Archive for the ‘life’ category

Menambahkan Widget

January 26th, 2018

Widget adalah hiasan blog yang biasanya ditampilkan pada sisi kanan, atas, bawah atau kiri halaman utama. Fungsinya adalah sebagai penghias blog, namun tak jarang pula widget justru membuat tampilan blog sulit terbuka (loading lama). Pada wordpress, widget bisa ditampilkan melalui menu appearance. Pada blogger, widget bisa ditampilkan melalui menu tata letak/layout.

Bagi kalian yang sudah mahfum dengan blog, sebaiknya skip saja tulisan ini :D . Namun untuk kalian kelas 8H SMPIT Iqra yang ingin sekali membuat indah blognya, berikut beberapa referensi widget blogger.

1. Follow me on twitter by custom icon

Fungsi widget ini adalah untuk menampilkan link twitter kalian di blog. Kunjungi custom icon, pilih ikon seperti digambar, kemudian edit sesuka hati kalian.

7

2. Flag counter

Widget flag counter berguna untuk menampilkan warga negara-negara yang mengunjungi blog kalian.

8

First Post Since…. : Membuat Presentasi di Blogger

January 26th, 2018

Assalamualaikum,

It’s been a long time since i posted my last post. Pada kesempatan ini saya akan membuat sebuah tutorial penampil slide di google yang biasa disebut google slide. Google slide adalah fitur pada google drive. Tulisan ini saya khususkan untuk murid-murid 8H yang berbahagia. Semoga bermanfaat.

» Read more: First Post Since…. : Membuat Presentasi di Blogger

Sebuah Catatan

May 2nd, 2014

Tidak sengaja saya membaca sebuah catatan tentang ujian nasional dari seorang pelajar di Surabaya. Catatan tersebut berisikan curahan hati sang pelajar terhadap dilematika ujian nasional sehingga memaksa saya untuk ikut menyuarakan tentang ujian nasional dan sistem pendidikan Indonesia, walau hanya dalam kapasitas catatan webblog.

Dalam catatan tersebut diatas, sang pelajar mengungkapkan 3 poin negatif tentang ujian nasional. Tiga poin tersebut adalah :

1. Kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional

2. Bobot soal ujian nasional keluar dari SKL, dimana soal ujian nasional terbagi dalam 20 paket

3. Standar sekolah Indonesia yang belum merata sehingga sulit mencapai tolak ukur hasil belajar

Megingat poin-poin negatif tersebut, maka saya mencari apa sebenarnya tujuan dari ujian nasional. Dan menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 153/U/2003 Tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 bahwa tujuan dan fungsi ujian nasional seperti yang tercantum dalam SK Mendiknas 153/U/2003 yaitu :

1.  Mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik

2. Mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah.

3. Mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional, propinsi, kabupaten/kota, sekolah/madrasah, dan kepada masyarakat.

Dari tujuan-tujuan ujian nasional diatas, saya ingin berpikir kembali ke dasar. Apakah belajar itu? idealnya belajar adalah suatu kegiatan yang menuntut proses berpikir pemelajar. Belajar dikaitkan dengan kemampuan untuk hidup. Sebagai contoh dalam Biologi, anak Harimau memperhatikan induknya mencari mangsa. Anak Harimau tersebut mau tidak mau harus memperhatikan karena hal tersebut karea berkaitan dengan daur hidup. Jika salah memahami, maka akan berbahaya untuk kehidupan ia selanjutnya alias sulit mendapat makan.

Jadi, bagaimana sebenarnya belajar di Indonesia? Belajar di Indonesia hanya mengapal, menghapal, dan mendapat nilai. Itu terjadi dari bangku dasar hingga bangku tinggi. Lalu pencapaian belajar seperti apa yang diharapkan? apakah nilai-nilai tinggi seorang pemelajar? atau kecemerlangan pola pikir dan karakter?

————————————————————————————————-

Saya ingin mengulang kembali masa dimana saya belajar di sekolah. Saya masih ingat ketika itu belajar adalah menghapal. Saya dijejali berbagai macam ilmu pengetahuan tanpa melihat pandangan dan hubungannya dengan dunia aktual.

Beruntunglah anak-anak yang memiliki sumber daya pengetahuan seperti buku, internet dan orang tua karena dengan sumber daya itu hubungan pengetahuan yang diajarkan sekolah bisa tercapai dengan dunia aktual bisa dicapai dengan baik.

Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki akses ke sumber pengetahuan? Bagaimana dengan anak-anak yang tidak dapat didampingi orang tua ketika mereka terbentur materi pelajaran?

Saya sangat merasakan bagaimana pentingnya peran orang tua dalam proses belajar anak. Orang tua begitu penting untuk menjaga kestabilan emosi anak dan mendampingi anak dalam kesulitan memahami materi.

Orang tua yang sadar akan peran membimbing anak tentu hanya bisa dicapai dengan kesejahteraan keluarga yang baik. Lalu kesejahteraan keluarga hanya bisa dicapai jika pemerintah memberdayakan masyarakat dengan pendidikan sehingga menjadi ahli di bidangnya.

————————————————————————————————-

Terakhir, saya ingin menyampaikan saran untuk pendidikan Indonesia.

1. Belajar ala Prusia dimana guru menjadi penguasa kelas dengan sistem ceramah,lalu anak-anak mendengar dengan pasif  sangat tidak relevan dengan dunia yang berkembang seiring majunya kreatifitas manusia. Maka sekolah-sekolah sudah seharusnya mengurangi porsi belajar pasif dan mengganti menjadi belajar aktif.

2. Pekerjaan rumah tidak menjadi beban anak-anak. Kebanyakan guru membuat sistem pekerjaan rumah karena materi yang tidak cukup untuk dikejar dan berkurangnya interaksi guru dengan siswa karena ada kurikulum belajar yang harus dikejar serta jumlah guru yang tidak sebanding dengan murid.

3. Menekankan pentingnya kecerdasan moral dan emosi anak karena penting untuk bekal hidup dan menghadapi masyarakat yang beragam. Saya menganggap skpetis ujian-ujian yang berkembang sekarang (termasuk ujian nasional) karena ujian  tidak sama sekali menggali potensi anak yang sesungguhnya.

4. Tidak serta merta mengagungkan nilai dalam mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu perlu diterapkan proses pembelajaran metode Problem Based Learning.

5. Reformasi dalam pemilihan guru di berbagai tingkat. Guru-guru yang berkualitas mutlak diperlukan untuk pendidikan berkualitas. Kesejahteraan guru harus berbanding lurus dengan kualitas guru.

Selamat Hari Pendidikan, semoga pendidikan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Kegiatan Kecil : Lembar Perilaku

March 17th, 2014

Belum lama ini saya mengadakan kegiatan kecil-kecilan tentang bagaimana perasaan dan emosi anak sebenarnya. Kegiatan tersebut melibatkan deretan pertanyaan-pertanyaan yang melibatkan emosi anak, yang kemudian diberi nama Lembar Perilaku.

Lembar Perilaku (dikembangkan oleh Dr. Michele Borba)

Lembar Perilaku

Lembar Perilaku adalah suatu metode pengembangan diri untuk anak-anak yang diciptakan oleh Dr. Michele Borba, psikolog Amerika. Lembar perilaku sangat berguna untuk pengembangan diri anak dalam hal evaluasi diri, mengekspresikan emosi, belajar mengambil keputusan, serta kontrol diri melalui berpikir sebelum bertindak.

Dalam kegiatan kecil “dadakan” saya ini, terdapat lima anak yang saya pilih untuk mengisi lembar perilaku. Masing-masing anak berusia antara 10-11 tahun, atau kelas 5 SD. Dalam mengisi lembar perilaku tersebut  saya memberi isyarat kepada mereka bahwa tidak perlu mencontek, cukup isi menurut perasaan hati.

Dari kelima anak yang saya beri tugas tersebut, satu anak ternyata tidak bersedia mengisi. Jadi hanya tersisa empat anak yang bersedia. Dan hasilnya? dapat disimpulkan dalam poin-poin dibawah ini.

1. Dari lembar perilaku yang diisi oleh empat anak 10-11 tahun (empat anak tersebut berteman) ternyata memiliki konflik tersembunyi diantara mereka.

2. Dari empat anak, satu anak bermasalah dengan sisi egosime pribadi dan belum matangnya untuk memandang dari sisi orang lain.

3. Dari empat anak, ada satu anak yang memiliki nurani yang baik namun tidak memiliki kepercayaan diri dan ekspresi emosi yang baik.

Foto0141

Lembar perilaku tersebut diatas menyadarkan saya pentingnya perkembangan emosi anak pada masa perkembangan. Lembar perilaku mungkin hanya sebuah coretan di kertas, namun saya berharap mereka setidaknya dapat mengekspresikan emosi mereka serta mengevaluasi diri untuk lebih baik.

