Posts Tagged ‘bundesliga’

Wembley Berbau Jerman

May 25th, 2013

Kalau Fussball Arena Munich dikenal sebagai venue kelahiran juara UCL baru, mungkin Wembley lebih tepat disebut keberuntungan tim tradisional. Jadi Bayern akan juara di final nanti??.

Sabtu (25/5) menjadi penentuan yang terbaik di Liga Champions Eropa (UCL) dimana final akan mempertemukan dua tim Jerman, Borussia Dortmund vs Bayern Munchen. Final se-negara ini adalah yang ke-empat (sebelumnya Spanyol, Italia, Inggris) dan yang pertama dalam sejarah Jerman di Liga Champions.

Bagi Jerman final UCL tahun ini menjadi kado ganda untuk mereka.Kado ganda tersebut adalah menempatkan dua klub mereka di final dan final ini berlangsung di “rumput suci” sepakbola Inggris :  Stadion Wembley Baru. Bagi Inggris ini adalah kado pahit ulang tahun FA ke 150 karema mereka harus menerima 2 klub Jerman bertarung di Wembley baru.

Sudah jadi rahasia umum jika di sepakbola, Inggris dan Jerman selalu bersaing sengit. Jika ditarik kebelakang, persaingan dimulai dari gol hantu Geoff Hurst ke gawang Jerman tahun 1966, drama adu penalty Inggris-Jerman di semifinal Euro 1966 hingga drama Dietmar Hamaan di kualifikasi Piala Dunia 2002. Semua “perang” Inggris-Jerman itu memiliki kesamaan latar : Stadion Wembley lama.

Memang, Wembley yang sekarang bukanlah Wembley lama seperti dulu. Wembley kuno memiliki arsitektur berupa dua menara kembar. Rumput didesain agak luas hingga terdapat spasi yag cukup antara gawang dan papan sponsor. Tribun kehormatan penyerahan trofi juga tidak setinggi Wembley baru.

Jerman punya kisah manis di Wembley lama. Kemenangan bisa diraih di tahun 1972,1996,dan 2000 meski kalah menyakitkan 4-2 di final Piala Dunia 1966 lewat gol hantu Hurst. Namun publik Jerman mungkin bisa melunturkannya karena juara di Euro 1996 (partai final dilangsungkan di Wembley) dan Piala Dunia 1972.

Yang agak lucu adalah ketika FA membuka polling untuk memberi nama jembatan di atap  Wembley baru, publik Jerman serentak memilih nama Dietmarr Hamann sebagai nama jembatan tersebut. Dietmarr Hamann adalah mantan pemain Bayern Munchen, Liverpool, dan Man CIty yang menjadi pemain terakhir yang mencetak gol di Wembley lama kala Inggris bersua Jerman di kualifikasi Piala Dunia 2002.

Meski bukan nama Hamann yang dipilih, tetap saja Jerman bisa superior di Wembley baru. Tahun 2007 dua gol Kevin Kuranyi dan Christian Pander dibantu blunder David James memberi Jerman kemenangan 2-1. Kemenangan pertama “Jerman” di Wembley baru.

Tim Tradisional Eropa

Di pentas Liga Champions Eropa, Wembley adalah kesayangan tim-tim tradisional yang menguasai Eropa hingga kini. Tercatat AC Milan, Manchester United, Ajax Amsterdam, Liverpool, dan Barcelona pernah berjaya di final Wembley. AC MIilan, Ajax, dan Liverpool adalah pemegang badge of honour (BOH) karena mereka berhasil menjuarai Liga Champions lebih dari 3 kali. Sedangkan Barcelona dan Manchester United adalah dua penguasa liga masing-masing.

Sebagai unggulan tentu Bayern Munchen diunggulkan atas Borussia Dortmund di final. Bayern juga salah satu tim tradisional eropa mengingat prestasi mereka sebagai pemegang 4 juara liga champions sekaligus menyandang BOH. Menyingkirkan Barcelona dengan agregat fantastis 7-0 juga bisa sebagai acuan.

Dortmund bukannya tim lemah. Mereka juga pernah menjuarai UCL tahun 1997 yang finalnya berlangsung di rumah lawannya dulu, Olympia Stadium Munchen. Selepas itu mereka terus menurun bahkan hampir di vonis kolaps hingga bisa bangkit lagi seperti sekarang.

Terlepas mitos Wembley tersebut tetap saja Jerman kembali menancapkan kaki di Wembley baru. Mungkin perbedaan yang terlihat adalah : Ratu Elizabeth II yang menyerahkan trofi Piala Eropa 1996  tidak akan hadir di pesta Jerman kali ini.

gambar : google.com

Sebastian Deisler : A sad clown

May 13th, 2013

Kegagalan Jerman di Piala Dunia 1998 setelah kalah menyakitkan dari Kroasia 3-0 menyiratkan tim nasional panzer perlu sebuah pembaruan. Sebagai juara piala eropa dua tahun sebelumnya hal tersebut terbilang memalukan, apalagi kalah dari sebuah negara yang baru pertama kali masuk piala dunia.

