Posts Tagged ‘life’

Berawal Dari Diri Sendiri

October 17th, 2013

Ada ide dari beberapa orang yang saya anggap sangat brilian sebagai langkah awal (atau mungkin lanjutan) untuk setidaknya sedikit mengubah penampilan buruk bangsa kita, bangsa Indonesia. Beberapa dari mereka tentu saja menginspirasi banyak lainnya untuk berbuat sesuai dengan bidangnya, termasuk saya.

Pandji Pragiwaksono dan Salman Khan sangat berjasa besar bagi lingkungan melalui kegerahan dan semangat mereka. Pun demikian dengan karya-karya dan ide-ide mereka sehingga apapun yang orang katakan lumrah, ternyata perlu dipikirkan dan dikaji ulang.

Salman Khan

Saya menangkap kesamaan mereka dalam bidang yang mereka geluti adalah adanya panggilan dalam alam bawah sadar mereka untuk berbuat sesuatu. Mereka membuat perubahan dalam karya yang mereka ciptakan, untuk kebaikan sesama. Tidak mudah menemukan apa yang menjadi semangat seseorang untuk mengejar apa yang ingin mereka cita-citakan untuk perubahan, atau kebaikan, seperti yang mereka lakukan.

Namun saya memahami bahwa perubahan datang dari diri sendiri terlebih dahulu. Perubahan datang kepada mereka yang skeptis terhadap apa yang ada disekitarnya, perubahan datang kepada mereka yang mempertanyakan sebuah kebiasaan yang memang patut dikaji ulang ke-efisienan-nya.

Berapa dari kita yang sadar bahwa membuat SIM (Surat Izin Mengemudi) menggunakan CALO dengan biaya yang luar biasa diatas normal adalah suatu bentuk dukungan terselubung terhadap praktek korupsi dan suap menyuap?

Berapa dari kita yang menyadari bahwa membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) dengan menyetujui biaya yang diluar dari batas adalah suatu bentuk lain terhadap pungutan liar?

Lalu apa yang harus dilakukan dengan itu? Tidak membuat SIM atau SKCK? tentu saja cara legal, resmi (kalau perlu menolak segala bentuk praktek liar) adalah yang terbaik  untuk dilakukan. Namun sekali lagi, setiap orang berbeda prilaku dan pemikiran sehingga yang perlu ditenkankan sekali lagi adalah kesadaran diri sendiri untuk menciptakan perubahan (atau minimal memikirkan perubahan, dengan sedikit kegelisahan terhadap kebiasaan lama) ke arah yang lebih baik.

Rasanya sudah terlalu bosan untuk mengatakan bahwa praktik membuang sampah di tempatnya adalah salah satu bentuk kedisiplinan dalan kebersihan. Praktik tersebut secara langsung dapat membuat orang ke sikap, pemikiran, dan perilaku yang lebih baik. Tujuannya adalah perilaku positif diharapkan dapat mengubah perilaku negatif lain, atau setidaknya menyadarkan, seseorang tersebut.

Pandji dan Salman tentu saja mengalami siklus berani mengubah dan berpikir perubahan setelah menyadari adanya sesuatu yang harus dirubah dari diri sendiri kearah yang lebih baik. Dan tentu saja, apakah kita tidak ingin berubah untuk lingkungan yang lebih baik? Dan sekali lagi langkah awal adalah dengan berubah dan menggerakkan perilaku positif pada diri sendiri.

Catatan Pribadi : Memaknai Kemerdekaan

August 17th, 2013

Bisa dibilang 17 Agustus adalah momen mengharukan, membanggakan sekaligus introspeksi diri, tergantung dari pribadi masing-masing. Hari kemeredekaan Republik Indonesia mengingatkan kita tentang perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan, walau konon ada beberapa simpang siur terkait hari kemerdekaan dan rencana pemberian kemerdekaan dari Jepang.

Sejarah memang memang sulit untuk menemukan dirinya. Namun apapun itu, hari kemerdekaan sudah selayaknya kita isi dengan hal-hal positif. Tidak melulu berbau seremonial dan hura-hura semacam upacara, pengibaran bendera, atau lomba-lomba.

Saya pribadi lebih memilih momen kemerdekaan RI sebagai momen introspeksi diri. Apakah saya telah berada pada jalur kehidupan yang benar? Apakah negara ini begitu kacaunya sehingga dulu sempat saya berpikir untuk ke luar negeri?  Apa yang  telah saya berikan untuk negara ini?.

Pikiran kembali melayang saat upacara bendera di Dinas Pendidikan Provinsi tadi pagi. Saya menemukan momen yang sangat tidak layak untuk dilakoni orang dewasa, atau sebut saja PNS DIKNAS. Bagaimana bisa orang-orang mengatur instansi pendidikan bersikap tidak terdidik? ya saya sebut tidak terdidik karena mereka begitu ribut sepanjang upacara dan berteriak semauanya saat doa.

Bukan apa-apa, ada anak-anak usia sekolah dari SD-SMA yang hadir untuk pemberian penghargaan UN, yang kemungkinan besar akan beranggapan semua hal tersebut biasa saja. Pantas saja pendidikan RI jalan di tempat jika yang menangani pendidikan tidak “berpendidikan”.

Belajar Mencintai

Dulu saya sempat berpikir Indonesia sudah tidak ada bentuknya lagi. Berbagai kasus asusila moral bergentayangan di stasiun-stasiun televisi mainstream. Akhirnya membetuk pola pikir a-nasionalis pada diri saya.