Menjawab Pertanyaan Caca

February 16th, 2014

Kurang lebih setahun yang lalu, Caca (@chachasaphira) yang kala itu masih duduk di kelas 1 SMP bertanya kepada saya. Pertanyaannya kira-kira begini, “Kenapa ada seorang kakak yang pintar (akademis) sedangkan adiknya biasa-biasa saja?”.

Tentu agak sukar menjawab, karena memang saya tidak begitu familiar dengan pendidikan atau psikologi pendidikan, atau yang psikologi yang berhubungan dengan otak secara kompleks yaitu psikologi klinis.

Sekarang, saya merasa mendapat inspirasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun saya tidak berencana untuk memberitahu langsung empat mata dengan Caca karena mungkin saja dia sudah lupa. Jadi jika Caca tiba-tiba ingat pertanyaan tersebut, mudah-mudahan ia membaca tulisan ini.

————————————————————————————————–

1. Poin Pertama

Kecerdasan, dalam hal ini intelejensi otak, berhubungan dengan gizi yang diasup. Hal tersebut wajar karena proses belajar adalah proses yang melibatkan sel-sel syaraf individu. Menurut Salman Khan dalam bukunya One World Schoolhouse, ketika sel-sel dilibatkan dalam proses pembelajaran, sel tersebut akan berkembang.

Kemudia sel-sel yang terdidik akan mengembangkan jalur sinaptik baru menghubungkan sesel tersebut dengan sel-sel lain. Proses ini berulang seiring dengan frekuensi belajar manusia. Sehingga jaringan-jaringan yang dibentuk membangun hubungan yang lebih banyak membentuk sebuah pemahaman.

Ada banyak proses kimia dan elektrik yang terjadi, sehingga ini menjadi alasan belajar atau berfikir membutuhkan kalori. Pengasupan gizi yang baik akan membentuk sel-sel syaraf yang baik untuk perkembangan otak. Ibaratkan saja proses belajar sama dengan membentuk otot, semakin sering seseorang berlatih maka semakin terbentuk otot seseorang tersebut.

Jadi, poin pertama adalah tentang gizi. Anak yang kecerdasannya baik kadangkala mendapatkan asupan gizi yang baik. Begitu pula sebaliknya.

2. Poin Kedua

Kecerdasan berfikir tidak akan berarti banyak tanpa kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional pada masa perkembangan anak-anak dan remaja meliputi bagaimana ia mendorong dirinya untuk terus berusaha, melawan godaan untuk memuaskan diri, memotivasi diri secara internal, dan lain-lain.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak  yang memiliki nilai akademik yang bagus ternyata memiliki kecerdasan emosional yang baik. Padahal bisa jadi anak-anak dalam penelitian tersebut memiliki IQ yang tidak terlalu jauh perbedaanya.

3. Poin Ketiga

Dalam bukunya Emotional Intelligence, Daniel Goleman mengatakan bahwa emosi itu menular. Dari situ dapat diperkirakan bahwa pengharapan dan pola pikir positif dapat ditularkan kepada orang lain.

Lingkungan yang kondusif, entah itu di keluarga dan sekolah membuat anak labih baik dalam belajar. Sehingga jika anak-anak berada dalam lingkungan positif, maka ia akan menjadi pribadi yang positif dan menular pada keinginan yang kuat untuk belajar.

————————————————————————————————–

Dari sini saya bisa simpulkan bahwa prestasi akademik seorang anak dipengaruhi oleh kombinasi kecerdasan berfikir (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan moral. Semua itu dipelajari secara awal dari keluarga.

Mengapa anak-anak berperilaku mengganggu?

January 18th, 2014

Beberapa hari yang lalu berkumpullah murid-murid di rumah saya untuk belajar. Semua berjalan dengan lancar hingga tiba waktunya pulang. Seorang murid bernama Fifi tiba-tiba datang dengan muka muram sembari menangis. Kemudian saya mengetahui ada kesalahpahaman dan konflik antar teman sehingga Fifi bersitegang dengan teman-teman yang biasanya akrab dengannya.

Lalu ada seorang gadis bernama Viona yang tiba-tiba datang menangis setelah sebelumnya pergi bermain dengan teman-temannya. Kebetulan teman yang sama dengan teman-teman Fifi. Ia mengatakan bahwa ia telah didorong dan disakiti dalam suatu kontak. Reaksi teman-teman yang melakukannya sangat mengejutkan, “Cuma segitu aja nangis“, “Saya nggak mau minta maaf, malas banget!”.

