Posts Tagged ‘piala eropa’

Cerita Piala Konfederasi

June 13th, 2013

Digagas oleh Raja Fahd dari Arab Saudi hingga diambil alih oleh FIFA, Piala Konfederasi mengalami cerita panjang sejak penyelenggaraan perdana tahun 1992. Kini Brasil siap menggelar pesta pemanasan menjelang Piala Dunia 2014.

Piala Konfederasi pertama kali diadakan oleh federasi sepakbola Arab Saudi pada tahun 1992. Pada dua penyelenggaraan awalnya tahun 1992 dan 1995, turnamen ini bernama King Fahd Tournament. Pesertanya adalah timnas Arab Saudi beserta 3 tim undangan Argentina, Pantai Gading, dan Amerika Serikat. Argentina menjadi juara setelah melibas Arab Saudi.

Piala King Fahd kedua diselenggarakan tahun 1995 dengan menambah dua peserta menjadi 6 negara. Enam negara tersebut dibagi menjadi dua grup. Juara grup langsung bertemu di final yang mempertemukan Denmark dan Argentina.Kali ini Denmark keluar sebagai juara.

Mulai tahun 1997, FIFA sebagai federasi sepakbola dunia mengambil alih turnamen ini. FIFA mengubah format turnamen dan menambah peserta menjadi 8 tim yang diambil dari juara masing-masing 6 kontinental beserta tuan rumah dan juara piala dunia. Edisi inilah yang mengawali penamaan Piala Konfederasi (Confederetions Cup).

Selanjutnya Piala Konfederasi diadakan tiap 2 tahun sekali dengan tuan rumah yang berbeda. Mulai dari Meksiko 1999, Korea Selatan 2001, dan Prancis 2003. Meksiko berhasil menjadi juara tahun 1999 Prancis menggenggam dua trofi 2001 dan 2003.

Perubahan dilakukan lagi di edisi 2005. FIFA menetapkan Piala Konfederasi akan digelar setahun sebelum Piala Dunia dan bertempat dimana Piala Dunia akan diselenggarakan. Jerman yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006 menjadi kehormatan pertama menggelar Piala Konfederasi 2005. Perubahan itu membuat Piala Konfederasi diadakan 4 tahun sekali.

Pergelaran selanjutnya dilakukan tahun 2009 di Afrika Selatan (tuan rumah Piala Dunia 2010) dan tahun 2013 ini di Brasil (tuan rumah Piala Dunia 2014).

Pemanasan, Teknologi dan Tahiti

Karena digelar setahun sebelum Piala Dunia, maka banyak yang menganggap Piala Konfederasi sebagai pemanasan sebelum perang sesungguhnya dimulai. Hal tersebut wajar karena sebagai tuan rumah yang memiliki hak khusus tampil langsung di Piala Dunia tidak memiliki duel yang kompetitif guna mematangkan skuad.

Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014 jelas mengalami hal tersebut. Tidak ikut sertanya mereka di kualifikasi Piala Dunia membuat Brasil hanya menjalani serangkaian uji coba, dan uji coba yang tidak terlalu ngotot tersebut berjalan tidak sempurna. Beberapa kali mereka kalah dan menuai seri hingga kini mereka terdampar di posisi 22 peringkat FIFA.

Italia yang datang sebagai undangan pada ajang ini juga menyikapi Piala Konfederasi sebagai ajang pencarian pemain utama dan pemberian kesempatan kepada pemain-pemain muda. Meski begitu, Italia tetap akan bermain all out apalagi pada babak grup akan langsung bertemu Brasil.

Piala Konfederasi juga akan menjadi ajang uji coba teknologi garis gawang FIFA. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali kontroversi mengenai masuk atau tidaknya bola ke gawang. Peristiwa tidak disahkannya gol Frank Lampard 2010 dan gol siluman Geoff Hurst 1966 tentu tidak ingin terulang lagi.

Penggunaan teknologi garis gawang oleh FIFA sebelumnya dilakukan pertama kali di Piala Dunia Antar Klub 2012 lalu, sehingga FIFA memutuskan kembali menggunakannya di Piala Konfederasi 2013. Terinspirasi oleh FIFA, federasi liga Inggris juga akan menggunakan teknologi tersebut mulai musim kompetisi 2013-2014.

Piala Konfederasi 2013 juga akan memunculkan nama baru : Tahiti. Tim pasifik tersebut datang dengan status juara Oseania atau konfederasi Oseania. Sebelumnya Australia (kini berpindah ke konfederasi Asia) atau Selandia Baru yang selalu datang mewakili Oseania.

