Posts Tagged ‘futsal’

Bukan Sekadar Futsal

January 1st, 2013

Senin malam hujan turun lebat, seperti keseluruhan hari dalam seminggu ini yang dialami kota tercinta. Namun hujan lebat tidak menyurutkan kami untuk melakukan hobi kami : futsal.

Kebanyakan orang mungkin mengganggap hal yang kami lakukan berlebihan. Hujan yang lebat,nekat datang ke lapangan hanya untuk bertarung 5 lawan 5 memperebutkan satu bola. Lagipula malam seharusnya merupakan jam biologis untuk tubuh istirahat.

Tapi yang namanya sebuah komitmen terhadap sesuatu yang disukai, apapun akan dilakukan untuk mengerjakan atau mencapainya. Mirip dengan apa yang dialami remaja baru jatuh cinta. Belum lagi jika mempertimbangkan bahwa kami (atau mungkin saya) hanya sekali seminggu sekali berfutsal (pada minggu ini).

Senin malam memang jadwal tetap saya bermain futsal bersama perkumpulan pemuda-pemuda minang yang beragam profesi dan kebiasaan. Tidak hanya bermain dengan mereka, saya juga kadang meng-aminkan undangan bermain futsal dengan teman-teman sekampus saya atau se-SMA saya dulu. Jadi paling tidak ada tiga kali jadwal futsal yang saya jalani. Namun bermain futsal dengan pemuda-pemuda Minang ini menjadi kegiatan rutin.

Jika dirunut dari awal bermain futsal rutin bersama mereka, agak aneh karena saya dulunya hanya diajak bermain sekali oleh kakak tingkat SMA dulu. Karena mereka tidak ada kiper “yang biasa” jadi kiper maka saya diajak rutin. Jadi jangan heran jika pertama kali bertemu dengan mereka saya tidak mengenal satu pun kecuali kakak tingkat saya tadi.

Lama kelamaan saya yang awalnya bermain aman untuk mengenal mereka, mulai berani mendekatkan diri baik itu di dalam dan luar lapangan. Dan sama seperti saya mereka menganggap futsal sebagai suatu oase di tengah gersangnya kesibukan selama seminggu.

Kakak tingkat SMA saya dulu yang bernama Zandra misalnya. Ia dulu sebenarnya sempat mengambil kuliah di kota Padang namun entah karena tidak sanggup kuliah lagi atau lebih mengikuti naluri Minang-nya untuk berdagang sehingga ia berhenti kuliah dan fokus membantu orang tua berdagang.

Kak Zandra sempat pula bercerita tentang kehidupannya dulu di Riau yang dianggapnya tidak sesuai dalam artian finansial sehingga lagi-lagi  lebih memilih berdagang. Dalam kebosanan berdagang itulah ia usir dengan futsal senin malam. Futsal juga yang membuat ia tidak memilih Riau sebagai kelanjutan hidupnya karena disana ia tidak akan bisa bermain futsal.

Budi juga serupa dengan kak Zandra. Ia melampiaskan sepinya di kota ini sebagai pelajar kuliahan rantau dengan futsal. Tidak begitu jelas berapa kali ia berfutsal dalam seminggu. Tetapi jika melihat dari caranya bermain sepertinya ia memiliki koneksi bermain yang luas.

Seperti juga yang lain yang berprofesi makelar motor, pedagang grosiran, anak SMA, dan juga mahasiswa hampir lulus seperti saya. Kami menganggap futsal tidak hanya sebagai permainan berebut bola 5 lawan 5, namun sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan sosial dan aktualisasi diri. Lagipula kami semua suka sepakbola.

Dan dari futsal ini ada  beragam karakter-karakter mereka yang berbeda yang saya liha dari detil-detil yang mereka perlihatkan. Semua saya perhatikan dari cara mereka datang hingga cara mereka bermain di lapangan.

Aldo misalnya. Si rupawan ini bermain bagus dalam beberapa kesempatan namun tidak konsisten semangat juangnya. Kadang-kadang Aldo tidak bermain se-serius teman-teman yang lain. Saya berasumsi Aldo terbiasa hidup enak, terlihat dari mobil-mobil yang biasa ia bawa dan sepatu mahal yang ia gunakan. Hmm..wajarlah karena dia anak pengasaha besar.