Kemudian semua berubah saat saya menyadari bahwa Indonesia bukan yang televisi ceritakan. Indonesia bukan Jakarta, bukan Jabodetabek ,bukan Bandung walau pembangunan begitu timpang memihak kota-kota besar pulau Jawa.

Indonesia adalah Sabang-Merauke. Indonesia memiliki sejuta pesona yang sangat indah. Cobalah berpikir berapa banyak pantai-pantai eksotis, berapa banyak kearifan lokal yang terpuji, berapa banyak kekayaan alam yang belum maksimal digali potensinya. Semua itu milik Indonesia.

Saya menyadari bahwa saya dulu begitu membenci apa yang tidak begitu saya kenali lebih dalam. Saya menyadari pola pikir sempit dicampur kenistaan pribadi membuat semua menjadi begitu buruk.

Apakah saya satu-satunya? Apakah masih banyak yang masih termakan berita-berita televisi yang “hanya” bertujuan menaikkan rating siaran? Apakah masih ada yang belum berpikiran terbuka? Andai saya satu-satunya berpola pikir tersebut…

Mulai Dari Hal Kecil

Saya sadar saya berasal dari keluarga PNS biasa. PNS diidentikkan dengan kehidupan comfort zone sehingga membentuk pola pikir tidak ada perubahan atau tidak terbiasa menghadapi perubahan. Padahal dunia di luar mereka terus-menerus berubah secara konstan.

Lalu apakah saya sesali? Dulu begitu, namun belakangan justru saya banyak belajar dari situ. Saya belajar banyak bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik, saya belajar berbagi, saya  belajar untuk menentukan pilihan sesuai nurani dan logika.

Saya memulai dari hal-hal kecil bermanfaat bagi pribadi dan sekeliling. Saya mulai membuka pikiran positif dan menjauhkan yang negatif, meski memang butuh perjuangan karena begitu banyak pola pikir dan sikap negatif  di sekeliling saya.

Akhirnya kemerdekaan Indonesia bukan saja sekedar seremonial atau lomba. Saya memaknai sebagai kemerdekaan pikiran positif. Saya memaknai kemerdekaan dengan dengan “memberi” kepada negara dalam bentuk “minimal” : Menjadi prbadi yang lebih baik dan berbagi.

Ah, tiba-tiba saya ingat anak-anak…… :)

Sumber gambar : google.com

Bukan Meng-alay-kan diri

August 17th, 2013

Teknologi yang berkembang dengan pesat telah membuat gaya hidup masyarakat berubah. Salah satu produk teknologi adalah internet. Internet memberikan apa yang orang dulu tidak pernah bayangkan. Contohnya saja situs pencari (search engine) atau media sosial.

Media sosial adalah sarana  yang untuk mengekspresikan diri. Semua lapisan masyarakat dapat dengan bebas mengungkapkan apa yang ada dalam benak mereka lewat facebook, twitter, atau mungkin instagram. Tergantung dari apa passion media mereka.

Media sosial juga bisa menjadi saran belajar yang efektif, namun juga bisa menjadi sarana propaganda pihak-pihak tertentu. Dalam hal ini kedewasaan pengguna media sosial berperan besar dalam memilah dan menyikapi informasi.

Apapun itu tetap saja kita harus ambil sisi positifnya : belajar dari media sosial semacam twitter. Belajar? ya karena pada dasarnya pengguna twitter bisa dengan bebas memilih sumber informasi dengan representasi orang yang mereka ikuti/follow.

Mengikuti/follow seseorang di twitter bisa dikarenakan :

1. Seseorang tersebut adalah teman

2. Memang layak diikuti karena ada suatu nilai yang diberikan pada berikutnya

Poin nomor 2 tersebut yang bisa dikatakan belajar dari twitter. Ada beberapa akun twitter yang menurut saya sangat baik dan bisa dijadikan referensi. Beberapa diantaranya adalah :

1. Pandji Pragiwaksono (@pandji)

Beliau adalah seniman, pemikir, dan pemuda yang peduli pada keadaan bangsa kita. Tweet beliau sebagian besar berisikan ajakan untuk berkarya, berbuat sesuatu, dan mengapresiasikan karya tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, @pandji sering me-ngetweet tentang stand up comedy, isu-isu terkini, dan olahraga. Ya olahraga karena beliau adalah penggemar olahraga terutama basket.

Beliau juga memiliki blog serta buku elektronik gratis yang bisa diakses melalui blog tersebut. terkadang beliau juga memasarkan beberapa hasil karyanya di twitter. Teknik pemasaran yang sangat baik mengingat peminat karya-karya beliau adalah anak-anak muda.

Akun @pandji sangat layak diikuti dengan beebagai nilai pelajaran yang dapat kita ambil.

2. Prof. Hazairin Pohan (@hazpohan)

Prof. Hazairin Pohan adalah seorang diplomat, duta besar yang telah berkeliling dunia sejak saya belum lahir :D. Pengalaman beliau sangat banyak terutama tentang budaya, filsafat hidup, dan sistem politik dan dampaknya pada suatu negara.

Sangat menarik juga jika melihat beberapa tweet beliau yang menginformasikan semacam perkembangan terbaru dari pola pemerintahan RI seperti informasi akan digunakannya penerjemah bahasa asing asli dari Indonesia yang disatukan dalam ruang lingkup seperti pasukan khusus.

