Posts Tagged ‘gooners’

Latah Garuda Muda

September 23rd, 2013

Semua tahu Indonesia sedang dalam masa cobaan, termasuk untuk sepakbolanya. Beragam isu yang sangat perlu untuk dibenahi seperti pembinaan pemain muda, sistem kompetisi yang baku, organisasi bebas politik atau standar baku stadion kian jauh untuk diselesaikan. Kemudian semua itu menjadi suatu pandangan negatif untuk sepakbola Indonesia.

Tapi kemudian semua dibalikkan oleh sebuah tim berisi anak-anak muda yang berlaga di Piala AFF U-19. Anak-anak muda dari seluruh Indonesia berlaga tanpa “bantuan” satu pun pemain naturalisasi. Pandangan negatif kemudian berubah menjadi euforia optimisme. Semua dibuat latah olehnya, termasuk saya.

Ada apa gerangan? ternyata skuad Garuda Muda Tim Nasional Indonesia U-19 berhasil merengkuh juara AFF U-19 setelah mengalahkan Vietnam 7-6 melalui adu pinalti. Gelar juara disebut-sebut sebagai yang pertama dari kompetisi resmi setelah terakhir juara SEA Games 1991.

Wajar saja kemudian kegirangan menggema dimana-mana. Puasa gelar 12 tahun ibarat pecah tadi malam. Semua liputan olahraga tidak ada satu pun yang melewatkan momen langka tadi malam. Petinggi PSSI rela turun langsung menyambut pahlawan-pahlawan muda, walau kadang terselip motif busuk pencitraan.

Tim nasional Indonesia U-19 memang juara. Timnas berhasil memperagakan sepakbola yang baik meski tetap saja ada masalah fisik atau emosi menghantui, maklum mereka masih dibawah 19 tahun. Sang kapten Evan Dimas memperlihatkan ketenangan seorang kapten dan gelandang pengatur tempo lapangan tengah.

Lihatlah bagaimana ia mengatasi tekanan saat ditempel dua pemain Vietnam, atau saat ia mengantar tim meraih kemenangan 3-1 atas Thailand lewat trigol-nya. Bertrio dengan M. Hargianto dan Zulfiandi, mereka mengontrol lini tengah dengan baik, walau kadang saya sesekali melihat Zulfiandi masih terbawa tekanan saat ditempel lawan.

Evan Dimas mengidolakan seorang Ahmad Bustomi, sesama gelandang tengah. Bedanya Bustomi telah di level timnas senior. Lucunya, Bustomi belum pernah mencicipi gelar juara satu untun timnasnya.

Tak lupa seorang penjaga gawang bernama Rafli Murdinato yang sangat cemerlang di partai final. Menggagalkan berbagai peluang Vietnam, baik secara one on one atau shooting by distance. Ketenangan seorang kiper seperti Rafli jarang ada pada kiper-kiper muda sekarang.

Berbicara ketenangan, tentu tidak menarik jika kita tidak membahas adu pinalti melawan Vietnam. Beberapa pemain memiliki ketenangan tersebut saat momen krusial menghadang. Ilham Udin saat mengambil tendangan penentu sangat terbantu pencaya dirinya ketika dihampiri satu per satu oleh teman-temannya sebelum mengembil tendangan.

Atau pemain-pemain lain yang mengatasi tekanan dengan berhasil mengecoh kiper ke arah yang salah. Kemudian mengungkapkan kelegaannya dengan sujud sukur atau menyemangati kiper Rafli.

Dan yang pasti seluruh tim telah belajar mengatasi partai final dan Vietnam karena pada babak grup mereka kalah 1-2 dari Vietnam. Pelatih Indra Syafri patut mendapat kredit lebih untuk ini.

Maka pantaslah Timnas Indonesia U-19 menjadi juara. Langkah awal membantuk tim nasional yang kuat telah terbetuk, tinggal bagaimana pengurus dan pemegang kepentingan mengurusi sepakbola dengan baik. Ingat masih banyak kelemahan yang perlu diperbaiki seperti tekel (bahkan saya melihat ada pemain Indonesia yang pantas mendapat straight red card ) masih sesekali brutal, koordinasi lini tengah dan belakang serta penyelesaian.

Final words, Selamat untuk kalian garuda muda…

sumber gambar : google.com (bola.liputan6.com)

Pindah Konfederasi

September 11th, 2013

Dalam konteks geografi, agak sulit menemukan kasus sebuah negara pindah benua. Misalkan China yang tadinya Asia pindah ke Amerika. Namun di konfederasi sepakbola, itu bisa terjadi. Kazakhstan, Israel, Turki, dan Australia adalah contoh nyata.

Zona Oseania adalah salah satu konfederasi sepakbola selain dari konfederasi utama dunia seperti Eropa, Asia,dkk. Australia adalah salah satu kekuatan dari zona oseania pada awalnya. Setiap hajatan kualifikasi Piala Dunia tim kangguru selalu hampir bisa memuncaki klasemen.

Sebagai pemuncak klasemen, Australia tidak langsung bisa melaju ke babak utama Piala Dunia karena harus melakoni play-off melawan salah satu wakil konfederasi Asia, Amerika Selatan, bahkan Eropa. Celakanya mereka hampir selalu gagal di babak ini.

Tercatat Australia gagal di play-off 1986 kalah dari Skotlandia, Argentina (1994), Iran (1998), dan Uruguay (2002). Hanya sekali mereka memenangi play-off yaitu tahun 2006, itupun dengan susah paya melewati babak adu penalty melawan Uruguay. Karena itu mereka mendapat julukan tim hampir lolos piala dunia.