Memang dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan pelajaran. Mereka perlu belajar lebih banyak tentang moral, pendidikan, maupun tentang esensi belajar itu sendiri. Dan konflik antar mereka adalah salah satu sarana untuk mengambil hikmah dan belajar moral sosial yang benar, tergantung dari adanya orang-orang terdekat untuk mengarahkan.

Menurut Dr. Michel Borba dalam bukunya Building Moral Intelligence, anak-anak sering mengganggu dan melakukan kontak fisik berbahaya sehingga menimbulkan konflik, disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut.

1. Kurang empati. Tidak memahami perasaan orang yang tidak diperlakukan dengan baik. Dalam hal diatas, teman-teman Fifi dan Viona belum bisa ber-empati dengan baik.

2. Kurang harga diri. Ia merasa rendah diri, sehingga merendahkan orang lain.

3. Balas dendam. Ia sering diejek sehingga mengejek kembali sebagai pembalasan.

4. Ingin diakui. Karena ingin dianggap seseorang/sesuatu dalam kelompoknya, ia menjelek-jelekkan kelompok lain.

5. Tidak mampu mengatasi masalah. Tidak tahu bagaimana mengatasi permasalahan atau perselisihan, sehingga ia mengejek atau mengatai orang lain.

6.  Cemburu. Ia cemburu karena anak lain mendapat perhatian lebih entah dari guru atau orang yang dihormati lainnya. Dalam kasus Fifi, itulah yang terjadi.

7. Bagaimana ia diperlakukan. Ia diperlakukan tidak baik, sehingga meniru perbuatan yang tidak baik.

8. Ingin menunjukkan kekuasaan. Mengganggu orang lain membuat ia merasa lebih berkuasa.

9. Tidak pernah diharapkan berlaku baik. Tidak seorang pun mengatakan bahwa perilaku buruk itu tidak diperbolehkan.

10. Kemampuan bersosialisasi yang rendah. Ia tidak tahu cara berinteraksi yang baik dan benar – bekerja sama, berunding, berkompromi, membesarkan hati, mendengarkan – sehingga ia merendahkan orang lain.

 

Berawal Dari Diri Sendiri

October 17th, 2013

Ada ide dari beberapa orang yang saya anggap sangat brilian sebagai langkah awal (atau mungkin lanjutan) untuk setidaknya sedikit mengubah penampilan buruk bangsa kita, bangsa Indonesia. Beberapa dari mereka tentu saja menginspirasi banyak lainnya untuk berbuat sesuai dengan bidangnya, termasuk saya.

Pandji Pragiwaksono dan Salman Khan sangat berjasa besar bagi lingkungan melalui kegerahan dan semangat mereka. Pun demikian dengan karya-karya dan ide-ide mereka sehingga apapun yang orang katakan lumrah, ternyata perlu dipikirkan dan dikaji ulang.

Salman Khan

Saya menangkap kesamaan mereka dalam bidang yang mereka geluti adalah adanya panggilan dalam alam bawah sadar mereka untuk berbuat sesuatu. Mereka membuat perubahan dalam karya yang mereka ciptakan, untuk kebaikan sesama. Tidak mudah menemukan apa yang menjadi semangat seseorang untuk mengejar apa yang ingin mereka cita-citakan untuk perubahan, atau kebaikan, seperti yang mereka lakukan.

Namun saya memahami bahwa perubahan datang dari diri sendiri terlebih dahulu. Perubahan datang kepada mereka yang skeptis terhadap apa yang ada disekitarnya, perubahan datang kepada mereka yang mempertanyakan sebuah kebiasaan yang memang patut dikaji ulang ke-efisienan-nya.

Berapa dari kita yang sadar bahwa membuat SIM (Surat Izin Mengemudi) menggunakan CALO dengan biaya yang luar biasa diatas normal adalah suatu bentuk dukungan terselubung terhadap praktek korupsi dan suap menyuap?

Berapa dari kita yang menyadari bahwa membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) dengan menyetujui biaya yang diluar dari batas adalah suatu bentuk lain terhadap pungutan liar?

Lalu apa yang harus dilakukan dengan itu? Tidak membuat SIM atau SKCK? tentu saja cara legal, resmi (kalau perlu menolak segala bentuk praktek liar) adalah yang terbaik  untuk dilakukan. Namun sekali lagi, setiap orang berbeda prilaku dan pemikiran sehingga yang perlu ditenkankan sekali lagi adalah kesadaran diri sendiri untuk menciptakan perubahan (atau minimal memikirkan perubahan, dengan sedikit kegelisahan terhadap kebiasaan lama) ke arah yang lebih baik.