Pengalaman-penglaman beliau juga diceritakan dalam sebuah blog, bisa diakses di bio beliau. Isi dari blog beliau juga dipromosikan pada tweet-tweet beliau, sehingga kita bisa memilah mana topik yang sesuai dengan passion kita.

Akun @hazpohan sangat layak untuk diikuti mengingat banyak sekali pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa membuka pikiran kita.

3. @revolutia

Tidak ada yang tahu pasti siapa pemilik akun @revolutia. Namun dari gaya bahasa-nya dapat di-detect akun tersebut masih berusia muda, atau minimal berjiwa muda. Saya menemukan akun ini menarik setelah saya baca blog @pandji yang mengatakan bahwa @revolita sangat informatif, unik untuk diikuti.

Kebanyakan tweet @revolutia berkaitan dengan isu-isu politik dalam dan luar negeri serta sedikit filsafat. Misalya saya sering mendapati @revolutia menjabarkan seluk beluk korupsi, kronologi singkat rusuh di Mesir, dan pendapat objektif tentang pemerintahan RI.

@revolutia juga memiliki blog yang berisikan tentang politik, isu-isu terkini, dan hiburan. Blog @revolutia bisa diakses melalui link yang ada di bio beliau.

Ada beberapa tweet @revolutia yang bisa dibilang tidak penting, saya maklum mengingat saya berasumsi beliau masih muda. Namun secara umum @revolutia layak untuk diikuti mengingat beliau sangat informatif.

4. @Triomacan2000

Saya rasa inilah akun paling kontroversi di Indonesia. @Triomacan2000 menyebut diri mereka sebagai akun intelijen publik, yang berarti mereka mendapatkan informasi dari berbagai sumber yang bisa dikatakan classified untuk diolah, dianalisis, dan kemudian dibagikan kepada pengguna twitter.

Kontroversi karena mereka memberi informasi yang sangat menohok publik soal pejabat, korupsi, mega skandal, mafia, proyek bermasalah, atau perilaku partai. Namun Ada juga beberapa tweet @Triomacan2000 yang mengungkapkan tokoh-tokoh yang menurut mereka patut dihargai.

Seperti contoh kultwit (kuliah tweet) mereka tentang siapa Mahfud MD, Bibit Samat, atau Marzuki Alie yang sangat jarang diliput media. Mungkin media menilai mereka tidak bisa menaikkan rating tayangan. :D

Tidak seperti tiga akun diatas, akun @Triomacan2000 menyajikan bacaan berupa kultwit bukan blog. Kultwit mereka bisa diakses melalui mesin pencari dengan kata kunci @Triomacan2000 , chirpstrory. Kadang mereka membagikan link chirpstory di tweet mereka.

Membuka Pikiran

Kesamaan dari empat akun diatas adalah mereka menawarkan keterbukaan pikiran sembari menyaring informasi apa yang layak untuk diolah. Mereka secara tidak langsung memberi pengetahuan, membuka pikiran, dan mencerdaskan.

Saya ingat kutipan “Sungguh berdiskusi dengan orang cerdas bisa membuka pikiran dan hati”. Sehingga empat akun diatas bisa dipersonifikasi sebagai si orang cerdas. Mungkin ada beberapa akun lain yang layak diikuti semacam @yoris @tonybarrettimes atau @zenrs, tergantung pada passion si pengikut.

Pada akhirnya media sosial menjadi sarana yang baik untuk belajar. Belajar bisa darimana saja tidak selalu di pendidikan formal. Sangat tidak bijaksana jika media sosial bertujuan sebagai sarana untuk meng-alay-kan diri. :D

gambar : goolge.com

Legenda

August 14th, 2013

Orang sudah tentu mengenal sosok-sosok pemain seperti Paolo Maldini, Zinedine Zidane, Ryan Giggs, Javier Zanetti, Francesco Totti dan lain-lain. Apakah persamaan mereka? ya mereka adalah para legenda sepakbola, lebih spesifik mereka adalah mereka legenda klub-klub eropa.

Apa yang membuat mereka dijadikan legenda sepakbola? selain kemampuan olah bola yang baik ada beberapa komponen lain yang melekat pada diri mereka masing-masing. Kemampuan olah bola mumpuni tidak ada artinya tanpa dibarengi sikap, mental, dan etika bermain yang baik.

Denilson adalah salah satu pemain brilian pada akhir 1997 ketika ia dibeli dengan harga selangit oleh Real Betis dari Sao Paolo sehingga menjadikan ia sebagai pemain termahal dunia saat itu.

Kenyataan membuktikan harga Denilson terlalu mahal. Musim pertama dihabiskan dengan mencetak hanya 2 gol, Real Betis hanya dibawa ke posisi 11. Lepas dari itu, Denilson menjelma menjadi pemain medioker yang mengembara  di klub-klub medioker pula.

Apa yang salah dengan Denilson? secara kemampuan Denilson tidak kalah dengan Ronaldo, atau Rivaldo katakanlah. Dua nama terakhir berhasil membawa Brasil menjadi juara dunia. Ekspektasi harga dan sikap mental menjadi penghalang Denilson untuk maju. Ia tidak memiliki sesuatu untuk menjadi seorang legenda.

Ia sudah terlalu wah dengan harga selagit di umur yang masih sangat muda. Tidak masalah jika dibarengi sikap mental yang baik, namun jika tidak maka kemunduran hanya tinggal menunggu waktu.