Australia vs Uruguay 2006

Maka tepat tahun 2006, Federasi Sepakbola Australia memutuskan pindah konfederasi, menyeberang ke Asia. Nasib baik didapat dengan lolos langsung di kualifikasi piala dunia secara berurutan, yaitu kualifikasi Piala Dunia 2010 dan 2014.

Terbaru, Tim Nasional Australia menjadi anggota terbaru Federasi Sepakbola Asean (AFF). Bisa dibayangkan dominasi Australia akan seperti apa, kecuali mereka menganggap gelaran Piala AFF sebagai ajang tarung tim nasional U-23. Namun tetap saja merepotkan anggota AFF lain.

Turki, Kazakhstan, Israel

Secara geografis Turki, Israel, dan Kazakhstan adalah bagian dari Asia sehingga mereka bisa saja ikut bertarung di kualifikasi Piala Dunia konfederasi Asia. Namun mereka memilih untuk bergabung ke konfederasi Eropa.

Turki memang dekat dengan Eropa, namun juga adalah bagian Asia. Kota Istanbul adalah symbol dari keunikan tersebut karena seberang kota adalah Eropa dan seberang satunya adalah Asia. Mereka dihubungkan dengan jembatan Bosphorus.

Turki tercatat telah mengikuti Piala Eropa 1996, 2000, dan 2008. Paling fenomenal tentu saja pencapaian di Piala Dunia 2002 saat mengalahkan wakil Asia Korea Selatan di perebutan tempat ketiga. Jangan lupa pula gol Semih Senturk yang membuyarkan impian Kroasia menuju semifinal Piala Eropa 2008.

Di level klub, Turki juga salah satu negara yang disegani di Eropa. Galatasaray mencatat prestasi bagus saat menjuarai Piala UEFA 2000 mengalahkan Arsenal. Fans Galatasaray  dan Turki juga terkenal militant saat mendukung timnya. Itu dibuktikan dengan terciptanya suasana gemuruh stadion yang luar biasa, seperti menginginkan lawan terintimidasi sepanjang waktu.

Israel dan Kazakhstan memang masih kalah dibanding Turki. Keduanya belum pernah sekalipun ikut kejuaraan Eropa atau Dunia. Paling bagus adalah Israel yang ikut Piala Eropa U-12, itupun karena mereka adalah tuan rumah.

Dibanding tim nasionalnya, klub-klub Israel justru lebih sering meramaikan kejuaran Eropa semacam Liga Champions atau Liga Eropa. Klub-klub seperti Maccabi Tel-Aviv atau Maccabi Haifa adalah paling tersohor. Meski tetap saja jadi santapan empuk raksasa-raksasa Eropa.

Maccabi Tel Aviv contohnya. Liga Champions 2004-2005 adalah semacam kuburan buat mereka. Secara bergantian Juventus, Bayern Munich dan Ajax Amsterdam manghajar mereka. Koran lokal menyebut mereka samsak, lebih sering digebuk.

Juventus vs Maccabi

Kazakhstan adalah anggota baru UEFA. Mereka baru bergabung tahun 2002 setelah sebelumnya tergabung di zona Asia. Catatan Kazakhstan bersama zona Asia terbilang buruk. Mereka menjadi baying-bayang Korea, Jepang bahkan tetangganya sendiri Uzbekistan. Nama terakhir masih konsisten di zona Asia.

Sama seperti Israel, Kazakhstan juga belum pernah ikut kejuaraan Asia dan Eropa. Perbedaannya klub-klub Kazakhstan tidak pernah terdengar di kejuaran Eropa. Kazakhstan memainkan laga pertama sebagai anggota baru UEFA dengan menahan imbang Estonia 0-0.

Alasan Pindah

Ada beberapa alasan dari beberapa tim diatas untuk pindah konfederasi. Australia menginginkan pindah agar peluang lolos ke Piala Dunia lebih besar ketimbang harus selalu play-off dengan tim dari Amerika Selatan yang secara materi setara, namun lebih alot.

Dengan pindah ke zona Asia, Australia tidak perlu takut untuk sekadar finish di posisi kedua grup karena dua posisi teratas sudah pasti lolos babak Piala Dunia. Itu terbukti di dua gelaran kualifikasi Piala Dunia terakhir.

Turki, Israel dan Kazakhstan mungkin berbeda dengan Australia. Mereka bisa saja bergabung dengan Asia, dan menjadi saingan berat kekuatan tradisional semacam Jepang, Korea atau Arab Saudi. Mungkin kedekatan kultur dan emosi dengan orang Eropa menjadi faktor, atau bisa jadi mereka menginginkan kualitas sepakbola lebih maju jika sering beradu dengan tim-tim terbaik.

 gambar : google.com

Legenda

August 14th, 2013

Orang sudah tentu mengenal sosok-sosok pemain seperti Paolo Maldini, Zinedine Zidane, Ryan Giggs, Javier Zanetti, Francesco Totti dan lain-lain. Apakah persamaan mereka? ya mereka adalah para legenda sepakbola, lebih spesifik mereka adalah mereka legenda klub-klub eropa.

Apa yang membuat mereka dijadikan legenda sepakbola? selain kemampuan olah bola yang baik ada beberapa komponen lain yang melekat pada diri mereka masing-masing. Kemampuan olah bola mumpuni tidak ada artinya tanpa dibarengi sikap, mental, dan etika bermain yang baik.