Rasanya sudah terlalu bosan untuk mengatakan bahwa praktik membuang sampah di tempatnya adalah salah satu bentuk kedisiplinan dalan kebersihan. Praktik tersebut secara langsung dapat membuat orang ke sikap, pemikiran, dan perilaku yang lebih baik. Tujuannya adalah perilaku positif diharapkan dapat mengubah perilaku negatif lain, atau setidaknya menyadarkan, seseorang tersebut.

Pandji dan Salman tentu saja mengalami siklus berani mengubah dan berpikir perubahan setelah menyadari adanya sesuatu yang harus dirubah dari diri sendiri kearah yang lebih baik. Dan tentu saja, apakah kita tidak ingin berubah untuk lingkungan yang lebih baik? Dan sekali lagi langkah awal adalah dengan berubah dan menggerakkan perilaku positif pada diri sendiri.

Catatan Pribadi : Memaknai Kemerdekaan

August 17th, 2013

Bisa dibilang 17 Agustus adalah momen mengharukan, membanggakan sekaligus introspeksi diri, tergantung dari pribadi masing-masing. Hari kemeredekaan Republik Indonesia mengingatkan kita tentang perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan, walau konon ada beberapa simpang siur terkait hari kemerdekaan dan rencana pemberian kemerdekaan dari Jepang.

Sejarah memang memang sulit untuk menemukan dirinya. Namun apapun itu, hari kemerdekaan sudah selayaknya kita isi dengan hal-hal positif. Tidak melulu berbau seremonial dan hura-hura semacam upacara, pengibaran bendera, atau lomba-lomba.

Saya pribadi lebih memilih momen kemerdekaan RI sebagai momen introspeksi diri. Apakah saya telah berada pada jalur kehidupan yang benar? Apakah negara ini begitu kacaunya sehingga dulu sempat saya berpikir untuk ke luar negeri?  Apa yang  telah saya berikan untuk negara ini?.

Pikiran kembali melayang saat upacara bendera di Dinas Pendidikan Provinsi tadi pagi. Saya menemukan momen yang sangat tidak layak untuk dilakoni orang dewasa, atau sebut saja PNS DIKNAS. Bagaimana bisa orang-orang mengatur instansi pendidikan bersikap tidak terdidik? ya saya sebut tidak terdidik karena mereka begitu ribut sepanjang upacara dan berteriak semauanya saat doa.

Bukan apa-apa, ada anak-anak usia sekolah dari SD-SMA yang hadir untuk pemberian penghargaan UN, yang kemungkinan besar akan beranggapan semua hal tersebut biasa saja. Pantas saja pendidikan RI jalan di tempat jika yang menangani pendidikan tidak “berpendidikan”.

Belajar Mencintai

Dulu saya sempat berpikir Indonesia sudah tidak ada bentuknya lagi. Berbagai kasus asusila moral bergentayangan di stasiun-stasiun televisi mainstream. Akhirnya membetuk pola pikir a-nasionalis pada diri saya.

Kemudian semua berubah saat saya menyadari bahwa Indonesia bukan yang televisi ceritakan. Indonesia bukan Jakarta, bukan Jabodetabek ,bukan Bandung walau pembangunan begitu timpang memihak kota-kota besar pulau Jawa.

Indonesia adalah Sabang-Merauke. Indonesia memiliki sejuta pesona yang sangat indah. Cobalah berpikir berapa banyak pantai-pantai eksotis, berapa banyak kearifan lokal yang terpuji, berapa banyak kekayaan alam yang belum maksimal digali potensinya. Semua itu milik Indonesia.

Saya menyadari bahwa saya dulu begitu membenci apa yang tidak begitu saya kenali lebih dalam. Saya menyadari pola pikir sempit dicampur kenistaan pribadi membuat semua menjadi begitu buruk.

Apakah saya satu-satunya? Apakah masih banyak yang masih termakan berita-berita televisi yang “hanya” bertujuan menaikkan rating siaran? Apakah masih ada yang belum berpikiran terbuka? Andai saya satu-satunya berpola pikir tersebut…

Mulai Dari Hal Kecil

Saya sadar saya berasal dari keluarga PNS biasa. PNS diidentikkan dengan kehidupan comfort zone sehingga membentuk pola pikir tidak ada perubahan atau tidak terbiasa menghadapi perubahan. Padahal dunia di luar mereka terus-menerus berubah secara konstan.

