Posts Tagged ‘liga inggris’

Legenda

August 14th, 2013

Orang sudah tentu mengenal sosok-sosok pemain seperti Paolo Maldini, Zinedine Zidane, Ryan Giggs, Javier Zanetti, Francesco Totti dan lain-lain. Apakah persamaan mereka? ya mereka adalah para legenda sepakbola, lebih spesifik mereka adalah mereka legenda klub-klub eropa.

Apa yang membuat mereka dijadikan legenda sepakbola? selain kemampuan olah bola yang baik ada beberapa komponen lain yang melekat pada diri mereka masing-masing. Kemampuan olah bola mumpuni tidak ada artinya tanpa dibarengi sikap, mental, dan etika bermain yang baik.

Denilson adalah salah satu pemain brilian pada akhir 1997 ketika ia dibeli dengan harga selangit oleh Real Betis dari Sao Paolo sehingga menjadikan ia sebagai pemain termahal dunia saat itu.

Kenyataan membuktikan harga Denilson terlalu mahal. Musim pertama dihabiskan dengan mencetak hanya 2 gol, Real Betis hanya dibawa ke posisi 11. Lepas dari itu, Denilson menjelma menjadi pemain medioker yang mengembara  di klub-klub medioker pula.

Apa yang salah dengan Denilson? secara kemampuan Denilson tidak kalah dengan Ronaldo, atau Rivaldo katakanlah. Dua nama terakhir berhasil membawa Brasil menjadi juara dunia. Ekspektasi harga dan sikap mental menjadi penghalang Denilson untuk maju. Ia tidak memiliki sesuatu untuk menjadi seorang legenda.

Ia sudah terlalu wah dengan harga selagit di umur yang masih sangat muda. Tidak masalah jika dibarengi sikap mental yang baik, namun jika tidak maka kemunduran hanya tinggal menunggu waktu.

Seorang Ryan Giggs, Francesco Totti ,dan Javier Zanetti memiliki kepemimpinan dan loyalitas yang kuat terhadap klubnya, dtambah secara kemampuan mereka tidak kalah dengan pemain lain.

Jika diibaratkan dalam matriks kepemimpinan, kepemimpinan terletk pada sumbu Y dan kemampuan pada sumbu X, maka ketiga legenda tersebut memiliki angka yang tinggi untuk kedua sumbu sehingga aura yang dihasilkan akan menjadi bagus.

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Matriks Kepemimpinan dan Area Efektifitas Keluaran

Lain halnya jika jika seorang pemain hanya mengandalkan kemampuan tanpa kepemimpinan diri yang kuat, ia hanya menghasilkan keluaran yang biasa-biasa saja. Kepemimpinan diri ini juga termasuk sikap mental, pembawaan, emosi yang terkendali serta cara menghadapi tekanan.

Strong Image

Legenda lain seperti David Beckham adalah contoh unik. Ia seperti tidak sengaja mencitrakan dirinya menjadi sosok yang begitu diingat, begitu dikagumi walau secara restasi tidak secemerlang Ronaldo atau Lionel Messi.

Siapa tidak mengenal iklan produk tata rambut Brylcream? Pada iklan tersebut Beckham dicitrakan sebagai pemain modis dengan kekuatan seorang lelaki sejati. Hal tersebut digambarkan dengan latar belakang Beckham sedang mencetak gol lewat tendangan jarak jauh.

Tentunya Brylcream tidak mengambil sembarangan duta mereka. Beckham yang gandrung gonta-ganti rambut tentu adalah sosok sempurna untuk memberikan pesan “rambutmu adalah gayamu”.

Jangan lupakan juga image Beckham sebagai pengambil tendangan bebas yang andal. Siapapu generasi 1990 pasti ingat tendangan pisang Beckham saat Inggris melawan Kolombia pada Piala Dunia 1998.

Berbicara Beckham tentu tidak afdol jika tidak menyebut para wanita-wanita disekelilingnya semacam Rebecca Loose, Victoria Adams dll. Beckham dicitrakan media sebagai pria ganteng dengan hobi gonta ganti pacar meski belakangan ia digambarkan sebagai pria keluarga/family man.

Semua tentang Beckham diatas dikupas habis oleh media seolah Beckham sendiri menginginkannya sehingga penggemar sepakbola – terutama wanita – mendapat sisi menarik lain dari sepakbola. Beckham adalah legenda media dan pencitraan.