Denilson adalah salah satu pemain brilian pada akhir 1997 ketika ia dibeli dengan harga selangit oleh Real Betis dari Sao Paolo sehingga menjadikan ia sebagai pemain termahal dunia saat itu.

Kenyataan membuktikan harga Denilson terlalu mahal. Musim pertama dihabiskan dengan mencetak hanya 2 gol, Real Betis hanya dibawa ke posisi 11. Lepas dari itu, Denilson menjelma menjadi pemain medioker yang mengembara  di klub-klub medioker pula.

Apa yang salah dengan Denilson? secara kemampuan Denilson tidak kalah dengan Ronaldo, atau Rivaldo katakanlah. Dua nama terakhir berhasil membawa Brasil menjadi juara dunia. Ekspektasi harga dan sikap mental menjadi penghalang Denilson untuk maju. Ia tidak memiliki sesuatu untuk menjadi seorang legenda.

Ia sudah terlalu wah dengan harga selagit di umur yang masih sangat muda. Tidak masalah jika dibarengi sikap mental yang baik, namun jika tidak maka kemunduran hanya tinggal menunggu waktu.

Seorang Ryan Giggs, Francesco Totti ,dan Javier Zanetti memiliki kepemimpinan dan loyalitas yang kuat terhadap klubnya, dtambah secara kemampuan mereka tidak kalah dengan pemain lain.

Jika diibaratkan dalam matriks kepemimpinan, kepemimpinan terletk pada sumbu Y dan kemampuan pada sumbu X, maka ketiga legenda tersebut memiliki angka yang tinggi untuk kedua sumbu sehingga aura yang dihasilkan akan menjadi bagus.

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Lain halnya jika jika seorang pemain hanya mengandalkan kemampuan tanpa kepemimpinan diri yang kuat, ia hanya menghasilkan keluaran yang biasa-biasa saja. Kepemimpinan diri ini juga termasuk sikap mental, pembawaan, emosi yang terkendali serta cara menghadapi tekanan.

Strong Image

Legenda lain seperti David Beckham adalah contoh unik. Ia seperti tidak sengaja mencitrakan dirinya menjadi sosok yang begitu diingat, begitu dikagumi walau secara restasi tidak secemerlang Ronaldo atau Lionel Messi.

Siapa tidak mengenal iklan produk tata rambut Brylcream? Pada iklan tersebut Beckham dicitrakan sebagai pemain modis dengan kekuatan seorang lelaki sejati. Hal tersebut digambarkan dengan latar belakang Beckham sedang mencetak gol lewat tendangan jarak jauh.

Tentunya Brylcream tidak mengambil sembarangan duta mereka. Beckham yang gandrung gonta-ganti rambut tentu adalah sosok sempurna untuk memberikan pesan “rambutmu adalah gayamu”.

Jangan lupakan juga image Beckham sebagai pengambil tendangan bebas yang andal. Siapapu generasi 1990 pasti ingat tendangan pisang Beckham saat Inggris melawan Kolombia pada Piala Dunia 1998.

Berbicara Beckham tentu tidak afdol jika tidak menyebut para wanita-wanita disekelilingnya semacam Rebecca Loose, Victoria Adams dll. Beckham dicitrakan media sebagai pria ganteng dengan hobi gonta ganti pacar meski belakangan ia digambarkan sebagai pria keluarga/family man.

Semua tentang Beckham diatas dikupas habis oleh media seolah Beckham sendiri menginginkannya sehingga penggemar sepakbola – terutama wanita – mendapat sisi menarik lain dari sepakbola. Beckham adalah legenda media dan pencitraan.

Faktor X

Pada akhirnya semua legenda sepakbola dunia memang memiliki faktor lain di luar sepakbola untuk tetap diingat. Para pakar menyebutnya dengan faktor X. Faktor X adalah penentu keberhasilah, tidak dapat diambil, melekat pada diri manusia, dan tidak diperoleh dalam waktu sekejap.

Lihatlah bagaimana Zanetti, Giggs, Totti, Maldini atau Buffon yang setia kepada klubnya walaupun dalam keadaan susah sekalipun. Mereka memiliki faktor X berupa kepemimpinan, kemampuan, etika, mental, dan loyalitas tersendiri.

Lihatlah Beckham dengan faktor media, citra, dan segala sisi unik kehidupannya yang semuanya dikombinasikan menjadi sebuah faktor X yang unik.

Lihatlah Lionel Messi. Ia adalah satu-satunya pemain yang menggondol bola emas pemain terbaik dunia empat kali berturut-turut. Ia mewujudkannya dengan kemampuan bertanding bak alien. Tinggal menunggu waktu saja sebelum ia menjadi legenda Barcelona.

Semua pemain-pemain sepakbola mempunyai cara tersediri dalam bermain. Mereka juga mempunyai cara sendiri untuk diingat, untuk dijadikan legenda. Mereka memiliki faktor X masing-masing. Maka faktor X dan legenda memiliki satu kesamaan : melekat pada diri masing-masing individu.

Pre-Season

August 5th, 2013

Memasuki musim baru kompetisi sepakbola Eropa, musim 2013-2014, klub-klub menggelar dan menghadiri kegiatan pre-season. Menurut etimologinya, pre season bermakna persiapan sebelum kompetisi resmi dimulai.

Pre-season bisa dilakukan dimana saja, kapan saja – asal tidak bertabrakan dengan kompetisi resmi- dan dengan format apa saja.