Lalu apakah saya sesali? Dulu begitu, namun belakangan justru saya banyak belajar dari situ. Saya belajar banyak bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik, saya belajar berbagi, saya  belajar untuk menentukan pilihan sesuai nurani dan logika.

Saya memulai dari hal-hal kecil bermanfaat bagi pribadi dan sekeliling. Saya mulai membuka pikiran positif dan menjauhkan yang negatif, meski memang butuh perjuangan karena begitu banyak pola pikir dan sikap negatif  di sekeliling saya.

Akhirnya kemerdekaan Indonesia bukan saja sekedar seremonial atau lomba. Saya memaknai sebagai kemerdekaan pikiran positif. Saya memaknai kemerdekaan dengan dengan “memberi” kepada negara dalam bentuk “minimal” : Menjadi prbadi yang lebih baik dan berbagi.

Ah, tiba-tiba saya ingat anak-anak…… :)

Sumber gambar : google.com

Bukan Meng-alay-kan diri

August 17th, 2013

Teknologi yang berkembang dengan pesat telah membuat gaya hidup masyarakat berubah. Salah satu produk teknologi adalah internet. Internet memberikan apa yang orang dulu tidak pernah bayangkan. Contohnya saja situs pencari (search engine) atau media sosial.

Media sosial adalah sarana  yang untuk mengekspresikan diri. Semua lapisan masyarakat dapat dengan bebas mengungkapkan apa yang ada dalam benak mereka lewat facebook, twitter, atau mungkin instagram. Tergantung dari apa passion media mereka.

Media sosial juga bisa menjadi saran belajar yang efektif, namun juga bisa menjadi sarana propaganda pihak-pihak tertentu. Dalam hal ini kedewasaan pengguna media sosial berperan besar dalam memilah dan menyikapi informasi.

Apapun itu tetap saja kita harus ambil sisi positifnya : belajar dari media sosial semacam twitter. Belajar? ya karena pada dasarnya pengguna twitter bisa dengan bebas memilih sumber informasi dengan representasi orang yang mereka ikuti/follow.

Mengikuti/follow seseorang di twitter bisa dikarenakan :

1. Seseorang tersebut adalah teman

2. Memang layak diikuti karena ada suatu nilai yang diberikan pada berikutnya

Poin nomor 2 tersebut yang bisa dikatakan belajar dari twitter. Ada beberapa akun twitter yang menurut saya sangat baik dan bisa dijadikan referensi. Beberapa diantaranya adalah :

1. Pandji Pragiwaksono (@pandji)

Beliau adalah seniman, pemikir, dan pemuda yang peduli pada keadaan bangsa kita. Tweet beliau sebagian besar berisikan ajakan untuk berkarya, berbuat sesuatu, dan mengapresiasikan karya tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, @pandji sering me-ngetweet tentang stand up comedy, isu-isu terkini, dan olahraga. Ya olahraga karena beliau adalah penggemar olahraga terutama basket.

Beliau juga memiliki blog serta buku elektronik gratis yang bisa diakses melalui blog tersebut. terkadang beliau juga memasarkan beberapa hasil karyanya di twitter. Teknik pemasaran yang sangat baik mengingat peminat karya-karya beliau adalah anak-anak muda.

Akun @pandji sangat layak diikuti dengan beebagai nilai pelajaran yang dapat kita ambil.

2. Prof. Hazairin Pohan (@hazpohan)

Prof. Hazairin Pohan adalah seorang diplomat, duta besar yang telah berkeliling dunia sejak saya belum lahir :D. Pengalaman beliau sangat banyak terutama tentang budaya, filsafat hidup, dan sistem politik dan dampaknya pada suatu negara.

Sangat menarik juga jika melihat beberapa tweet beliau yang menginformasikan semacam perkembangan terbaru dari pola pemerintahan RI seperti informasi akan digunakannya penerjemah bahasa asing asli dari Indonesia yang disatukan dalam ruang lingkup seperti pasukan khusus.

Pengalaman-penglaman beliau juga diceritakan dalam sebuah blog, bisa diakses di bio beliau. Isi dari blog beliau juga dipromosikan pada tweet-tweet beliau, sehingga kita bisa memilah mana topik yang sesuai dengan passion kita.

Akun @hazpohan sangat layak untuk diikuti mengingat banyak sekali pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa membuka pikiran kita.