Lalu sebuah talenta Jerman baru muncul sebagai harapan untuk membawa perubahan pada tim nasional. Dialah Sebastian Deisler. Seorang bocah berumur 18 tahun dari Jerman Barat.

Sang bocah pertama kali muncul ke permukaan kala Borussia Dortmund bertemu Eintracht Frankfurt. Memang debut pertama kurang impresif, namun ia mulai mendapat perhatian lebih enam bulan kemudian saat melawan TSV 1860 Munich.

Tidak ada yang bisa melupakan pertunjukan solo run-nya saat membantu timnya menghajar TSV 2-0. “Bola seperti lengket di kakinya. Kejadian itu persis seperti gol Gunther Netzer saat final piala Jerman melawan FC Koeln 1973″, sebut koran Jerman Sueddeutsche Zeitung dengan penuh antusias.

Setelah itu puja-puji mengalir kepadanya. Dia dicap sebagai Messiah sepakbola Jerman dan dianggap menyamai legenda-legenda macam Fritz Walter, Uwe Seeler dan Franz Beckenbauer. Pelatih nasional Erich Ribbeck  tag ragu menyertakannya dalam beberapa kesempatan bermain.

Meski begitu, Deisler tetaplah Deisler. Ia gagal menyelamatkan Gladbach dari jurang degradasi setelah bermain sebanyak 17 partai musim itu hingga ia pindah ke Hertha Berlin. Harapan baru muncul pada ‘Basti Fantasti’ di klub ibukota.Ia beranggapan : “Aku baru 19 tahun, mereka (publik) mengharapkan aku untuk menyelamatkan sepakbola Jerman. masih ada yang lain seperti Michael Ballack, dan mereka tidak memberiku waktu untuk berkembang”, seperti dikutip Die Zeit.

Bersama Hertha, Deisler mendapat kesempatan bermain reguler sementara itu adalah jalan lempang menuju tempat di tim nasional. Tetapi ia tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Ia tidak bisa menjadi dirinya sendiri seperti yang diungkapkan pada Die Zeit : “Aku harus jujur dengan keadaanku di Hertha. Mereka senang sekali menurunkanku ke hadapan singa-singa sepakbola. Aku tidak bahagia sementara berusaha membuat publik gembira. Aku merasa sedih seperti badut murung.”

Tiga tahun bersama Hertha ia lalu memutuskan pindah ke Bayern Munich bersama cedera bawaan-nya. Logikanya pindah ke Bayern adalah salah satu anak tangga untuk mencapai kesuksesan bagi remaja Jerman. Bagi Deisler, pindah ke Bayern memberi harapan baru bagi karirnya karena ia bisa bermain dengan bintang-bintang lain.

Bayern pun menaruh harapan besar kepadanya. Ia digadang-gadang menjadi penerus kapten legendaris peraih Liga Champions 2001, Steffan Effenberg. Di lapangan itu masuk akal, namun di luar lapangan keduanya bagai keju dan kapur.

Pada tahun 2003 ia mengalami depresi. Presiden Uli Hoeness menunjukkan dukungannya dengan memberinya waktu berkembang bersama pemain lainnya. Namun sekali lagi cedera membuatnya jatuh. Deisler berkata : “Aku tidak pernah mendapat waktu untuk berkembang menjadi seorang pemain yang dewasa. Aku berterimakasih atas kepercayaan Uli selama ini, namun sekali lagi ini adalah masa-masa sulit bagiku.”

Akhirnya Deisler menemukan akhir karirnya. Pada tahun 2007 ia memutuskan untuk pensiun dini dengan umur baru menginjak 27 tahun. Ia menjalani total 134 partai Bundesliga dan 36 penampilan bersama timnas Jerman. Sangat jauh dari harapan.

“Ia adalah salah satu bakat terbaik yang dihasilkan Jerman. Sulit dimengerti mengapa ia bisa pensiun dengan se-tragis itu. Tapi bagaimanapun juga tubuh dan mentalnya sudah kalah”, Uli Hoeness berujar.

“Pada akhirnya saya selesai. Saya berusaha menyelaraskan kaki dan pikiran saya namun tidak bisa. Aku sudah lelah,” kata Deisler kepada Tagesspiegel.

Cedera beruntun dan masalah mental adalah karang yang ia tidak bisa taklukkan. Karirnya stagnan walau ia berhasil meraih 3 trofi Bundesliga bersama Bayern. Penyelamat sepakbola Jerman harus berjuang menyelamatkan dirinya sendiri.

Sekarang Deisler mencoba hidup baru dengan membuka usaha penjualan barang-barang dari Asia di Freiburg, Jerman Selatan.

*dari berbagai sumber