Posts Tagged ‘Piala Konfederasi’

Kisruh BBM

June 18th, 2013

Sudah seharian ini saya dipaksa mendengar perbincangan seputar bahan bakar minyak (BBM). Pro kontra bermunculan seputar jadi atau tidaknya kenaikan harga BBM akan diberlakukan. Bahkan ketika saya sidang, para dosen membuka topik awal dengan obrolan BBM.

Menurupakar minyak karbitan ini,harga BBM memang seharusnya sudah dari dulu dinaikkan. Kenapa baru sekarang teriak-teriak minta kenaikan BBM? apa manuver politik menjelang pilpres 2014? Who Knows

Yang jelas saya setuju harga BBM dinaikkan. Tidak pro rakyat? nanti dulu. Inilah faktanya dari sumber yang saya baca.

Indonesia sebagai negara penghasil minyak jenis crude oil hanya mampu menghasilkan sekitar 800.000 barrel per hari. Hasil minyak tersebut belum termasuk upak kontraktor. Sedangkan konsumsi harian rata-rata Indonesia berkisar 1,3 juta barrel per hari.

Setelah dikurangi bagian kontraktor asumsikan bagian pemerintah RI adalah sebesar 600.000 barrel. Lalu sisanya terpaksa harus mengimpor dari luar negeri. Indonesia mengimpor minyak jenis light sweet dan production oil yang merupakan tipikal minyak Arab atau Venezuela.

Kenapa yang diimpor jenis light sweet? karena Indonesia memiliki kilang minyak jenis light sweet oil. Celakanya cadangan minyak (crude oil) Indonesia akan habis dalam beberapa tahun mendatang sehingga investor tidak berani menanamkan modal membangu kilang jenis crude oil.

Jadi intinya Indonesia itu sedang kesusahan minyak. Ditambah lagi subsidi dari pemerintah, sehingga bertambah banyak APBN negara yang tersedot hanya untuk BBM. Belum lagi minyak bersubsidi sering salah sasaran. Coba saja cari berapa banyak oknum yang menyelundupkan BBM bersubdisi  kemudian dijual mahal di luar negeri.

Atau bagaimana mobil-mobil yang seharusnya mengkonsumsi pertamax malah membali minyak premium bersubsidi. Pemerintah setengah-setengah mendidik masyarakat tentang BBM ini. Tapi masih lebih baik jika dinaikkan sekarang daripada tidak sama sekali.

Well,…semua yang diatas itu menurut ahli minyak karbitan. Percaya boleh, tidak percaya silahkan. Kepala orang berbeda-beda, berbeda pula sudut pandangnya.

Tapi yang lebih menarik adalah pertemuan Tahiti vs Nigeria nanti malam (17/6) waktu Brasil. Anda pernah mendengar Tahiti, atau sering keseleo menyebutnya dengan Haiti?. Yang jelas negeri samudera tersebut jarang-jarang bisa disiarkan di televisi. Kenapa begitu? karena masuk Piala Dunia saja jarang.

Lalu apa hubungannya Piala Konfederasi dengan kisruh BBM? hmmm…..pihak yang terlibat sama-sama eksotik. Jika Tahiti eksotik dengan pesona-nya, maka kisruh BBM eksotik dengan manuver politiknya. :D

Pustaka :

twitter.com/triomacan2000

google.com

Cerita Piala Konfederasi

June 13th, 2013

Digagas oleh Raja Fahd dari Arab Saudi hingga diambil alih oleh FIFA, Piala Konfederasi mengalami cerita panjang sejak penyelenggaraan perdana tahun 1992. Kini Brasil siap menggelar pesta pemanasan menjelang Piala Dunia 2014.

Piala Konfederasi pertama kali diadakan oleh federasi sepakbola Arab Saudi pada tahun 1992. Pada dua penyelenggaraan awalnya tahun 1992 dan 1995, turnamen ini bernama King Fahd Tournament. Pesertanya adalah timnas Arab Saudi beserta 3 tim undangan Argentina, Pantai Gading, dan Amerika Serikat. Argentina menjadi juara setelah melibas Arab Saudi.

Piala King Fahd kedua diselenggarakan tahun 1995 dengan menambah dua peserta menjadi 6 negara. Enam negara tersebut dibagi menjadi dua grup. Juara grup langsung bertemu di final yang mempertemukan Denmark dan Argentina.Kali ini Denmark keluar sebagai juara.

Mulai tahun 1997, FIFA sebagai federasi sepakbola dunia mengambil alih turnamen ini. FIFA mengubah format turnamen dan menambah peserta menjadi 8 tim yang diambil dari juara masing-masing 6 kontinental beserta tuan rumah dan juara piala dunia. Edisi inilah yang mengawali penamaan Piala Konfederasi (Confederetions Cup).

Selanjutnya Piala Konfederasi diadakan tiap 2 tahun sekali dengan tuan rumah yang berbeda. Mulai dari Meksiko 1999, Korea Selatan 2001, dan Prancis 2003. Meksiko berhasil menjadi juara tahun 1999 Prancis menggenggam dua trofi 2001 dan 2003.

Perubahan dilakukan lagi di edisi 2005. FIFA menetapkan Piala Konfederasi akan digelar setahun sebelum Piala Dunia dan bertempat dimana Piala Dunia akan diselenggarakan. Jerman yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006 menjadi kehormatan pertama menggelar Piala Konfederasi 2005. Perubahan itu membuat Piala Konfederasi diadakan 4 tahun sekali.

Pergelaran selanjutnya dilakukan tahun 2009 di Afrika Selatan (tuan rumah Piala Dunia 2010) dan tahun 2013 ini di Brasil (tuan rumah Piala Dunia 2014).