3. @revolutia

Tidak ada yang tahu pasti siapa pemilik akun @revolutia. Namun dari gaya bahasa-nya dapat di-detect akun tersebut masih berusia muda, atau minimal berjiwa muda. Saya menemukan akun ini menarik setelah saya baca blog @pandji yang mengatakan bahwa @revolita sangat informatif, unik untuk diikuti.

Kebanyakan tweet @revolutia berkaitan dengan isu-isu politik dalam dan luar negeri serta sedikit filsafat. Misalya saya sering mendapati @revolutia menjabarkan seluk beluk korupsi, kronologi singkat rusuh di Mesir, dan pendapat objektif tentang pemerintahan RI.

@revolutia juga memiliki blog yang berisikan tentang politik, isu-isu terkini, dan hiburan. Blog @revolutia bisa diakses melalui link yang ada di bio beliau.

Ada beberapa tweet @revolutia yang bisa dibilang tidak penting, saya maklum mengingat saya berasumsi beliau masih muda. Namun secara umum @revolutia layak untuk diikuti mengingat beliau sangat informatif.

4. @Triomacan2000

Saya rasa inilah akun paling kontroversi di Indonesia. @Triomacan2000 menyebut diri mereka sebagai akun intelijen publik, yang berarti mereka mendapatkan informasi dari berbagai sumber yang bisa dikatakan classified untuk diolah, dianalisis, dan kemudian dibagikan kepada pengguna twitter.

Kontroversi karena mereka memberi informasi yang sangat menohok publik soal pejabat, korupsi, mega skandal, mafia, proyek bermasalah, atau perilaku partai. Namun Ada juga beberapa tweet @Triomacan2000 yang mengungkapkan tokoh-tokoh yang menurut mereka patut dihargai.

Seperti contoh kultwit (kuliah tweet) mereka tentang siapa Mahfud MD, Bibit Samat, atau Marzuki Alie yang sangat jarang diliput media. Mungkin media menilai mereka tidak bisa menaikkan rating tayangan. :D

Tidak seperti tiga akun diatas, akun @Triomacan2000 menyajikan bacaan berupa kultwit bukan blog. Kultwit mereka bisa diakses melalui mesin pencari dengan kata kunci @Triomacan2000 , chirpstrory. Kadang mereka membagikan link chirpstory di tweet mereka.

Membuka Pikiran

Kesamaan dari empat akun diatas adalah mereka menawarkan keterbukaan pikiran sembari menyaring informasi apa yang layak untuk diolah. Mereka secara tidak langsung memberi pengetahuan, membuka pikiran, dan mencerdaskan.

Saya ingat kutipan “Sungguh berdiskusi dengan orang cerdas bisa membuka pikiran dan hati”. Sehingga empat akun diatas bisa dipersonifikasi sebagai si orang cerdas. Mungkin ada beberapa akun lain yang layak diikuti semacam @yoris @tonybarrettimes atau @zenrs, tergantung pada passion si pengikut.

Pada akhirnya media sosial menjadi sarana yang baik untuk belajar. Belajar bisa darimana saja tidak selalu di pendidikan formal. Sangat tidak bijaksana jika media sosial bertujuan sebagai sarana untuk meng-alay-kan diri. :D

gambar : goolge.com

Legenda

August 14th, 2013

Orang sudah tentu mengenal sosok-sosok pemain seperti Paolo Maldini, Zinedine Zidane, Ryan Giggs, Javier Zanetti, Francesco Totti dan lain-lain. Apakah persamaan mereka? ya mereka adalah para legenda sepakbola, lebih spesifik mereka adalah mereka legenda klub-klub eropa.

Apa yang membuat mereka dijadikan legenda sepakbola? selain kemampuan olah bola yang baik ada beberapa komponen lain yang melekat pada diri mereka masing-masing. Kemampuan olah bola mumpuni tidak ada artinya tanpa dibarengi sikap, mental, dan etika bermain yang baik.

Denilson adalah salah satu pemain brilian pada akhir 1997 ketika ia dibeli dengan harga selangit oleh Real Betis dari Sao Paolo sehingga menjadikan ia sebagai pemain termahal dunia saat itu.

Kenyataan membuktikan harga Denilson terlalu mahal. Musim pertama dihabiskan dengan mencetak hanya 2 gol, Real Betis hanya dibawa ke posisi 11. Lepas dari itu, Denilson menjelma menjadi pemain medioker yang mengembara  di klub-klub medioker pula.