Seorang Ryan Giggs, Francesco Totti ,dan Javier Zanetti memiliki kepemimpinan dan loyalitas yang kuat terhadap klubnya, dtambah secara kemampuan mereka tidak kalah dengan pemain lain.

Jika diibaratkan dalam matriks kepemimpinan, kepemimpinan terletk pada sumbu Y dan kemampuan pada sumbu X, maka ketiga legenda tersebut memiliki angka yang tinggi untuk kedua sumbu sehingga aura yang dihasilkan akan menjadi bagus.

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Lain halnya jika jika seorang pemain hanya mengandalkan kemampuan tanpa kepemimpinan diri yang kuat, ia hanya menghasilkan keluaran yang biasa-biasa saja. Kepemimpinan diri ini juga termasuk sikap mental, pembawaan, emosi yang terkendali serta cara menghadapi tekanan.

Strong Image

Legenda lain seperti David Beckham adalah contoh unik. Ia seperti tidak sengaja mencitrakan dirinya menjadi sosok yang begitu diingat, begitu dikagumi walau secara restasi tidak secemerlang Ronaldo atau Lionel Messi.

Siapa tidak mengenal iklan produk tata rambut Brylcream? Pada iklan tersebut Beckham dicitrakan sebagai pemain modis dengan kekuatan seorang lelaki sejati. Hal tersebut digambarkan dengan latar belakang Beckham sedang mencetak gol lewat tendangan jarak jauh.

Tentunya Brylcream tidak mengambil sembarangan duta mereka. Beckham yang gandrung gonta-ganti rambut tentu adalah sosok sempurna untuk memberikan pesan “rambutmu adalah gayamu”.

Jangan lupakan juga image Beckham sebagai pengambil tendangan bebas yang andal. Siapapu generasi 1990 pasti ingat tendangan pisang Beckham saat Inggris melawan Kolombia pada Piala Dunia 1998.

Berbicara Beckham tentu tidak afdol jika tidak menyebut para wanita-wanita disekelilingnya semacam Rebecca Loose, Victoria Adams dll. Beckham dicitrakan media sebagai pria ganteng dengan hobi gonta ganti pacar meski belakangan ia digambarkan sebagai pria keluarga/family man.

Semua tentang Beckham diatas dikupas habis oleh media seolah Beckham sendiri menginginkannya sehingga penggemar sepakbola – terutama wanita – mendapat sisi menarik lain dari sepakbola. Beckham adalah legenda media dan pencitraan.

Faktor X

Pada akhirnya semua legenda sepakbola dunia memang memiliki faktor lain di luar sepakbola untuk tetap diingat. Para pakar menyebutnya dengan faktor X. Faktor X adalah penentu keberhasilah, tidak dapat diambil, melekat pada diri manusia, dan tidak diperoleh dalam waktu sekejap.

Lihatlah bagaimana Zanetti, Giggs, Totti, Maldini atau Buffon yang setia kepada klubnya walaupun dalam keadaan susah sekalipun. Mereka memiliki faktor X berupa kepemimpinan, kemampuan, etika, mental, dan loyalitas tersendiri.

Lihatlah Beckham dengan faktor media, citra, dan segala sisi unik kehidupannya yang semuanya dikombinasikan menjadi sebuah faktor X yang unik.

Lihatlah Lionel Messi. Ia adalah satu-satunya pemain yang menggondol bola emas pemain terbaik dunia empat kali berturut-turut. Ia mewujudkannya dengan kemampuan bertanding bak alien. Tinggal menunggu waktu saja sebelum ia menjadi legenda Barcelona.

Semua pemain-pemain sepakbola mempunyai cara tersediri dalam bermain. Mereka juga mempunyai cara sendiri untuk diingat, untuk dijadikan legenda. Mereka memiliki faktor X masing-masing. Maka faktor X dan legenda memiliki satu kesamaan : melekat pada diri masing-masing individu.

THR

August 11th, 2013

Lebaran telah tiba. Hari raya umat islam yang juga bernama Idul Fitri menciptakan suasana suka cita. Segenap masyarakat berbondong-bondong mengikuti ritual hari kemenangan seperti sholat ied atau ber-silaturahmi antar teman/kerabat/saudara.

Diantara momen tersebut, terselip pemandangan biasa namun sedikit menimbulkan tanya di pikiran. Kita mengenal pemandangan tersebut sebagai THR (Tunjangan Hari Raya).

THR sejatinya adalah tunjangan materi yang didapatkan karyawan swasta dan negeri. Umumnya THR diberikan menjelang libur lebaran. Besarnya bervariasi, tergantung instansi mana yang memberikan. THR sendiri sudah ada undang-undangnya melalui peraturan menteri tahun 1994.

Namun THR kadang di-salah artikan oleh banyak orang, terutama anak-anak. Saya melihat sendiri kejadian di beberapa tempat, anak-anak yang bertamu ke rumah tetangga belum mau pulang sebelum mendapatkan lembar rupiah. Mereka kadang memberi sinyal tertentu kepada tuan rumah.

Salahkah itu? silaturahmi memang tidak salah, tapi memberi uang lain cerita.  Memberi uang THR kepada orang yang tidak tepat ditakutkan akan menciptakan mental pengemis dan gratifikator, pun membentuk pribadi yang hedonis serta menilai semua dari segi material.