Atau mungkin bang Roni yang jiwa kepemimpinannya tinggi. Dialah pengatur jadwal, keuangan, dan juga pengatur “suhu” luar lapangan. Kemampuannya biasa saja kalau tidak mau dikatakan dibawah rata-rata kami yang lain. Namun tiga hal yang saya sebutkan diatas tadi itulah yang membuat dia dihormati.

Memang aneh jika memikirkan sebuah permainan berebut bola bisa diperluas sebagai sarana bersosialisasi dan mengenal karakter satu sama lain. Dan memang aneh (kalau tidak mau dikatakan berlebihan) ada orang yang mau repot-repot memikirkan nilai-nilai  sebuah permainan sebagai suatu saran perluasan ke pemikiran lain.

Sekali lagi sangatlah aneh mencermati diri saya sibuk mencermati orang lain sementara mendapati diri saya begitu pendiam dan pasif jika sudah berada di luar lapangan dan berbaur dengan sebuah komunitas. -_-

Sebuah Post, Blog, dan Futsal

October 23rd, 2012

Saya sendiri merasa agak aneh dengan postingan ini, karena sempat-semptnya membahas keluar dari sepakbola. Tapi tidak juga, karena nantinya akan saya ceritakan sedikit pengalaman dan filosofi saya dalam bermain futsal.

Dan sebenarnya tidak ada niatan juga ingin menulis blog, dan karena ada suat dorongan dari seorang Andica Haradi sang Haji sepakbola, maka saya menulis lalu jadilah tulisan ini.

Dari wacana yang dibuat oleh Andica diatas, yang saya tangkap adalah negara Indonesia yang besar terlalu banyak dipenuhi oleh komentator atau analisator sepakbola, sedangkan skill sepakbola yang dimiliki nol.

Dari sini saya sadar itu adalah kritik untuk saya yang memang senang menceritakan sepakbola, dan sedikit hal-hal berbau analisis. Namun yang ingin saya tegaskan adalah : saya sebagai penyuka sepakbola tidak segemerlap Bung Towell atau Bung Ropan dalam analisis, namun saya pecinta cerita dan drama sepakbola.

Tidak terlalu bersalah tentunya sebagai penulis ulang sejarah sepkbola amatiran bukan?? Toh di negara ini kita dipersilakan untuk merasa bebas, tentu bebas yang beradab. Just feel free to express it!!.

Oke, itu dari saya tentang bung Haji Andica. Nah gejolak kembali ketika ada jargon di twitter beliau yang  kira-kira bermaksud  :  “Harusnya skill analisis blog atau komentator atau yang berbau ocehan sepkbola  diimbangi dengan kemampuan di lapangan.”

Dari situ saya sadar bahwa hobi bercerita sepakbola saya juga harus diimbangi dengan skill sepakbola. Tentu tidak salah bukan jika mengekspresikan sepakbola melalui futsal?? hmm..

Kadang saya berfikir jika say bermain futsal, dimana pun event apapun, saya berusaha untuk memberikan yang terbaik saya sebagai penjaga gawang. Pernah terfikir ketika saya mengalami kekalahan dalam suatu ajang, maka saya sendiri lah yang dipersalahkan. Apakah itu adil??

Tergantung. Saya memandang diri saya bersalah supaya lebih teliti dan fokus lagi. Masa bodoh orang memandang bek-bek tim saya atau penyerang tim saya bermain buruk. Satu bermain buruk maka yang lain akan dicap bermain buruk juga. That’s it!!!

Lalu aplikasinya?? ya itu tadi, akan terbawa suasana kompetitif dalam event apapun itu. Dan pernah ada rekan yang mengatakan : ” Slow aja bro, ini kan cuma sparring biasa..” . Sparring biasa, namun tidak biasa untuk eksistensi diri saya. :)

Ah sudahlah, begitulah saya. Terlalu mendramatisir futsal sama seperti saya menceritakan sepakbola. :)

—————————————————–

Ah baru saja saya menemui sebuah blog anak SMP di kota saya. Isinya subhanallah menakjubkan untuk anak SMP. Berisi cita-cita dan harapan serta guratan ecerdasan emosional yang sangat luar biasa untuk ukuran anak kelas 3 SMP.

Saya tidak sengaja menemukannya ketika sedang stalking akun twitter adik saya @chachasaphira. Sendainya saja saya bisa kembali lagi ke masa sekolah, saya akan mengubah seluruh masa gelap selama SMP dan SMA. -_-

By the way, ini alamat blog sang anak smp tersebut http://rifdaviranah25.blog.com/