Klub Inggris seperti Chelsea memilih petualangan pre-season di Asia, kemudian berkeliling Amerika hingga kembali lagi ke Inggris. Sementara Arsenal memilih hanya berkeliling Asia sebelum kembali ke Inggris. Manchester United sama saja, bedanya si setan merah menambahkan Australia sebagai transit.

Selama Pre-season itu pula digunakan pola yang tidak lazim dengan aturan standar sepakbola. Ambil Contoh Telekom Cup dan Emirates Cup.

Telekom Cup menerapkan sistem 4 tim dengan dua pasang tim saling berhadapan untuk memperebutkan tiket final. Pemenang final menjadi juara. Uniknya adalah waktu bermain para peserta kejuaraan yang disponsori perusahaan telekomunikasi Jerman ini adalah masing-masing 30 menit satu babak. Jadi satu pertandingan menghabiskan waktu hanya 1 jam.

Lebih cepat 30 menit dari waktu bermain normal. Kemudian jika pertandingan seri, maka akan dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Bayern Munchen menjadi juara Telekom Cup setelah mengandaskan Borussia Moenchenglandbach 5-1.

Lalu ke Emirates Cup. Kejuaraan yang disponsori oleh maskapai ini juga menghadirkan 4 tim dengan format pertandingan saling bertemu. Namun anehnya satu tim hanya akan menjalani dua pertadndingan dan tidak akan bertemu dengan salah satu tim dari 4 tim tadi.

Misalkan peserta Emirates Cup 2013 adalah Arsenal, Galatasaray, Porto, dan Napoli. Arsenal kebagian dua pertandingan melawan Napoli dan Galatasaray, dan tidak bertemu Porto. Begitu juga dengan Napoli yang kebagian Arsenal dan Porto, tidak bertemu Galatasaray. Bagaimana bisa? bisa saja kalau memakai undian. :D

Lalu yang menarik lagi adalah sistem penilaian Emirates Cup. Nilai akan didapat jika mencetak gol dan mendapat hasil imbang/menang. Misalnya hasil pertandingan Arsenal dan Galatasaray adalah 2-2. Maka Arsenal mendapat poin 3 (imbang 1, gol 2) dan Galatasaray juga 3 (imbang 1, gol 2).

Ada lagi ketika Napoli kalah 1-3 melawan Porto. Maka pembagian poinnya adalah Napoli 1 (kalah 0, gol 1) dan Porto 6 (menang 3, gol 3). Sangat berlainan dengan peraturan standar FIFA.

Selain pre-season dalam bentuk turnamen, ada juga pre-season yang hanya menggelar satu pertandingan dengan jadwal terpola. Barcelona adalah salah satu yang memakai format ini. Pada tanggal tertentu mereka melawan Gdansk, Valerenga, dan Santos dalam satu tanggal tertentu.

Jadi tidak melulu  dalam bentuk turnamen…

Ngantuk

Tujuan awal sebenarnya dari pre-season adalah menguatkan tim sebelum kompetisi resmi dimulai. Jadi ceritanya setelah kompetisi musim lalu selesai, para pemain diliburkan atau bebas memilih membela negaranya.

Masalah yang timbul adalah kebugaran fisik pemain akan jauh menurun ketika setelah liburan dibanding sebelum liburan, sehingga pre-season menjadi sarana untuk membiasakan badan mereka untuk kembali bermain.

Nah bagaimana dengan pemain yang membela negara mereka? tetap saja mereka diberi waktu libur ekstra sehingga bisa bergabung dengan rekan-rekan klub di ujung pre-season. Meski kebugaran pemain yang membela negaranya masih bisa dibilang bagus, namun pre-season penting juga untuk mereka.

Kenapa? karena itu berkaitan dengan tujuan lain pre-season, membentuk kekompakan tim. Kekompakan dan pembentukan pola permainan perlu dibina dari awal agar tidak kaget saat musim kompetisi resmi dimulai. Apalagi suatu klub pasti ada minimal satu pemain baru, sehingga pre-season bisa jadi sarana adapatasi.

Dengan tujuan membentuk kekompakan tim tersebut, maka hasil pertandingan jadi tidak begitu penting. Indikasinya gol tidak banyak tercipta. Kalau pun ada banyak gol, bisa dipastikan itu berasal dari kurang kompaknya lini belakang lawan.

Jadi jangan harap ada pertandingan pre-season tensi tinggi. Mungkin pelatih-pelatih berpikir, “Menang bagus, tidak menang tim dibenahi lagi..”. Akibatnya, fans layar kaca hanya bisa nonton sambil ngantuk. :D

Cerita Piala Konfederasi

June 13th, 2013

Digagas oleh Raja Fahd dari Arab Saudi hingga diambil alih oleh FIFA, Piala Konfederasi mengalami cerita panjang sejak penyelenggaraan perdana tahun 1992. Kini Brasil siap menggelar pesta pemanasan menjelang Piala Dunia 2014.

Piala Konfederasi pertama kali diadakan oleh federasi sepakbola Arab Saudi pada tahun 1992. Pada dua penyelenggaraan awalnya tahun 1992 dan 1995, turnamen ini bernama King Fahd Tournament. Pesertanya adalah timnas Arab Saudi beserta 3 tim undangan Argentina, Pantai Gading, dan Amerika Serikat. Argentina menjadi juara setelah melibas Arab Saudi.

