubnya walaupun dalam keadaan susah sekalipun. Mereka memiliki faktor X berupa kepemimpinan, kemampuan, etika, mental, dan loyalitas tersendiri.

Lihatlah Beckham dengan faktor media, citra, dan segala sisi unik kehidupannya yang semuanya dikombinasikan menjadi sebuah faktor X yang unik.

Lihatlah Lionel Messi. Ia adalah satu-satunya pemain yang menggondol bola emas pemain terbaik dunia empat kali berturut-turut. Ia mewujudkannya dengan kemampuan bertanding bak alien. Tinggal menunggu waktu saja sebelum ia menjadi legenda Barcelona.

Semua pemain-pemain sepakbola mempunyai cara tersediri dalam bermain. Mereka juga mempunyai cara sendiri untuk diingat, untuk dijadikan legenda. Mereka memiliki faktor X masing-masing. Maka faktor X dan legenda memiliki satu kesamaan : melekat pada diri masing-masing individu.

Pre-Season

August 5th, 2013

Memasuki musim baru kompetisi sepakbola Eropa, musim 2013-2014, klub-klub menggelar dan menghadiri kegiatan pre-season. Menurut etimologinya, pre season bermakna persiapan sebelum kompetisi resmi dimulai.

Pre-season bisa dilakukan dimana saja, kapan saja – asal tidak bertabrakan dengan kompetisi resmi- dan dengan format apa saja.

Klub Inggris seperti Chelsea memilih petualangan pre-season di Asia, kemudian berkeliling Amerika hingga kembali lagi ke Inggris. Sementara Arsenal memilih hanya berkeliling Asia sebelum kembali ke Inggris. Manchester United sama saja, bedanya si setan merah menambahkan Australia sebagai transit.

Selama Pre-season itu pula digunakan pola yang tidak lazim dengan aturan standar sepakbola. Ambil Contoh Telekom Cup dan Emirates Cup.

Telekom Cup menerapkan sistem 4 tim dengan dua pasang tim saling berhadapan untuk memperebutkan tiket final. Pemenang final menjadi juara. Uniknya adalah waktu bermain para peserta kejuaraan yang disponsori perusahaan telekomunikasi Jerman ini adalah masing-masing 30 menit satu babak. Jadi satu pertandingan menghabiskan waktu hanya 1 jam.

Lebih cepat 30 menit dari waktu bermain normal. Kemudian jika pertandingan seri, maka akan dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Bayern Munchen menjadi juara Telekom Cup setelah mengandaskan Borussia Moenchenglandbach 5-1.

Lalu ke Emirates Cup. Kejuaraan yang disponsori oleh maskapai ini juga menghadirkan 4 tim dengan format pertandingan saling bertemu. Namun anehnya satu tim hanya akan menjalani dua pertadndingan dan tidak akan bertemu dengan salah satu tim dari 4 tim tadi.

Misalkan peserta Emirates Cup 2013 adalah Arsenal, Galatasaray, Porto, dan Napoli. Arsenal kebagian dua pertandingan melawan Napoli dan Galatasaray, dan tidak bertemu Porto. Begitu juga dengan Napoli yang kebagian Arsenal dan Porto, tidak bertemu Galatasaray. Bagaimana bisa? bisa saja kalau memakai undian. :D

Lalu yang menarik lagi adalah sistem penilaian Emirates Cup. Nilai akan didapat jika mencetak gol dan mendapat hasil imbang/menang. Misalnya hasil pertandingan Arsenal dan Galatasaray adalah 2-2. Maka Arsenal mendapat poin 3 (imbang 1, gol 2) dan Galatasaray juga 3 (imbang 1, gol 2).

Ada lagi ketika Napoli kalah 1-3 melawan Porto. Maka pembagian poinnya adalah Napoli 1 (kalah 0, gol 1) dan Porto 6 (menang 3, gol 3). Sangat berlainan dengan peraturan standar FIFA.

Selain pre-season dalam bentuk turnamen, ada juga pre-season yang hanya menggelar satu pertandingan dengan jadwal terpola. Barcelona adalah salah satu yang memakai format ini. Pada tanggal tertentu mereka melawan Gdansk, Valerenga, dan Santos dalam satu tanggal tertentu.

Jadi tidak melulu  dalam bentuk turnamen…

Ngantuk

Tujuan awal sebenarnya dari pre-season adalah menguatkan tim sebelum kompetisi resmi dimulai. Jadi ceritanya setelah kompetisi musim lalu selesai, para pemain diliburkan atau bebas memilih membela negaranya.

