Posts Tagged ‘arsenal’

Mencerna Sebuah Kegalauan

July 19th, 2012

SOCCER-ENGLAND/PLAYER

Sudah jadi berita hangat di media-media, baik lokal maupun luar, bahwa juru selamat Arsenal, Robin van Persie tidak akan memperpanjang kontrak yang sedianya akan jatuh tempo pada 2013. Dengan tidak diperpanjangnya kontrak van Persie, Arsenal memiliki dua opsi : Melepasnya pada bursa transfer pemain musim panas ini dengan imbalan berjuta-juta Pounds atau  melepasnya tahun depan dengan konsekuensi tidak mendapat fee transfer.

Mengenai kontroversi ini, beragam pendapat keluar dari para penggemar Arsenal. Di satu sisi ada yang menganggap RvP (singkatan Robin van Persie) tidak loyal, tidak setia, tergiur gaji tinggi. Sedangkan pada sisi lain para supporter yang telah tahu watak para petinggi Arsenal beberapa tahun belakangan hanya bisa maklum dengan keputusan RvP.

Seperti diketahui, jajaran petinggi Arsenal sangat doyan melego pemain-pemain terbaiknya tiap musim mulai dari Cesc Fabregas, Thierry Henry, Samir Nasri, Mathieu Flamini. Balik tahun lama, Ashley Cole, Aliaksandr Hleb juga jadi korban kebijakan yag berlawanan dengan arus kompetisi sepakbola sekarang.

Arsenal ibarat telah hilang sentuhannya dalam konteks sebuah klub besar. Mereka kini lebih senang jika hanya duduk di peringkat 4 besar sembari berharap sebuah trofi datang  – yang membuat para suporter terus terbuai angin surga para petinggi dan pelatih.

Para pemain-pemain berbakat yang mulai naik daun sangat sumringah bila masa depannya dikaitkan dengan ketertarikan Arsenal kepada pemain bersangkutan. Kini, lihatlah situasinya dengan Jan Vertonghen dan Eden Hazard yang justru lebih senang merapat ke klub rival, Tottenham dan Chelsea.

Kembali ke van Persie, keengganan sang kapten musim lalu untuk memperpanjang kontrak ditengarai karena tidak adanya ambisi klub meraih kesuksesan (dalam hal ini trofi juara). Indikatornya jelas dalam bursa transfer pemain dimana Arsenal tidak pernah benar-benar aktif bergerak mencari solusi puasa gelar selama 7 tahun, yang ada malah menjual pemain-pemain terbaik untuk proses peningkatan profit. Hmm…

Akibatnya jelas, setiap musim selalu labil. Melawan raksasa Manchester United dibantai 8-2, bahkan melawan klub promosi sebangsa Swansea juga dibuat tidak berdaya.

———————————————————————————————-

Sekarang bayangkan jika anda/saya adalah seorang karyawan dengan prestasi baik bekerja pada suatu instansi dengan tujuan/visi dan manajemen buruk. Sementara ada beberapa instansi lain dengan visi tim yang baik, manajemen yang bagus, ditambah dengan peningkatan gaji yang lebih baik.

Terlalu materialistik?/ memang. Namun kita tidak semata-mata bicara materialistik, namun bagaimana cara instansi – dalam hal ini Arsenal – memperlakukan karyawannya. Tentu dengan banyak cara seperti visi standar sebuah kemajuan tim.

Sang karyawan juga ingin prestasi individu dibarengi dengan kesuksesan instansi dalam sebuah kompetisi, apalagi selama beberapa tahun bekerja untuk instansi  yang sama terus menunjukkan pencapaian tim yang staganan. Selalu hanya puas dengan parameter-parameter ganjil dalam kompetisi yang justru tidak disaingkan dalam kompetisi.

Ingat, kesuksesan sebuah instansi/tim sangat berpengaruh pada minat seorang karyawan untuk bergabung dalam instansi tersebut. Jika hanya menargetkan prestasi “itu-itu” saja – dalam konteks Arsenal :  peringkat 4 Liga – maka  kualitas karyawan yang berminat bergabung dengannya juga “itu-itu”  saja.