Pemanasan, Teknologi dan Tahiti

Karena digelar setahun sebelum Piala Dunia, maka banyak yang menganggap Piala Konfederasi sebagai pemanasan sebelum perang sesungguhnya dimulai. Hal tersebut wajar karena sebagai tuan rumah yang memiliki hak khusus tampil langsung di Piala Dunia tidak memiliki duel yang kompetitif guna mematangkan skuad.

Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014 jelas mengalami hal tersebut. Tidak ikut sertanya mereka di kualifikasi Piala Dunia membuat Brasil hanya menjalani serangkaian uji coba, dan uji coba yang tidak terlalu ngotot tersebut berjalan tidak sempurna. Beberapa kali mereka kalah dan menuai seri hingga kini mereka terdampar di posisi 22 peringkat FIFA.

Italia yang datang sebagai undangan pada ajang ini juga menyikapi Piala Konfederasi sebagai ajang pencarian pemain utama dan pemberian kesempatan kepada pemain-pemain muda. Meski begitu, Italia tetap akan bermain all out apalagi pada babak grup akan langsung bertemu Brasil.

Piala Konfederasi juga akan menjadi ajang uji coba teknologi garis gawang FIFA. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali kontroversi mengenai masuk atau tidaknya bola ke gawang. Peristiwa tidak disahkannya gol Frank Lampard 2010 dan gol siluman Geoff Hurst 1966 tentu tidak ingin terulang lagi.

Penggunaan teknologi garis gawang oleh FIFA sebelumnya dilakukan pertama kali di Piala Dunia Antar Klub 2012 lalu, sehingga FIFA memutuskan kembali menggunakannya di Piala Konfederasi 2013. Terinspirasi oleh FIFA, federasi liga Inggris juga akan menggunakan teknologi tersebut mulai musim kompetisi 2013-2014.

Piala Konfederasi 2013 juga akan memunculkan nama baru : Tahiti. Tim pasifik tersebut datang dengan status juara Oseania atau konfederasi Oseania. Sebelumnya Australia (kini berpindah ke konfederasi Asia) atau Selandia Baru yang selalu datang mewakili Oseania.

Ini adalah kesempatan bagus bagi Steevy Chong Hue dkk. untuk menunjukkan sepakbola negara mereka. Maklum saja Tahiti hanya dikenal sebagai negara pariwisata maritim yang memanfaatkan  letak geografis mereka.

Menolak tampil

Jerman sebagai juara Piala Eropa 1996 tentu punya hak untuk tampil di edisi 1997, namun Der Panzer menolak tampil sehingga digantikan oleh runner-up Piala Eropa 1996 Republik Ceko.

Tahun 2003 lagi-lagi Jerman menolak tampil. Mereka kali ini diundang sebagai pengganti Brasil yang mengambil status keikutsertaan sebagai juara Amerika Selatan. Jerman yang menjadi runner-up Piala Dunia 2002 akhirnya digantikan Turki yang berstatus juara 3 Piala Dunia 2002.

Prancis juga menolak tampil di edisi 1999. Tim Ayam Jantan yang berstatus juara Piala Dunia 1998 akhirnya digantikan oleh Brasil yang berstatus juara kedua Piala Dunia 1998. Ditengarai keengganan Prancis dan Jerman mengikuti edisi pada waktu itu dikarenakan Piala Konfederasi hanya sebagai pemadat jadwal yang tidak penting.

Statistik

Brasil menjadi negara dengan keikutsertaan terbanyak dengan 6 kali penampilan. Mereka telah tampil sejak edisi 1997 berturut-turut hingga 2009. Edisi 2013 menjadi penampilan ketujuh negeri samba.

Brasil juga mencatatkan diri sebagai juara terbanyak dengan 3 kali juara (1997,2005,2009) dan 1 kali juara kedua (1999). Prancis mengikuti dengan dua kali juara (2001 dan 2003) . Argentina, Meksiko, dan Denmark masing-masing mencicipi satu gelar juara.

Marc Vivien Foe

Semifinal Piala Konfederasi 2003 antara Kamerun-Kolombia menjadi pertandingan terakhir pemain Kamerun Marc Vivien-Foe. Gelandang Man.City tersebut meninggal karena serangan jantung.

Kejadian tersebut bermula ketika pertandingan berusia 72 menit, Foe kolaps di lapangan dimana tidak ada pemain lain didekatnya. Pertolongan pernafasan dibuat di tengah lapangan hingga ia ditarik keluar untuk diberi pertolongan oksigen.

Tim medis menghabiskan 45 menit untuk berusaha membuat jantungnya berdetak kembali. Ia kemudian meninggal saat meninggalkan pusat medis stadion meski telah berbagai cara dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya.

Pertandingan semifinal akhirnya dimenangkan Kamerun 1-0, meski begitu Prancis dan Kamerun yang menjadi finalis mengusulkan agar pertandingan final dihentikan guna menghormati Foe. Namun pertandingan final tetap digelar dengan suasana persatuan antar pemain Prancis-Kamerun.

Prancis akhirnya memenangkan pertandingan final lewat gol semata wayang Thierry Henry. Penyerahan piala dan medali dilangsungkan tanpa rasa gembira berlebihan. Kapten Prancis Marcel Desailly mengangkat piala bersama-sama dengan kapten Kamerun Rigobert Song tanda mereka adalah juara bersama.

Sementara dua pemain Kamerun lain mengalungkan medali di foto raksasa Foe sebagai tanda peghormatan. Rumornya, Piala Konfederasi akan dinamai menjadi Marc Vivien-Foe Cup sebagai penghormatan namun hingga saat ini kejuaraan ini tetap bernama Piala Konfederasi.

Jadwal dan Peserta Piala Konfederasi 2013 bisa dilihat di : www.fifa.com/confederationscup/index.html

Gambar : google.com