Faktor X

Pada akhirnya semua legenda sepakbola dunia memang memiliki faktor lain di luar sepakbola untuk tetap diingat. Para pakar menyebutnya dengan faktor X. Faktor X adalah penentu keberhasilah, tidak dapat diambil, melekat pada diri manusia, dan tidak diperoleh dalam waktu sekejap.

Lihatlah bagaimana Zanetti, Giggs, Totti, Maldini atau Buffon yang setia kepada klubnya walaupun dalam keadaan susah sekalipun. Mereka memiliki faktor X berupa kepemimpinan, kemampuan, etika, mental, dan loyalitas tersendiri.

Lihatlah Beckham dengan faktor media, citra, dan segala sisi unik kehidupannya yang semuanya dikombinasikan menjadi sebuah faktor X yang unik.

Lihatlah Lionel Messi. Ia adalah satu-satunya pemain yang menggondol bola emas pemain terbaik dunia empat kali berturut-turut. Ia mewujudkannya dengan kemampuan bertanding bak alien. Tinggal menunggu waktu saja sebelum ia menjadi legenda Barcelona.

Semua pemain-pemain sepakbola mempunyai cara tersediri dalam bermain. Mereka juga mempunyai cara sendiri untuk diingat, untuk dijadikan legenda. Mereka memiliki faktor X masing-masing. Maka faktor X dan legenda memiliki satu kesamaan : melekat pada diri masing-masing individu.

Pre-Season

August 5th, 2013

Memasuki musim baru kompetisi sepakbola Eropa, musim 2013-2014, klub-klub menggelar dan menghadiri kegiatan pre-season. Menurut etimologinya, pre season bermakna persiapan sebelum kompetisi resmi dimulai.

Pre-season bisa dilakukan dimana saja, kapan saja – asal tidak bertabrakan dengan kompetisi resmi- dan dengan format apa saja.

Klub Inggris seperti Chelsea memilih petualangan pre-season di Asia, kemudian berkeliling Amerika hingga kembali lagi ke Inggris. Sementara Arsenal memilih hanya berkeliling Asia sebelum kembali ke Inggris. Manchester United sama saja, bedanya si setan merah menambahkan Australia sebagai transit.

Selama Pre-season itu pula digunakan pola yang tidak lazim dengan aturan standar sepakbola. Ambil Contoh Telekom Cup dan Emirates Cup.

Telekom Cup menerapkan sistem 4 tim dengan dua pasang tim saling berhadapan untuk memperebutkan tiket final. Pemenang final menjadi juara. Uniknya adalah waktu bermain para peserta kejuaraan yang disponsori perusahaan telekomunikasi Jerman ini adalah masing-masing 30 menit satu babak. Jadi satu pertandingan menghabiskan waktu hanya 1 jam.

Lebih cepat 30 menit dari waktu bermain normal. Kemudian jika pertandingan seri, maka akan dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Bayern Munchen menjadi juara Telekom Cup setelah mengandaskan Borussia Moenchenglandbach 5-1.

Lalu ke Emirates Cup. Kejuaraan yang disponsori oleh maskapai ini juga menghadirkan 4 tim dengan format pertandingan saling bertemu. Namun anehnya satu tim hanya akan menjalani dua pertadndingan dan tidak akan bertemu dengan salah satu tim dari 4 tim tadi.

Misalkan peserta Emirates Cup 2013 adalah Arsenal, Galatasaray, Porto, dan Napoli. Arsenal kebagian dua pertandingan melawan Napoli dan Galatasaray, dan tidak bertemu Porto. Begitu juga dengan Napoli yang kebagian Arsenal dan Porto, tidak bertemu Galatasaray. Bagaimana bisa? bisa saja kalau memakai undian. :D

Lalu yang menarik lagi adalah sistem penilaian Emirates Cup. Nilai akan didapat jika mencetak gol dan mendapat hasil imbang/menang. Misalnya hasil pertandingan Arsenal dan Galatasaray adalah 2-2. Maka Arsenal mendapat poin 3 (imbang 1, gol 2) dan Galatasaray juga 3 (imbang 1, gol 2).