Bagaimana mungkin saya tidak aneh jika anak-anak sejak kecil dididik untuk menjadi pengemis keliling ke rumah-rumah pada hari raya? Tidakkah mereka diajarkan bagaimana esensi hari lebaran sebenarnya?.

Ditakutkan dengan mental seperti itu akan timbul koruptor-koruptor baru, atau minimal mau bekerja kalau ada uang. Persis seperti aparat-aparat yang menghuni berbagai birokrasi. Memang uang penting dalam kehidupan, tapi akan menjadi salah jika semua orientasi kehidupan berdasar pada uang. Ada beberapa hal yang tidak bisa diukur dengan uang seperti passion.

Mau bagaimana lagi, memang itulah yang telah diturunkan dari orang tua mereka. Pola pikir pengemis dan gratifikator yang secara tidak sadar mereka turunkan kepada anak-anak mereka. Belum lagi saya miris melihat acara-acara televisi yang menampilkan pembagian uang secara terbuka, seperti di infotainment.

Lah selagi buat mereka tidak masalah, kenapa saya yang mempermasalahkan? Bukan apa-apa, saya saja pusing dengan beberapa aparat pemerintahan yang selalu menuntut pungutan liar jikalau saya ingin mengurus sesuatu. Takutnya anak-anak mereka nanti yang kemudian menggantikan pola pikir orang tuanya.

Jika materialistis, hedonistis, dan narsistis sudah begitu akut di negeri ini, ditakutkan akan mudah bagi musuh-musuh tidak kasat mata untuk memecah belah (lagi) Indonesia. Semua gejala sudah mengarah kesana tinggal bagaimana kita menyikapinya secara bijak.

Ah, mudah-mudahan kekhawatiran saya diatas cuma sebatas pikiran acak…

Meng-Clannad

August 3rd, 2013

Dunia mengenal bahasa Inggris sebagai bahasa universal, yang berarti bahasa yang bisa digunakan oleh semua orang untuk berkomunikasi dengan semua orang. Walau tetap saja, bahasa mandarin yang paling banyak dituturkan di dunia mengingat jumlah populasi Cina yang luar biasa banyak.

Pada abad pertengahan bahasa Inggris disebut sebagai “La Lingua Pura”,bahasa murni. Istilah tersebut muncul karena keenganan penguasa gereja menggunakan bahasa Inggris dalam protokol sehari-hari (gereja sering menggunakan bahasa latin atau Italia). Ilmuwan – yang pada masa tersebut sering bertentangan dengan gereja  – lalu menggunakan bahasa Inggris yang tidak digunakan gereja sebagai bahasa standar percakapan dan publikasi.

Dengan kata lain, istilah bahasa murni adalah sebuah istilah yang menunjukkan bahwa bahasa Inggris belum terjamah oleh gereja, atau memang sengaja tidak dijamah. Anda bisa mencari referensi karya John Milton – yang satu masa dengan Galileo – untuk membuktikannya.

Seiring dengan waktu penggunaan bahasa Inggris semakin meluas. Semua aspek kehidupan dipengaruhi oleh bahasa Inggris mulai dari media massa, media sosial, hingga lamaran pekerjaan.

Saya menemukan fakta bahwa hampir semua perusahaan menggunakan bahasa Inggris sebagai syarat untuk masuk perusahaan mereka. Wajar mengingat mesin, literatur, dan faktor-faktor administrasi tidak bisa lepas dari bahasa Inggris.

Pun demikian dengan media massa arus utama yang memiliki setidaknya satu jam program berbahasa Inggris.Di media sosial, tidak sulit menemukan anak-anak usia SMP yang sudah fasih mengisi kolom bio twitter dengan bahasa Inggris, bahkan memperbarui status dengan bahasa Inggris.

Tidak ada yang menyalahkan dengan munculnya fenomena global bahasa Inggris ini. Disamping tuntutan, gengsi kadang bisa membuat orang terpaksa untuk berbahasa Inggris. Dalam konteks ini seseorang dapat dianggap intelek jika sudah bisa atau paling tidak memamerkan sedikit kemampuan bahasa Inggris-nya.

Lalu bagaimana dengan bahasa ibu kita sendiri, bahasa Indonesia?. Sedikit yang benar-benar memahami bahwa kebanggaan berbahasa Indonesia adalah sesuatu yang mahal sekarang. Anggun C. Sasmi mungkin adalah sosok yang tapat bagaimana ia bisa menempatkan diri dalam berbahasa. Hal itu diaplikasikan dengan sebisa mungkin membenarkan istilah-istilah asing yang secara reaksi muncul dari perkataanya.

Musik juga memberi peran terhadap kebanggan berbahasa. Orang Indonesia yang melek musik sekarang lebih merasa musik luar negeri lebih enak didengar daripada musik dalam negeri yang saya harus akui semakin jauh kualitasnya dari masa ke masa. Dengan rasa nyaman oleh musik luar negeri itulah kemudian membuat alam ingatan kita semakin kuat dengan bahasa Inggris.

Mungkin kita harus melihat ke Clannad. Mereka menggunakan dua bahasa pada lagu-lagu mereka sehingga tidak heran jika satu album Clannad terdiri dari 5 lagu berbahasa Inggris dan 5 lagu berbahasa Gaelik. Dari situ kekuatan untuk bangga atas jati diri bangsa semakin timbul.

Sebagai info, Republik Irlandia (asal Clannad) menggunakan bahasa Inggris dan gaelik sebagai bahasa resmi. Tetapi bahasa gaelik adalah identitas utama masyarakat Irlandia, khususnya di daerah pesisir pantai.

