Posts Tagged ‘piala dunia’

Cerita Piala Konfederasi

June 13th, 2013

Digagas oleh Raja Fahd dari Arab Saudi hingga diambil alih oleh FIFA, Piala Konfederasi mengalami cerita panjang sejak penyelenggaraan perdana tahun 1992. Kini Brasil siap menggelar pesta pemanasan menjelang Piala Dunia 2014.

Piala Konfederasi pertama kali diadakan oleh federasi sepakbola Arab Saudi pada tahun 1992. Pada dua penyelenggaraan awalnya tahun 1992 dan 1995, turnamen ini bernama King Fahd Tournament. Pesertanya adalah timnas Arab Saudi beserta 3 tim undangan Argentina, Pantai Gading, dan Amerika Serikat. Argentina menjadi juara setelah melibas Arab Saudi.

Piala King Fahd kedua diselenggarakan tahun 1995 dengan menambah dua peserta menjadi 6 negara. Enam negara tersebut dibagi menjadi dua grup. Juara grup langsung bertemu di final yang mempertemukan Denmark dan Argentina.Kali ini Denmark keluar sebagai juara.

Mulai tahun 1997, FIFA sebagai federasi sepakbola dunia mengambil alih turnamen ini. FIFA mengubah format turnamen dan menambah peserta menjadi 8 tim yang diambil dari juara masing-masing 6 kontinental beserta tuan rumah dan juara piala dunia. Edisi inilah yang mengawali penamaan Piala Konfederasi (Confederetions Cup).

Selanjutnya Piala Konfederasi diadakan tiap 2 tahun sekali dengan tuan rumah yang berbeda. Mulai dari Meksiko 1999, Korea Selatan 2001, dan Prancis 2003. Meksiko berhasil menjadi juara tahun 1999 Prancis menggenggam dua trofi 2001 dan 2003.

Perubahan dilakukan lagi di edisi 2005. FIFA menetapkan Piala Konfederasi akan digelar setahun sebelum Piala Dunia dan bertempat dimana Piala Dunia akan diselenggarakan. Jerman yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006 menjadi kehormatan pertama menggelar Piala Konfederasi 2005. Perubahan itu membuat Piala Konfederasi diadakan 4 tahun sekali.

Pergelaran selanjutnya dilakukan tahun 2009 di Afrika Selatan (tuan rumah Piala Dunia 2010) dan tahun 2013 ini di Brasil (tuan rumah Piala Dunia 2014).

Pemanasan, Teknologi dan Tahiti

Karena digelar setahun sebelum Piala Dunia, maka banyak yang menganggap Piala Konfederasi sebagai pemanasan sebelum perang sesungguhnya dimulai. Hal tersebut wajar karena sebagai tuan rumah yang memiliki hak khusus tampil langsung di Piala Dunia tidak memiliki duel yang kompetitif guna mematangkan skuad.

Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014 jelas mengalami hal tersebut. Tidak ikut sertanya mereka di kualifikasi Piala Dunia membuat Brasil hanya menjalani serangkaian uji coba, dan uji coba yang tidak terlalu ngotot tersebut berjalan tidak sempurna. Beberapa kali mereka kalah dan menuai seri hingga kini mereka terdampar di posisi 22 peringkat FIFA.

Italia yang datang sebagai undangan pada ajang ini juga menyikapi Piala Konfederasi sebagai ajang pencarian pemain utama dan pemberian kesempatan kepada pemain-pemain muda. Meski begitu, Italia tetap akan bermain all out apalagi pada babak grup akan langsung bertemu Brasil.

Piala Konfederasi juga akan menjadi ajang uji coba teknologi garis gawang FIFA. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali kontroversi mengenai masuk atau tidaknya bola ke gawang. Peristiwa tidak disahkannya gol Frank Lampard 2010 dan gol siluman Geoff Hurst 1966 tentu tidak ingin terulang lagi.

Penggunaan teknologi garis gawang oleh FIFA sebelumnya dilakukan pertama kali di Piala Dunia Antar Klub 2012 lalu, sehingga FIFA memutuskan kembali menggunakannya di Piala Konfederasi 2013. Terinspirasi oleh FIFA, federasi liga Inggris juga akan menggunakan teknologi tersebut mulai musim kompetisi 2013-2014.

Piala Konfederasi 2013 juga akan memunculkan nama baru : Tahiti. Tim pasifik tersebut datang dengan status juara Oseania atau konfederasi Oseania. Sebelumnya Australia (kini berpindah ke konfederasi Asia) atau Selandia Baru yang selalu datang mewakili Oseania.