Ada lagi ketika Napoli kalah 1-3 melawan Porto. Maka pembagian poinnya adalah Napoli 1 (kalah 0, gol 1) dan Porto 6 (menang 3, gol 3). Sangat berlainan dengan peraturan standar FIFA.

Selain pre-season dalam bentuk turnamen, ada juga pre-season yang hanya menggelar satu pertandingan dengan jadwal terpola. Barcelona adalah salah satu yang memakai format ini. Pada tanggal tertentu mereka melawan Gdansk, Valerenga, dan Santos dalam satu tanggal tertentu.

Jadi tidak melulu  dalam bentuk turnamen…

Ngantuk

Tujuan awal sebenarnya dari pre-season adalah menguatkan tim sebelum kompetisi resmi dimulai. Jadi ceritanya setelah kompetisi musim lalu selesai, para pemain diliburkan atau bebas memilih membela negaranya.

Masalah yang timbul adalah kebugaran fisik pemain akan jauh menurun ketika setelah liburan dibanding sebelum liburan, sehingga pre-season menjadi sarana untuk membiasakan badan mereka untuk kembali bermain.

Nah bagaimana dengan pemain yang membela negara mereka? tetap saja mereka diberi waktu libur ekstra sehingga bisa bergabung dengan rekan-rekan klub di ujung pre-season. Meski kebugaran pemain yang membela negaranya masih bisa dibilang bagus, namun pre-season penting juga untuk mereka.

Kenapa? karena itu berkaitan dengan tujuan lain pre-season, membentuk kekompakan tim. Kekompakan dan pembentukan pola permainan perlu dibina dari awal agar tidak kaget saat musim kompetisi resmi dimulai. Apalagi suatu klub pasti ada minimal satu pemain baru, sehingga pre-season bisa jadi sarana adapatasi.

Dengan tujuan membentuk kekompakan tim tersebut, maka hasil pertandingan jadi tidak begitu penting. Indikasinya gol tidak banyak tercipta. Kalau pun ada banyak gol, bisa dipastikan itu berasal dari kurang kompaknya lini belakang lawan.

Jadi jangan harap ada pertandingan pre-season tensi tinggi. Mungkin pelatih-pelatih berpikir, “Menang bagus, tidak menang tim dibenahi lagi..”. Akibatnya, fans layar kaca hanya bisa nonton sambil ngantuk. :D

Kontroversi Tanding Ulang Persija vs Persib

June 25th, 2013

Kemarin (24/6) PT. Liga Indonesia selaku administrator Liga Super Indonesia mengumumkan bahwa pertandingan Persija vs Persib yang “ditunda” akan berlangsung tanggal 28 Agustus 2013. Pertandingan yang seharusnya berlangsung tanggal 22 Juni terpaksa ditunda akibat bus yang mengangkut pemain dan official Persib dilempar oknum suporter Persija.

Setelah pelemparan bus tersebut, para pemain dan official segera meluncur berbalik ke arah Bandung. Di Bandung sendiri, para suporter Persib melakukan gerakan sweeping mobil ber-plat Jakarta untuk diintimidasi dan ditempeli stiker.

Dalam dunia sepakbola lumrah jika sebuah pertandingan ditunda dan dilanjutkan lagi dengan alasan tertentu. Namun saya menilai penjadwalan kembali pertandingan yang melibatkan gengsi dua kota besar tersebut dianggap kebijakan yang terlalu lunak. Mengapa begitu?

Pertama, melihat apa yang telah terjadi di liga-liga besar dunia pertandingan boleh ditunda jika keadaan tidak memungkinkan untuk menggelar pertandingan. Misalnya karena faktor cuaca. Untuk alasan ini, banyak klub-klub Inggris menunda partai liga karena serig terjadi badai salju. 

Lalu apakah partai Persija vs Persib layak untuk ditunda karena rusuh penyerangan bus Persib? sangat layak karena mengganggu stabilitas keamanan pertandingan dan mempengaruhi psikologis pemain yang akan bertanding.

Kedua, Mengacu pada contoh yang telah terjadi di sepakbola profesional adanya kekerasan dalam yang melibatkan satu atau lebih kelompok suporter maka federasi sepakbola yang bersangkutan sudah seharusnya memberi efek jera dalam bentuk hukuman.