Masalah yang timbul adalah kebugaran fisik pemain akan jauh menurun ketika setelah liburan dibanding sebelum liburan, sehingga pre-season menjadi sarana untuk membiasakan badan mereka untuk kembali bermain.

Nah bagaimana dengan pemain yang membela negara mereka? tetap saja mereka diberi waktu libur ekstra sehingga bisa bergabung dengan rekan-rekan klub di ujung pre-season. Meski kebugaran pemain yang membela negaranya masih bisa dibilang bagus, namun pre-season penting juga untuk mereka.

Kenapa? karena itu berkaitan dengan tujuan lain pre-season, membentuk kekompakan tim. Kekompakan dan pembentukan pola permainan perlu dibina dari awal agar tidak kaget saat musim kompetisi resmi dimulai. Apalagi suatu klub pasti ada minimal satu pemain baru, sehingga pre-season bisa jadi sarana adapatasi.

Dengan tujuan membentuk kekompakan tim tersebut, maka hasil pertandingan jadi tidak begitu penting. Indikasinya gol tidak banyak tercipta. Kalau pun ada banyak gol, bisa dipastikan itu berasal dari kurang kompaknya lini belakang lawan.

Jadi jangan harap ada pertandingan pre-season tensi tinggi. Mungkin pelatih-pelatih berpikir, “Menang bagus, tidak menang tim dibenahi lagi..”. Akibatnya, fans layar kaca hanya bisa nonton sambil ngantuk. :D

Kontroversi Tanding Ulang Persija vs Persib

June 25th, 2013

Kemarin (24/6) PT. Liga Indonesia selaku administrator Liga Super Indonesia mengumumkan bahwa pertandingan Persija vs Persib yang “ditunda” akan berlangsung tanggal 28 Agustus 2013. Pertandingan yang seharusnya berlangsung tanggal 22 Juni terpaksa ditunda akibat bus yang mengangkut pemain dan official Persib dilempar oknum suporter Persija.

Setelah pelemparan bus tersebut, para pemain dan official segera meluncur berbalik ke arah Bandung. Di Bandung sendiri, para suporter Persib melakukan gerakan sweeping mobil ber-plat Jakarta untuk diintimidasi dan ditempeli stiker.

Dalam dunia sepakbola lumrah jika sebuah pertandingan ditunda dan dilanjutkan lagi dengan alasan tertentu. Namun saya menilai penjadwalan kembali pertandingan yang melibatkan gengsi dua kota besar tersebut dianggap kebijakan yang terlalu lunak. Mengapa begitu?

Pertama, melihat apa yang telah terjadi di liga-liga besar dunia pertandingan boleh ditunda jika keadaan tidak memungkinkan untuk menggelar pertandingan. Misalnya karena faktor cuaca. Untuk alasan ini, banyak klub-klub Inggris menunda partai liga karena serig terjadi badai salju. 

Lalu apakah partai Persija vs Persib layak untuk ditunda karena rusuh penyerangan bus Persib? sangat layak karena mengganggu stabilitas keamanan pertandingan dan mempengaruhi psikologis pemain yang akan bertanding.

Kedua, Mengacu pada contoh yang telah terjadi di sepakbola profesional adanya kekerasan dalam yang melibatkan satu atau lebih kelompok suporter maka federasi sepakbola yang bersangkutan sudah seharusnya memberi efek jera dalam bentuk hukuman.

Coba kita lihat kasus pelemparan kembang api oleh suporter Perempat Final Liga Champions antara Inter Milan vs AC Milan 2005 silam. Inter Milan dalam hal ini tidak bisa mengelola suporter dengan baik sehingga dihukum bertandingan tanpa suporter dan denda uang. Pertandingan Inter vs AC Milan sendiri dimenangkan AC Milan 0-3 karena pemberhentian pertandingan.

Final Heysel 1985 yang mempertemukan Juventus vs Liverpool diwarnai tragedi tewasnya 39 suporter serta 600 luka-luka. Tragedi terjadi saat suporter Liverpool mencoba menerobos dinding pemisah antara tribun suporter Liverpool dan tribun suporter netral yang diisi oleh suporter Juventus.

Denda yang dijatuhkan UEFA tidak main-main. Selang antara 1985-1991 klub-klub Inggris dilarang berlaga di kompetisi eropa. Enam tahun adalah harga yang harus dibayar akibat ketidakmampuan mengontrol diri.

Bagaimana dengan partai Persib vs Persija? apakah ada usaha untuk menimbulkan efek jera pada pelaku-pelaku terkait?. Belum ada denda yang dijatukan, malah dengan gampangnya admin liga memutuskan jadwal tanding ulang.