Ini adalah kesempatan bagus bagi Steevy Chong Hue dkk. untuk menunjukkan sepakbola negara mereka. Maklum saja Tahiti hanya dikenal sebagai negara pariwisata maritim yang memanfaatkan  letak geografis mereka.

Menolak tampil

Jerman sebagai juara Piala Eropa 1996 tentu punya hak untuk tampil di edisi 1997, namun Der Panzer menolak tampil sehingga digantikan oleh runner-up Piala Eropa 1996 Republik Ceko.

Tahun 2003 lagi-lagi Jerman menolak tampil. Mereka kali ini diundang sebagai pengganti Brasil yang mengambil status keikutsertaan sebagai juara Amerika Selatan. Jerman yang menjadi runner-up Piala Dunia 2002 akhirnya digantikan Turki yang berstatus juara 3 Piala Dunia 2002.

Prancis juga menolak tampil di edisi 1999. Tim Ayam Jantan yang berstatus juara Piala Dunia 1998 akhirnya digantikan oleh Brasil yang berstatus juara kedua Piala Dunia 1998. Ditengarai keengganan Prancis dan Jerman mengikuti edisi pada waktu itu dikarenakan Piala Konfederasi hanya sebagai pemadat jadwal yang tidak penting.

Statistik

Brasil menjadi negara dengan keikutsertaan terbanyak dengan 6 kali penampilan. Mereka telah tampil sejak edisi 1997 berturut-turut hingga 2009. Edisi 2013 menjadi penampilan ketujuh negeri samba.

Brasil juga mencatatkan diri sebagai juara terbanyak dengan 3 kali juara (1997,2005,2009) dan 1 kali juara kedua (1999). Prancis mengikuti dengan dua kali juara (2001 dan 2003) . Argentina, Meksiko, dan Denmark masing-masing mencicipi satu gelar juara.

Marc Vivien Foe

Semifinal Piala Konfederasi 2003 antara Kamerun-Kolombia menjadi pertandingan terakhir pemain Kamerun Marc Vivien-Foe. Gelandang Man.City tersebut meninggal karena serangan jantung.

Kejadian tersebut bermula ketika pertandingan berusia 72 menit, Foe kolaps di lapangan dimana tidak ada pemain lain didekatnya. Pertolongan pernafasan dibuat di tengah lapangan hingga ia ditarik keluar untuk diberi pertolongan oksigen.

Tim medis menghabiskan 45 menit untuk berusaha membuat jantungnya berdetak kembali. Ia kemudian meninggal saat meninggalkan pusat medis stadion meski telah berbagai cara dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya.

Pertandingan semifinal akhirnya dimenangkan Kamerun 1-0, meski begitu Prancis dan Kamerun yang menjadi finalis mengusulkan agar pertandingan final dihentikan guna menghormati Foe. Namun pertandingan final tetap digelar dengan suasana persatuan antar pemain Prancis-Kamerun.

Prancis akhirnya memenangkan pertandingan final lewat gol semata wayang Thierry Henry. Penyerahan piala dan medali dilangsungkan tanpa rasa gembira berlebihan. Kapten Prancis Marcel Desailly mengangkat piala bersama-sama dengan kapten Kamerun Rigobert Song tanda mereka adalah juara bersama.

Sementara dua pemain Kamerun lain mengalungkan medali di foto raksasa Foe sebagai tanda peghormatan. Rumornya, Piala Konfederasi akan dinamai menjadi Marc Vivien-Foe Cup sebagai penghormatan namun hingga saat ini kejuaraan ini tetap bernama Piala Konfederasi.

Jadwal dan Peserta Piala Konfederasi 2013 bisa dilihat di : www.fifa.com/confederationscup/index.html

Gambar : google.com

Mengenai Peran Asosiasi Sepakbola

November 26th, 2012

Peran asosiasi sepakbola sangat mempengaruhi performa tim nasional, disamping memliki pembinaan dan liga yang kompetitif. Maka jika salah satu dari ketiga komponen tersebut hilang, maka lihatlah Inggris atau Indonesia sebagai contohnya.

Negara sepakbola maju yang memiliki liga yang hebat bisa dipastikan memiliki tim nasional yang hebat pula. Tidak sepenuhnya benar jika kita melihat Inggris yang liga lokalnya sangat mendunia namun prestasi tim nasionalnya jalan di tempat.