Coba kita lihat kasus pelemparan kembang api oleh suporter Perempat Final Liga Champions antara Inter Milan vs AC Milan 2005 silam. Inter Milan dalam hal ini tidak bisa mengelola suporter dengan baik sehingga dihukum bertandingan tanpa suporter dan denda uang. Pertandingan Inter vs AC Milan sendiri dimenangkan AC Milan 0-3 karena pemberhentian pertandingan.

Final Heysel 1985 yang mempertemukan Juventus vs Liverpool diwarnai tragedi tewasnya 39 suporter serta 600 luka-luka. Tragedi terjadi saat suporter Liverpool mencoba menerobos dinding pemisah antara tribun suporter Liverpool dan tribun suporter netral yang diisi oleh suporter Juventus.

Denda yang dijatuhkan UEFA tidak main-main. Selang antara 1985-1991 klub-klub Inggris dilarang berlaga di kompetisi eropa. Enam tahun adalah harga yang harus dibayar akibat ketidakmampuan mengontrol diri.

Bagaimana dengan partai Persib vs Persija? apakah ada usaha untuk menimbulkan efek jera pada pelaku-pelaku terkait?. Belum ada denda yang dijatukan, malah dengan gampangnya admin liga memutuskan jadwal tanding ulang.

Mungkin dengan keputusan tersebut oknum yang terlibat kemarin berpikir, “Mending bikin rusuh terus, kan nggak ada hukuman“. Pola pikir seperti itu sebenarnya yang harus dihilangkan, dihilangkan dengan hukuman yang ber-efek jera.

Sudah terlalu banyak prahara sepakbola Indonesia. Mafia sepakbola, stadion yang tidak layak, pengelolaan klub yang berantakan, pembinaan usia muda yang tidak terarah, penunggakan gaji pemain dan lain-lain.

Sebenarnya sepakbola Indonesia itu maunya apa?. Jika terus begini energi kita habis dengan dengan hal-hal negatif seperti itu.

gambar :

sport.detik.com

liverpooldailypost.co.uk

Form is Temporary, Class is Permanent

December 2nd, 2012

Jika sebuah liga sepakbola adalah perlombaan maraton maka yang diperlukan adalah konsistensi gerak, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat. Konsistensi inilah yang berperan besar membuat sebuah tim menjadi tim yang berkelas.

Ada beberapa kejadian dalam dunia sepakbola yang mencerminkan judul diatas yang terjadi semalam (1/12). Yang paling tersohor adalah kekalahan Tim Nasional Indonesia – saya lebih senang menyebutnya Tim Nasional PSSI Djohar – dari tetangga Malaysia dengan 2-0.

Kalau mau jujur, sebenarnya kegagalan Indonesia di AFF Cup sudah bisa terdeteksi dari jauh-jau hari. Jangan melihat ketika laga 2 uji coba di senayan, namun lihatlah dari tahun-tahun awal ketika Djohar Arifin memegang PSSI.

Semua rekor buruk pelan-pelan mulai dipecahkan. Indonesia kalah 10-0 dari Bahrain dan hanya bermain 1-1 dengan tim yang bahkan tidak resmi, Kurdistan. Rekor kekalahan 10 golmembuat FIFA menyelidiki kasus ini apakah terindikasi suap atau tidak.

Dari sisi organisasi juga lebih buruk. PSSI yang mempunyai tandingan bernama KPSI hanya memperbolehkan Tim Nasional Indonesia memanggil pemain yang berlaga di Liga Primer, tidak Liga Super. Diskriminasi?? sangat jelas jika kita tahu siapa sebenarnya pemegang kekuasaan Liga Primer – PSSI dan Liga Super – KPSI.

Belum cukup dengan kontaminasi politik pada organisasi tertinggi, Tim Nasional Indonesia kembali tidak menjelaskan bagaimana sistem pembinaan pemain mudanya. Bagaimana kabar tim SAD Uruguay?? Bagaimana kelanjutan pemain-pemain juara hasil AC Milan Junior Camp?? Apa ceritanya pembinaan pemain juara Homeless World Cup??.

Maka dari tiga parameter – liga yang terpecah dua, organisasi carut marut, pembinaan pemain kacau – itulah maka tidak terlalu terkejut Indonesia gagal total di AFF 2012. Yang membanggakan adalah antusiasme penggemar TimNas Indonesia yang tetap tinggi menonton pertandingan AFF, walau  disuguhi performa buruk di tiga pertandingan grup B.