Piala King Fahd kedua diselenggarakan tahun 1995 dengan menambah dua peserta menjadi 6 negara. Enam negara tersebut dibagi menjadi dua grup. Juara grup langsung bertemu di final yang mempertemukan Denmark dan Argentina.Kali ini Denmark keluar sebagai juara.

Mulai tahun 1997, FIFA sebagai federasi sepakbola dunia mengambil alih turnamen ini. FIFA mengubah format turnamen dan menambah peserta menjadi 8 tim yang diambil dari juara masing-masing 6 kontinental beserta tuan rumah dan juara piala dunia. Edisi inilah yang mengawali penamaan Piala Konfederasi (Confederetions Cup).

Selanjutnya Piala Konfederasi diadakan tiap 2 tahun sekali dengan tuan rumah yang berbeda. Mulai dari Meksiko 1999, Korea Selatan 2001, dan Prancis 2003. Meksiko berhasil menjadi juara tahun 1999 Prancis menggenggam dua trofi 2001 dan 2003.

Perubahan dilakukan lagi di edisi 2005. FIFA menetapkan Piala Konfederasi akan digelar setahun sebelum Piala Dunia dan bertempat dimana Piala Dunia akan diselenggarakan. Jerman yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006 menjadi kehormatan pertama menggelar Piala Konfederasi 2005. Perubahan itu membuat Piala Konfederasi diadakan 4 tahun sekali.

Pergelaran selanjutnya dilakukan tahun 2009 di Afrika Selatan (tuan rumah Piala Dunia 2010) dan tahun 2013 ini di Brasil (tuan rumah Piala Dunia 2014).

Pemanasan, Teknologi dan Tahiti

Karena digelar setahun sebelum Piala Dunia, maka banyak yang menganggap Piala Konfederasi sebagai pemanasan sebelum perang sesungguhnya dimulai. Hal tersebut wajar karena sebagai tuan rumah yang memiliki hak khusus tampil langsung di Piala Dunia tidak memiliki duel yang kompetitif guna mematangkan skuad.

Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014 jelas mengalami hal tersebut. Tidak ikut sertanya mereka di kualifikasi Piala Dunia membuat Brasil hanya menjalani serangkaian uji coba, dan uji coba yang tidak terlalu ngotot tersebut berjalan tidak sempurna. Beberapa kali mereka kalah dan menuai seri hingga kini mereka terdampar di posisi 22 peringkat FIFA.

Italia yang datang sebagai undangan pada ajang ini juga menyikapi Piala Konfederasi sebagai ajang pencarian pemain utama dan pemberian kesempatan kepada pemain-pemain muda. Meski begitu, Italia tetap akan bermain all out apalagi pada babak grup akan langsung bertemu Brasil.

Piala Konfederasi juga akan menjadi ajang uji coba teknologi garis gawang FIFA. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali kontroversi mengenai masuk atau tidaknya bola ke gawang. Peristiwa tidak disahkannya gol Frank Lampard 2010 dan gol siluman Geoff Hurst 1966 tentu tidak ingin terulang lagi.

Penggunaan teknologi garis gawang oleh FIFA sebelumnya dilakukan pertama kali di Piala Dunia Antar Klub 2012 lalu, sehingga FIFA memutuskan kembali menggunakannya di Piala Konfederasi 2013. Terinspirasi oleh FIFA, federasi liga Inggris juga akan menggunakan teknologi tersebut mulai musim kompetisi 2013-2014.

Piala Konfederasi 2013 juga akan memunculkan nama baru : Tahiti. Tim pasifik tersebut datang dengan status juara Oseania atau konfederasi Oseania. Sebelumnya Australia (kini berpindah ke konfederasi Asia) atau Selandia Baru yang selalu datang mewakili Oseania.

Ini adalah kesempatan bagus bagi Steevy Chong Hue dkk. untuk menunjukkan sepakbola negara mereka. Maklum saja Tahiti hanya dikenal sebagai negara pariwisata maritim yang memanfaatkan  letak geografis mereka.

Menolak tampil

Jerman sebagai juara Piala Eropa 1996 tentu punya hak untuk tampil di edisi 1997, namun Der Panzer menolak tampil sehingga digantikan oleh runner-up Piala Eropa 1996 Republik Ceko.

Tahun 2003 lagi-lagi Jerman menolak tampil. Mereka kali ini diundang sebagai pengganti Brasil yang mengambil status keikutsertaan sebagai juara Amerika Selatan. Jerman yang menjadi runner-up Piala Dunia 2002 akhirnya digantikan Turki yang berstatus juara 3 Piala Dunia 2002.

Prancis juga menolak tampil di edisi 1999. Tim Ayam Jantan yang berstatus juara Piala Dunia 1998 akhirnya digantikan oleh Brasil yang berstatus juara kedua Piala Dunia 1998. Ditengarai keengganan Prancis dan Jerman mengikuti edisi pada waktu itu dikarenakan Piala Konfederasi hanya sebagai pemadat jadwal yang tidak penting.

Statistik

Brasil menjadi negara dengan keikutsertaan terbanyak dengan 6 kali penampilan. Mereka telah tampil sejak edisi 1997 berturut-turut hingga 2009. Edisi 2013 menjadi penampilan ketujuh negeri samba.

Brasil juga mencatatkan diri sebagai juara terbanyak dengan 3 kali juara (1997,2005,2009) dan 1 kali juara kedua (1999). Prancis mengikuti dengan dua kali juara (2001 dan 2003) . Argentina, Meksiko, dan Denmark masing-masing mencicipi satu gelar juara.