Jerman, Spanyol, atau Italia mungkin contoh yang tepat. Bundesliga Jerman, La Liga Spanyol, dan Serie-A Italia telah mengudara di seluruh dunia, pun demikian prestasi timnas ketiga negara sangat stabil.

Namun apakah hanya dengan liga yang kompetitif dan mendunia saja bisa mempunyai tim nasional yang tangguh?? Belum tentu jika asosiasi sepakbola negara bersangkutan tidak mendukung, dalam hal ini saya bisa bilang carut marut.

Dalam sebuah artikel saya pernah membaca jika Juergen Klinsmann pernah mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa kesuksesan tim nasional Jerman selama ini di Eropa (3 juara Piala Eropa) dan dunia (3 juara dunia)  tidak memiliki resep khusus.

Klinsmann mengatakan hal tersebut karena pernah mengalami sendiri tim nasional Jerman kala memasuki persiapan dan fase final Piala Dunia 2006. Lebih lanjut ia mengatakan DFB (Asosiasi Sepakbola Jerman) memiliki peran yang besar dalam kesuksesan tim nasional.

Oleh DFB, Klinsmann diberi kuasa penuh dalam menjalankan metode kepelatihan mulai dari pemilihan pemain hingga penggunaan pola permainan. Setelah menentukan hal-hal taktis, ia kemudian mengajukan konsep permainan  ke DFB.

DFB yang menerima usulan dan konsep Klinsmann dan Loew – asisten pelatih saat itu – kemudian memilah yang baik. Kemudian tidak sekadar menyetujui konsep Klinsmann, namun DFB juga mensosialisasikan konsep permainan ke klub-klub Bundesliga untuk diterapkan.

Kinsmann dan DFB sepakat untuk berharap bahwa siapapun yang akan dipanggil akan terbiasa dengan pola yang akan digunakan Jerman di Piala Dunia 2006. Dan hasilnya, Jerman sukses mengubah pola bermain ortodoks mereka 3-5-2, berganti ke pola permainan menyerang yang diusulkan Klinsmann sehingga sukses menyabet juara ketiga Piala Dunia 2006.

Pola kombinasi manajerial pelatih Jerman – sekarang Joachim Loew – dan dukungan DFB kembali menunjukkan hasilnya sebagaimana yang kita lihat di  Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan terakhir Piala Eropa 2012. Dari ketiga turnamen tersebut, paling buruk Jerman berakhir di semifinal.

Spanyol dan Italia

Spanyol tidak sekejam Jerman. Asosiasi sepakbola Spanyol (RFEF) menugaskan pelatih tim nasional untuk menentukan pola dan skema permainan. RFEF kemudian melanjutkan proposal pelatih kepada anggota La Liga dan memastikan skema untuk tim nasional dapat dipahami oleh semua anggota.

Skema yang digariskan pelatih tim nasional tidak sebatas level senior, tetapi juga termasuk level junior U-15, U-17, hingga U-23. Beruntung pula Spanyol memiliki Barcelona yang sangat handal menyumbang pemain dalam segala level umur, atau Real Madrid juga katakanlah.

Tahu sendiri bagaimana skema Barcelona dalam possession football dan Real Madrid yang lihai memainkan serangan balik. Hasil yang didapat Spanyol sungguh luar biasa : Piala Eropa 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010.

Italia termasuk yang sadar akan tim nasionalnya. Untuk para pemain muda diberikan kompetisi sebangsa primavera hingga pelatihan wasit terkenal Coverciano. Asosiasi Sepakbola Italia (FIGC) sangat paham kultur sepakbola bertahan Italia, sehingga Juventus atau klub-klub lain yang menyumbang pemain tim nasional tidak canggung lagi memainkan pola bertahan.

Salah satu yang patut dikagumkan FIGC adalah cara mereka menangani tim nasional dalam masa krisis. Ketika hendak memulai Piala Dunia 2006 dengan kasus suap Calciopoli, FIGC segera mengisolasi tim nasional dari media agar bisa fokus. Lalu pemain yang terkait kasus suap langsung dikenai sanksi dicoret dari tim nasional, bahkan ada yang sampai masuk penjara.

Terbaru, ketika Italia kembali diguncang suap Scomessopoli cara yang sama diambil FIGC seperti tahun 2006. Korbannya salah satunya bek handal Domenico Criscito. Hasil yang didapat tim Italia : Juara Piala Dunia 2006 dan Juara 2 Piala Eropa 2012.