Kemenangan melawan Singapura pun saya anggap sebagai form bukan class. Indonesia bisa saja kalah lagi melawan Singapura jika saja Singapura bermain seperti melawan Malaysia. Atau jika mau berburuk sangka, pertandingan Indonesia vs Singapura saya anggap hasil pengaturan skor.

» Read more: Form is Temporary, Class is Permanent

Warna lain matchday 5 Liga Champions 2012-2013

November 29th, 2012

Matchday 5 liga Champions 2012-2013 memberikan sebuah warna baru tapi lama : munculnya penguasa baru dari level medioker. AC Milan dan Real Madrid harus puas memastikan posisi dua, sementara Chelsea nasibnya di ujung tanduk.

Bisa dibilang liga Champions musim 2012-2013 penuh kejutan, apalagi menjelang berakhirnya babak/fase grup. Tim-tim tradisional Eropa berhasil dibuat repot oleh tim-tim medioker yang bahkan masih dibilang anak baru di kompetisi atas Eropa.

Porto yang notabene juara liga Champions dua kali memang berhasil menguasai puncak grup A. Namun posisi puncak Porto bisa direbut oleh klub medioker yang mulai menanjak, Paris Saint Germain (PSG) karena di partai terakhir kedua tim akan bertemu.

Jalan kedua tim level menengah Eropa tersebut tentu akan lebih berat lagi di fase gugur, karena dipastikan persaingan akan lebih kuat. Tim-tim tradisional Eropa semua akan muncul di fase gugur tersebut.

Schalke yang dua kali mengganjal Arsenal kini memimpin grup B dengan 11 poin. Schalke akan memastikan posisi puncak jika berhasil mengalahkan Montpellier di partai terakhir, apapun hasil yang diraih Arsenal.

Shakhtar Donestk – tim menengah Ukraina – di grup E secara tak terduga berhasil membuat salah satu tim tradisional – Juventus atau Chelsea – akan tersingkir di fase grup. Shakhtar dengan poin 10 unggul 1 poin atas Juventus dan 3 poin atas Chelsea.

Jadi apapun hasil yang diraih Shakhtar di partai terakhir melawan Juventus tetap akan membawa mereka lolos ke fase grup. Sementara Chelsea sebagai juara bertahan harus menang atas Nordsjaelland sembari berharap Shakhtar mengalahkan Juventus agar mereka lolos ke fase grup. Sementara Juventus tinggal meraih hasil seri di partai terakhir untuk lolos.

» Read more: Warna lain matchday 5 Liga Champions 2012-2013

Arsenal-Liverpool : Seolah Kehilangan Karakter

November 28th, 2012

Jika dulu Liverpool dikenal sebagai raja Inggris di era 1980-an, maka Arsenal dikenal sebagai pengganggu hegemoni Manchester United di awal millenium. Kini kedua tim dikenal sebagai pesakitan. Ada apa sebenarnya??

Dibanding tim Inggris lainnya, Liverpool bisa dibilang yang paling sukses dengan parameter delapan belas juara liga Inggris ditambah 5 juara liga Champions. Belum lagi jika menghitung piala lokal dan piala UEFA. Namun banyak trofi yang diraih Liverpool adalah ketika masa 1970 hingga 1980 ketika The Reds dilatih Bill Shankly dan Bob Paisley.

Awal millenium baru pun tidak begitu buruk bagi Liverpool. Setidaknya mereka pernah merebut treble winners pada 2001, Piala FA 2006 serta liga Champions 2005.

Tetapi dari 1989 hingga sekarang belum satu-pun gelar liga Inggris yang didapat Liverpool. Treble winners 2001 tidak sama yang diraih Manchester United 1999. Liverpool 2001 meraih Piala UEFA, Piala Liga, dan Piala FA – tanpa gelar liga Inggris.

Paceklik gelar mulai datang pertengahan 2000-2010. Indikasinya berubah saat Fernando Torres datang pada 2007. Rafael Benitez sang pelatih mengubah karakter Liverpool yang bermain cepat dan mengandalkan bola-bola mati menjadi permainan rapat memendek khas Spanyol, demi mengakomodasi Torres.

Terbukti Liverpool gagal meraih satu-pun gelar dalam rentang Torres dan Benitez bekerja sama, hingga mereka berdua hengkang pada musim 2010-2011. Perombakan yang dilakukan Roy Hodgson dan Kenny Dalglish setelah era Benitez tidak begitu berdampak baik.