Mungkin dengan keputusan tersebut oknum yang terlibat kemarin berpikir, “Mending bikin rusuh terus, kan nggak ada hukuman“. Pola pikir seperti itu sebenarnya yang harus dihilangkan, dihilangkan dengan hukuman yang ber-efek jera.

Sudah terlalu banyak prahara sepakbola Indonesia. Mafia sepakbola, stadion yang tidak layak, pengelolaan klub yang berantakan, pembinaan usia muda yang tidak terarah, penunggakan gaji pemain dan lain-lain.

Sebenarnya sepakbola Indonesia itu maunya apa?. Jika terus begini energi kita habis dengan dengan hal-hal negatif seperti itu.

gambar :

sport.detik.com

liverpooldailypost.co.uk

Kisruh BBM

June 18th, 2013

Sudah seharian ini saya dipaksa mendengar perbincangan seputar bahan bakar minyak (BBM). Pro kontra bermunculan seputar jadi atau tidaknya kenaikan harga BBM akan diberlakukan. Bahkan ketika saya sidang, para dosen membuka topik awal dengan obrolan BBM.

Menurupakar minyak karbitan ini,harga BBM memang seharusnya sudah dari dulu dinaikkan. Kenapa baru sekarang teriak-teriak minta kenaikan BBM? apa manuver politik menjelang pilpres 2014? Who Knows

Yang jelas saya setuju harga BBM dinaikkan. Tidak pro rakyat? nanti dulu. Inilah faktanya dari sumber yang saya baca.

Indonesia sebagai negara penghasil minyak jenis crude oil hanya mampu menghasilkan sekitar 800.000 barrel per hari. Hasil minyak tersebut belum termasuk upak kontraktor. Sedangkan konsumsi harian rata-rata Indonesia berkisar 1,3 juta barrel per hari.

Setelah dikurangi bagian kontraktor asumsikan bagian pemerintah RI adalah sebesar 600.000 barrel. Lalu sisanya terpaksa harus mengimpor dari luar negeri. Indonesia mengimpor minyak jenis light sweet dan production oil yang merupakan tipikal minyak Arab atau Venezuela.

Kenapa yang diimpor jenis light sweet? karena Indonesia memiliki kilang minyak jenis light sweet oil. Celakanya cadangan minyak (crude oil) Indonesia akan habis dalam beberapa tahun mendatang sehingga investor tidak berani menanamkan modal membangu kilang jenis crude oil.

Jadi intinya Indonesia itu sedang kesusahan minyak. Ditambah lagi subsidi dari pemerintah, sehingga bertambah banyak APBN negara yang tersedot hanya untuk BBM. Belum lagi minyak bersubsidi sering salah sasaran. Coba saja cari berapa banyak oknum yang menyelundupkan BBM bersubdisi  kemudian dijual mahal di luar negeri.

Atau bagaimana mobil-mobil yang seharusnya mengkonsumsi pertamax malah membali minyak premium bersubsidi. Pemerintah setengah-setengah mendidik masyarakat tentang BBM ini. Tapi masih lebih baik jika dinaikkan sekarang daripada tidak sama sekali.

Well,…semua yang diatas itu menurut ahli minyak karbitan. Percaya boleh, tidak percaya silahkan. Kepala orang berbeda-beda, berbeda pula sudut pandangnya.

Tapi yang lebih menarik adalah pertemuan Tahiti vs Nigeria nanti malam (17/6) waktu Brasil. Anda pernah mendengar Tahiti, atau sering keseleo menyebutnya dengan Haiti?. Yang jelas negeri samudera tersebut jarang-jarang bisa disiarkan di televisi. Kenapa begitu? karena masuk Piala Dunia saja jarang.

Lalu apa hubungannya Piala Konfederasi dengan kisruh BBM? hmmm…..pihak yang terlibat sama-sama eksotik. Jika Tahiti eksotik dengan pesona-nya, maka kisruh BBM eksotik dengan manuver politiknya. :D

Pustaka :

twitter.com/triomacan2000

google.com

Cerita Piala Konfederasi

June 13th, 2013

Digagas oleh Raja Fahd dari Arab Saudi hingga diambil alih oleh FIFA, Piala Konfederasi mengalami cerita panjang sejak penyelenggaraan perdana tahun 1992. Kini Brasil siap menggelar pesta pemanasan menjelang Piala Dunia 2014.