Ini adalah kesempatan bagus bagi Steevy Chong Hue dkk. untuk menunjukkan sepakbola negara mereka. Maklum saja Tahiti hanya dikenal sebagai negara pariwisata maritim yang memanfaatkan  letak geografis mereka.

Menolak tampil

Jerman sebagai juara Piala Eropa 1996 tentu punya hak untuk tampil di edisi 1997, namun Der Panzer menolak tampil sehingga digantikan oleh runner-up Piala Eropa 1996 Republik Ceko.

Tahun 2003 lagi-lagi Jerman menolak tampil. Mereka kali ini diundang sebagai pengganti Brasil yang mengambil status keikutsertaan sebagai juara Amerika Selatan. Jerman yang menjadi runner-up Piala Dunia 2002 akhirnya digantikan Turki yang berstatus juara 3 Piala Dunia 2002.

Prancis juga menolak tampil di edisi 1999. Tim Ayam Jantan yang berstatus juara Piala Dunia 1998 akhirnya digantikan oleh Brasil yang berstatus juara kedua Piala Dunia 1998. Ditengarai keengganan Prancis dan Jerman mengikuti edisi pada waktu itu dikarenakan Piala Konfederasi hanya sebagai pemadat jadwal yang tidak penting.

Statistik

Brasil menjadi negara dengan keikutsertaan terbanyak dengan 6 kali penampilan. Mereka telah tampil sejak edisi 1997 berturut-turut hingga 2009. Edisi 2013 menjadi penampilan ketujuh negeri samba.

Brasil juga mencatatkan diri sebagai juara terbanyak dengan 3 kali juara (1997,2005,2009) dan 1 kali juara kedua (1999). Prancis mengikuti dengan dua kali juara (2001 dan 2003) . Argentina, Meksiko, dan Denmark masing-masing mencicipi satu gelar juara.

Marc Vivien Foe

Semifinal Piala Konfederasi 2003 antara Kamerun-Kolombia menjadi pertandingan terakhir pemain Kamerun Marc Vivien-Foe. Gelandang Man.City tersebut meninggal karena serangan jantung.

Kejadian tersebut bermula ketika pertandingan berusia 72 menit, Foe kolaps di lapangan dimana tidak ada pemain lain didekatnya. Pertolongan pernafasan dibuat di tengah lapangan hingga ia ditarik keluar untuk diberi pertolongan oksigen.

Tim medis menghabiskan 45 menit untuk berusaha membuat jantungnya berdetak kembali. Ia kemudian meninggal saat meninggalkan pusat medis stadion meski telah berbagai cara dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya.

Pertandingan semifinal akhirnya dimenangkan Kamerun 1-0, meski begitu Prancis dan Kamerun yang menjadi finalis mengusulkan agar pertandingan final dihentikan guna menghormati Foe. Namun pertandingan final tetap digelar dengan suasana persatuan antar pemain Prancis-Kamerun.

Prancis akhirnya memenangkan pertandingan final lewat gol semata wayang Thierry Henry. Penyerahan piala dan medali dilangsungkan tanpa rasa gembira berlebihan. Kapten Prancis Marcel Desailly mengangkat piala bersama-sama dengan kapten Kamerun Rigobert Song tanda mereka adalah juara bersama.

Sementara dua pemain Kamerun lain mengalungkan medali di foto raksasa Foe sebagai tanda peghormatan. Rumornya, Piala Konfederasi akan dinamai menjadi Marc Vivien-Foe Cup sebagai penghormatan namun hingga saat ini kejuaraan ini tetap bernama Piala Konfederasi.

Jadwal dan Peserta Piala Konfederasi 2013 bisa dilihat di : www.fifa.com/confederationscup/index.html

Gambar : google.com

Mengenai Peran Asosiasi Sepakbola

November 26th, 2012

Peran asosiasi sepakbola sangat mempengaruhi performa tim nasional, disamping memliki pembinaan dan liga yang kompetitif. Maka jika salah satu dari ketiga komponen tersebut hilang, maka lihatlah Inggris atau Indonesia sebagai contohnya.

Negara sepakbola maju yang memiliki liga yang hebat bisa dipastikan memiliki tim nasional yang hebat pula. Tidak sepenuhnya benar jika kita melihat Inggris yang liga lokalnya sangat mendunia namun prestasi tim nasionalnya jalan di tempat.

Jerman, Spanyol, atau Italia mungkin contoh yang tepat. Bundesliga Jerman, La Liga Spanyol, dan Serie-A Italia telah mengudara di seluruh dunia, pun demikian prestasi timnas ketiga negara sangat stabil.