Kapten sekaligus simbol kesuksesan 2005 Steven Gerrard seperti lelah mengangkat Liverpool sendirian. Ia butuh rekan-rekan yang dapat menginspirasi kembali karakter khas yang ditunjukkan Liverpool saat masih berjaya.

» Read more: Arsenal-Liverpool : Seolah Kehilangan Karakter

Menjaga Sebuah Kultur

November 27th, 2012

Jika diibaratkan sebuah sistem, kultur sepakbola adalah bagian teratas dari penjalanan filosofi sepakbola sebuah klub. Kultur sepakbola terus ditopang dari era-era yang saling berantai dengan sebuah simbol kejayaan pada suatu era, sang pemain sepakbola.

Bisa dibilang Barcelona adalah klub terkuat saat ini. Tidak perlu saya jelaskan mendetil karena cukup melihat mereka bermain maka akan langsung menyadari bahwa mereka yang terbaik. Bukti klub terkuat pada era kini diperkuat berbagairaihan trofi mayor baik ditingkat individu maupun tim.Sebuah kebetulan kah?? tentu saja tidak karena melewati sebuah proses.

Dimulai jauh sebelum era sepakbola modern sekarang seorang dari Belanda yang membawa akar-akar totall football datang ke Barcelona. Dialah Johan Cruyff sang maestro.

Totall Football yang menjadi kultur sepakbola Barcelona adalah terjemahan langsung ke sepakbola dari karakter orang Belanda yang tergila-gila akan ruang dan spasi. Singkatnya karakter tersebut membuat pemain-pemain Belanda bisa merekayasa pikiran lawan dengan menciptakan ruang gerak sekecil-kecilnya ketika lawan menyerang.

Selanjutnya ketika menyerang, pemain-pemain Belanda akan menciptakan ruang gerak yang luas antar mereka sehingga lawan akan merasa lapangan akan menjadi sangat luas. Karena itulah totall football membuthkan kedinamisan gerak antar pemain.

Dengan totall football itu, Belanda berhasil menjuarai Piala Eropa 1988 dan menjadi tim paling menghibur di era 1970-an dengan gelar : Juara tanpa mahkota.

Filosofi permainan Belanda tersebut  tersebut kemudian ditanamkan Cruyff ke Barcelona dan terus digaungkan dari generasi ke generasi hingga yang terbaru yang kita kenal sekarang.

» Read more: Menjaga Sebuah Kultur

Chelsea – Man.City : Saatnya Bangkit!!

November 25th, 2012

Kedua tim tengah mengalami masa ujian. Jika nasib Chelsea di Liga Champions di ujung tanduk,maka Manchester City dipastikan gagal lolos grup. Mereka wajib bangkit di laga ini untuk menjaga momentum.

Tiga gol dari Juventus cukup untuk menuntaskan Roberto Di Matteo dari kursi pelatih. Di Matteo yang membawa Chelsea meraih gelar ganda musim lalu dianggap Roman Abramovich tidak cukup baik menangani Chelsea musim ini.

Memang, di awal start Chelsea cukup baik dengan mengemas 4 kemenangan dari 4 laga. Sebelum puncaknya ditahan Liverpool dan kalah dari West Brom dan Juventus. Alhasil mereka kini tertahan di posisi 3 grup E dengan 7 poin tertinggal 3 poin dari Shakhtar dan 2 poin dari Juventus. Di Liga Inggris, mereka tertahan di posisi 4 tertinggal dari United, City bahkan West Brom!!!.

Seperti diutarakan diatas, Chelsea sempat mendominasi Inggris dengan 7 kemenangan dan 1 seri sehingga memimpi sendirian dengan beda hampir 5 poin dari Manchester United, saat itu. Nah sesudah kemenangan melawan Spurs 2-4, roda seperti berbalik.

Dimulai dengan kalah dari Shakhtar di Liga Champions lalu kalah dari United di Liga Inggris. Kemudian setelah itu kemenangan tidak pernah lagi mampir di kubu Stamford Bridge. Ditengarai kekalahan kontroversial dari Manchester United lah yang menghancurkan Chelsea, dari mental serta fisik.