Piala Konfederasi pertama kali diadakan oleh federasi sepakbola Arab Saudi pada tahun 1992. Pada dua penyelenggaraan awalnya tahun 1992 dan 1995, turnamen ini bernama King Fahd Tournament. Pesertanya adalah timnas Arab Saudi beserta 3 tim undangan Argentina, Pantai Gading, dan Amerika Serikat. Argentina menjadi juara setelah melibas Arab Saudi.

Piala King Fahd kedua diselenggarakan tahun 1995 dengan menambah dua peserta menjadi 6 negara. Enam negara tersebut dibagi menjadi dua grup. Juara grup langsung bertemu di final yang mempertemukan Denmark dan Argentina.Kali ini Denmark keluar sebagai juara.

Mulai tahun 1997, FIFA sebagai federasi sepakbola dunia mengambil alih turnamen ini. FIFA mengubah format turnamen dan menambah peserta menjadi 8 tim yang diambil dari juara masing-masing 6 kontinental beserta tuan rumah dan juara piala dunia. Edisi inilah yang mengawali penamaan Piala Konfederasi (Confederetions Cup).

Selanjutnya Piala Konfederasi diadakan tiap 2 tahun sekali dengan tuan rumah yang berbeda. Mulai dari Meksiko 1999, Korea Selatan 2001, dan Prancis 2003. Meksiko berhasil menjadi juara tahun 1999 Prancis menggenggam dua trofi 2001 dan 2003.

Perubahan dilakukan lagi di edisi 2005. FIFA menetapkan Piala Konfederasi akan digelar setahun sebelum Piala Dunia dan bertempat dimana Piala Dunia akan diselenggarakan. Jerman yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006 menjadi kehormatan pertama menggelar Piala Konfederasi 2005. Perubahan itu membuat Piala Konfederasi diadakan 4 tahun sekali.

Pergelaran selanjutnya dilakukan tahun 2009 di Afrika Selatan (tuan rumah Piala Dunia 2010) dan tahun 2013 ini di Brasil (tuan rumah Piala Dunia 2014).

Pemanasan, Teknologi dan Tahiti

Karena digelar setahun sebelum Piala Dunia, maka banyak yang menganggap Piala Konfederasi sebagai pemanasan sebelum perang sesungguhnya dimulai. Hal tersebut wajar karena sebagai tuan rumah yang memiliki hak khusus tampil langsung di Piala Dunia tidak memiliki duel yang kompetitif guna mematangkan skuad.

Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014 jelas mengalami hal tersebut. Tidak ikut sertanya mereka di kualifikasi Piala Dunia membuat Brasil hanya menjalani serangkaian uji coba, dan uji coba yang tidak terlalu ngotot tersebut berjalan tidak sempurna. Beberapa kali mereka kalah dan menuai seri hingga kini mereka terdampar di posisi 22 peringkat FIFA.

Italia yang datang sebagai undangan pada ajang ini juga menyikapi Piala Konfederasi sebagai ajang pencarian pemain utama dan pemberian kesempatan kepada pemain-pemain muda. Meski begitu, Italia tetap akan bermain all out apalagi pada babak grup akan langsung bertemu Brasil.

Piala Konfederasi juga akan menjadi ajang uji coba teknologi garis gawang FIFA. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali kontroversi mengenai masuk atau tidaknya bola ke gawang. Peristiwa tidak disahkannya gol Frank Lampard 2010 dan gol siluman Geoff Hurst 1966 tentu tidak ingin terulang lagi.

Penggunaan teknologi garis gawang oleh FIFA sebelumnya dilakukan pertama kali di Piala Dunia Antar Klub 2012 lalu, sehingga FIFA memutuskan kembali menggunakannya di Piala Konfederasi 2013. Terinspirasi oleh FIFA, federasi liga Inggris juga akan menggunakan teknologi tersebut mulai musim kompetisi 2013-2014.

Piala Konfederasi 2013 juga akan memunculkan nama baru : Tahiti. Tim pasifik tersebut datang dengan status juara Oseania atau konfederasi Oseania. Sebelumnya Australia (kini berpindah ke konfederasi Asia) atau Selandia Baru yang selalu datang mewakili Oseania.

Ini adalah kesempatan bagus bagi Steevy Chong Hue dkk. untuk menunjukkan sepakbola negara mereka. Maklum saja Tahiti hanya dikenal sebagai negara pariwisata maritim yang memanfaatkan  letak geografis mereka.

Menolak tampil

Jerman sebagai juara Piala Eropa 1996 tentu punya hak untuk tampil di edisi 1997, namun Der Panzer menolak tampil sehingga digantikan oleh runner-up Piala Eropa 1996 Republik Ceko.