————————————————————————————————-

Apa yang dilakukan Jerman, Spanyol, dan Italia adalah sebuah pendekatan dan manajemen yang baik dari asosiasi sepakbola terhadap tim nasional dan komponen-komponen yang membentuk tim nasional yang kuat. Asosiasi-asosiasi sepakbola tersebut memainkan peran sentral untuk membentuk tim nasional yang tangguh dengan visi yang baik, wibawa yang kuat, dan cerdas.

Ah, lalu saya teringat timnas Indonesia yang ditahan Laos (26/11). :D

Cerita Dari Pekan Internasional

October 19th, 2012

International week atau pekan internasional telah berlangsung dari tanggal 12-16 Oktober lalu. Dari jadwal itu, ada sejumlah negara yang melakoni jadwal kualifikasi Piala Dunia (PD 2014), sebagian lagi menjalani laga persahabatan.

Dalam selang waktu itu, didapat cerita menarik seputar kualifikasi Piala Dunia zona Eropa yang dilakoni tanggal 16 Oktober. Berikut cerita selengkapnya :

Grup A : Belgia dan Kroasia

Sekilas tidak tampak kekuatan tradisional eropa di grup A, hanya menyisakan tiga negara kuda hitam pengganjal kekuatan tradisional : Belgia, Kroasia, dan Serbia.

Belgia dan Kroasia muncul sementara sebagai pemimpin grup dengan 10 poin dari 4 laga, sementara Serbia jauh tertinggal di posisi 3 dengan 4 poin dari 4 laga.

Munculnya Belgia sebagai kekuatan baru eropa dengan memimpin grup A tidak lepas dari peran pemain-pemain bintang baru yang merumput di Liga Inggris. Mereka diantaranya adalah Vincent Kompany, Thomas Vermaelen, Jan Verthongen, Moussa Dembele, Marouane Fellaini, dan sang bocah ajaib Eden Hazard.

Dengan bintang-bintang yang mulai menanjak tersebut, kapten tim Vincent Kompany dengan tegas menyebut tim Belgia tengah dilanda semangat yang luar biasa.

Bisa saja dengan bantuan bintang-bintang baru Belgia tersebut, The Red Devils bisa saja kembali ke kasta utama sepakbola dunia setelah terakhir merasakannya pada tahun 2002.

Lain Belgia, lain Kroasia. Tim Balkan tersebut memang konsisten di kejuaraan-kejuaraan kasta utama macam Piala Eropa atau Piala Dunia. Sejak era Davor Suker cs yang merebut juara 3 Piala Dunia 1998, Kroasia hanya absen di Piala Dunia 2010. Artinya, tim ini terus konsisten mengganggu tim-tim mapan dunia.

Yang menarik adalah pertemuan Kroasia dan Serbia karena mereka adalah pecahan Yugoslavia. Pertemuan kedua tim hampir dipastikan akan berlangsung dengan tingkat emosi tinggi, bahkan bisa berlangsung rusuh.

Jika Serbia bisa mengalahkan tetangganya itu, maka spirit juang tim bisa terangkat sekaligus menipiskan poin dengan Kroasia dan Belgia.

» Read more: Cerita Dari Pekan Internasional

Pekan Internasional : Spanyol, Jerman, Portugal, Prancis.

October 16th, 2012

Selama satu minggu mulai dari tanggal 12 hingga 16 ini dunia sepakbola dihiasi dengan pertandingan-pertandingan internasional, yang berarti tidak ada pertandingan liga antara tanggal tersebut.

Menarik diikuti adalah kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Eropa dimana tim-tim besar tidak selalu menuai hasil mulus, seperti Portugal. Tim-tim langganan perusak dominasi seperti Kroasia, Yunani, atau Denmark juga tengah mendapat ujian dari tim-tim yang notabene masih jauh dibawah kelas mereka.

Grup C : Jerman vs Swedia

source : google

source : google

Tetap saja, tim-tim besar seperti Jerman dan Spanyol masih mendominasi grup mereka. Jerman dengan pemain-pemain muda mampu menguasai grup C dengan 9 poin hasil 3 kemenangan dari sembilan laga. Terakhir, mereka malah membantai  Rep. Irlandia dengan skor 1-6 (dikandang Irlandia!!).