Maka dengan sederetan hasil tanpa menang itulah ditambah dibantai Juventus, Roberto Di Matteo didepak. Rafael Benitez sebagai boss baru Chelsea diharapkan membawa perubahan, terutama untuk Fernando Torres.

» Read more: Chelsea – Man.City : Saatnya Bangkit!!

Arsenal – Fulham : Bersiap Memulai Konsistensi

November 10th, 2012

Laga Arsenal vs Fulham akan dilangsungkan nanti malam (10/11) waktu Indonesia atau siang waktu Inggris. Sebelum laga ini, beberapa catatan tidak terlalu bagus menghampiri kedua tim. Namun yang perlu diperhatikan adalah munculnya kekuatan dari striker baru kedua tim. Bagaimana prediksi jalannya laga??

Sudah satu pekan terakhir Arsenal terus menuai hasil buruk, baik di Inggris maupun di kompetisi eropa. Di liga Inggris, Arsenal terakhir kali menang 2 minggu lalu atas juru kunci Queens Park Rangers. Terakhir mereka dihabisi Manchester United 2-1 pekan lalu.

Di Eropa sama saja. Schalke 04 yang notabene masih gurem di eropa sanggup merepotkan Arsenal. The Royal Blues berhasil mengalahkan Arsenal 2-0 di Emirates dan menahan 2-2 di Aufschalke Arena.

Praktis posisi Arsenal di liga lokal sama prihatinnya dengan di eropa. Di liga lokal mereka menempati posisi 7 dengan 15 poin, jauh dari eksistensi klub-klub besar lain. Sedangkan di eropa, mereka tertahan di posisi kedua dengan 7 poin tertinggal 1 poin dari pemuncak grup Schalke 04.

Skuad yang jomplang menjadi penyebab Arsenal gagal konsisten dari pekan ke pekan. Memang jika diperhatikan, line up yang sering diturunkan Arsenal selalu hampir sama. Paling hanya merotasi penyerang antara Walcott, Giroud, atau Gervinho.

Kedalaman skuad Arsenal memang terbilang parah. Sangat terasa sekali jika ada satu saja pemain kunci yang absen, maka pemain cadangan belum tentu bisa langsung nyetel dengan permainan. Belum lagi kualitas pemain pengganti Arsenal yang sangat meragukan.

Coba lihat seperti Chelsea atau MU jika mereka ditinggal pemain-pemain kunci karena cedera. Selalu ada saja yang bisa menggantikan dan kualitas pemain cadangan dengan pemain inti tidak begitu jauh. Itulah kelebihan memiliki kedalaman skuad yang bagus.

Lalu kenapa hanya itu-itu saja skuad Arsenal yang diturunkan?? Kenapa kedalaman skuad sangat buruk??. Kenyataannya itulah blunder strategi transfer Arsene Wenger yang menjual beberapa pemain kunci mulai dari zaman Patrick Vieira 2005 hinga Robin van Persie 2012.

Arsene Wenger dinilai terlalu mengedepankan sisi bisnis ketimbang prestasi. pertimbangannya adalah persaingan yang dibalut sistem financial fair play dimana sebuah klub harus mencapai titik keuntungan tertentu untuk bisa ikut serta dalam kompetisi sepakbola.

Namun apakah harus se-lebay itu mengantisipasi FFP?? coba tanya MU atau klub-klub besar lain.

————————————————————————————————

Di sisi sang tamu, Fulham, saat ini masih berada pada posisi satu strip tepat dibawah Arsenal. Terakhir kali mereka menang adalah tiga minggu yang lalu kala menghabisi Aston Villa di kandang sendiri. Dua laga terakhir Fulham menghasilkan hasil seri, 2-2 dengan Everton dan 3-3 dengan Reading.

Dilihat dari beberapa laga terakhir, kualitas penyerang yang bagus merata menjadi kekuatan utama Fulham. Dimitar Berbatov, Brian Ruiz, Hugo Rodallega, atau bahkan bek Chris Baird berperan penting atas 5 poin terakhir Fulham.

Satu lagi kekuatan Fulham adalah tidak bermain di eropa, sehingga mereka bisa menghemat tenaga menghadapi Arsenal. Tentu saja strategi serangan balik yang dalam dua pertemuan terakhir selalu mereka terapkan kala bersua Arsenal siap mereka pasang lagi.