Tahun 2003 lagi-lagi Jerman menolak tampil. Mereka kali ini diundang sebagai pengganti Brasil yang mengambil status keikutsertaan sebagai juara Amerika Selatan. Jerman yang menjadi runner-up Piala Dunia 2002 akhirnya digantikan Turki yang berstatus juara 3 Piala Dunia 2002.

Prancis juga menolak tampil di edisi 1999. Tim Ayam Jantan yang berstatus juara Piala Dunia 1998 akhirnya digantikan oleh Brasil yang berstatus juara kedua Piala Dunia 1998. Ditengarai keengganan Prancis dan Jerman mengikuti edisi pada waktu itu dikarenakan Piala Konfederasi hanya sebagai pemadat jadwal yang tidak penting.

Statistik

Brasil menjadi negara dengan keikutsertaan terbanyak dengan 6 kali penampilan. Mereka telah tampil sejak edisi 1997 berturut-turut hingga 2009. Edisi 2013 menjadi penampilan ketujuh negeri samba.

Brasil juga mencatatkan diri sebagai juara terbanyak dengan 3 kali juara (1997,2005,2009) dan 1 kali juara kedua (1999). Prancis mengikuti dengan dua kali juara (2001 dan 2003) . Argentina, Meksiko, dan Denmark masing-masing mencicipi satu gelar juara.

Marc Vivien Foe

Semifinal Piala Konfederasi 2003 antara Kamerun-Kolombia menjadi pertandingan terakhir pemain Kamerun Marc Vivien-Foe. Gelandang Man.City tersebut meninggal karena serangan jantung.

Kejadian tersebut bermula ketika pertandingan berusia 72 menit, Foe kolaps di lapangan dimana tidak ada pemain lain didekatnya. Pertolongan pernafasan dibuat di tengah lapangan hingga ia ditarik keluar untuk diberi pertolongan oksigen.

Tim medis menghabiskan 45 menit untuk berusaha membuat jantungnya berdetak kembali. Ia kemudian meninggal saat meninggalkan pusat medis stadion meski telah berbagai cara dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya.

Pertandingan semifinal akhirnya dimenangkan Kamerun 1-0, meski begitu Prancis dan Kamerun yang menjadi finalis mengusulkan agar pertandingan final dihentikan guna menghormati Foe. Namun pertandingan final tetap digelar dengan suasana persatuan antar pemain Prancis-Kamerun.

Prancis akhirnya memenangkan pertandingan final lewat gol semata wayang Thierry Henry. Penyerahan piala dan medali dilangsungkan tanpa rasa gembira berlebihan. Kapten Prancis Marcel Desailly mengangkat piala bersama-sama dengan kapten Kamerun Rigobert Song tanda mereka adalah juara bersama.

Sementara dua pemain Kamerun lain mengalungkan medali di foto raksasa Foe sebagai tanda peghormatan. Rumornya, Piala Konfederasi akan dinamai menjadi Marc Vivien-Foe Cup sebagai penghormatan namun hingga saat ini kejuaraan ini tetap bernama Piala Konfederasi.

Jadwal dan Peserta Piala Konfederasi 2013 bisa dilihat di : www.fifa.com/confederationscup/index.html

Gambar : google.com

Wembley Berbau Jerman

May 25th, 2013

Kalau Fussball Arena Munich dikenal sebagai venue kelahiran juara UCL baru, mungkin Wembley lebih tepat disebut keberuntungan tim tradisional. Jadi Bayern akan juara di final nanti??.

Sabtu (25/5) menjadi penentuan yang terbaik di Liga Champions Eropa (UCL) dimana final akan mempertemukan dua tim Jerman, Borussia Dortmund vs Bayern Munchen. Final se-negara ini adalah yang ke-empat (sebelumnya Spanyol, Italia, Inggris) dan yang pertama dalam sejarah Jerman di Liga Champions.

Bagi Jerman final UCL tahun ini menjadi kado ganda untuk mereka.Kado ganda tersebut adalah menempatkan dua klub mereka di final dan final ini berlangsung di “rumput suci” sepakbola Inggris :  Stadion Wembley Baru. Bagi Inggris ini adalah kado pahit ulang tahun FA ke 150 karema mereka harus menerima 2 klub Jerman bertarung di Wembley baru.