Indonesia juga bisa berbangga atas karya daur ulang Cokelat atas lagu-lagu perjuangan yang sering kita dengar. Masalahnya adalah apresiasi kita terhadap karya-karya Cokelat tersebut. Industri mengatakan bahwa musik tersebut ternyata tidak menguntungkan di Indonesia, masyarakat sangat dimanja dengan musik cinta bernuanasa melow.

Karena itulah terjadi sebuah kemunduran di industri musik Indonesia.Akhirnya saya memimpikan musik Indonesia yang membawa musik dengan cita rasa tinggi dengan tidak melupakan diri sebagai bangsa Indonesia. Saya memimpikan musik yang meng-Clannad…

Komentar Bocah-Bocah

July 26th, 2013

Hari mulai beranjak sore ketika saya dikejutkan dengan kedatangan tiga bocah SMP. Saya agak heran karena jarang-jarang mereka datang main ke rumah saya. Selidik punya selidik ternyata mereka perlu bantuan mengerjakan pekerjaan rumah.

Ketiga anak tersebut adalah Otek, Laras, dan Ica. Sebenarnya mereka bukan termasuk anak baru bagi saya karena masa SD mereka sering belajar bersama ibu saya. Hanya Ica yang saya belum kenal lebih jauh, hanya kenal-kenal saja.

Sepanjang sore kami habiskan dengan belajar dan bermain. In fact, lebih banyak main daripada belajar. Itu inisiatif saya saja mengingat mereka sepanjang hari berkutat dengan pelajaran. Jadi hanya materi yang mereka belum paham saja yang saya jelaskan lebih rinci.

Anyway, selama bermain itu saya menemukan kata-kata ajaib yang keluar dari mereka. Berikut rinciannya :

“Kalu HP tu namonyo BBS kak…BB Senter”

Laras ketika saya menjelaskan merek telepon genggam terbaru yang saya punya,Nokia 100 Classic. Kalau di-Indonesia-kan bisa berarti “HP kakak itu julukannya sekarang BB senter”. Jujur saya baru mendengar yang namanya BB senter. Yang jelas kata BB senter membuat saya bertanya-tanya, apa hubungannya BB, senter, dan Nokia 100? :D

“Belok kiri apo belok kanan dak?

Otek sewaktu diminta menjelaskan rumah temannya Tasya. Kalau di-Indonesia-kan berarti “Belok kiri apa belok kanan?”.Yang aneh dari peryataan Otek diatas adalah tangannya bergerak ke kiri saat dia mengucapkan kata-kata diatas. Sedikit lupa dengan hal-hal dasar tentang arah. Bagaimanapun juga kami mengoreksi ucapaan Otek sambil tertawa.

“Ambo jugo model, tapi idak cak itu nian..”

Reaksi Ica ketika melihat foto adik tingkatnya di SD dulu, Dian. Kalau di-Indonesia-kan bisa berarti “Saya juga model tapi gak gitu-gitu amat“.Ica merasa pose yang ditampilkan Dian saat poto bersama terlalu berlebihan. Memang semaca SD Ica sering mengikuti berbagai lomba fashion.

Sebagai penutup inilah komentar terakhir Rizki – belakangan dia juga datang diajak tiga temannya diatas – ketika saya iseng jodohkan dia dengan Otek/Ica.

“Lah mereka siapa? gak level”

Saya hanya tertawa… :D

Gratifikasi… Budaya Indonesia kah?

July 13th, 2013

Konon ketika mengurus persyaratan wisuuda, ada beberapa detail yang harus diselesaikan salah satunya mengurus kartu bebas perpustakaan baik itu fakultas dan universitas. Idealnya pengurusan tersebut ditujukan agar tidak ada mahasiswa yang hendak lulus lupa mengembalikan buku perpustakaan.

Prosedurnya saya kira tidak terbelit-belit. Cukup periksa buku apa saja yang telah dipinjam, lalu dikembalikan beserta kartu perpustakaannya. Atau yang kartunya sudah hilang dikenakan denda barang 15 ribu rupiah, itupun sudah termasuk tinggi menurut saya.

Masalahnya adalah ketika semua telah dipastikan “aman” sang petugas meminta mahasiswa mentransfer  uang 50 ribu rupiah yang disetorkan ke nomor rekening tertentu tanpa jelas tujuannya. Belum lagi ketika menyerahkan kertas bebas pustaka, petugas lain meminta 1000 rupiah dengan dalih uang fotocopy.

Hari-hari selanjutnya saya menemukan seorang guru yang memberikan bimbingan ekstra muridnya di rumah guru tersebut. Idealnya jika si guru tersebut “benar-benar” guru tentu ia harus ikhlas membimbing anak-anak yang dirasa kurang cukup belajar di kelas. Atau minimal guru memberi kelas etika tambahan di luar sekolah, jika si anak  memang alotnya keterlaluan.

Memang bukan tugas utama guru untuk membuat anak pintar dengan sekeja, pastilah peran orangtua sangat berpengaruh. Jadi guru bisa melempar tanggung jawab? tidak juga karena di sekolah guru adalah orang tua kedua. Otomatis dia harus memberikan contoh yang baik.