Marc Vivien Foe

Semifinal Piala Konfederasi 2003 antara Kamerun-Kolombia menjadi pertandingan terakhir pemain Kamerun Marc Vivien-Foe. Gelandang Man.City tersebut meninggal karena serangan jantung.

Kejadian tersebut bermula ketika pertandingan berusia 72 menit, Foe kolaps di lapangan dimana tidak ada pemain lain didekatnya. Pertolongan pernafasan dibuat di tengah lapangan hingga ia ditarik keluar untuk diberi pertolongan oksigen.

Tim medis menghabiskan 45 menit untuk berusaha membuat jantungnya berdetak kembali. Ia kemudian meninggal saat meninggalkan pusat medis stadion meski telah berbagai cara dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya.

Pertandingan semifinal akhirnya dimenangkan Kamerun 1-0, meski begitu Prancis dan Kamerun yang menjadi finalis mengusulkan agar pertandingan final dihentikan guna menghormati Foe. Namun pertandingan final tetap digelar dengan suasana persatuan antar pemain Prancis-Kamerun.

Prancis akhirnya memenangkan pertandingan final lewat gol semata wayang Thierry Henry. Penyerahan piala dan medali dilangsungkan tanpa rasa gembira berlebihan. Kapten Prancis Marcel Desailly mengangkat piala bersama-sama dengan kapten Kamerun Rigobert Song tanda mereka adalah juara bersama.

Sementara dua pemain Kamerun lain mengalungkan medali di foto raksasa Foe sebagai tanda peghormatan. Rumornya, Piala Konfederasi akan dinamai menjadi Marc Vivien-Foe Cup sebagai penghormatan namun hingga saat ini kejuaraan ini tetap bernama Piala Konfederasi.

Jadwal dan Peserta Piala Konfederasi 2013 bisa dilihat di : www.fifa.com/confederationscup/index.html

Gambar : google.com

Bukan Sekadar Futsal

January 1st, 2013

Senin malam hujan turun lebat, seperti keseluruhan hari dalam seminggu ini yang dialami kota tercinta. Namun hujan lebat tidak menyurutkan kami untuk melakukan hobi kami : futsal.

Kebanyakan orang mungkin mengganggap hal yang kami lakukan berlebihan. Hujan yang lebat,nekat datang ke lapangan hanya untuk bertarung 5 lawan 5 memperebutkan satu bola. Lagipula malam seharusnya merupakan jam biologis untuk tubuh istirahat.

Tapi yang namanya sebuah komitmen terhadap sesuatu yang disukai, apapun akan dilakukan untuk mengerjakan atau mencapainya. Mirip dengan apa yang dialami remaja baru jatuh cinta. Belum lagi jika mempertimbangkan bahwa kami (atau mungkin saya) hanya sekali seminggu sekali berfutsal (pada minggu ini).

Senin malam memang jadwal tetap saya bermain futsal bersama perkumpulan pemuda-pemuda minang yang beragam profesi dan kebiasaan. Tidak hanya bermain dengan mereka, saya juga kadang meng-aminkan undangan bermain futsal dengan teman-teman sekampus saya atau se-SMA saya dulu. Jadi paling tidak ada tiga kali jadwal futsal yang saya jalani. Namun bermain futsal dengan pemuda-pemuda Minang ini menjadi kegiatan rutin.

Jika dirunut dari awal bermain futsal rutin bersama mereka, agak aneh karena saya dulunya hanya diajak bermain sekali oleh kakak tingkat SMA dulu. Karena mereka tidak ada kiper “yang biasa” jadi kiper maka saya diajak rutin. Jadi jangan heran jika pertama kali bertemu dengan mereka saya tidak mengenal satu pun kecuali kakak tingkat saya tadi.

Lama kelamaan saya yang awalnya bermain aman untuk mengenal mereka, mulai berani mendekatkan diri baik itu di dalam dan luar lapangan. Dan sama seperti saya mereka menganggap futsal sebagai suatu oase di tengah gersangnya kesibukan selama seminggu.

Kakak tingkat SMA saya dulu yang bernama Zandra misalnya. Ia dulu sebenarnya sempat mengambil kuliah di kota Padang namun entah karena tidak sanggup kuliah lagi atau lebih mengikuti naluri Minang-nya untuk berdagang sehingga ia berhenti kuliah dan fokus membantu orang tua berdagang.

Kak Zandra sempat pula bercerita tentang kehidupannya dulu di Riau yang dianggapnya tidak sesuai dalam artian finansial sehingga lagi-lagi  lebih memilih berdagang. Dalam kebosanan berdagang itulah ia usir dengan futsal senin malam. Futsal juga yang membuat ia tidak memilih Riau sebagai kelanjutan hidupnya karena disana ia tidak akan bisa bermain futsal.

Budi juga serupa dengan kak Zandra. Ia melampiaskan sepinya di kota ini sebagai pelajar kuliahan rantau dengan futsal. Tidak begitu jelas berapa kali ia berfutsal dalam seminggu. Tetapi jika melihat dari caranya bermain sepertinya ia memiliki koneksi bermain yang luas.

Seperti juga yang lain yang berprofesi makelar motor, pedagang grosiran, anak SMA, dan juga mahasiswa hampir lulus seperti saya. Kami menganggap futsal tidak hanya sebagai permainan berebut bola 5 lawan 5, namun sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan sosial dan aktualisasi diri. Lagipula kami semua suka sepakbola.