Sudah jadi rahasia umum jika di sepakbola, Inggris dan Jerman selalu bersaing sengit. Jika ditarik kebelakang, persaingan dimulai dari gol hantu Geoff Hurst ke gawang Jerman tahun 1966, drama adu penalty Inggris-Jerman di semifinal Euro 1966 hingga drama Dietmar Hamaan di kualifikasi Piala Dunia 2002. Semua “perang” Inggris-Jerman itu memiliki kesamaan latar : Stadion Wembley lama.

Memang, Wembley yang sekarang bukanlah Wembley lama seperti dulu. Wembley kuno memiliki arsitektur berupa dua menara kembar. Rumput didesain agak luas hingga terdapat spasi yag cukup antara gawang dan papan sponsor. Tribun kehormatan penyerahan trofi juga tidak setinggi Wembley baru.

Jerman punya kisah manis di Wembley lama. Kemenangan bisa diraih di tahun 1972,1996,dan 2000 meski kalah menyakitkan 4-2 di final Piala Dunia 1966 lewat gol hantu Hurst. Namun publik Jerman mungkin bisa melunturkannya karena juara di Euro 1996 (partai final dilangsungkan di Wembley) dan Piala Dunia 1972.

Yang agak lucu adalah ketika FA membuka polling untuk memberi nama jembatan di atap  Wembley baru, publik Jerman serentak memilih nama Dietmarr Hamann sebagai nama jembatan tersebut. Dietmarr Hamann adalah mantan pemain Bayern Munchen, Liverpool, dan Man CIty yang menjadi pemain terakhir yang mencetak gol di Wembley lama kala Inggris bersua Jerman di kualifikasi Piala Dunia 2002.

Meski bukan nama Hamann yang dipilih, tetap saja Jerman bisa superior di Wembley baru. Tahun 2007 dua gol Kevin Kuranyi dan Christian Pander dibantu blunder David James memberi Jerman kemenangan 2-1. Kemenangan pertama “Jerman” di Wembley baru.

Tim Tradisional Eropa

Di pentas Liga Champions Eropa, Wembley adalah kesayangan tim-tim tradisional yang menguasai Eropa hingga kini. Tercatat AC Milan, Manchester United, Ajax Amsterdam, Liverpool, dan Barcelona pernah berjaya di final Wembley. AC MIilan, Ajax, dan Liverpool adalah pemegang badge of honour (BOH) karena mereka berhasil menjuarai Liga Champions lebih dari 3 kali. Sedangkan Barcelona dan Manchester United adalah dua penguasa liga masing-masing.

Sebagai unggulan tentu Bayern Munchen diunggulkan atas Borussia Dortmund di final. Bayern juga salah satu tim tradisional eropa mengingat prestasi mereka sebagai pemegang 4 juara liga champions sekaligus menyandang BOH. Menyingkirkan Barcelona dengan agregat fantastis 7-0 juga bisa sebagai acuan.

Dortmund bukannya tim lemah. Mereka juga pernah menjuarai UCL tahun 1997 yang finalnya berlangsung di rumah lawannya dulu, Olympia Stadium Munchen. Selepas itu mereka terus menurun bahkan hampir di vonis kolaps hingga bisa bangkit lagi seperti sekarang.

Terlepas mitos Wembley tersebut tetap saja Jerman kembali menancapkan kaki di Wembley baru. Mungkin perbedaan yang terlihat adalah : Ratu Elizabeth II yang menyerahkan trofi Piala Eropa 1996  tidak akan hadir di pesta Jerman kali ini.

gambar : google.com

Sebastian Deisler : A sad clown

May 13th, 2013

Kegagalan Jerman di Piala Dunia 1998 setelah kalah menyakitkan dari Kroasia 3-0 menyiratkan tim nasional panzer perlu sebuah pembaruan. Sebagai juara piala eropa dua tahun sebelumnya hal tersebut terbilang memalukan, apalagi kalah dari sebuah negara yang baru pertama kali masuk piala dunia.

Lalu sebuah talenta Jerman baru muncul sebagai harapan untuk membawa perubahan pada tim nasional. Dialah Sebastian Deisler. Seorang bocah berumur 18 tahun dari Jerman Barat.

Sang bocah pertama kali muncul ke permukaan kala Borussia Dortmund bertemu Eintracht Frankfurt. Memang debut pertama kurang impresif, namun ia mulai mendapat perhatian lebih enam bulan kemudian saat melawan TSV 1860 Munich.

Tidak ada yang bisa melupakan pertunjukan solo run-nya saat membantu timnya menghajar TSV 2-0. “Bola seperti lengket di kakinya. Kejadian itu persis seperti gol Gunther Netzer saat final piala Jerman melawan FC Koeln 1973″, sebut koran Jerman Sueddeutsche Zeitung dengan penuh antusias.