Kembali lagi ke masalah pemberian terhadap guru. Jadi guru tersebut memberikan pernyataan bahwa jika “belajar” tambahan di rumahnya, apapun yang akan terjadi nilai akan didongkrak. Mudahnya, si A belajar dirumah guru  B lalu si orangtua A memberi sejumlah “materi” kepada guru B. Lalu dengan ajaib nilai si A melonjak sedangkan murid C yang tidak belajar dirumah guru tersebut cenderung di anaktiri-kan.

Gratifikasi

Lalu apakah kedua contoh tersebut adalah termasuk gratifikasi? mari kita periksa definisi gratifikasi supaya tidak ada fitnah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

GRATIFIKASI merupakan hadiah pemberian di luar gaji

Ada salahnya dengan gratifikasi? mari kita cermati kedua peristiwa diatas. Pungutan yang dilakukan oknum perpustakaan dengan maksud memperkaya diri sendiri jelas sangat tidak baik dari segi norma sosial, norma agama dan norma etika.

Gratifikasi menghasilkan generasi-generasi yang materialistik. Saya tidak bisa membayangkan apa yang orang katakan jika saja ada orang luar negeri bermaksud survei atau belajar di universitas tersebut, menemkan hal-hal semacam itu. Pikiran negatif paling tidak terlintas di pikiran orang luar negeri tersebut.

Atau saya makin risih dengan pola tingkah guru dan orang tua yang membiasakan gratifikasi. Anak secara otomatis akan dicuci pikirannya bahwa gratifikasi dalam hal negatif tersebut diatas adalah legal, keharusan.

Gratifikasi tidak bisa dijadikan alasan untuk menambah gaji yang tidak bisa lagi dijadikan pegangan. Kalau gaji kurang atau habis, kenapa tidak coba buka usaha, kenapa tidak keluar dari pekerjaan lalu mencari pekerjaan lain?.

Saya rasa sebagai orang dewasa tentu bisa berpikir bahwa gaji “petugas” segitu-segitu saja. Lalu kenapa ngotot menjadi petugas jika gengsi dan nafsu material begitu tinggi sedangkan gaji segitu-segitu saja?. Jadi petugas harus siap hidup sederhana.

Saya yakin banyak lagi yang lebih parah daripada dua contoh kasus diatas dengan melibatkan instansi dan materi yang lebih banyak pula. Pertanyaannya adalah, apakah gratifikasi sekarang jadi budaya Indonesia??

Lagu dan Bahasa

May 18th, 2013

Bagi saya merupakan hal yang luar biasa mendapat lagu baru yang bagus, easy listerning, dan yang pasti tidak bersifat mainstream untuk ukuran sekarang. Dari beberapa tahun yang lalu yang lalu saya mencoba mengeksplorasi semua musik, dan hasilnya musik era 1970 hingga musik 1990 adalah favorit saya – tentu dengan menyisipkan satu atau dua lagu era 2000.

Baru-baru ini saya menemukan pilihan musik yang jarang untuk disukai. Musik itu bernama New Age Music – entah ada hubungannya dengan misi freemason tentang tatanan dunia baru, saya tidak begitu peduli – yang dimainkan dengan apik oleh band keluarga asal Irlandia Clannad.

Perkenalan saya dengan musik Clannad bermula ketika saya mengksplorasi musik The Corrs yang bernuansa folklore yang terdapat dalam album berjudul Home. Pada album tersebut The Corrs memainkan musik dengan sentuhan khas celtic dicampur dengan lirik yang berbahasa Gaelik Irlandia.

Dan seperti disebutkan diatas, setelah mengeksplorasi band-band celtic akhirnya saya menemukan satu yang mengena, Clannad. Lagu Clannad pertama yang saya dengar adalah murni lagu Gaelik Celtik Irlandia, Na buachailli allain (The beautiful lad). Lagu itu saya dapat setelah mendengar rekomendasi dari teman yang terlebih dahulu akrab dengan Clannad.

Setelah itu mulai saya akrab dengan lagu-lagu Clannad mulai dari berbahasa Inggris hingga Gaelik Irlandia. Mengapa Clannad memakai bahasa yang masih agak asing didengar tersebut?? Simpel karena Irlandia menganut dua bahasa yaitu Bahasa Gaelik dan Inggris. Bahasa Gaelik dituturkan masyarakat Irlandia dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa gaelik paralel dengan Bahasa Inggris untuk urusan publik, penamaan tempat, bahkan memberi nama.

Karena itulah saya tertarik mempelajari sedikit tentang bahasa Gaelik Irlandia dari lagu-lagu Clannad. Lagu memang sarana yang ampuh untuk mempelajari bahasa. Lihatlah bagaimana anak-anak SD sekarang yang akrab dengan bahasa Inggris, dan besar kemungkinan itu dikarenakan membludaknya lagu-lagu berbahasa Inggris di internet.

Saya pribadi juga benyak mempelajari bahasa Inggris dari lagu, film, atau occasion yang memakai bahasa Inggris. Karena itulah saya jarang sekali memperhatikan pelajaran Bahasa Inggris di SMA yang bersifat kaku, cenderung dipaksa untuk dihafal. Lagipula mempelajari bahasa lebih afdol jika dilafalkan dan dihayati. Jadi akan lebih mudah untuk mempelajari sesuatu dengan media yang sangat kita senangi.