Dan dari futsal ini ada  beragam karakter-karakter mereka yang berbeda yang saya liha dari detil-detil yang mereka perlihatkan. Semua saya perhatikan dari cara mereka datang hingga cara mereka bermain di lapangan.

Aldo misalnya. Si rupawan ini bermain bagus dalam beberapa kesempatan namun tidak konsisten semangat juangnya. Kadang-kadang Aldo tidak bermain se-serius teman-teman yang lain. Saya berasumsi Aldo terbiasa hidup enak, terlihat dari mobil-mobil yang biasa ia bawa dan sepatu mahal yang ia gunakan. Hmm..wajarlah karena dia anak pengasaha besar.

Atau mungkin bang Roni yang jiwa kepemimpinannya tinggi. Dialah pengatur jadwal, keuangan, dan juga pengatur “suhu” luar lapangan. Kemampuannya biasa saja kalau tidak mau dikatakan dibawah rata-rata kami yang lain. Namun tiga hal yang saya sebutkan diatas tadi itulah yang membuat dia dihormati.

Memang aneh jika memikirkan sebuah permainan berebut bola bisa diperluas sebagai sarana bersosialisasi dan mengenal karakter satu sama lain. Dan memang aneh (kalau tidak mau dikatakan berlebihan) ada orang yang mau repot-repot memikirkan nilai-nilai  sebuah permainan sebagai suatu saran perluasan ke pemikiran lain.

Sekali lagi sangatlah aneh mencermati diri saya sibuk mencermati orang lain sementara mendapati diri saya begitu pendiam dan pasif jika sudah berada di luar lapangan dan berbaur dengan sebuah komunitas. -_-

Form is Temporary, Class is Permanent

December 2nd, 2012

Jika sebuah liga sepakbola adalah perlombaan maraton maka yang diperlukan adalah konsistensi gerak, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat. Konsistensi inilah yang berperan besar membuat sebuah tim menjadi tim yang berkelas.

Ada beberapa kejadian dalam dunia sepakbola yang mencerminkan judul diatas yang terjadi semalam (1/12). Yang paling tersohor adalah kekalahan Tim Nasional Indonesia – saya lebih senang menyebutnya Tim Nasional PSSI Djohar – dari tetangga Malaysia dengan 2-0.

Kalau mau jujur, sebenarnya kegagalan Indonesia di AFF Cup sudah bisa terdeteksi dari jauh-jau hari. Jangan melihat ketika laga 2 uji coba di senayan, namun lihatlah dari tahun-tahun awal ketika Djohar Arifin memegang PSSI.

Semua rekor buruk pelan-pelan mulai dipecahkan. Indonesia kalah 10-0 dari Bahrain dan hanya bermain 1-1 dengan tim yang bahkan tidak resmi, Kurdistan. Rekor kekalahan 10 golmembuat FIFA menyelidiki kasus ini apakah terindikasi suap atau tidak.

Dari sisi organisasi juga lebih buruk. PSSI yang mempunyai tandingan bernama KPSI hanya memperbolehkan Tim Nasional Indonesia memanggil pemain yang berlaga di Liga Primer, tidak Liga Super. Diskriminasi?? sangat jelas jika kita tahu siapa sebenarnya pemegang kekuasaan Liga Primer – PSSI dan Liga Super – KPSI.

Belum cukup dengan kontaminasi politik pada organisasi tertinggi, Tim Nasional Indonesia kembali tidak menjelaskan bagaimana sistem pembinaan pemain mudanya. Bagaimana kabar tim SAD Uruguay?? Bagaimana kelanjutan pemain-pemain juara hasil AC Milan Junior Camp?? Apa ceritanya pembinaan pemain juara Homeless World Cup??.

Maka dari tiga parameter – liga yang terpecah dua, organisasi carut marut, pembinaan pemain kacau – itulah maka tidak terlalu terkejut Indonesia gagal total di AFF 2012. Yang membanggakan adalah antusiasme penggemar TimNas Indonesia yang tetap tinggi menonton pertandingan AFF, walau  disuguhi performa buruk di tiga pertandingan grup B.

Kemenangan melawan Singapura pun saya anggap sebagai form bukan class. Indonesia bisa saja kalah lagi melawan Singapura jika saja Singapura bermain seperti melawan Malaysia. Atau jika mau berburuk sangka, pertandingan Indonesia vs Singapura saya anggap hasil pengaturan skor.

» Read more: Form is Temporary, Class is Permanent

Warna lain matchday 5 Liga Champions 2012-2013

November 29th, 2012

Matchday 5 liga Champions 2012-2013 memberikan sebuah warna baru tapi lama : munculnya penguasa baru dari level medioker. AC Milan dan Real Madrid harus puas memastikan posisi dua, sementara Chelsea nasibnya di ujung tanduk.

Bisa dibilang liga Champions musim 2012-2013 penuh kejutan, apalagi menjelang berakhirnya babak/fase grup. Tim-tim tradisional Eropa berhasil dibuat repot oleh tim-tim medioker yang bahkan masih dibilang anak baru di kompetisi atas Eropa.

Porto yang notabene juara liga Champions dua kali memang berhasil menguasai puncak grup A. Namun posisi puncak Porto bisa direbut oleh klub medioker yang mulai menanjak, Paris Saint Germain (PSG) karena di partai terakhir kedua tim akan bertemu.