Setelah itu puja-puji mengalir kepadanya. Dia dicap sebagai Messiah sepakbola Jerman dan dianggap menyamai legenda-legenda macam Fritz Walter, Uwe Seeler dan Franz Beckenbauer. Pelatih nasional Erich Ribbeck  tag ragu menyertakannya dalam beberapa kesempatan bermain.

Meski begitu, Deisler tetaplah Deisler. Ia gagal menyelamatkan Gladbach dari jurang degradasi setelah bermain sebanyak 17 partai musim itu hingga ia pindah ke Hertha Berlin. Harapan baru muncul pada ‘Basti Fantasti’ di klub ibukota.Ia beranggapan : “Aku baru 19 tahun, mereka (publik) mengharapkan aku untuk menyelamatkan sepakbola Jerman. masih ada yang lain seperti Michael Ballack, dan mereka tidak memberiku waktu untuk berkembang”, seperti dikutip Die Zeit.

Bersama Hertha, Deisler mendapat kesempatan bermain reguler sementara itu adalah jalan lempang menuju tempat di tim nasional. Tetapi ia tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Ia tidak bisa menjadi dirinya sendiri seperti yang diungkapkan pada Die Zeit : “Aku harus jujur dengan keadaanku di Hertha. Mereka senang sekali menurunkanku ke hadapan singa-singa sepakbola. Aku tidak bahagia sementara berusaha membuat publik gembira. Aku merasa sedih seperti badut murung.”

Tiga tahun bersama Hertha ia lalu memutuskan pindah ke Bayern Munich bersama cedera bawaan-nya. Logikanya pindah ke Bayern adalah salah satu anak tangga untuk mencapai kesuksesan bagi remaja Jerman. Bagi Deisler, pindah ke Bayern memberi harapan baru bagi karirnya karena ia bisa bermain dengan bintang-bintang lain.

Bayern pun menaruh harapan besar kepadanya. Ia digadang-gadang menjadi penerus kapten legendaris peraih Liga Champions 2001, Steffan Effenberg. Di lapangan itu masuk akal, namun di luar lapangan keduanya bagai keju dan kapur.

Pada tahun 2003 ia mengalami depresi. Presiden Uli Hoeness menunjukkan dukungannya dengan memberinya waktu berkembang bersama pemain lainnya. Namun sekali lagi cedera membuatnya jatuh. Deisler berkata : “Aku tidak pernah mendapat waktu untuk berkembang menjadi seorang pemain yang dewasa. Aku berterimakasih atas kepercayaan Uli selama ini, namun sekali lagi ini adalah masa-masa sulit bagiku.”

Akhirnya Deisler menemukan akhir karirnya. Pada tahun 2007 ia memutuskan untuk pensiun dini dengan umur baru menginjak 27 tahun. Ia menjalani total 134 partai Bundesliga dan 36 penampilan bersama timnas Jerman. Sangat jauh dari harapan.

“Ia adalah salah satu bakat terbaik yang dihasilkan Jerman. Sulit dimengerti mengapa ia bisa pensiun dengan se-tragis itu. Tapi bagaimanapun juga tubuh dan mentalnya sudah kalah”, Uli Hoeness berujar.

“Pada akhirnya saya selesai. Saya berusaha menyelaraskan kaki dan pikiran saya namun tidak bisa. Aku sudah lelah,” kata Deisler kepada Tagesspiegel.

Cedera beruntun dan masalah mental adalah karang yang ia tidak bisa taklukkan. Karirnya stagnan walau ia berhasil meraih 3 trofi Bundesliga bersama Bayern. Penyelamat sepakbola Jerman harus berjuang menyelamatkan dirinya sendiri.

Sekarang Deisler mencoba hidup baru dengan membuka usaha penjualan barang-barang dari Asia di Freiburg, Jerman Selatan.

*dari berbagai sumber

Bukan Sekadar Futsal

January 1st, 2013

Senin malam hujan turun lebat, seperti keseluruhan hari dalam seminggu ini yang dialami kota tercinta. Namun hujan lebat tidak menyurutkan kami untuk melakukan hobi kami : futsal.

Kebanyakan orang mungkin mengganggap hal yang kami lakukan berlebihan. Hujan yang lebat,nekat datang ke lapangan hanya untuk bertarung 5 lawan 5 memperebutkan satu bola. Lagipula malam seharusnya merupakan jam biologis untuk tubuh istirahat.