Apa yang salah dengan Denilson? secara kemampuan Denilson tidak kalah dengan Ronaldo, atau Rivaldo katakanlah. Dua nama terakhir berhasil membawa Brasil menjadi juara dunia. Ekspektasi harga dan sikap mental menjadi penghalang Denilson untuk maju. Ia tidak memiliki sesuatu untuk menjadi seorang legenda.

Ia sudah terlalu wah dengan harga selagit di umur yang masih sangat muda. Tidak masalah jika dibarengi sikap mental yang baik, namun jika tidak maka kemunduran hanya tinggal menunggu waktu.

Seorang Ryan Giggs, Francesco Totti ,dan Javier Zanetti memiliki kepemimpinan dan loyalitas yang kuat terhadap klubnya, dtambah secara kemampuan mereka tidak kalah dengan pemain lain.

Jika diibaratkan dalam matriks kepemimpinan, kepemimpinan terletk pada sumbu Y dan kemampuan pada sumbu X, maka ketiga legenda tersebut memiliki angka yang tinggi untuk kedua sumbu sehingga aura yang dihasilkan akan menjadi bagus.

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Lain halnya jika jika seorang pemain hanya mengandalkan kemampuan tanpa kepemimpinan diri yang kuat, ia hanya menghasilkan keluaran yang biasa-biasa saja. Kepemimpinan diri ini juga termasuk sikap mental, pembawaan, emosi yang terkendali serta cara menghadapi tekanan.

Strong Image

Legenda lain seperti David Beckham adalah contoh unik. Ia seperti tidak sengaja mencitrakan dirinya menjadi sosok yang begitu diingat, begitu dikagumi walau secara restasi tidak secemerlang Ronaldo atau Lionel Messi.

Siapa tidak mengenal iklan produk tata rambut Brylcream? Pada iklan tersebut Beckham dicitrakan sebagai pemain modis dengan kekuatan seorang lelaki sejati. Hal tersebut digambarkan dengan latar belakang Beckham sedang mencetak gol lewat tendangan jarak jauh.

Tentunya Brylcream tidak mengambil sembarangan duta mereka. Beckham yang gandrung gonta-ganti rambut tentu adalah sosok sempurna untuk memberikan pesan “rambutmu adalah gayamu”.

Jangan lupakan juga image Beckham sebagai pengambil tendangan bebas yang andal. Siapapu generasi 1990 pasti ingat tendangan pisang Beckham saat Inggris melawan Kolombia pada Piala Dunia 1998.

Berbicara Beckham tentu tidak afdol jika tidak menyebut para wanita-wanita disekelilingnya semacam Rebecca Loose, Victoria Adams dll. Beckham dicitrakan media sebagai pria ganteng dengan hobi gonta ganti pacar meski belakangan ia digambarkan sebagai pria keluarga/family man.

Semua tentang Beckham diatas dikupas habis oleh media seolah Beckham sendiri menginginkannya sehingga penggemar sepakbola – terutama wanita – mendapat sisi menarik lain dari sepakbola. Beckham adalah legenda media dan pencitraan.

Faktor X

Pada akhirnya semua legenda sepakbola dunia memang memiliki faktor lain di luar sepakbola untuk tetap diingat. Para pakar menyebutnya dengan faktor X. Faktor X adalah penentu keberhasilah, tidak dapat diambil, melekat pada diri manusia, dan tidak diperoleh dalam waktu sekejap.

Lihatlah bagaimana Zanetti, Giggs, Totti, Maldini atau Buffon yang setia kepada klubnya walaupun dalam keadaan susah sekalipun. Mereka memiliki faktor X berupa kepemimpinan, kemampuan, etika, mental, dan loyalitas tersendiri.

Lihatlah Beckham dengan faktor media, citra, dan segala sisi unik kehidupannya yang semuanya dikombinasikan menjadi sebuah faktor X yang unik.

Lihatlah Lionel Messi. Ia adalah satu-satunya pemain yang menggondol bola emas pemain terbaik dunia empat kali berturut-turut. Ia mewujudkannya dengan kemampuan bertanding bak alien. Tinggal menunggu waktu saja sebelum ia menjadi legenda Barcelona.

Semua pemain-pemain sepakbola mempunyai cara tersediri dalam bermain. Mereka juga mempunyai cara sendiri untuk diingat, untuk dijadikan legenda. Mereka memiliki faktor X masing-masing. Maka faktor X dan legenda memiliki satu kesamaan : melekat pada diri masing-masing individu.