Jalan kedua tim level menengah Eropa tersebut tentu akan lebih berat lagi di fase gugur, karena dipastikan persaingan akan lebih kuat. Tim-tim tradisional Eropa semua akan muncul di fase gugur tersebut.

Schalke yang dua kali mengganjal Arsenal kini memimpin grup B dengan 11 poin. Schalke akan memastikan posisi puncak jika berhasil mengalahkan Montpellier di partai terakhir, apapun hasil yang diraih Arsenal.

Shakhtar Donestk – tim menengah Ukraina – di grup E secara tak terduga berhasil membuat salah satu tim tradisional – Juventus atau Chelsea – akan tersingkir di fase grup. Shakhtar dengan poin 10 unggul 1 poin atas Juventus dan 3 poin atas Chelsea.

Jadi apapun hasil yang diraih Shakhtar di partai terakhir melawan Juventus tetap akan membawa mereka lolos ke fase grup. Sementara Chelsea sebagai juara bertahan harus menang atas Nordsjaelland sembari berharap Shakhtar mengalahkan Juventus agar mereka lolos ke fase grup. Sementara Juventus tinggal meraih hasil seri di partai terakhir untuk lolos.

» Read more: Warna lain matchday 5 Liga Champions 2012-2013

Arsenal-Liverpool : Seolah Kehilangan Karakter

November 28th, 2012

Jika dulu Liverpool dikenal sebagai raja Inggris di era 1980-an, maka Arsenal dikenal sebagai pengganggu hegemoni Manchester United di awal millenium. Kini kedua tim dikenal sebagai pesakitan. Ada apa sebenarnya??

Dibanding tim Inggris lainnya, Liverpool bisa dibilang yang paling sukses dengan parameter delapan belas juara liga Inggris ditambah 5 juara liga Champions. Belum lagi jika menghitung piala lokal dan piala UEFA. Namun banyak trofi yang diraih Liverpool adalah ketika masa 1970 hingga 1980 ketika The Reds dilatih Bill Shankly dan Bob Paisley.

Awal millenium baru pun tidak begitu buruk bagi Liverpool. Setidaknya mereka pernah merebut treble winners pada 2001, Piala FA 2006 serta liga Champions 2005.

Tetapi dari 1989 hingga sekarang belum satu-pun gelar liga Inggris yang didapat Liverpool. Treble winners 2001 tidak sama yang diraih Manchester United 1999. Liverpool 2001 meraih Piala UEFA, Piala Liga, dan Piala FA – tanpa gelar liga Inggris.

Paceklik gelar mulai datang pertengahan 2000-2010. Indikasinya berubah saat Fernando Torres datang pada 2007. Rafael Benitez sang pelatih mengubah karakter Liverpool yang bermain cepat dan mengandalkan bola-bola mati menjadi permainan rapat memendek khas Spanyol, demi mengakomodasi Torres.

Terbukti Liverpool gagal meraih satu-pun gelar dalam rentang Torres dan Benitez bekerja sama, hingga mereka berdua hengkang pada musim 2010-2011. Perombakan yang dilakukan Roy Hodgson dan Kenny Dalglish setelah era Benitez tidak begitu berdampak baik.

Kapten sekaligus simbol kesuksesan 2005 Steven Gerrard seperti lelah mengangkat Liverpool sendirian. Ia butuh rekan-rekan yang dapat menginspirasi kembali karakter khas yang ditunjukkan Liverpool saat masih berjaya.

» Read more: Arsenal-Liverpool : Seolah Kehilangan Karakter

Menjaga Sebuah Kultur

November 27th, 2012

Jika diibaratkan sebuah sistem, kultur sepakbola adalah bagian teratas dari penjalanan filosofi sepakbola sebuah klub. Kultur sepakbola terus ditopang dari era-era yang saling berantai dengan sebuah simbol kejayaan pada suatu era, sang pemain sepakbola.

Bisa dibilang Barcelona adalah klub terkuat saat ini. Tidak perlu saya jelaskan mendetil karena cukup melihat mereka bermain maka akan langsung menyadari bahwa mereka yang terbaik. Bukti klub terkuat pada era kini diperkuat berbagairaihan trofi mayor baik ditingkat individu maupun tim.Sebuah kebetulan kah?? tentu saja tidak karena melewati sebuah proses.

Dimulai jauh sebelum era sepakbola modern sekarang seorang dari Belanda yang membawa akar-akar totall football datang ke Barcelona. Dialah Johan Cruyff sang maestro.

Totall Football yang menjadi kultur sepakbola Barcelona adalah terjemahan langsung ke sepakbola dari karakter orang Belanda yang tergila-gila akan ruang dan spasi. Singkatnya karakter tersebut membuat pemain-pemain Belanda bisa merekayasa pikiran lawan dengan menciptakan ruang gerak sekecil-kecilnya ketika lawan menyerang.

Selanjutnya ketika menyerang, pemain-pemain Belanda akan menciptakan ruang gerak yang luas antar mereka sehingga lawan akan merasa lapangan akan menjadi sangat luas. Karena itulah totall football membuthkan kedinamisan gerak antar pemain.

Dengan totall football itu, Belanda berhasil menjuarai Piala Eropa 1988 dan menjadi tim paling menghibur di era 1970-an dengan gelar : Juara tanpa mahkota.

Filosofi permainan Belanda tersebut  tersebut kemudian ditanamkan Cruyff ke Barcelona dan terus digaungkan dari generasi ke generasi hingga yang terbaru yang kita kenal sekarang.

» Read more: Menjaga Sebuah Kultur