Tapi yang namanya sebuah komitmen terhadap sesuatu yang disukai, apapun akan dilakukan untuk mengerjakan atau mencapainya. Mirip dengan apa yang dialami remaja baru jatuh cinta. Belum lagi jika mempertimbangkan bahwa kami (atau mungkin saya) hanya sekali seminggu sekali berfutsal (pada minggu ini).

Senin malam memang jadwal tetap saya bermain futsal bersama perkumpulan pemuda-pemuda minang yang beragam profesi dan kebiasaan. Tidak hanya bermain dengan mereka, saya juga kadang meng-aminkan undangan bermain futsal dengan teman-teman sekampus saya atau se-SMA saya dulu. Jadi paling tidak ada tiga kali jadwal futsal yang saya jalani. Namun bermain futsal dengan pemuda-pemuda Minang ini menjadi kegiatan rutin.

Jika dirunut dari awal bermain futsal rutin bersama mereka, agak aneh karena saya dulunya hanya diajak bermain sekali oleh kakak tingkat SMA dulu. Karena mereka tidak ada kiper “yang biasa” jadi kiper maka saya diajak rutin. Jadi jangan heran jika pertama kali bertemu dengan mereka saya tidak mengenal satu pun kecuali kakak tingkat saya tadi.

Lama kelamaan saya yang awalnya bermain aman untuk mengenal mereka, mulai berani mendekatkan diri baik itu di dalam dan luar lapangan. Dan sama seperti saya mereka menganggap futsal sebagai suatu oase di tengah gersangnya kesibukan selama seminggu.

Kakak tingkat SMA saya dulu yang bernama Zandra misalnya. Ia dulu sebenarnya sempat mengambil kuliah di kota Padang namun entah karena tidak sanggup kuliah lagi atau lebih mengikuti naluri Minang-nya untuk berdagang sehingga ia berhenti kuliah dan fokus membantu orang tua berdagang.

Kak Zandra sempat pula bercerita tentang kehidupannya dulu di Riau yang dianggapnya tidak sesuai dalam artian finansial sehingga lagi-lagi  lebih memilih berdagang. Dalam kebosanan berdagang itulah ia usir dengan futsal senin malam. Futsal juga yang membuat ia tidak memilih Riau sebagai kelanjutan hidupnya karena disana ia tidak akan bisa bermain futsal.

Budi juga serupa dengan kak Zandra. Ia melampiaskan sepinya di kota ini sebagai pelajar kuliahan rantau dengan futsal. Tidak begitu jelas berapa kali ia berfutsal dalam seminggu. Tetapi jika melihat dari caranya bermain sepertinya ia memiliki koneksi bermain yang luas.

Seperti juga yang lain yang berprofesi makelar motor, pedagang grosiran, anak SMA, dan juga mahasiswa hampir lulus seperti saya. Kami menganggap futsal tidak hanya sebagai permainan berebut bola 5 lawan 5, namun sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan sosial dan aktualisasi diri. Lagipula kami semua suka sepakbola.

Dan dari futsal ini ada  beragam karakter-karakter mereka yang berbeda yang saya liha dari detil-detil yang mereka perlihatkan. Semua saya perhatikan dari cara mereka datang hingga cara mereka bermain di lapangan.

Aldo misalnya. Si rupawan ini bermain bagus dalam beberapa kesempatan namun tidak konsisten semangat juangnya. Kadang-kadang Aldo tidak bermain se-serius teman-teman yang lain. Saya berasumsi Aldo terbiasa hidup enak, terlihat dari mobil-mobil yang biasa ia bawa dan sepatu mahal yang ia gunakan. Hmm..wajarlah karena dia anak pengasaha besar.

Atau mungkin bang Roni yang jiwa kepemimpinannya tinggi. Dialah pengatur jadwal, keuangan, dan juga pengatur “suhu” luar lapangan. Kemampuannya biasa saja kalau tidak mau dikatakan dibawah rata-rata kami yang lain. Namun tiga hal yang saya sebutkan diatas tadi itulah yang membuat dia dihormati.

Memang aneh jika memikirkan sebuah permainan berebut bola bisa diperluas sebagai sarana bersosialisasi dan mengenal karakter satu sama lain. Dan memang aneh (kalau tidak mau dikatakan berlebihan) ada orang yang mau repot-repot memikirkan nilai-nilai  sebuah permainan sebagai suatu saran perluasan ke pemikiran lain.

Sekali lagi sangatlah aneh mencermati diri saya sibuk mencermati orang lain sementara mendapati diri saya begitu pendiam dan pasif jika sudah berada di luar lapangan dan berbaur dengan sebuah komunitas. -_-