Namun apakah hanya dengan liga yang kompetitif dan mendunia saja bisa mempunyai tim nasional yang tangguh?? Belum tentu jika asosiasi sepakbola negara bersangkutan tidak mendukung, dalam hal ini saya bisa bilang carut marut.

Dalam sebuah artikel saya pernah membaca jika Juergen Klinsmann pernah mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa kesuksesan tim nasional Jerman selama ini di Eropa (3 juara Piala Eropa) dan dunia (3 juara dunia)  tidak memiliki resep khusus.

Klinsmann mengatakan hal tersebut karena pernah mengalami sendiri tim nasional Jerman kala memasuki persiapan dan fase final Piala Dunia 2006. Lebih lanjut ia mengatakan DFB (Asosiasi Sepakbola Jerman) memiliki peran yang besar dalam kesuksesan tim nasional.

Oleh DFB, Klinsmann diberi kuasa penuh dalam menjalankan metode kepelatihan mulai dari pemilihan pemain hingga penggunaan pola permainan. Setelah menentukan hal-hal taktis, ia kemudian mengajukan konsep permainan  ke DFB.

DFB yang menerima usulan dan konsep Klinsmann dan Loew – asisten pelatih saat itu – kemudian memilah yang baik. Kemudian tidak sekadar menyetujui konsep Klinsmann, namun DFB juga mensosialisasikan konsep permainan ke klub-klub Bundesliga untuk diterapkan.

Kinsmann dan DFB sepakat untuk berharap bahwa siapapun yang akan dipanggil akan terbiasa dengan pola yang akan digunakan Jerman di Piala Dunia 2006. Dan hasilnya, Jerman sukses mengubah pola bermain ortodoks mereka 3-5-2, berganti ke pola permainan menyerang yang diusulkan Klinsmann sehingga sukses menyabet juara ketiga Piala Dunia 2006.

Pola kombinasi manajerial pelatih Jerman – sekarang Joachim Loew – dan dukungan DFB kembali menunjukkan hasilnya sebagaimana yang kita lihat di  Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan terakhir Piala Eropa 2012. Dari ketiga turnamen tersebut, paling buruk Jerman berakhir di semifinal.

Spanyol dan Italia

Spanyol tidak sekejam Jerman. Asosiasi sepakbola Spanyol (RFEF) menugaskan pelatih tim nasional untuk menentukan pola dan skema permainan. RFEF kemudian melanjutkan proposal pelatih kepada anggota La Liga dan memastikan skema untuk tim nasional dapat dipahami oleh semua anggota.

Skema yang digariskan pelatih tim nasional tidak sebatas level senior, tetapi juga termasuk level junior U-15, U-17, hingga U-23. Beruntung pula Spanyol memiliki Barcelona yang sangat handal menyumbang pemain dalam segala level umur, atau Real Madrid juga katakanlah.

Tahu sendiri bagaimana skema Barcelona dalam possession football dan Real Madrid yang lihai memainkan serangan balik. Hasil yang didapat Spanyol sungguh luar biasa : Piala Eropa 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010.

Italia termasuk yang sadar akan tim nasionalnya. Untuk para pemain muda diberikan kompetisi sebangsa primavera hingga pelatihan wasit terkenal Coverciano. Asosiasi Sepakbola Italia (FIGC) sangat paham kultur sepakbola bertahan Italia, sehingga Juventus atau klub-klub lain yang menyumbang pemain tim nasional tidak canggung lagi memainkan pola bertahan.

Salah satu yang patut dikagumkan FIGC adalah cara mereka menangani tim nasional dalam masa krisis. Ketika hendak memulai Piala Dunia 2006 dengan kasus suap Calciopoli, FIGC segera mengisolasi tim nasional dari media agar bisa fokus. Lalu pemain yang terkait kasus suap langsung dikenai sanksi dicoret dari tim nasional, bahkan ada yang sampai masuk penjara.

Terbaru, ketika Italia kembali diguncang suap Scomessopoli cara yang sama diambil FIGC seperti tahun 2006. Korbannya salah satunya bek handal Domenico Criscito. Hasil yang didapat tim Italia : Juara Piala Dunia 2006 dan Juara 2 Piala Eropa 2012.

————————————————————————————————-

Apa yang dilakukan Jerman, Spanyol, dan Italia adalah sebuah pendekatan dan manajemen yang baik dari asosiasi sepakbola terhadap tim nasional dan komponen-komponen yang membentuk tim nasional yang kuat. Asosiasi-asosiasi sepakbola tersebut memainkan peran sentral untuk membentuk tim nasional yang tangguh dengan visi yang baik, wibawa yang kuat, dan cerdas.

Ah, lalu saya teringat timnas Indonesia yang ditahan Laos (26/11). :D