Perlu diingat, Irlandia meski masih level kelas 2 di Eropa namun mereka dianggap kuat karena kelolosan mereka di Piala Eropa 2012 lalu. Dengan mudahnya Jerman membantai Irlandia, maka laga melawan Swedia (16/10) akan menjadi batu loncatan untuk kemenangan keempat.

Swedia di grup C menempati posisi kedua dibawah Jerman dengan 6 poin, hasil 2 kali menang dari 2 laga. Yang menjadi concern adalah kemenangan mereka didapat dari dua tim terlemah grup C, Kepulauan Faroe dan Kazakhstan. Jadi ujian sesuangguhnya buat Swedia di kualifikasi PD 2014 kali ini memang menghadapi Jerman.

Meski sebelumnya Joachim Loew, pelatih Jerman, mengatakan bahwa grup C adalah grup berat – juga dihuni Irlandia,Austria,Swedia – tetapi tetapi persaingan sesungguhnya adalah memperebutkan posisi kedua, yang berarti tiket play-off. Itupun dengan catatan Jerman sebagai kekuatan utama tidak tergelincir ketiga negara kuda hitam tersebut.

Partai Jerman vs Swedia sedianya adalah ulangan perdelapan final Piala Dunia 2006. Kala itu Lukas Podolski memborong 2 gol kemenangan Jerman di Munich. Swedia dengan kekuatan khas kuda hitam akan berusaha membalas kekalahan tersebut, meski laga kembali digelar di tanah Jerman.

Grup I : Spanyol vs Prancis

source : google

source : google

Masih segar dalam ingatan ketika pertengahan tahun ini Prancis tersandung oleh Spanyol di perempat final Piala Eropa 2012. Belum lagi melihat permainan Prancis yang masih belum konsisten sejauh ini. Les blues menang dua kali melawan Finlandia (1-0) dan Belarus (3-1) di kualifikasi PD 2014 grup I, namun akhir pekan lalu mereka tiba-tiba dipermalukan  Jepang dengan 1-0 di Paris.

Melawan Spanyol (16/10) akan menjadi berat bagi Prancis jika melihat trek rekor mereka, belum lagi jika melihat Spanyol selalu mulus menggulung lawan-lawan mereka baik di kualifikasi grup I atau di laga persahabatan.

Tidak ada yang bisa diharapkan Prancis selain bertahan menahan gempuran serangan bola-bola pendek cepat Spanyol, sembari menunggu Spanyol frustasi dan mengambil kesempatan menyerang balik. Dan memang itu terbukti mampu meredam Spanyol.

Mungkin Prancis perlu melihat lagi cara Georgia meredam Spanyol, dimana tim Kaukasus berhasil menahan Spanyol hingga menit 86 sebelum pemecah kebuntuan datang dari pemain pengganti Roberto Soldado, menunjukkan Spanyol bisa menang dengan cara yang buruk di saat-saat buntu.

Penting bagi Prancis menerapkan strategi bertahan. Jika saja mereka mampu membuat Spanyol frustasi, maka tinggal mencari cara agar Spanyol tidak membuat gol buruk saat mereka buntu. Jika itu berhasil minimal satu poin dibawa pulang dari Madrid.

Grup F : Portugal vs Irlandia Utara

source : google

source : google

Partai ini hanya partai biasa, bukan tergolong partai besar. Namun perhatian lebih disorot ke Portugal dan Cristiano Ronaldo. Portugal mungkin satu-satunya negara semifinalis Piala Eropa 2012 yang masih tertahan di posisi dua alias posisi play off.

Posisi 1 dipegang Rusia yang berhasil mengalahkan Portugal 1-0 di Moskow akhir pekan lalu. Rusia mendulang 9 poin dari 3 kali main, sedangkan Portugal mengambil 6 poin dari 3 kali main.

Penting untuk Portugal memenangkan partai ini untuk mendekati Rusia. Syukur-syukur bisa menyamain poin Rusia walau kemungkinan ini berat karena Rusia hanya bermain melawan Azerbaijan sang juru kunci nomor dua. Jadi kemenangan mutlak harus diambil pasukan Paulo Bento atas The Green Boys.

Portugal menang segala-galanya dari Irlandia Utara, ditambah mereka akan bermain di Porto. Cristiano Ronaldo kembali akan diharapkan ketajamannya meski dalam beberapa kesempatan Portugal adalah Ronaldo, Ronaldo adalah Portugal. Di kala Ronaldo tidak dalam kondisi baik maka sulit untuk Portugal meraih kemenangan, contohnya akhir pekan lalu.