Jika saja tidak ada perubahan pola main kedua tim dari beberapa pekan lalu. Maka diprediksi Arsenal akan mendominasi jalannya permainan, berusaha menembus tembok Fulham. Sementara Fulham lebih bertahan dengan memanfaatkan detil kecil pertandingan (set piece,pelanggaran,etc).

Kemungkinan hasil seri sagant besar di game ini. Pertandingan mungkin akan ditentukan bagaimana kedua tim mengatasi masa sulit mereka. Arsenal yang menembus tembok, atau Fulham yang keluar menyerang balik.

So, jikalau seri dituai, sulit bagi kedua tim kembali ke penampilan konsisten mereka. Jikalau menang maka bersiap untuk percaya diri menghadapi laga selanjutnya. Kedua tim perlu mendapatkan konsistensi untuk memperbaiki posisi mereka sekarang.

Balada Sang Gembala

November 4th, 2012

Ada suatu nilai tentang seorang gembala. Dengan domba-domba yang digiringnya, ia percaya dapat membawa mereka ke suatu tempat yang baik.

Dan ketika domba-domba telah dewasa, mungkin akan lupa jasa-jasa sang gembala. Namun gembala yakin, nilai dari sang penciptalah yang terus membuat ia maju meninggalkan memori tentang ia dan domba terdahulu.

Euforia kemenangan Manchester United (MU) atas Arsenal masih terasa untuk anak-anak – baik itu yang berkaitan dengan tim mapun para pendukung – MU. Kemenangan battle of old Trafford dengan musuh lama yang sedang sakit membuat mereka naik ke posisi utama liga Inggris menggeser Chelsea. Klub disebut terakhir kini sedang dalam masa ujian setelah pekan lalu (28/10) kalah menyakitkan dari MU dan seri dari Swansea (3/10).

Banyak yang mengatakan Robin Van Persie yang mengatrol permainan MU saat ini, ada juga yang berkoar skuad Mu sangat kompetitif di semua lini untuk merebut kembali gelar yang dicuri Manchester City. Apapun itu, saya menganggap ada sosok penting lain dalam kesuksesan dan kestabilan MU di papan atas liga Inggris : Sir Alex Ferguson.

Selayaknya pelatih-pelatih lain, Alex muda memulai karir sebagai pesepakbola di tanah kelahirannya Skotlandia. Tujuh belas musim dihabiskan bersama klub-klub seperti Aberdeen, St. Johnstone atau Falkirk.

Namun sebagai pemain ia tidak menghasilkan pencapaian sefenomenal angkatan-angkatannya, sebut saja,Franz Beckenbauer di Jerman atau Bobby Charlton di Inggris. Ia hanya meraih dua gelar juara divisi 2 bersama Falkirk dan St. Johnstone

Nasib berubah kala ia memutuskan menjadi manajer. Beberapa klub Skotlandia merasakan betul servis Alex dimana ia memberi beberapa gelar lokal dan gelar Eropa terutama untuk Aberdeen. Sepertinya ia tahu betul bahwa jalannya adalah di jajaran manajerial – dibuktikan dengan menjadi pelatih di usia sangat muda 32 tahun.

Paling terkenal adalah kesuksesannya bersama Manchester United sejak tahun 1986 hingga kini. Kesohoran pria pengunyah permen karet ini menjadi terkenal sejak liga Inggris masih berformat Divisi Satu atau setelah berformat Liga Primer. Total ia telah merengkuh 12 titel liga Inggris – lebih banyak dari sebuah klub bernama Chelsea!! – dan itu belum termasuk gelar-gelar lokal lainnya yang bisa mencapai puluhan gelar.

Tentu saja yang paling fenomenal adalah ia berhasil membawa MU menjadi klub pertama di Inggris yang meraih treble winners ­– juara Liga Inggris, juara Piala FA, dan juara Liga Champions – untuk menjadikannya sebagai pelatih tersukses di Britania Raya. Tak heran gelar sir melekat di depan namanya.

Hingga kini sir Alex masih konsisten membawa MU untuk terus meraih kejayaan bersama pemain-pemain binaannya. Mulai dari era Brian McClair, Mark Hughes, Ryan Giggs, David Beckham, Wayne Rooney hingga yang terbaru Danny Wellbeck dan Tom Cleverley cs.

» Read more: Balada Sang Gembala