—————————————————————————————-

Belakangan, Arsenal dicap sebagai feeder clubs atau pemasok pemain berkualitas bagus untuk tim-tim tertentu. Predikat ini tak ada bedanya dengan sekolah sepakbola, atau menyamakan diri dengan Ajax Amsterdam.

Ya, Ajax Amsterdam dikenal sebagai penelur pemain-pemain bola berbakat yang disebar ke seluruh penjuru Eropa pada era 1990-an. Lihat prestasi dan kualitas Ajax sekarang jika mengabaikan juara Liga Belanda, sangat miris!!.

Well, pahit memang untuk para suporter Arsenal. Disaat para pendukung klub-klub lain berpesta untuk kemenangan tim mereka menjuarai kompetisi, para pendukung Arsenal dipaksa merayakan “juara sebagai klub terkaya nomor 4″.

Dimulai dengan saga van Persie, nikmatilah Gunnercoaster sekali lagi musim ini….

Mau Belajar??

April 30th, 2012

Sudah mendekati akhir musim EPL, Arsenal masih bercokol di posisi 3. Posisi yang aman buat main di Liga Champions musim depan, itupun kalau dua match terakhir main konsisten.

Bicara konsisten, ini yang sulit didapat dari Arsenal dari dulu. Selepas piala dunia 2006 permainan taktis efektif ala skuad unbeaten 49 mulai hilang, berganti dengan permainan penguasaan bola, yang sejauh ini tidak efektif.

Kenapa tidak konsisten?? banyak penyebabnya dan seharusnya Arsene Wenger sebagai pelatih lebih tahu. Yang paling sering didengungkan orang-orang adalah bagaimana sang pelatih terlalu percaya dengan anak-anak muda menjadi tim inti. Lainnya, anak muda kadang labil, emosian, lalu permainan tim terganggu.

Lain dari itu, strategi Arsene yang dari dulu menerapkan 4-3-3 atau modifikasi 4-2-3-1 dengan penguasaan bola, terlalu mudah dibaca lawan. Lawan tinggal menempatkan semua pemain di setengah lapangan mereka, lalu habislah permainan Arsenal.

Yap, habis. Habis karena terlalu sibuk membongkar pertahanan lawan dengan umpan-umpan pendek dengan skill pemain seadanya. Sehingga kadang miris melihat lawan Arsenal dengan mudahnya mencetak gol lewat serangan balik.

Ujung-ujungnya, 7 tahun puasa gelar harus dialami Arsenal. Tujuh tahun bukan perkara sepele jika saja Arsene mau belajar dari kegagalan-kegagalan lalu. Kegagalan taktik, kegagalan strategi main, kegagalan memainkan bursa transfer pemain, kegagalan membendung ego, hingga kegagalan membentuk satu tim utuh tanpa banyak adaptasi.

——————————————————————————————————————

Lain Arsene Wenger, lain mahasiswa tingkat akhir.

Kendala mahasiswa tingkat akhir sudah barang tentu adalah skripsi, dan parahnya judul skripsi yang diajukan kadang-kadang tidak sinkron dengan pelajaran yang didapat di kelas.

Jelas, frustasi langsung menghinggap. “Bagaimana ini?? apakah harus ganti judul??” . Tidak jika filosofinya sama, mau belajar. Yah, mau belajar kalau perlu dari awal.

Jujur tugas akhir saya mengangkat tentang Algoritma Genetika yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah. Awalnya memang panik, karena saya sendiri ragu apakah bisa diselesaikan.

Toh, satu-satunya cara ya belajar dari awal lagi. Kalau tidak begitu ya tidak maju-maju, tetap pada fase stagnansi hingga kadang-kadang membuat diri sendiri mencapai fase galau (orang bilang, gak gaul kalo gak galau :p ).

——————————————————————————————————

Apapun itu, memang sulit tapi tak ada yang tak mungkin. Jikalau mau puasa gelar juara ingin dipecahkan, ada baiknya Arsene belajar dari kegagalan lalu. Jikalau ingin merebut gelar sarjana, ada baiknya juga mahasiswa tingkat akhir mau belajar (kalau perlu tidak sebatas tugas akhir). :D