By the way, pengucapan Bahasa Gaelik kadang tidak sesuai dengan imajinasi umum kita terhadap tulisan ( contoh  –  bheannacht : bonach = blessing , Ag smaoineadh : ek scuidcu = thinking , Sé shorcúios : se hokohos = settle ). Maka rata-rata diperlukan minimal 5 menit untuk memahami pengucapannya. Itu belum termasuk menghafal artinya. :D

gambar : google

Bukan Sekadar Futsal

January 1st, 2013

Senin malam hujan turun lebat, seperti keseluruhan hari dalam seminggu ini yang dialami kota tercinta. Namun hujan lebat tidak menyurutkan kami untuk melakukan hobi kami : futsal.

Kebanyakan orang mungkin mengganggap hal yang kami lakukan berlebihan. Hujan yang lebat,nekat datang ke lapangan hanya untuk bertarung 5 lawan 5 memperebutkan satu bola. Lagipula malam seharusnya merupakan jam biologis untuk tubuh istirahat.

Tapi yang namanya sebuah komitmen terhadap sesuatu yang disukai, apapun akan dilakukan untuk mengerjakan atau mencapainya. Mirip dengan apa yang dialami remaja baru jatuh cinta. Belum lagi jika mempertimbangkan bahwa kami (atau mungkin saya) hanya sekali seminggu sekali berfutsal (pada minggu ini).

Senin malam memang jadwal tetap saya bermain futsal bersama perkumpulan pemuda-pemuda minang yang beragam profesi dan kebiasaan. Tidak hanya bermain dengan mereka, saya juga kadang meng-aminkan undangan bermain futsal dengan teman-teman sekampus saya atau se-SMA saya dulu. Jadi paling tidak ada tiga kali jadwal futsal yang saya jalani. Namun bermain futsal dengan pemuda-pemuda Minang ini menjadi kegiatan rutin.

Jika dirunut dari awal bermain futsal rutin bersama mereka, agak aneh karena saya dulunya hanya diajak bermain sekali oleh kakak tingkat SMA dulu. Karena mereka tidak ada kiper “yang biasa” jadi kiper maka saya diajak rutin. Jadi jangan heran jika pertama kali bertemu dengan mereka saya tidak mengenal satu pun kecuali kakak tingkat saya tadi.

Lama kelamaan saya yang awalnya bermain aman untuk mengenal mereka, mulai berani mendekatkan diri baik itu di dalam dan luar lapangan. Dan sama seperti saya mereka menganggap futsal sebagai suatu oase di tengah gersangnya kesibukan selama seminggu.

Kakak tingkat SMA saya dulu yang bernama Zandra misalnya. Ia dulu sebenarnya sempat mengambil kuliah di kota Padang namun entah karena tidak sanggup kuliah lagi atau lebih mengikuti naluri Minang-nya untuk berdagang sehingga ia berhenti kuliah dan fokus membantu orang tua berdagang.

Kak Zandra sempat pula bercerita tentang kehidupannya dulu di Riau yang dianggapnya tidak sesuai dalam artian finansial sehingga lagi-lagi  lebih memilih berdagang. Dalam kebosanan berdagang itulah ia usir dengan futsal senin malam. Futsal juga yang membuat ia tidak memilih Riau sebagai kelanjutan hidupnya karena disana ia tidak akan bisa bermain futsal.

Budi juga serupa dengan kak Zandra. Ia melampiaskan sepinya di kota ini sebagai pelajar kuliahan rantau dengan futsal. Tidak begitu jelas berapa kali ia berfutsal dalam seminggu. Tetapi jika melihat dari caranya bermain sepertinya ia memiliki koneksi bermain yang luas.

Seperti juga yang lain yang berprofesi makelar motor, pedagang grosiran, anak SMA, dan juga mahasiswa hampir lulus seperti saya. Kami menganggap futsal tidak hanya sebagai permainan berebut bola 5 lawan 5, namun sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan sosial dan aktualisasi diri. Lagipula kami semua suka sepakbola.

Dan dari futsal ini ada  beragam karakter-karakter mereka yang berbeda yang saya liha dari detil-detil yang mereka perlihatkan. Semua saya perhatikan dari cara mereka datang hingga cara mereka bermain di lapangan.

Aldo misalnya. Si rupawan ini bermain bagus dalam beberapa kesempatan namun tidak konsisten semangat juangnya. Kadang-kadang Aldo tidak bermain se-serius teman-teman yang lain. Saya berasumsi Aldo terbiasa hidup enak, terlihat dari mobil-mobil yang biasa ia bawa dan sepatu mahal yang ia gunakan. Hmm..wajarlah karena dia anak pengasaha besar.

Atau mungkin bang Roni yang jiwa kepemimpinannya tinggi. Dialah pengatur jadwal, keuangan, dan juga pengatur “suhu” luar lapangan. Kemampuannya biasa saja kalau tidak mau dikatakan dibawah rata-rata kami yang lain. Namun tiga hal yang saya sebutkan diatas tadi itulah yang membuat dia dihormati.

Memang aneh jika memikirkan sebuah permainan berebut bola bisa diperluas sebagai sarana bersosialisasi dan mengenal karakter satu sama lain. Dan memang aneh (kalau tidak mau dikatakan berlebihan) ada orang yang mau repot-repot memikirkan nilai-nilai  sebuah permainan sebagai suatu saran perluasan ke pemikiran lain.

Sekali lagi sangatlah aneh mencermati diri saya sibuk mencermati orang lain sementara mendapati diri saya begitu pendiam dan pasif jika sudah berada di luar lapangan dan berbaur dengan sebuah komunitas. -_-