Irlandia Utara yang belum lolos ke turnamen besar sejak sepakbola modern berkembang masih mempunyai harapan paling tidak bisa finish di posisi 2 untuk tiket play off. Untuk mencapainya mereka masih mengandalkan Jonny Evans (Man.United), Chris Brunt (West Brom) dan pemain-pemain liga inggris lainya.

Tetap saja, persaingan di grup F persaingan sangat berat karena Rusia dan Portugal adalah langganan lolos ke turnamen besar. Dan Agak mengkhawatirkan adalah rekor terbaru mereka kala takluk dari Rusia dan bermain seri dengan langgnanan juru kunci Luxemburg di Belfast.

Tinggal keberuntungan saja yang membuat mereka merebut poin dari Portugal, dan jika tidak ada kejutan berarti Sellecao das aquinas akan kembali merebut kemenangan sembari mengobati luka yang mereka dapat di Moskow.

10 besar rivalitas sepakbola dunia (II)

December 6th, 2011

Menyambung posting sebelumnya, kali ini akan ditampilkan 10 rivalitas tersisa di sepakbola internasional. Sama seperti sebelumnya, rivalitas antar negara biasa dibumbui perseteruan sosial dan budaya masyarakat negara-negara bersangkutan.

Insiden Beckham vs Simeone, rivalitas lain Argentina-Inggris setelah perang Malvinas

Insiden Beckham vs Simeone, rivalitas lain Argentina-Inggris setelah perang Malvinas

Inggris mendapat porsi besar dalam posting ini dengan beberapa rivalitas – seperti sengaja mencipatakan rivalitas – dengan beberapa negara. Seiring waktu, rivalitas antar negara ada yang mulai mereda atau bahkan masih seperti perang dingin, tidak merencanakan pertemuan sebelum ada perjanjian.

Dan inilah sisa 10 besar rivalitas sepakbola di dunia. » Read more: 10 besar rivalitas sepakbola dunia (II)

10 besar rivalitas sepakbola dunia (I)

December 5th, 2011

Tulisan kemarin yang membahas tentang bermacam-macam rivalitas antar negara Eropa yang tergabung dalam satu grup Euro 2012, memberi inspirasi untuk terus melanjutkan pada bahasan rivalitas yang membumbui pertandingan sepakbola.

Rivalitas bisa datang dari mana saja. Ada datang dari pertengkaran sosial antar negara, persaingan menjadi yang terhebat antar regional, konflik sosial-budaya, hingga ketegangan pasca pecahnya negara besar.

Rivalitas luar lapangan antar negara yang membumbui partai sepakbola membuat ketegangan meningkat, partai menjadi seru, dan enak meningkat. Sisi buruknya kadang seperti sepakbola Indonesia, penonton rusuh hingga masuk lapangan. Kalau sudah begitu, tuan rumah biasanya yang rugi.

rivalitas di luar dan dalam lapangan selalu menjadi bumbu partai Yunani - Turki

rivalitas di luar dan dalam lapangan selalu menjadi bumbu partai Yunani - Turki

Berikut ini adalah 10 besar rivalitas antar negara yang membumbui pertarungan sepakbola di dunia. Tulisan ini bagian pertamadan tentunya ada bagian kedua karena pecayalah, terlalu panjang membahasa semua rivalitas negara dalam satu postingan. » Read more: 10 besar rivalitas sepakbola dunia (I)

Sama nilai,beda gol

August 9th, 2010

fifaDi sepakbola, kadang kita menemukan dalam suatu turnamen atau liga beberapa tim memiliki nilai yang sama dalam klasemen akhir.Untuk mencari yang terbaik, biasanya digunakan peraturan selisih gol, dimana rekor memasukkan suatu tim dikurangi rekor kebobolan tim tersebut.

Dalam setiap kompetisi, format selisih gol berbeda satu sama lain.Di Ligue 1 Prancis, Premier League Inggris, dan Bundesliga Jerman adalah penganut format selisih gol akhir antar tim yang bersaing.Misalnya, pada kasus Bundesliga 2000-2001 ketika Schalke dan Bayern Munchen memiliki nilai yang sama hingga pecan 33.Munchen memiliki selisih gol 64-29 (64 memasukkan dan 29 kemasukan), sedangkan Schalke 69-23 sehingga Schalke berhak memimpin klasemen Bundesliga Jerman dengan keunggulan selisih gol 46:35 dari Munchen.

» Read more: Sama nilai,beda gol